
Sepuluh hari berlalu setelah pertemuan itu. Kini Ali dan Kinara sering menghabiskan waktu bersama.
Mulai dari bangun tidur, belanja ke pasar, bermain ke rumah Annisa dan juga berjalan-jalan ke taman kota Medan bersama Ali dan Gading.
Saat ini mereka tidak kemana-mana. Tiga hari ini Ali sedang membuat taman dan pondok kecil-kecilan di depan rumah mereka.
Mulai dari taman bunga, taman sayuran minimalis dan juga pondok kecil muat untuk lima orang saja sudah berdiri kokoh disana.
''Ini di letakkan dimana bang?'' tanya Kinara pada Ali.
Ali yang sedang memegang adukan semen dan pasir itu pun menoleh. ''Letakkan disitu saja. Kamu usah angkat yang berat-berat. Kamu duduk dan isi tanah ke dalam pot itu saja. Lihat putra mu itu. Dia sangat pintar!'' puji Ali pada Gading yang saat ini sedang menuangkan tanah ke dalam pot yang akan ditanami tanaman cabai dan tomat yang sudah Ali beli.
Gading menyengir. Ia tersenyum sembari menampakkan gigi nya yang putih bersih. Wajah tampan nya terlihat menggemaskan. Kinara tertawa.
Ali pun ikut tertawa. Mereka bertiga bekerja sama dalam membuat taman yang sengaja Ali buat untuk sang istri. Agar tidak terlalu sering ke pasar.
Ia sengaja menanami semua sayuran untuk mempermudah Kinara saat ia pergi nantinya. Semua taman itu sama seperti taman yang Ali buat untuk kedua orang tuanya di Bandung.
Lana dan Maura menatap sendu pada Kinara. Mereka hingga saat ini belum bisa untuk meluluhkan hati Kinara yang kecewa pada mereka.
''Abang harap, setelah kepergian kami nanti. Kamu menjaga Kinara dengan baik. Kinara sangat rapuh. Diluar saja terlihat tegar. Tetapi di dalam ia sangat rapuh. Bahkan sangat rapuh. Abang harap kamu bisa menjaga nya dengan baik. Cukup sebulan yang lalu saja Abang membuatnya kecewa. Tetapi tidak lagi. Bisa kan sayang?'' tanya Lana pada Maura.
''Tentu. Adek akan menjaga Kinara dengan baik. Sampai kalian pulang nantinya.''
''Terimakasih..''
__ADS_1
''Sama-sama Bang.. adek pun salah padanya. Anggap saja ini menebus rasa bersalah kita padanya. Adek akan berusaha menjadi kakak yang baik untuknya.'' Ucap Maura membuat Lana memeluk erat dirinya.
Mereka berdua berdiri di hadapan pintu melihat kebersamaan Ali dan Kinara sebelum bertugas lima hari kedepan.
Sebenarnya, kedatangan Jendral Sudirman kemarin itu sengaja untuk memberitahu bahwa keberangkatan mereka di percepat. Tetapi karena melihat keadaan Kinara, beliau mengalah.
Akhirnya keputusan itu diambil. Bahwa Lana dan Ali akan berangkat tepat seperti yang sudah di janjikan.
*
*
*
Hari ini Ali dan kinaa sedang bersiap. Sedari tadi malam, Kinara tidak mau lepas dari tubuh Ali. Kemana pun Ali pergi Kinara mengikutinya.
''Sayang.. Abang mau buang hajat loh.. masa iya kamu ikut sih? Nggak jijik sama baunya?'' tanya Ali pada Kinara yang saat ini masih memeluk tubuhnya.
Kinara menggeleng, ''Nggak. Adek pakai masker! Abang masuk aja. Tetapi jangan tinggalkan adek..'' lirihnya masih dengan membenamkan seluruh wajahnya di dada bidang sang suami.
Lagi dan lagi Ali hanya bisa menghela nafasnya. ''Baiklah..'' ucapnya pasrah.
Mereka berdua pun masuk ke kamar mandi. Kinara tetap menemaninya. Ia bahkan berdiri disamping Ali dengan mata itu terus menatap wajah tampan sang suami yang saat ini sedang membuang hajatnya.
Sebenarnya Ali malu dilihat dan ditatap seperti oleh istrinya. Selama mereka menikah, belum pernah sekalipun Kinara menunggui dirinya saat buang air besar seperti itu.
__ADS_1
Tapi ini entah kenapa. Ali pun tidak tau. Sejak kemarin hingga hari ini Kinara semakin tidak melepaskan nya. Tidur ingin di temani Ali, makan di suapi, jika Ali menolak. Kinara bakalan menangis dan berdiam diri.
Ali hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Malam ini adalah malam terakhir untuk mereka berdua. Ali ingin menghabiskan malam yang panjang ini bersama Kinara.
Pukul delapan malam setelah sholat istikharah dan menidurkan Gading di kamarnya, mereka berdua saat ini sedang melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebelum Ali bertugas besok pagi.
Ali ingin mendapatkan haknya untuk terakhir kali sebelum ia pergi selama setahun lagi. Memikirkan itu dadanya tiba-tiba saja sesak. Entah mengapa ia merasa akan sangat merindukan Kinara nantinya
Ali pun tidak tau. Mereka sibuk mereguk manisnya madu untuk malam terakhir mereka bersama. Entah sampai kapan, othor pun tidak tau.
Yang jelas mereka berdua tidak ingin melepaskan diri walau sudah selesai melakukan penyatuan.
Sedangkan Lana dan Maura, mereka berdua tidur bersama ke tiga anaknya lesehan dikamar mereka. Malam terakhir sebelum ia kembali bertugas besok pagi.
Tepat tengah malam, penyatuan itu terjadi untuk yang kesekian kalinya. Ali takut, bahkan sangat takut. Ia tidak ingin melepaskan Kinara sedikit pun. Begitu pun dengan Kinara. Penyatuan yang mereka lakukan itu begitu menyampaikan pesan dari setiap gerakan tubuh keduanya yang saling bertaut dan tidak ingin melepaskan satu sama lainnya.
Takut akan sesuatu yang mereka tidak tau apa yang sedang menanti mereka di depan sana. Semoga mereka berdua siap dan sanggup untuk menjalani nya.
Semoga saja.
💕
Sambilan nunggu adek Nara update, mampir yuk kesini.
__ADS_1
Noh, cus kepoin!