Penantian Kinara

Penantian Kinara
Pindah ke rumah dinas


__ADS_3

Dua kediaman Bhaskara dan Al farizi menjadi gaduh. Mereka begitu terkejut mendapatkan kabar dari Papi Gilang.


Semuanya histeris saat tau jika Lana dan Maura mengalami kejadian tak terduga saat mereka pulang dari acara resepsi pernikahan mereka.


Nenek Alina dan Mak Alisa sampai pingsan mendengar kabar jika Maura tertembak. Papi Gilang menjadi Panik saat itu juga.


Kedua putra Papi Gilang yaitu Rayyan dan Algi dengan sengaja menghubungi Lana untuk menunjukkan kehebohan yang terjadi dirumah mereka saat ini.


Lana dan Maura terkekeh saat melihat Papi Gilang di pukuli dengan bantal sofa oleh Mak Alisa.


"Kamu ya?? Kamu pulang tengah malam bisa tidur dengan nyenyak! Heh! Bagaimana dengan putra dan menantuku?!" seru Mak Alisa begitu geram kepada Papi Gilang.


BUghh..


Bugghh..


Bughh..


"Udah dong sayang.. Kok di timpuk terus sih suami kamu ini? Mau kamu, jadi janda sebelum waktunya?? Aku Mah ogah!"


Mak Alisa melototkan matanya melihat Papi Gilang tidak merasa bersalah sedikitpun. Papi GIlang malah cengengesan yang membuat Mak Alisa semakin marah padanya.


"Awas kamu Papi!! PUasa dua bulan sepuluh hari!!"


Papi Gilang melototkan matanya. "Nggak!! Aku nggak mau puasa! Enak aja kamu kalau ngomong! Bisa mati berdiri aku karena tidak bisa menyentuhmu!" rengek Papi Gilang mengiba pada Mak Alisa.


Mengingat hal itu Nara terkikik geli. Saat ini ia dan keluarga besarnya sedang dirumah Lana dan Maura. Sedang untuk rumah mereka, ada disebelah rumah ini. Rumah mereka itu dempetan.


Nara dan Mami Alisa sedang menyiapkan makanan dibantu oleh mertua Nara. Nara dengan sigap mengangkat semua makan itu ke meja depan dimana mereka akan makan bersama.


Setelah selesai, Nara menuju kamar Lana dan Maura yang tadi ia susun belum lagi beres. Rumah dinas berlantai dua itu begitu nyaman untuk ditinggali. Rumah Lana berbeda dengan rumah Nara dan Ali.


Rumah mereka berdua tidak berlantai dua. Cuma berlantai satu dengan empat kamar luas seimbang dengan kamar Lana yang berlantai dua.

__ADS_1


Tangan Nara dengan cekatan mbersihksn kamar Lana dan Maura. Agar nanti kedua pasangan itu betah di kamar mereka. Nara terkekeh saat mengenang tingkah absurd Abang nya itu.


Sibuk mbereskan kamar Lana dan mahar, dari bawah terdengar suara mobil amsuk ke pekarangan rumah Lana. Nara tersenyum, ia turun ke bawah dengan berlari-lari kecil.


Mengingat jika sang suami tadi yang pergi bersama Rayyan untuk menyusul Lana dan Maura.


Sementara Lana dan Maura, Mereka turun dari mobil Pajero milik Lana. Dengan perlahan Lana menuntun Maura untuk masuk ke dalam rumah mereka.


''Assalamu'alaikum..''


''Waalaikum salam.. masuk nak! Kami baru saja siap masak! Ayo, duduk dulu! Ambilkan minum dek?'' pinta Mak Alisa pada Nara.


Nara mengangguk. Dengan segera gadis kecil sang pengantin baru milik Ali itu berlalu ke dapur dan mengambil kan minum untuk Maura.


Setelahnya ia kembali ke depan dimana para saudara semua berkumpul. ''Ini Mi, minumnya. Adek mau keatas bentar ya? Kayaknya kamar Abang tadi belum beres deh,'' katanya sambil terkekeh kecil.


Semua yang ada disana tertawa. ''Pergilah! Ali! temani Nara! Gadisku itu pasti butuh teman untuk bicara!'' kata Mak Alisa pada Ali.


Ali mengangguk, kemudian mereka berdua naik keatas dengan berjalan beriringan. Nara di depan dan Ali di belakang.


Sedangkan pengantin baru beda usia itu baru saja tiba di dalam kamar Maura dan Lana. Nara membuka pintu kamar itu dengan perlahan dan masuk ke dalam nya.


