
Pukul tiga sore, mata kulaih Nara dan Algi sudah selesai. Kini mereka berdua sedang menuju kerumah Mami Alisa dan Papi Gilang karena paksaan dari Algi.
Nara pasrah saat dirinya dipaksa pulang oleh Algi dengan cara dipaksa. Nara terpaksa menurut karena Algi terus memaksanya dengan cara tanganny di tarik.
Mereka pulang dengan menggunakan motor Nara dengan Algi yang mengemudikan motor adik iparnya itu.
Cukup satu jam lebih sepuluh menit saaj kini mereka sudah tiba di kediaman sang Mami dan Papi mereka.
Mami Alisa begitu panik saat mendapat kabar dari Algi tentang Kinara yang tiba-tiba kejang di kampus saat makan siang tadi.
"Assalamu'alaikum Mami.." lirih Nara begitu lemas.
Seluruh tubuhnya terasa begitu lemas. "Ya Allah!!" seru Mami Alisa saat melihat tubuh Kinara yang terhuyung ke samping akibat pusing yang tiba-tiba melanda dirinya.
"Adek belum makan Mi sedari saing tadi. Abang aja kaget pas tau adek belum makan. Masuk aja dulu Mi." Ucap Algi membuat Mami Alisa mengangguk setuju. Keduanya menoleh bersamaan pada sang Papi.
__ADS_1
Papi Gilang saja pulang dari kantor pun terkejut melihat putri bungsunya sakit seperti itu. "Adek kenapa ini?" tanya Papi Gilang pada Mami Alisa dan Algi
"Adek sakit Pi. Nggak tau aja seperti ada yang memanggil namanya dan juga tadi Abang bisa mendengar sekilas jika Bang Lana memanggil nama adek. Saat di kampus tadi, Adek sempat kejang-kejang yang entah karena apa. Yang jelas, adek manggil Bang Ali terus menerus," cerita Algi hingga membuat kedua paruh baya itu tertegun.
Mereka berdua saling pandang dan mengangguk bersama. "Baiklah, biar Papi yang bawa adek ke kamarnya!" ucapnya dengan segera menggendong Kinara ala bridal style dan menuju ke kamar Kinara yang ada di atas.
Kinara tidak berkutik. Tubuhnya begitu lemas. Dan juga rasanya seluruh sendi nya itu seperti mati rasa. Matanya begitu berat untuk terbuka.
Tiba di dalam kamar, Mami Alisa segera membuka kaos kaki dan juga hijab Kinara. Algi dan Papi Gilang menungguinya.
"Adek makan dulu ya? Mami udah minta Mbok Mi untuk bawa makan siang kamu kesini. Makan dulu, baru setelahnya kamu tidur. Pusing banget ya?" tanya Mami Alisa pada Kinara yang saat ini masih terpejam walau sesekali ia meringis menahan pusing di kepalanya karena belum lagi makan siang.
Algi membantu adiknya untuk duduk dan Mami Alisa mulai menyuapinya. Kinara menerima suapan itu dengan mata terpejam.
Tetapi anehnya, air mata itu mengalir lagi tanpa di minta. Kinara tidak terisak tetapi air mata itu terus berkeluaran dengan deras.
__ADS_1
Papi Gilang pun duduk di samping Kinara dan memeluk erat putri bungsunya itu. "Sssstt.. Jangan menangis. Kalau kamu menangis, kami semua pun ikut menagis. Doa kan saja yang terbaik untuk suami kamu, hem?" ucapnya pada Kinara yang saat ini tersedu di dalam pelukan hangat cinta pertamanya ini.
Kinara hanya bisa menangis dan menangis. Karena itulah yang hatinya inginkan saat ini. Tidak tau kenapa, tetapi hatinya begitu sedih dan pilu. Sesak seakan tidak bisa bernafas. Berulang kali ia menghela nfasnya. Tapi tetap saja nafas itu seakan terhenti setiap kali Kinara menarik nafasnya.
Sekali lagi, Kinara masih bisa melihat Ali yang semakin tenggelam ke dasar laut yang begitu gelap.
Ia semakin erat memeluk tubuh sang Papi yang saat ini juga ikut menagis melihat putri bungsunya begitu merasakan sang suami nan jauh disana belum ada kabarnya.
Seharusnya, hari ini Ali menghubunginya karena sudah satu bulan keberadaan nya di Papua sana. Tetapi jangankan mendapat kabar dari Ali, yang ada malah dirinya merasakan firasat buruk semenjak sebulan yang lalu.
Tepatnya saat keberangkatan Ali ke Papua.
❣️❣️
Sambilan nunggu adek Nara update, mampir dulu yuk di karya teman aku yang satu ini 👇
__ADS_1
Noh, cus kepoin!