
Adzan Maghrib berkumandang.
Keempat pria yang ada diruangan itu segera bergegas menuju ke mushola rumah sakit. Papi Gilang yang baru saja mandi langsung ikut menyusul Lana dan Ali yang sudah duluan.
Tinggal lah Maura dan Mami Alisa. Sedang Nara sedang duduk menyender di bantal. Ia menatap Abang nya yang masih terlelap. Sebelah tangannya di perban karena luka bakar.
Nara menghela nafasnya. ''Mami? Kok bisa Abang terluka kayak gitu? Siapa yang di tolong oleh nya??''
Mami Alisa tersenyum, ''Mami pun belum tau Nak.. kata dokter Bryan tadi sih seorang perempuan. Dan dua orang paruh baya. Katanya mereka juga dirawat disini. Rumah mereka habis terbakar. Beruntung nya semua barang-barang penting terselamatkan. Dan itu pun Abang yang menyelamatkan nya. Maka nya tangan nya terluka karena terkena kayu yang terjatuh tepat di lengan kirinya saat menolong mereka. Kalau tidak salah, Nama gadis itu Tiara! Ya, Tiara!''
Deg!
''Tiara??'' gumam Nara begitu terkejut.
''Bukannya Tiara itu pacarnya sahabat Abang ya? Lalu, kenapa Abang yang menolongnya? Kemana Bang Dery? Kenapa dia tidak menyelamatkan pacarnya? Apakah ia menyuruh Abang lagi seperti dulu-dulu?? Ia menjadikan bang Algi sebagai kacung nya begitu?!''' bisik hati Nara begitu kesal kepada Algi dan juga sahabat Abang nya itu.
Mak Alisa melihat raut wajah Nara begitu kesal ketika menatap saudara kembarnya itu. ''Kenapa? Kamu kenal dengan Tiara? Siapa dia Nak?'' tanya Mak Alisa pada Nara.
Nara menghela nafas kesal. ''Maaf Abang, adek harus jujur sama Mami! Agar Papi tau seperti apa putranya selama ini! Demi seorang sahabat baik, rela dijadikan kacung oleh sahabatnya sendiri !'' bisik Maura lagi dalam hati.
Wajahnya tidak bersahabat saat ini. ''Setelah adek ceritakan ini Adek harap, Mami bisa tegas sama Abang! Mami tau? Gadis yang diselamatkan sama Abang itu adalah pacar sahabat nya. Bang Dery! Pemuda brengsek yang sangat Suka menyuruh Abang kesana kemari! Abang di suruh-suruh olehnya! Kayak kacung! Dan Abang tidak menolaknya! Ia menerima dengan ikhlas perlakuan sahabat yang ternyata sifatnya itu hanya mementingkan bang Algi saat ia butuh duit aja! Adek sudah lama melihat hal ini. Tapi belum punya kesempatan untuk mengatakan nya! Ngomong sama Mami, Bang! jujur! Tidak perlu berbohong lagi!'' ketus Nara pada Algi yang baru saja sadar.
Mami Alisa terkejut, ia melihat ke bangkar Algi. Dan benar putra nya itu sudah siuman. Ia bergeser dan duduk di sebelah bangkar Algi. Bertepatan dengan empat orang lelaki masuk ke kamar itu kembali.
__ADS_1
''Katakan yang sebenarnya sama Mami! Bahwa selama ini, Abang rela dijadikan kacung! sama si brengsek Dery! Apa Abang nggak mikir? Jika suatu saat terjadi dengan Tiara, apakah Abang juga yang harus tanggung jawab?!''
Deg!
''Tanggung jawab apa?!'' sela Papi Gilang dengan suara naik satu oktaf. Ia yang baru masuk, terkejut mendengar ucapan Nara tentang tanggung jawab yang Algi tanggung.
Nara menatap nanar pada abangnya yang memejamkan matanya itu. ''Katakan! Apa yang kamu sembunyikan dari kami??'' tanya Papi Gilang lagi pada Algi.
Algi diam. Ia tidak punya kekuatan untuk membela dirinya untuk saat ini. Rahasia yang selama dua tahun ini ia tutupi akhirnya terbuka juga di depan seluruh keluarga nya.
