
"Sebaiknya segera kamu jelaskan Li, bagaimana kejadiannya kamu masih HIDUP hingga saat ini. Karena KITA semua begitu penasaran!" sindir Lana pada semuanya yang kini menunduk malu.
Ia sengaja menekan setiap kata Hidup dan kita. Karena semua yang ada disana sangat penasaran dengan kisah kehidupan Ali selama enam tahun ini.
Kenapa bisa kembali sementara dirinya sudah dikataan tiada enam tahun yang lalu. Dan sejak ia menghilang, pemuda itu dimana?
Inilah yang menjadi pertanyaan di setiap benak yang ada disana. Tetapi tidak dengan Kinara. Ia bahkan ia bisa melihat suami saja pulang itu sudah cukup untuknya.
Tiada yang lebih penting selain kepulangan sang suami dalam keadaan sehat. Kinara pun tidak ingin tau tentang hal itu.
Yang hanya akan mengingat rasa sakit Ali ketika terpisah darinya.
Kinara masih duduk bersimpuh di kaki Ali. Ali pun saat ini sudah duduk dihadapan Kinara. Yakni dibawah kaki kedua orang tau Kinara Sebelum menjawab pertanyaan itu, Ali menoleh pada Kinara yang kini juga menatapnya dengan tersenyum lembut padanya.
"Sebelum saya menjawab, saya ingin tau dulu apa jawaban istri saya jika anda tidak keberatan Jendral Sudirman!" tegas Ali masih dengan menatap Kinara denagn dalam.
Tiada rasa puas untuk menatap sang istri yang kini semakin cantik saja menurutnya.
__ADS_1
"Silahkan!" jawab Jendral Sudirman
Ali tersenyum dan melihat pada Kinara lagi yang kini mengangguk padanya. Ali terkekeh, inilah yang sangat disukainya dari Kinara.
Istrinya ini seakan tau apa yang menjadi pertanyaannay sehingga ia mengangguk setuju.
"Baik, karena istri saya sudah setuju. Maka akan saya ceritakan!" katanya dengan mata yang mulai menatap serius pada semua orang.
Kinara memegangi tangan itu untuk memberinay kekuatan.
"Huffftt.. Pada saat kami bertugas di Papua dulu, saya dan tim masih sibuk mengejar penyusup ilegal yang berasal dari Nigeria itu. Awal mulanya tidak terjadi apapun. Tetapi semua itu buyar saat salah satu orang kami yaitu Fathir," Ali menunjuk Fathir yang kini melangkah masuk dengan seseorang yang membuat Kinara terkejut bukan main. Ali tersenyum dan mengangguk.
"Bu Nigsih Utami?!" seru Kinara karena terkejut.
Ali terkekeh. Ia sudah menduganya jika Sang istri pasti mengenal orang ini.
Bu Ningsih dan kedua orang tuanya tersenyum. Lantas keduanya pun memeluk Kinara dengan erat dan Ali pun ikut serta.
__ADS_1
"Duduk dulu, Nek. Kakek! Kamu juga sayang. Abang belum selesai cerita kamunya udah kaget aja begini. Gimana kalau kamu tau apa yang terjadi sama Abang selama Abang di Filipina dan arab saudi sana!"
Kinara menoleh dengan wajah terkejut pada Ali. "Filipina? Arab Saudi?" ulangnya.
Ali mengangguk, mata itu kembali serius. Kinara kembali duduk di samping Ali. Tangan Ali segera memegangi tangan Kinara dengan lembut dan dibalas juga oleh Kinara.
"Pada saat itu rekan kami Fathir tanpa tau kenapa ia tiba-tiba terjatuh ke pinggir jurang hingga membuat saya terkejut. Saya berniat ingin membantunya untuk naik, tapi sayang. Ketika saya lengah, penyusup asal Nigeria itu mendorong saya hingga jatuh ke dalam jurang yang bermuarakan laut lepas."
Kinara mengeratkan tangan nya pada genggaman Ali. Begitupun dengan Ali.
"Saya jauh berguling-guling hingga jatuh ke bawah dan tersangkut di pohon yang berduri. Sempat ingin menyerah karena tidak bisa bertahan lantaran pegangan tangan saya waktu itu pohon berduri semua yang saya sendiri pun tidak tau pohon apakah itu. Sekilas seperti pohon lainnya hanya saja berduri. Durinya itu begitu sakit jika menusuk ke daging tangan dan seluruh tubuhku. Hingga rasanya aku ingin mati saat itu juga!"
"Ya Allah..." lirih semuanya dengan dada yang sesak.
Jangan tanyakan Kinara. Wanita itu saat ini sedang membuka seluruh baju Ali satu persatu dan meneliti seluruh bekas luka di tubuhnya itu.
Kinara membeku saat melihat ada luka sayatan yang terlihat masih baru saja sembuh. Ali tersenyum.
__ADS_1
Ia memegangi tangan Kinara dengan erat.