Penantian Kinara

Penantian Kinara
Cerita Lana


__ADS_3

"Gimana? Udah punya rencana mau buat aqiqahan dimana Li?" tanya Lana pada Ali yang kini sedang memangku si cantik yang baru saja lahir itu.


"Kita tanya Kinara dulu maunya gimana. Aku nggak mau salah ambil keputusan Bang. Karena ku tahu, jika Kinara sudah mengatakannya maka ia sudah memikirkannya." jawab Ali dan diangguki oleh Lana


"Masih teringat aja saat aqiqahan si kembar dulunya. Demi memperbaiki hubungan Lana dan kedua saudaranya karena kepergian kamu, Kinara sampai berkorban banyak. Ia melahirkan seorang diri hanya ditemani Gading dan para bidan, dokter dan perawat dirumah sakit kakak mu. Mak aja nggak tau sama sekali tentang hal ini. Semuanya sudah Kinara pikirkan secara matang.." lirih Mami Alisa merasa sesak dengan tangan terus memetik sayur daun katuk untuk dimasak buat Kinara makan malam.


Ali menoleh pada lana karena ia tidak tau tentang hal ini. Karena yang ia tau jika Kinara sangat baik dijaga oleh keluarganya termasuk Lana.


"Maksudnya apa sih Bang? Mak? Aku nggak paham ini? Apakah ada kejadian yang ku lewatkan hingga kalian mersa sedih mengingat enam tahun yang lalu??" tanya Ali pada Lana dan Mami Alisa.

__ADS_1


Lana menghela nafasnya, ia melirik ke dalam dimana Maura sednag berbicara dengan Kinara sambil terkekeh-kekeh.


"Semua itu berawal dari istriku yang membuat masalah hingga terjadi perpecahan diantara kami semua. Tepat setelah kepergian mu, Kami baru tau jika Kinara dan Maura sama-sama hamil. Maura sempat membuat masalah karena Faizah adiknya yang dulu pernah menyukaimu stress akibat kehilangan kamu dan Maura menyalahkan ini semua kepada Kinara dan juga Malda.."


Ali terkejut, "Terus?"


"Kami sempat tidak bertegur sapa. Kinara mengurus dirinya dengan baik. Abang tidak pernah lupa memantaunya sedikit pun walau harus berbohong kepada Maura demi melindungi Kinara. Entah apa yang Maura pikirkan saat itu hingga tega ingin menendang Kinara yang sedang hamil."


"Astaghfirullah! Kenapa bisa begitu?" lirih Ali dengan suara rendahnya karena tak ingin Kinara dan Maura mendengarnya karena kejadian itu sudah lama berlalu.

__ADS_1


"Entahlah. Yang jelas Maura saat itu cemburu kepada Kinara karena Abang akan lebih perhatian padanya daripada Maura yang saat itu sedang hamil juga. Yang jelas, Maura tidak menyukai kalau Abang lebih memperhatikan Kinara dibandingkan dengannya. Padahal nggak seperti itu. Abang hanya berusaha menjaga amanah mu saat itu. Makanya Abang sangat memperhatikan Kinara yang hamil tanpa didampingi kamu, suaminya. Menurut kamu. Apakah Abang salah jika menjalani amanah mu waktu itu?"


Ali menatap Lana dengan dalam dengan tangan terus menimang bayi kecil yang baru saja lahir itu.


"Terus apa yang terjadi setelah itu? Maksudku, apakah yang kita lakukan dirumah Abi Madan itu merupakan salah satu cara Abang untuk mengungsikan Kakak ipar demi melindungi Kinara dan juga supaya kakak ipar berubah?" tebak Ali yang membuat Lana tersenyum


"Ya, semua itu Abang lakukan demi melindungi Kinara. Dan juga mendidik Maura kembali menjadi wanita yang sesunggguhnya seperti yang pernah Abang katakan dulu padanya. Dan lihatlah, Abi Madan berhasil mendidik Maura menjadi wanita yang lebih baik lagi. Dan juga berkat kesabaran dan kelapangan hati adik bungsu ku itu, Maura bisa berubah dan kembali lagi sama kita. Memang itulah tujuan Abang yang sebenarnya. Menjaga Kinara hingga kamu kembali dengan sangat terpaksa Abang mengungsikan Maura kerumah orang tuanya dan Abang akan kembali menjemputnya setelah kepulangan mu,"


"Dan jika waktu itu aku tidak kembali, bagaimana? Apakah Abang tetap akan membiarkan kakak ipar dirumah orang tuannya?" tebak Ali lagi yang membuat Lana tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Kamu benar! Jika kamu tidak kembali lagi sampai kapan pun, maka Abang pun tidak akan pernah kembali lagi dengan Maura. Karena inilah janji Abang sama Mak saat Kinara dulu pernah kecelakaan dirumah sakit dan mengalami Kritis sampai dinyatakan hampir meninggal. Tetapi karena janji Abang ini, Kinara kembali. Bukankah Abang harus menunaikan janji ini?"


Ali mengangguk dan tersenyum. Sungguh mulia hati Lana. Rela meninggalkan istrinya demi melindungi saudara seibu dengannya.


__ADS_2