
Lana, Ali , dan Gading kini sudah sampai di camp mereka kembali. Waktu yang sudah di tentukan kini sudah cukup. Kata Maura tadi, seminggu dari hari ini mereka akan mengadakan aqiqahan untuk baby twins Malik dan Zia.
Segala sesuatu nya Mami Alisa dan Papi Gilang yang mengurus nya. Dibantu oleh Abi Madan dan ummi Aini selaku orang tua Maura.
Keesokan harinya, Maura sudah pulang kerumahnya. Padahal hari dimana ia melahirkan, Maura sudah bisa pulang. Namun, sang Papi tidak mengijinkan. Jadilah keesokan harinya baru boleh pulang.
Itupun melalui perdebatan alot dengan Mami Alisa. Maura hanya bisa pasrah akan keputusan Papi Gilang. Ada Abi Madan disana bersama kedua adik Maura.
Tapi tidak dengan Nara. Mengetahui Faizah akan datang, Maura menyuruh Nara untuk pulang dan menunggunya dirumah. Istri dari Ali Jaber itu menurut. Ia pun berpikir begitu.
Tidak ingin ada keributan di rumah sakit karena Faizah tidak menyukai Nara yang sudah sah dinikahi Ali.
''Adek pulang ya Kak, Mami??''
''Iya Nak. Pulanglah. Ada Abang mu yang akan mengantar!'' sahut Mak Alisa.
Nara menggelengkan kepalanya. ''Nggak usah Mi. Adek bawa mobil Abang tadi. Abang temani aja ya? Tapi kak Tiara gimana? Kakak ikut adek aja yuk?'' katanya pada Tiara
Tiara tersenyum, ''Kakak pulang aja kerumah. Besok ada ulangan. Kamu dulu deh yang diantar bang Algi. Ayo Bang. Antar dulu Nara nya. Nanti aku tunggu Abang di depan.'' Sahutnya membuat Algi menghela nafas nya.
''Kita pulang bersama atau tidak sama sekali!'' tegas Algi seraya berlalu keluar.
Nara melototkan matanya. ''Ishh.. Abang! Kaku banget sih jadi orang?! Ayo Kak! kita susul pangeran kodok yang lagi ngambek itu!'' ucap Nara pada Tiara.
Tiara terkekeh, ''Ya sudah. Kak.. Mami.. Tiara pulang dulu ya? Abang ngambek kalau nggak mau pulang sama.'' Katanya sambil terkekeh.
Mak Alisa tersenyum, ''Pulanglah. Layani suami kamu dengan baik. Algi kalau sedang kesal memang seperti itu. Tapi putra bungsu Mami itu baik kok.''
Tiara tersenyum lagi. ''Ya, Tiara tau itu. Kami pulang ya? Assalamualaikum...'' ucapnya sambil menyalami kedua orang itu
''Waalaikum salam..'' sahut mereka berdua.
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua benar-benar pergi dari rumah sakit itu. Ketika berada di depan, Nara berpapasan dengan Abi Madan, namun ia sengaja tersandung agar tidak terlihat.
Tiara jadi panik, tapi itu cuma sebentar setelah mengetahui arti kedipan mata Nara padanya. Melihat mereka masuk keruangan Maura, Nara bernafas lega.
Tiara tertawa saat Nara menceritakan tentang acara pernikahan nya yang di bumbui dengan Faizah adik Maura mengamuk karena sang suami lebih memilihnya ketimbang Faizah.
Sepanjang perjalanan Nara terus mengoceh hingga tiba di parkiran. Tiara terus saja tertawa. Algi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik nya itu.
Mereka berdua masuk ke mobil Lana dan diantar pulang oleh Algi kerumahnya sebelum nantinya Algi pulang dan mengantarkan Tiara kerumah mereka.
Keesokan harinya, Maura sudah pulang kerumah mereka. Dengan ditemani Mami Alisa dan ummi Aini mereka masuk dan istirahat.
Karena besok mereka harus mempersiapkan acara aqiqahan untuk baby twins Maura. ''Mbak aja dulu yang Istirahat nanti aku menyusul.'' Ucap ummi Aini pada Mami Alisa.
''Ya,'' sahut Mami Alisa masih saja dingin pada ummi Aini.
Ummi Aini hanya bisa pasrah. Ia tau kesalahan nya begitu fatal hingga membuat Mami Alisa kecewa.
