Penantian Kinara

Penantian Kinara
Keributan di rumah Lana


__ADS_3

''Tadi, saat saya dan teman yang lain sedang bertemu dengan seorang polisi untuk mengusulkan Masalah perampok itu, suami saya menghubungi komandan Adam yang merupakan sahabatnya. Ia berbicara yang entah apa. Saya pun tidak tau. Dan.. tanpa di duga komandan Adam menyebut nama saya. Ia mengatakan jika saya ada disana,'' jelasnya pada Ali dan Nara.


Aku menyimak dengan baik, sedang Nara memilih diam karena ia tak tau puncak masalah nya itu dimana hingga sangat terlihat tadi jika Lana sedang marah. Wajah datarnya itu begitu terlihat jelas di mata Nara.


Nara menghela nafasnya. Ibu Amanda melanjutkan lagi ucapan nya. ''Beliau sempat marah. Dikira saya selingkuh. Tapi saya bisa menjelaskan nya dengan baik. Hingga saya menjelaskan rencana saya untuk menghukum perampok itu melalui Maura. Saya tau, jika Maura bisa memegang senjata. Karena saat malam kejadian Lana dan Maura tertembak di jalan komplek mangga dua saat itu, saya berada tak jauh dari sana!''


Deg!


''Apa?!'' pekik Ali begitu terkejut, sampai Nara terjingkat kaget.


''Kenapa Bang? Ada apa?'' tanya Nara dengan panik.


Ibu Amanda terkekeh, ''Ya Ali. Saya tau jika Maura bisa memegang senjata, maka dari itu kami sepakat untuk meminta bantuan nya. Dan Alhamdulillah nya, Maura tidak menolak. Dan untuk masalah di camp tadi siang, saya mohon maaf atas nama suami saya. Tujuan saya datang kesini hanya untuk menyampaikan kalau kalian semua saya undang untuk makan malam di rumah saya besok malam. Sebagai ucapan terimakasih saya dan juga permintaan maaf suami saya pada Lana.'' Ucapnya sembari menatap Ali dan Nara bergantian.


Nara tersenyum, ''Tentu ibu Amanda. Kami sangat tersanjung karena undangan anda ini. Tapi sebelum itu, kami harus kerumah Abang dulu untuk mengatakan hal ini kepada nya. Iya kan Bang?'' kata Nara sambil mengedipkan matanya menggoda Ali.


Ali menghela nafasnya sedangkan ibu Amanda terkekeh-kekeh. ''Ya sudah, kalau begitu saya harus pamit dulu. Tolong sampaikan permintaan saya kepada kan dan Maura ya?'' kata Bu Amanda


Nara tersenyum dan mengangguk. ''Tenyu, Bu.''


''Assalamu'alaikum...''

__ADS_1


''Waalaikum salam...'' sahut mereka berdua.


Setelah Ibu Amanda benar-benar menghilang Ali bisa bernafas dengan lega. ''Hah. Dasar pengganggu saja! Ayo, kita lanjutin lagi yang tadi!'' kata Ali pada Nara.


Nara mendelik tak terima, Ali terkekeh. ''Makan dulu ih! Setelah ini kita harus kerumah Abang. Sholat dulu, ayo!'' ajak Nara pada Ali.


Ali pura-pura merengut. ''Baiklah.. yang mulia... ck. naseb.. naseb! Hadeuuhh.. udah berdiri tegak kayak pohon kelapa malah turun lagi menyentuh bumi! Ck!'' decak Ali sambil berlalu meninggalkan mata yang tertawa puas karena telah berhasil menggoda Ali.


Ali pun ikut tertawa. Mereka berdua masuk ke kamar dan mulai melaksanakan sholat Maghrib yang tertunda. Setelah selesai mereka berdua makan malam bersama sambil bersenda gurau.


Siapa lagi pelakunya selain Ali. Ia sangat suka menggoda Nara. Tapi Nara tidak marah. Inilah yang sangat disukai Nara padanya. Sang suami tercinta.


Pukul delapan kurang sepuluh menit, setelah mereka berdua melakukan sholat isya berjamaah. Kini mereka berdua berjalan bersama menuju kerumah Lana.


''Ra-,''


''Cukup! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Cukup Sampai disini! Aku akan pulang kerumah Abi ku dengan atau tanpa persetujuan mu!''


Deg!