''Jawab Bang!!'' sentak Papi Gilang, membuat ruangan rumah sakit itu hening seketika. Maura yang baru saja selesai sholat pun terkejut mendengar suara Papi Gilang seperti itu.
Dengan segera ia mendekati Lana dan berdiri disampingnya. Sambil berbisik dan bertanya ada apa. Tapi Lana menggeleng sebagai Jawaban.
Algi membuka matanya perlahan. ''Maaf Pi.. Mi.. Abang hanya bermaksud menolong nya-,''
''Menolong seperti apa?? Seperti kacung begitu?! Seorang putra pengusaha ternama Gilang Bhaskara menjadi kacung seorang Dery Derajat yang notabene nya hanya orang miskin tapi berlagak sok kaya?! Itu maksud Abang?! Sadar bang! Abang itu di bodohi olehnya! Adek sudah tau apa yang Abang sembunyikan selama ini! Sengaja adek diam, karena adek ingin lihat. Apakah Abang akan jujur kepada orang tua kita atau memilih semakin larut dalam kebohongan?!''
Deg!
Deg!
''Tunggu! Ini ada apa sih?? Kenapa ini?? Abang belum paham. Kebohongan apa? Kamu melakukan apa Dek??'' tanya Lana pada Algi.
__ADS_1
Ia sengaja memotong perdebatan Nara dan Algi karena ingin tau titik temu masalah nya. Papi Gilang lebih memilih diam. Ia duduk di sofa setelah di bujuk oleh Mak Alisa.
''Ceritakan bang! Abang yang lebih tau apa yang terjadi sebenarnya! Bisa-bisa nya Abang mau bertanggung jawab atas perilaku yang tidak pernah Abang lakukan sama sekali! Untuk apa Abang menjadi pengganti dari ayah bayi yang sedang Tiara kandung saat ini? Sedang Abang saja tidak pernah menyentuh nya! Jika cinta, bukan seperti itu caranya bang!'' Seru Nara dengan suara semakin ketus saja.
Deg!
Papi Gilang dan Mak Alisa terkejut. Begitu juga dengan Lana dan Maura. Mereka berempat semakin kebingungan.
Ali mengusap lengan Nara. ''Sabar..''
Nara melihat Ali. ''Abang tau? bahkan bang Algi rela bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat! Ia rela menanggung kesalahan orang lain. Dan ia yang menjadi tertuduh di depan keluarga gadis itu. Semua itu karena cinta! Kita boleh mencintai, tapi jangan mau harga diri kita di injak-injak oleh orang lain! Telinga adek tidak tuli Bang! Bang Algi selama ini selalu di cemooh saat di sekolah karena di tuduh telah menodai Tiara, padahal yang melakukan itu adalah bang Dery! Pria brengsek yang tidak bertanggung jawab! Itu yang menjadi sahabat setia Abang?! Sedang sahabat Abang tidak setia sama Abang! Dia yang makan nangka, Abang yang kena getahnya! Adek kecewa sama Abang! Kejadian yang terjadi pada bang Rayyan, kini kembali terjadi pada bang Algi!'
Semua yang ada disana tertegun mendengar serentetan kekesalan Nara yang keluar langsung dari hatinya untuk kesalahan yang Algi perbuat.
Selama ini Algi tidak pernah berbicara apapun pada seluruh keluarga. Ia lebih memilih diam. Karena jika pun ia berbicara, tak kan ada yang mempercayai dirinya.
Dan ya, Nara mengetahui semua itu karena ia mengikuti Algi selama hampir enam bulan ini. Yang selalu pulang sore dengan alasan ada les tambahan. Padahal tidak ada sama sekali.
Algi terdiam. Ia tidak berani melihat ke dua orang tuanya. Lana mendekatinya dan memeluk adik bungsu lelakinya itu. Algi menangis.
''Sssttt.. udah.. jujur aja sama kita semua. Biar Abang yang baru aku untuk menyelesaikan masalah ini, hem?'' ucap kaan pada Algi.
Akan tetapi, Algi tetap memilih diam. Baginya, Maslah ini cukup dirinya saja. Tidak perlu orang tuanya tau.
__ADS_1
Sementara Nara semakin kesal saja dengan kelakuan Abang nya ini.