
Sementara di Papua sana, Lana dan seluruh Tim SAR sudah berusaha mati-matian menacari keberadaan Ali yng menghilang tidak tau rimbanya kemana.
Jika di bilang tenggelam, maka kalau sudah meninggal dan membusuk, pastilah jasad Ali mengambang di lautan sana.
Tetapi ini tidak. Jangankan jenazah, bahkan alat pendeteksi di tubuh Ali pun tidak berfungsi. Ya, sebelum kembali ke Papua, mereka sempat diapanggil ke camp lagi untuk memasang chip pendeteksi keberadaan mereka.
Chip itu berguna jika mereka nanti kehilangan di dalam hutan Papua baik hidup ataupun mati, mereka bisa menemukannya.
Tetapi tidak dengan Ali. Chip pendeteksi di tubuhnya tidak menunjukkan dimana keberadaan Ali berada. Terakhir saat ia jatuh ke dalam laut, chip itu masih berfungsi dan bisa menunjukkan dimana keberadaannya.
Maka dari itu Lana dan seluruh Tim SAR gabungan polri pun ikut membantu untuk mencari keberadaan Ali. Tapi yang dicari tidak mereka temukan selama hampir sebulan ini.
Lana sudah seperti orang tidak waras saat ini. Siang malam, ia selalu berada di tengah lautan seorang diri untuk mencari keberadaan Ali yang tidak tau dimana jasad dan rimbanya.
Kalaupun Ali sudah tiada, paling tidak ia bisa membawa pulang jasadnya untuk dimakamkan di Medan sana. Tetapi ini tidak ada. Hal ini lah yang membuat Lana seperti orang tidak waras.
Ia mengelilingi seluruh lautan itu seorang diri. Tetapi Fathir dan yang lain tidak membiarkannya sendiri. Mereka pun ikut Lana mencari Ali di tengah lautan sana. Walaupun mereka tau, jika Ali tidak mungkin di temukan lagi selama sebulan terakhir ini.
__ADS_1
Fathir yang sudah tidak tahan melihat Lana seperti orang yang tidak terurus, makan tidak menentu, lingkar hitam dimatanya pun begitu terlihat saat ini.
"Sudah bang.. Kita sudah berusaha mencari bang Ali. Tetapi Abang tidak juga di temukan. Kalaupun ia selamat, pastilah saat ini ia sudah berada di luar negeri sana. Dan kalaupun ia sudah tiada pun, demikian. Lebih baik Abang pulang ke Medan dan mengabarkan hal ini ke Medan sana. Kepada adik, Abang. Mereka harus tau yang sebenarnnya. Tugas kita sudah selesai saat Bang Ali terjun ke laut dengan penyusup ilegal itu sudah tertangkap semua. Karena merekalah yang kita cari saat ini. Dan kita berhasil. Walau.. Harus Bang Ali yang menjadi korbannya," liri Fathir dengan buliran bening yang sudah mentes.
Lana pun demikian. Hatinya begitu sakit saat mendapati kenyataan jika inilah yang Ali katakan sebualan yang lau sebelum mereka bertgas pagi itu.
Masih terngiang olehnya ucapan Ali pagi itu yang membuatnya tertawa, "Bang!"
"Hem?" sahut Lana, ia menoleh pada Ali yang saat ini begitu serius memandangi dirinya. " Ada apa? Ad yang ingin kamu katakan?" tanya Lana pagi itu sebelum mereka bertugas untuk yang terakhhir kalinyanya untuk Ali bukan untuk Lana.
Kemudian terkekeh, "Segitu rindunya ya kamu sama adik Abang yang cantik itu? Sampai-sampai kamu bilang kalau ini tugas terakhirmu? Hahaha.. Ada-ada saja kamu Ali! Mana ada ini tugas terakhir! Ini masih dua bulan berjalan! Masih ada satu tahun Lagi. Gimana sih kamu? Lupa?" ledek Lana pada Ali.
Tetapi Ali tetap menyangkalnya. "Nggak Bang. Ini beneran. Ini merupakan tugasku yang terakhir sebelum aku pulang ke Medan dan bertemu dengan Kinara sesuai janjinya dulu, yaitu melepaskan penantiannya dalam menungguku. Jika aku tidak kembali gimana ceritanya aku bisa menunaikan janji itu?"
Lana tertawa. "Kamu ngacok ah! Kita itu masih bertugas satu tahun lagi Aliiiii... Pikun ah kamu! Udah! Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan memburu mereka yang tersesat disana. Mereka itu sudah meresahkan kita selama dua bulan ini! Ayo!" ajak Lana pada Ali yang kini menatapnya dengan sendu.
Lana tertawa lagi, "Iya deh iya. Ini akan menjadi tugas terakhirmu! Ayo cepat bergerak! Lama sedikit, kita akan kehilangan jejak mereka!" katanya pada Ali yang kini tersenyum puas saat Lana mengiyakan perkataannya.
__ADS_1
Lana keluar sambil tertawa melihat tingkah adik iparnya itu. Itulah terakhir kalinya Lana melihat Ali dan juga saat Ali di dorong paksa di depan matanya hingga terjun ke dalam jurang yang tak berdasar dan bermuara kan laut lepas.
Lana tersedu. Ia memeluk seluruh barang peninggalan Ali dengan erat. Hanya itu yang tersisa saat ini.
Dengan berat hati Lana pun mengambil seluruh barang-barangnya dan juga barang Ali. "Abang akan pulang, tetapi hanya dengan membawa barang Ali saja. Barang Abang kamu bagikan saja kepada mereka yang ada disini. Barang itu tidak seberapa dibandingakn dengan barang peninggalan Ali ini untuk adik Abang. Abang Pamit! Jaga dirimu, jangan sampai kamu bernasib sama seperti Ali!"
"Tentu bang! Hati-hati! Kalau ada perkembangan tentang Bang Ali, aku akan pulang ke Medan untuk mengabarkan hal ini sama Abang!" jawab Fathir ia memeluk erat tubuh Lana yang saat ini semakin kurus semenjak satu bulan yang lalu.
Lana pun kembali ke daratan untuk segera berangkat pulang ke Medan untuk mengabarkan hal ini kepada seluruh keluarga besarnya. Misi pencariannya terhadap Ali dinyatakan Gagal. Lana pulang membawa kehampaan dan kesedihan yang tiada tara nya untuk seluruh keluarga besarnya.
💕💕
Mampir dulu yuk, di karya teman aku yang satu ini 👇
Noh, cus kepoin!
__ADS_1