Penantian Kinara

Penantian Kinara
Mnunggu dalam ketidakpastian


__ADS_3

Lima tahun berlalu..


Kinara saat sudah sukses dan semakinmaju dengan usaha yang dimilikinya. Begitu pun dengan Lana.


Ketiga usahanya tidak kalah maju dari Kinara. Hutang Kinara kepada sang Papi kini sudah lunas.


Begitupun hutangnya kepasasaudara perempuannya. Annisa. Uang itu sudah ia kembalikan saat acara makan malam setelah lulus dan menjadi pebisnis muda yang sanagt berbakat.


Begitu pun dengan Algi. Bahkan ia lebih maju selangkah dari Kinara. Algi sangat senang saat mengetahui jika dirinya lah Yang menempati nilai IPK tertinggi.


Di posisi kedua ada Kinara. Mereka satu fakultas yang sama. Tetapi untuk hal pelajaran, keduanya memiliki cara sendiri untuk menyelesaikannya.


Dan terbukti. Algi lah juaranya. Betapa senangnya Papi Gilang dan mami Alisa. Saat itu semua orang memuji Algi. Tetapi tidak dengan Kinara.


Kinara pun merasa lapang hati. Karena sudah sepantasnya ia mendapatkan nilai itu. Karena ia tau seperti apa perjuangan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Algi sempat merasa tidak enak. Tetapi Kinara mengatakan tidak apa-apa. Itu memnag sudah seharusnya.


Algi sangat bersyukur memiliki adik setabah, setegar dan sebaik Kinara. Sikapnya yang selalu lemah lembut tapi tegas itu selalu membuatnya merasa bersalah karena telah menjadi juara.


Hingga perhatian kedua orang tuanya menjadi padanya saja.


Dan hari ini rencananya, ke sembilan anak-anak itu akan berkujung kerumah Mami Alisa dan Papi Gilang.


Enatah apa yang sedang mereka rencakan, Kinara pun tidak tau. Yang jelas, Kinara harus datang kesana hari ini juga.


"Ya Allah.. Ada apa dengan ku? Kenapa hati ini begitu gelisah? Apa sebenarnya yang akan terjadi? Ya Allah.. Kuatkan aku apapun yang akan terjadi nanti.." bisiknya dalam hati.


Sedari tadi hingga saat ini Kinara terus saja menghela nafasnya. Gading yang saat ini sudah tumbuh menjadi remaja tanggung itu terus saja menatap sang mami yang terus saja terlihat gelisah.


Tak tahan ia pun segera duduk di sebelah sang Mami yang kini sedang meremas tangan itu dengan erat.

__ADS_1


"Mami..." panggilnnya


Kinara terkejut saat merasakan tangan hangat Gading menyentuh tangannya. Kinara memaksakan senyum.


"Kenapa? Abang butuh sesutu untuk sekolah besok pagi? Sore ini kita belanja ya di swalayan kita aja. Untuk sekarang, kita harus kerumah Oma dan Opa dulu," ucapnya sembari memaksakan senyum nya.


Gading menatap selidik pada sang Mami kesayangan nya itu. "Jangan bohong sama Abang, Mi. Abang tau. Mami sedang gelisah memikirkan ucapan Opa kemarin yang ambigu itu kan?" terkanya tepat sasaran


Kinara mengehla nafasnya. Tatapan matanya kosong dan menatap dalam pada figura besar diruang tamu.


Foto Ali, Kinara, Gading dan ke tiga anaknya. Sengaja Kinara mengedit Foto itu untuk dijadikan figura besar.


Gading pun menatap kemana arah mata Kinara. "Sudah enam tahun, Nak.. Akankah Papi kamu pulang untuk menemui kita?? Rasanya lelah untuk menunggunya. Menunggu di dalam ketidak pastian itu sangatlah tidak mengenakkan. Siang malam selalu bermimpi jika Papi kamu akan pulang. Tetapi sebentar lagi. Tetapi kapan, Nak? Mami udah nggak kuat.. Mami nggak kuat karena desakan Opa kamu untuk melupakan Papi Kalian. Sedang Mami yakin, jika dirinya masihlah hidup hingga saat ini. Hiks.. Mami harus apa Nak? Mami harus apa.." lirihnya dengan suara sangat rendah seperti berbisik.


Dua orang di depan pintu sana mematung mendengar ucapan Kinara. Gading memeluk sang Mami dengan erat.

__ADS_1


Ia pun ikut menangis. "Jika Mami yakin kalau Papi akan kembali, maka bertahanlah! Abang yakin mami bisa melewati ini. Terlepas dari desakan opa untuk melupakan Ppai karena alasan lain, Abang harap mami tetap pada pendiriran. Tetap menunggu Ppai hingga kapanpun! Abang akan selalu bersama Mami. Abang tidak akan kemanapun! Abang masih memegang teguh janji Abang sama Papi dulu sebelum Papi pergi. Abang yang akan melindungi Mami jika Ppai tidak ada. Adek-adek Abang dua laki-laki. Kami bertiga yang akan menjaga mami. Mami tenang saja. Abang mohon.. Tetaplah seperti semula. Tetap menanti Papi pulang walau dalam tidak kepastian.." lirih Gading semakin membuat Kinara tersedu di pelukan putra angkatnya yang kini sudah beranjak remaja itu.


__ADS_2