Penantian Kinara

Penantian Kinara
Rahasia Kinara


__ADS_3

"Sejak kapan kamu buka dapur usaha seperti itu? Bukankah kamu sedang tidak memiliki uang? Karena uang kamu sudah kamu berikan semua kepada Papi? Termasuk sertifikat rumah ini? Dan lagi. Sejak kapan ada pendopo dibelakang rumahmu? Seingat Papi. Batas tanah ini hanya sampai di situ saja?" tunjuk Papi Gilang pada batas pagar belakang rumah Kinara yang kini sudah di robohkan dan disatukan dengan pagar kebun mini yang memiliki pendopo itu.


Kinara hanya tersenyum dan tidak menjawab ucapan sang Papi yang kini menunggu jawaban darinya.


Masih teringat olehnya seminggu setelah keributan antara keluarga dan Lana karena kehilangan Ali waktu itu.


Ada seorang laki-laki paruh baya seusia Mami Alisa ingin menemui Lana. Tetapi Lana sedang tidak berada dirumah.


Mereka saat itu sedang berjalan-jalan karena Maura yang meminta. Kinara tau itu. Tetapi ia tidak merasa sedih karena ditinggal dan tidak di ajak.


Bapak yang Bernama Salamuddin itu mendatangi Kinara dan ingin menitipkan pesan untuk Lana.


"Maaf Nak Kinara. Bapak boleh menitip pesan tidak untuk Abang kamu? Maulana?" tanya Pak Salamuddin pada Kinara yang saat ini sedang memebersihkan seluruh halaman rumahnya seorang diri karena Gading sedang ke sekolah dan dirinya tidak ada kuliah hari itu.


Kinara tersenyum, "Tentu. Mari duduk dulu Pak. Akan saya buatkan minum. Sebentar! Jangan menolak!" tegasnya pada Pak salamuddin yang membuat lelaki paruh baya itu terkekeh.


"Baiklah, Nak. Bapak akan menunggu!"

__ADS_1


Kinara tersenyum dan segera berjalan cepat masuk kerumahnya. Cukup lima menit saja Kinara sudah kembali dengan nampan berisikan dua gelas, kue bolu buatannya dan juga sirup Kurnia khas Medan yang sangat terkenal enak itu ia bawa ke hadapan Pak Salamuddin.


Beliau tersenyum, "kok jadi repot gini sih Nak? Bapak nggak enak loh.. Nanti bisa menimbulkan fitnah diantara kita!" selorohnya yang membuat Kinara tertawa.


"Ada-ada saja bapak ini. Di minum dan dimakan bolu nya Pak!"


"Terimakasih Nak." Kinara tersenyum, ia pun mencomot kue bolu itu dan segera memakannya.


"Bapak ingin menitipkan pesan apa ya sama Abang? Kalau boleh saya tau??"


Pak Salamuddin menelan bolu itu dan meminum sirupnya dengan tenang. Beliau menatap Kinara yang saat ini terus mengunyah bolu yang hampir habis separuhnya itu. Selama hamil. Kinara sering kali lapar.


"Begini Nak. Bapak ingin menawarkan tanah Bapak yang ada di belakang rumah kamu itu. Tanahnya luas banyak juga pepohonan yang sudah berbuah disana. Bapak perlu uang untuk membiayai putra bapak satu-satunya untuk kuliah kedokteran dan biaya itu tidak sedikit. Udah hampir selesai sih baiayanya. Tersisa sedikit lagi. Hanya sekitar 3 ratus 75 juta 6 ratus 50 ribu rupiah lagi, Nak. Maka dari itu. Bapak ingin menawarkan tanah itu sama Abang kamu. Mana tau berjodoh dengannya? Tetapi tanah itu berbatasan dengan tembok belakang rumahmu. Dan cococknya itu.. kamu sih yang membelinya." Jelas Pak Salamuddin itu dan membuat Kinara berpikir.


"Boleh saya lihat dulu nggak tanahnya?"


Pak Salamuddin mengangguk dan tersenyum, ia yakin jika tanah itu Kinara yang akan membelinya. Karena sangat terlihat jelas dari raut wajah Kinara yang begitu penasaran dengan tanah miliknya itu.

__ADS_1


"Tentu, Nak. Ayo! Mumpung istri bapak sedang memetik buah rambutan disana!" katanya pada Kinara yang membuat ibu hamil tiga bulan tetapi sudah seperti lima bulan itu kini tersenyum dengan lebar.


Mereka berdua pun segera pergi kerumah bapak Salamuddin yang berada di blok Fa. Yang berada tepat di belakang rumah Kinara.


Cukup dengan berjalan kaki saja, Kinara sudah tiba dirumah pak Salamuddin. Ia langsung menuju ke halaman belakang dan melihat seluruh tanah itu yang membuat Kinara tertawa senang.


Pak Salamuddin terus berdoa di dalam hati meminta untuk tanahnya itu terjual di tangan Kinara. Karena menurut ukuran tanah itu memang pantasnya yang membeli itu Kinara. Bukan Lana. Pikirnya.


Tak disangka, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ingin menawarkan pada Lana tetapi malah Kinara yang ingin melihatnya sebelum membelinya.


Kinara berjalan sekeliling dan bertanya kepada bu Dian. Istri dari Pak Salamuddin. Dirasa cukup, kini Kinara duduk di pendopo itu dengan kedua paruh baya sebaya mami Alisa itu.


Kinara ingin memastikan berapa tanah itu ingin dijual. "Berapa harga tanah ini yang akan Bapak jual? saya yang akan membelinya hari ini juga!" tegas Kinara membuat bu Dian dan Pak Salamuddin menyebutkan angka nominalnya yang lumayan.


Kinara tersenyum, ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Annisa. Ya, Annisa. Hanya Annisa yang saat itu bisa menolongnya.


"Asslalamu'alaikum Kak? Ya, Adek mau pinjam uang kakak sama bang Tama sebanyak 6 ratus juta untuk membeli tanah yang ada di belakang rumah adek. Ya, hari ini?? Ishh.. Pengang ih kakak telinga adek! Ck. Iya, iya. Kakak sama Abang kesini biar adek tunjukkan dan kalian berdua yang akan menjadi saksi tentang pembelian tanah ini. Ya, uang cash kakakku tersayang... Ishhh.." sungut Kinara semakin kesal kepada kakak tersayang yang sangat mirip dengannya itu.

__ADS_1


Bibirnya maju kayak bebek saking kesalnya. Pak Salamuddin saling pandang dengan sang Istri setelahnya terkekeh-kekeh.


__ADS_2