
Kinara saat sedang di bersihkan dan juga sedikit dijahit oleh Bu Bidan. Sedangkan ketiga anak Kinara saat ini sedang dibersihkan dan akan di adzankan oleh salah satu dokter perempuan diruangan itu.
Kinara yang sudah kelelahan tidak mendengar apapun lagi. Ia sudah terlelap saat Bu bidan selesai menjahit sedikit jalan lahirnya.
Begitu juga dengan Gading. Ia pun terlelap di sofa yang diruangan itu.
Sementara di sebelah sana, Maura pun baru saja selsai di operasi dan saat ini masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Lana yang begitu senang, segera menghubungi seluruh keluarga nya dan mengabarkan jika Maura sudah melahirkan dengan selamat dan kedua bayi mereka perempuan.
Seluruh keluarga berbahagia tetapi tidak dengan Annisa. Ia mengingat jika Kinara pun sedang hamil juga saat ini.
"Apakah adek sudah melahirkan? Tapi kenapa tadi Abang cuma ngomongin Kak Maura saja? Kemana adikku??" gumam nya dengan terus bersiap karena dipaksa oleh Tama.
Annisa sebenarnya berat. Tetapi karena paksaan dari Tama, ia terpaksa menjenguk Maura yang saat ini ada dirumah sakit.
Tepat pukul delapan lebih tiga puluh pagi, seluruh keuarga mendatangi kamar Maura. Dan mereka begitu senang saat melihat anak-anak Lana yang begitu cantik.
Mami Alisa terharu melihat cucunya. Begitu pun Papi Gilang. Ia begitu bangga dengan putra tirinya itu.
Semakin siang semakin ramai berkunjung. Kinara dan Gading yang sudah bangun bisa mendengar kehebohan keluarga mereka tentang kelahiran anak Lana.
__ADS_1
Gading mendekati Kinara yang saat ini sedang menyusui si sulung. Wajah itu begitu datar dan tanpa ekspresi.
Bidan yang menolong Kinara itu pun tidak tega melihatnya. Ya, beliau sudah tau jika Kinara merupakan adik kandung dari pemilik rumah sakit dimana ia bekerja.
Miris sekali hidup Kinara. Melahirkan tanpa suami dan keluarga pun seolah melupakan nya dan hanya melihat Lana saja.
Annisa dan Ira yang berada diruangan itu sedikit gelisah karena sedari tadi malam, ponsel Kinara mati.
Mereka saling lirik dan memeberi kode ingin mengingatkan seluruh keluarga tentang Kinara tetapi tidak bisa.
Karena seluruh keluarga begitu senang karena kelahiran anak Lana. Dari luar dokter anak itu masuk.
"Permisi nyonya. Saya ingin memeriksa dulu keadaan bayinya,"
Mami Alisa yang memeluk bayi kembar Lana segera menyerahakn nya pada dokter yang tadi malam menolong Kinara bersalin.
"Emm. Maaf dok. Tadi malam anda kok tidak ada di ruangan ya saat istri saya operasi?" tanya Lana pada dokter yang bername tag Andini itu.
Semua orang melihat ke dokter itu. Termasuk Ira. Ia bisa melihat ada aura yang tidak menyenangkan dari wajah dokter Andini untuk keluarga besarnya. Tetapi kenapa?
"Saya bersama Ibu muda lain yang melahirkan secara normal. Ia melahirkan tanpa di dampingi seorang suami. Hanya anaknya saja. Anda beruntung ibu Maura. Saat anda melahirkan seluruh keluarga mendatangi anda. Tetapi tidak dengan pasien saya. Dia bahkan sendiri tanpa ada yang menemani. Tetapi semuanya sehat. Anaknya kembar tiga. Dua lelaki dan satu perempuan. Saya salut dengan ibu Muda ini. Ia sanggup melahirkan seorang diri tanpa ada yang menemani. Tetapi jika mungkin itu orang lain, pastilah saat ini sudah mengamuk karena tidak ada yang menemani nya saat melahirkan! saya permisi!"
__ADS_1
Deg!
Semuanya terkejut kala mendengar ucapan dokter itu. Sekilas mereka mengingat Kinara yang entah apa kabarnya.
Sontak saja seluruh ruangan itu sunyi senyap dalam seketika. Lana mematung mendengar ucapan dokter itu.
Tadi malam, saat ia membawa Maura ke rumah sakit. Sempat melirik kerumah Kinara yang sudah gelap.
Ia pikir Kinara memanglah belum waktu nya melahirkan. Lagipun, ia tidak bisa menunjukkan semua itu pada Maura.
Akan berakibat buruk nantinya.
Sedangkan dokter Andini yang berada diluar kamar Maura mengepalkan tangan nya dengan erat.
Jika bukan karena permintaan Kinara tadi, maka ia pasti sudah memarahi seluruh keluarga Kinara itu.
"Dok, tolong jangan katakan apapun pada keluarga saya tentang saya disini. Biarkan mereka bersuka cita dengan kelahiran anak Abang.." lirih Kinara dengan raut wajah sendu
Dokter Andini menoleh padanya, "Kenapa? Kenapa kamu tidak ingin seluruh keluarga mu tau tentang kelahiran anak mu?"
"Karena aku ingin terbiasa hidup sendiri dan mandiri tanpa siapa pun di hidupku. Aku ingin belajar hidup tanpa bantuan seluruh keluarga ku. Lagi pun selama ini, Abang sudah sangat tersakiti karena ku. Jadi.. Biarkan saja mereka bersuka cita untuk kelahiran anak-anaknya. Saya tak apa kok. Saya mohon.. Jangan katakan apapun termasuk pada Kakak saya. Kak Ira." Pintanya yang membuat Dokter Andini, dokter kandungan yang tadi malam menolongnya dan juga bu Bidan menghela nafas panjang.
__ADS_1