Lana terkejut mendengar ucapan Maura. ''Enggak! Kamu tidak boleh pergi! Abang melarang mu pergi walau satu langkah saja dari rumah ini!'' terdengar suara Lana yang begitu melengking di dlm rumah itu.

__ADS_1


''Kenapa? Bukannya tadi Abang bilang menyesal menikahi wanita seperti ku?? Bukankah aku ini pembawa sial di dalam hidupmu? Makanya kau menyesal menikah dengan ku?! Aku tidak tuli dan juga tidak buta Maulana Akbar! Aku dengar semuanya! Jika memang dulu kau tidak ingin menikahi ku, kenapa kau datang ke Bandung untuk menyusul ku? Maaf, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan pergi dari rumah ini sekarang Juga!'' lagi, suara Maura terdengar.


Suara mereka sahut menyahut, membuat Ali yang sedang berjalan menghentikan langkahnya. Mereka saling pandang satu sama lain.


''Sekali ku bilang tidak tetap tidak! Sampai kapanpun, aku tidak mengizinkan mu pergi dari rumah ini! Aku tau aku salah karena ucapanku begitu menyakiti mu! Tapi tidak dengan pergi dari rumah ini!'' sahut Lana, tubuh Nara bergetar.


Ali mematung. ''Apa sih, maumu? Tadi kau bilang menyesal menikah dengan ku! Lalu aku minta pergi, kau melarangnya! Apa yang terjadi sebenarnya dengan mu Bang Lana! Aku tidak salah dalam hal ini! Tapi kau tega menyakiti perasaan ku dengan mengatakan jika kau menyesal menikah denganku! Jika memang kau menyesal menikah denganku, kenapa dulu kau datang ke Bandung untuk membawa ku kembali?! Apa yang sebenarnya kau ingin kan Bang Lana?!'' seru Maura dengan suara naik satu oktaf.


Nara dan Ali yang tertegun di depan pintu rumah Maura dan Lana. Dengan berat hati Ali dan Nara melangkahkan kakinya menuju pasangan itu.


''Aku tidak menginginkan apapun. Yang aku mau, cuma kamu jangan melakukan hal itu diluar! Cukup aku dan keluarga kita yang tau! Tidakkah kamu tau, perbuatan mu itu mengundang musuh untuk datang kepada mu??'' seru Lana masih dengan suara rendahnya.


Maura terisak. ''Sebanyak apapun yang akan aku jelaskan padamu, kau tidak akan mendengarkan ku! Lebih baik kita berjalan di jalan masing-masing! Kamu dijalan mu! Dan aku dijalanku! Talak aku! Agar Abang terbebas dari wanita sial sepertiku! Benar kata perampok tadi. Aku Wanita Sialan! Lepaskan aku! Jatuhkan talak padaku! Agar kau terbebas dariku! Sekarang!'' seru Maura lagi


Sedangkan dua orang di depan pintu mereka semakin membeku ditempat. Nara memegang tangan Ali begitu erat. Begitu juga dengan Ali. Mereka menatap terkejut pada Maura dan Lana.


Mereka berdua tidak menyangka jika karena kejadian itu Mereka berdua harus berpisah. Yang tidak habis pikir, kenapa Lana selalu saja seperti itu setiap kali ia tertekan di tempat kerjanya.


Walau berat, Nara berusaha untuk berbicara pada Abng dan kakak iparnya itu. Dengan bibir bergetar ia berusaha untuk berbicara. Sementara Ali, memegang erat yang Nara yang gemetar sedari tadi.


''Ma-maaf.. ka-kami me-mengganggu kalian berdua. Ka-kami hanya menyampaikan pesan dari istri komandan Kevin un-untuk kalian berdua, ka-kalau kalian berdua di-di undang untuk menghadiri acara ramah tamah di rumahnya sekalian per-permintaan maaf dan juga u-ucapan Terimakasih untuk Kak Ma-Maura dari ibu-ibu yang tinggal di komplek ini. Itu saja! Ayo Bang kita pulang! Mungkin.. setelah ini adek akan sendiri tinggal di komplek ini. Hiks.. kita pu-pulang Bang! Assalamualaikum! ma-maaf mengganggu!!'' kata Nara sambil terisak, ucapannya seketika tergagap.

__ADS_1


Ia memegang erat tangan Ali. Ali menatap datar pada dua orang yang terkejut karena perkataan Nara baru saja.


__ADS_2