Penantian Kinara

Penantian Kinara
Beli tanah


__ADS_3

Puas dengan mereka menangis bersama tidak terasa sudah memasuki waktu subuh. Mereka menunggu selsai adzan subuh berkumandang untuk melanjutkan sholat ibadah subuh yang sudah masuk waktunya.


Mereka kembali melaksana sholat subuh dengan Algi yang mengimami.


Cukup dua puluh menit, mereka semua selesai dengan sholat subuh. Kinara mengedipkan matanya pada Papi Gilang dan beliau pun mengangguk. Setelahnya terkekeh.


"Sayang, kami keluar sebentar ya? Kami ingin jalan pagi-pagi bersama. Yang lain boleh ikut kok." Katanya pada Mami Alisa dan yang lainnya.


"Tentu. Pergilah. Mami dirumah aja. Mau masak untuk sarapan pagi untuk kita semua. Ada Annisa yang membatu Mami, pergilah!" jawabnya dan diangguki oleh semua orang.


Mereka semua pun keluar dari rumah Kinara tepat pukul enam pagi.


Ada Ummi Siti dan Abi Husen, Algi dan Gading putra angkat Kinara, dan juga Kinara dan Papi Gilang saat ini berjalan sambil saling merangkul.


Kegiatan pagi yang sering Kinara lakukan saat bersma Ali sehabis subuh. Seseorang dilantai dua sana menatap nanar pada Kinara dan juga Papi Gilang.


Sang istri memeluknya dengan erat masih ingin bermanja dengan sang suami. "Sudah.. Nanti saja Abang datangi kerumah adek. Adek temani nanti. Ayo kita masuk. Diluar dingin," katanya pada sang suami.


Ia menurut walau sangat terlihat jika wajah itu begitu sendu saat ini karena merasa bersalah kepada adik kecil kesayangan nya yang saat ini sedang tertawa bersama Papi Gilang dan juga Gading.

__ADS_1


Mereka terus berjalan menuju ujung jalan setelahnya balik lagi. Tiba di depan sebuah lahan kosong itu mereka berdua berhenti sedang yang lain terus berjalan melewati mereka.


"Ini tanah yang adek bilang tadi malam sama Papi. Tuh, Papi lihat. Udah ada plat jual nya 'kan?" tunjuk Kinara pada papan tipis yang terpasang disana.


Papi Gilang tersenyum, "Pucuk di cinta ulam pun tiba!" ucapnya dengan segera mendial nomor yang tertera di papan itu.


Ponsel yang tidak pernah lupa ia bawa kemana pun.


Sekali bunyi Tut saja sudah terdengar suara sahutan disana.


"Assalamu'alaikum.. Saya Gilang, Pak. Saya ingin menanyakan tentang tanah anda yang ingin di jual ini, apakah benar ingin dijual?" tanya Papi Gilang dan di iyakan oleh orang itu.


"Baik, jam sepuluh pagi ini saya dan putri saya akan datang ke tempat anda. Oh ya? Dekat sini? Kebetulan sekali kalau begitu. Kami juga sedang berada didepan tanah Anda, ini. Baik, kami kesana sekarang!. Tentu. Waalaiakum salam.. Alhamduliillah Nak. Rumahnya nggak jauh dari sini. Ayo, kita temui. Beliau saat ini sedang berada dirumah kalau nanti siang beliau sudah bekerja. Ayo! Ya Allah.. Rejeki anak sholeh ini namanya!"


Blok Da. Sedang kan Kinara berada di blok Ca. Sedikit saja. Algi yang melihat kedua orang itu berbelok ke arah lain dengan segera mengejarnya setelah berpamitan dengan Abi Husen dan Ummi Siti yang kini sedang bersama Gading.


Tiba dirumah pemilik tanah, dengan segera papi Gilang, Kinara dan Algi mengatakan maksud kedatangn mereka.


Beliau yang sangat mengenal Kinara dan Ali sangat mengizinkan mereka untuk membelinya. Secepat kilat beliau akan mengurus surat-suratnya.

__ADS_1


Untuk masalah uang, Papi Gilang langsung saja mengirimkan uang nya kepada beliau melalui M-banking saja. Itu lebih praktis kata beliau.


Tanah itu dihargai empat ratus juta oleh sang pemilik karena Kinara yang membelinya. Jika orang lain tanah itu seharga enam ratus juta.


Kinara termenung mendengar harga tanah itu. Papi Gilang yang tau segera memegang tangan Kinara. Algi pun demikian.


Mereka berdua menguatkan Kinara agar Kinara tidak goyah karena harga tanah itu tidak sesuai dengan budget yang ia punya.


Selesai dengan urusan tanah, kini mereka bertiga pulang sambil merangkul dengan Kinara berada di tengah dua lelaki tampan yang mirip itu.


Algi mewarisi wajah Mami Alisa. Sangat tampan. Algi merupakan Mami Alisa versi lelakinya. Sedang Kinara mewarisi wajah ayu Annisa. Sang Kakak tersayang nya.


Mereka bertiga pulang berjalan kaki sudah pukul tujuh lewat tiga puluh pagi. Tiiba dirumah Kinara sudah ada Lana disana bersama Maura.


Kinara tersenyum saja melihat kedua orang itu. Ia segera berlalu ke kamar di ikuti Papi Gilang dan Algi. Untuk mengambil berkas Kinara dan Ali yang mereka jadikan surat itu atas nama Ali. Suami Kinara.


Sementara Lana terdiam melihat gelagat Kinara dan Papi Gilang juga Algi ikut serta begitu sibuk. Ia menatap nanar pada daun pintu yang tertutup itu.


Ada rasa tercubit di hatinya saat melihat ketiga orang itu tidak menyapa nya melainkan di lewati begitu saja.

__ADS_1


Padahal yang sebenarnya tidak. Mereka bertiga sedang sibuk menyiapkan berkas untuk surat tanah yang akan dibangun swalayan disana.


Maura memegang erat tangan Lana. Lana diam saja. Ia sangat kesal dengan kehamilan Maura yang kali ini begitu manja padanya dan tidak ingin di lepas sama sekali.


__ADS_2