
''Udah ih! Cepetan di adzankan! Nggak boleh lama-lama!'' ucap Mami Alisa lagi pada Papi Gilang.
Papi Gilang tersenyum, ''Tentu Sayangku. Apa sih yang tidak untukmu, Hem ? Cup!'' Papi Gilang mencuri satu kecupan singkat di pipi sang pujaan hatinya.
Mami Alisa melotot garang pada Papi Gilang. Sedang sang tersangka tidak peduli sama sekali. Ia mengambil putra pertama Lana dan mulai mengadzani nya dengan suara merdu. Begitu pun pada putri kedua Lana yang begitu mirip dengan Lana dan Maura.
Perpaduan antara wajah Lana dan Maura. Sangat cantik. Maura sampai jatuh cinta pada kedua bayi kecil itu. ''Kapan ya Mi? Adek punya bayi juga yang kayak gini??'' tanya Nara sembari menimang putra pertama Lana. Abang kandung se Mami dengan nya. Abang yang begitu menyayanginya.
Abang yang rela menunda pernikahan nya demi menjaga dirinya sampai jodohnya pun tiba. Dan ya, mereka berdua menikah setelah Nara mendapatkan jodohnya. Ali Jaber Al Basri.
Pemuda tampan berkulit putih tapi sudah kecokelatan karena selalu terjemur di dalam panas. Masuk hutan keluar hutan. Tapi kali ini kulit itu putih. Karena pekerjaan mereka dalam hutan lebat yang sangat sulit di tembus oleh cahaya matahari. Jadi kulit kedua pemuda tampan itu tetap putih tapi tidak seputih kulit istri mereka.
__ADS_1
Mami Alisa menoleh pada Nara yang saat ini sedang menimang putra pertama dari Lana cucu kandung nya. Ia tersenyum melihat Nara begitu pandai dalam memegang bayi kecil yang baru saja lahir itu.
''Adek pasti punya yang kayak gini kok. Tapi nanti. Setelah tamat sekolah. Maaf.. jika Mami dan Papi terpaksa melarang nya. Semua ini demi kebaikan mu jugam Dan Ali pun tau itu. Ia tetap menyanggupinya. Bukankah sudah menjadi keputusan bersama dulunya? Dan kamu pun menyanggupi nya bukan?'' jawab Mami Alisa dengan tutur bahasa yang begitu lembut.
Ia takut akan menyinggung perasaan putri bungsunya itu. Karena Mami Alisa tau seperti apa rindunya Nara pada sang suami. Yaitu Ali Jaber Al Basri.
Papi Gilang mendekati Nara. Ia yang sedang menimang putri Lana itu pun ikut mendengar kan ucapan Nara dan Mami Alisa. ''Bersabarlah. Papi melarang ini untuk masa depan mu. Kalau kamu hamil bersamaan dengan Kakak kamu itu akan menyulitkan kami. Inilah jalan takdir untukmu dan Ali. Ali pemuda yang baik. Ia menerima keputusan ini karena dia memang tulus menginginkanmu untuk menjadi istrinya. Bukan sekedar karena di tuntut oleh atasan. Tapi Ali menginginkan mu untuk menjadi istri masa depannya. Percaya lah, Papi yakin. Saat ini pun Ali pasti merindukan dirimu. Sama seperti kamu. Masih ingat seperti apa Mami dan Papi dulu ketika berpisah seperti itu?''
Nara mengangguk dan tersenyum, mata itu tidak lepas dari putra tampan Lana yang saat ini sedang berada di dalam gendongan nya. ''Tentu Papi. Adek masih ingat kok. Kisah cinta kalian berdua itu abadi sepanjang masa. Suatu saat nanti, kami akan menceritakan hal ini kepada anak cucu kami. Mami dan Papi merupakan contoh terbaik dalam hal hubungan suami istri. Kalian berdua pedoman adek di dalam berumah tangga. Adek ingin mengikuti jejak kalian yang telah membuat kami merasa bangga karena kami memiliki orang tua yang begitu harmonis. Terimakasih Papi, Mami karena telah menghadirkan Kinara ke dunia ini. Adek percaya, apapun yang sudah terjadi semua itu
Cup.
__ADS_1
Ia mengecup kening Nara dengan lembut dan dalam. Menyalurkan rasa sayang yang tulus untuk putri bungsunya. Papi Gilang tersenyum melihat Nara.
''Papi pun berterimakasih padamu nak. Karena kamu bersedia menerima keadaan orang tuamu yang kadang-kadang sering absurd di depanmu. Begitulah cara Papi untuk menguatkan hubungan kami berdua. Dalam kehidupan berumah tangga itu pasti ada yang namanya jenuh atau bosan terhadap pasangan. Maka dari itu, sebelum semua itu terjadi pada kami berdua. Papi sengaja selalu membuat Mami kamu sering kali merasakan kesal sama Papi. Karena itu cara Papi untuk membangun kedekatan dan rasa sayang dari Manusia kamu untuk Papi. Dan terbuktikan? Kami kamu sulit lepas dari Papi!'' imbuhnya sembari mengedip kan mata nakal pada Mami Alisa.
Dan hadiahi tepukan tangan serta pelototan mata Suzanna dari Mami Alisa. Semua yang ada diruangan itu tertawa melihat kebersamaan Nara, Papi Gilang, dan Mami Alisa.
''Semoga adek juga akan mendapatkan suami yang sama seperti Papi. Papi terbaik!''' gumam Nara dalam hati.
Bibir tipis yang selalu di sukai Ali itu tidak berhenti untuk menyunggingkan senyum manis sambil mata terus menatap bayi tampan yang ada di dalam gendongan nya saat ini.
💕💕💕💕
__ADS_1
Jangan bosan ye? Pantengin terus!
Like, komen, kembang, vote dan rate setiap kali kalian singgah di cerita remehan othor ini. Ye?