Tiap harinya mereka berdua saling membantu namun, Mami Alisa masih saja dingin pada nya. Ummi Aini hanya bisa pasrah sekarang. Berdebat pun tidak ada gunanya.
''Sudah siap??'' tanya Mak Alisa pada Maura.
''Sudah Mak, ini lagi ganti popok adek.'' Sahut Maura.
Bayi kecil itu menggeliat karena merasa kedinginan saat Maura menggantikan popoknya. ''Andai Papi kamu ada di sini Nak..'' lirih Maura tapi masih terdengar oleh Mami Alisa.
Mami Alisa menghela nafasnya. ''Sabar nak.. kamu harus kuat. Jangan sedih dan jangan lemah. Abang pergi untuk bertugas bukan untuk main-main disana. Nyawa yang menjadi taruhannya. Tunggu delapan bulan lagi. Saat umur bayi mu sudah sembilan bulan, Abang pasti pulang. Hem?''
Maura mengangguk dan tersenyum, ia menyembunyikan luka hatinya pada Mami Alisa. Ia juga wanita sama sepeti wanita yang lainnya. Sama seperti Nara ia juga merindukan sang suami.
Apalagi disaat ia melahirkan Lana tidak ada disampingnya. Padahal itulah momen mereka saling berbagi cerita dan perkembangan bayinya.
__ADS_1
Tapi apa yang harus dikata, kalau seperti itulah takdir mereka. ''Hah. Aku harus bersabar. Sembilan bulan itu waktu yang Tidak lama. Bahkan hingga bertahun-tahun aku sanggup menunggu nya? Apalagi ini??'' gumam Maura dalam hati.
Ia tidak ingin berbicara lagi dan terdengar oleh Mami Alisa yang akan membuat wanita paruh baya itu akan menasehati nya lagi.
Maura dan Mami Alisa turun ke bawah dimana para tamu dan seorang ustadz sudah duduk disana menunggu dirinya dan kedua bayinya.
''Bawa kesini anaknya. Kamu boleh duduk disitu.'' Kata Mak Alisa pada Maura.
''Iya Mak.'' Sahutnya.
Maura memberikan Malik pada ustad yang akan mendoakan bayinya. Sedang Zia masih pada Mami Alisa. Kedua bayi itu akan di gendong oleh kakek dan Opa nya menggantikan Lana sebagai ayahnya.
Papi Gilang tentu sangat senang. ''Aseeekk.. bisa Gendong cebong nya Abang? hehehe.. cantiknya... Cup!'' kata Papi Gilang membuat Mak Alisa melotot.
Sementara Maura dan yang lainnya terkekeh-kekeh mendengar ucapan Papi Gilang. ''Papi....''
''Apa sayang?? Mau ngadon lagi?? Buat adik Lana lagi?? Ayok! Aku mah ikut aja!'' ucapnya begitu menjengkelkan terdengar di telinga Mami Alisa.
''Hihihi...'' suara cekikikan dari para tamu membuat Mami Alisa malu.
Ingin sekali ia menimpuk suami tampannya itu tapi itu tidak mungkin. Saat ini kediaman putra sulungnya sedang ada hajatan. Mami Alisa tersenyum kaku pada tamu.
Sedang Papi Gilang dan Abi Madan sudah mulai berkeliling untuk meminta doa dari para tamu disana. Terutama panti asuhan didikan Mak Alisa yang sudah terkenal dimana-mana karena kepintaran para anak asuhnya.
Selesai dengan mendoakan kedua bayi Lana, kini Maura dan Nara sedang menyantuni anak didik Mak Alisa itu.
Maura menyalami semua anak yatim piatu itu dan ia berikan. amplop lumayan tebal seperti keinginan Lana Minggu lalu saat ia menghubungi Maura di rumah sakit.
Anak panti itu begitu senang. Nara dan Maura tertawa saat melihat salah satu anak panti itu menangis meraung memanggil nama Lana.
Tidak cukup sampai disitu. Seluruh anak panti itu menangis meraung saat Maura mengecup kening mereka satu persatu.
__ADS_1
Maura bahagia sekali bisa melihat anak yatim itu begitu senang karena amplop pemberian nya. Selesai dengan pembagian amplop, kini seluruh anak panti dan tetangga sekitar di suguhi dengan daging kambing aqiqahan Malik dan Zia.
Seluruh keluarga bersuka cita. Andai Lana dan Ali ada disana, pastilah kebahagiaan itu akan lengkap dan sempurna. Tapi apa yang harus di perbuat jika Lana dan Ali sedang bertugas disana.