''Nah.. ini dia kamar Abang sama kakak. Kita jadikan ya Bang, pindah kerumah sebelah??'' tanya Nara pada Ali dengan tangan terus bergerak mengganti seprei ranjang Lana dan Maura.


''Jadi sayang, makanya setelah ini kita harus ke ruang kita. Ruang kiat tidak seluas ruang bang Lana. Tak apa kan sayang?''


Maaf tersenyum, ''Tak apa Abang.. asalkan itu bersama Abang dimana pun itu adek siap!'' sahut Nara mantap.


Ali terkekeh. Begitupun dnwgn Nara. Setelah kamar Maura dan Lana siap, pengantin baru beda usia itu turun ke bawah untuk makan bersama dengan kelurahan sebelum mereka pulang ke rumah sendiri.


Sebelum pulang tadi, Ali dan Lana sempat berbicara sebentar tanao di ketahui oleh siapapun. Hanya mereka berdua yang tau.


''Abang lumayan dua hari langsung bisa jebol! Lah aku?? Harus nunggu sampai adek Abang tamat sekolah tau? Dua tahun lagi euuyy.. bisa-bisa berkarat ini pusaka jika tidak diasah!'' kata Ali tadi sebelum mereka semua pulang.

__ADS_1


Lana terbahak mendengar ucapan Ali seperti itu. Ternyata nasibnya masih lumayan bagus dibanding kan dengan Ali. Tinggal serumah, sekamar dan saling berbagi kisah tapi tidak bisa menyentuhnya.


Coba bayangkan, betapa tersiksanya Ali saat menginginkan sang istri tapi tidak bisa? Ck! Masih untungan Lana.


Mengingat ucapannya tadi bersama Lana sebelum pulang, Ali menggerutu sebal hingga masuk ke kamar mereka. Nara yang melihat Ali uring uringan mendekatinya.


Nara tersenyum dan mendekati Ali. Ia duduk tepat di pangkuan Ali dengan menghadap pada pemuda tampan itu. Ali berdecak lagi. Raut wajahnya sangat tidak enak dilihat saat ini.


Nara terkekeh. ''Abang kenapa?? Kok kusut gini mukanya? Beda banget sama tadi malam. Apakah adek ada berbuat salah sama Abang??'' selidik Nara semakin mendekatkan wajahnya pada Ali.


Ali menatap Nara dengan cemberut. Nara terkekeh lagi. ''Abang lagi mikirin naseb pisang raja Abang! Naseb! Udah nikah tapi tak bisa kawen! Harus nunggu satu tahun lebih lagi! Hadeeeuuhh.. bisa-bisa pusing tujuh dunia ini kepala atas dan kepala bawah!'' celutuk Ali masih dengan wajah cemberut nya.


Nara terbengong sebentar, sebelum akhirnya ia tertawa terbahak. Yang semakin membuat Ali cemberut kayak jeruk purut wajahnya.


''Hahaha.. jadi ini toh.. yang menjadi keinginan Abang??'' goda Nara pada Ali.


Ali melengos. Wajahnya masih saja cemberut. Nara tertawa lagi. ''Sabar Abang.. inilah resikonya menikahi gadis yang masih belia. Cukup umur, tapi belum tamat sekolah!'' goda Nara lagi pada Ali.


Lagi dan lagi Ali bertambah cemberut. Wajah cemberut Ali begitu menggemaskan menurut Nara. Dengan cepat ia mengecup pipi Ali.


Cup!


Cup!


Kedua pipinya disambar bibir Nara secara tiba-tiba. Ali mematung. Wajahnya yang masih melengos ke arah lain, berbalik menatap Nara.


Naas, rejeki nomplok untuk Ali!


Cup!


Pertemuan dua bibir itupun berlangsung. Ali tidak tinggal diam, ia langsung saja memaguut bibir tipis merah jambu milk Nara. Sedang kan Nara membeku di tempat. Tubuhnya menegang, kala merasakan tangan Ali mengelus tubuh belakang nya.


Naik dan naik hingga ia memegangi tengkuk Nara untuk memperdalam pagutan mereka. Kecupan dan decapan terus terdengar di kamar itu. Nara masih tetap diam. Tubuhnya terasa kaku seketika.

__ADS_1


Dirasa cukup, Ali melepaskan pagutan mereka. Ia menatap lembut pada sang istri kecilnya. Nara menunduk malu. Wajahnya merona. Ali tertawa.


Ciuman pertama mereka setelah halal.


__ADS_2