
Maura bergegas menuju ke kamar Malda. Tiba disana ia langsung saja berdiri di depan lemari. Tetapi sebelum itu, ia melihat di bawah selimut Zia tidur itu berguncang.
Ia ingin mendekati ranjang putrinya itu tetapi teringat dengan ucapan Lana tadi, Maura mengurungkan niatnya untuk melihat apa yang terjadi dengan putrinya itu.
Tanagn halus itu segera membuka lemari dan betapa tercengang nya Maura saat melihat isi lemari pakaian Malda sudah hilang separuh dan tinggal separuh lagi.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng tanda tidak percaya. "Nggak! Putriku tidak mungkin pergi tanpa kami tau! Nggak! Nggak mungkin!"
Kaki itu mundur dua langkah ke belakang. Ia tergugu melihat sesuatu yang terjatuh dari ssusunan baju itu.
Maura mengambil dan membukanya. Mulut itu menganga dengan aiar mata bercucuran dan kedua kaki yang lemas bagai tak bertulang.
"kamu pergi Nak?? Hah?? Kamu beneran pe-pergi?!"
Deg!
Deg!
"Nggak! Ini Nggak Mungkin! Malda nggak mungkin pergi! Nggak! Ya Allah.. A-abang..."
Bruukk..
__ADS_1
"Mamiiii!!!"
Dddduuuaarrr...
Lana tersentak saat mendengar suara lengkingan Zia dari kamarnya. Lana berlari menuju ke kamar nya dan terkejut melihat Maura yang jatuh terkapar dengan air mata terus beruraian.
Lana terpaku di tempat saat melihat dan mendengar Zia terus meminta maaf pada sang Mami.
"Hiks.. Bangun Mi. Hiks.. Maaf.. Maafkan Kakak, Mi.. Maaf.. Bangun Mi.. Papiii... Hiks.. Mami.. Ba hiks bangun.." isak Zia dengan terus berusaha menyadarkan Maura.
Tangan halus itu terus saja menepuk-nepuk lembut pipi halus sang mami yang terus mengeluarkan air mata.
Lana tidak bisa bergerak. Kaki itu seperti terpaku di tempatnya berdiri. Bibir itu kelu untuk berbicara. Dengan berat ia mengangkat kaki itu untuk melangkah menuju Maura dengan cara ia seret kaki itu yang begitu berat untuk ia langkahkan.
Zia tidak menyahut. Ia masih terus berusaha menyadarkan Maura yang kini belum juga sadar.
"Nak???" panggil Lana lagi pada Zia.
Zia berhenti untuk menyadarkan sang Mami dan menoleh pada sang papi dengan wajah basah air mata.
"Nak..??"
__ADS_1
"hiks.. Hiks.. Ma hiks af Pi.. Maaaf... Huaaaa... Aaaa.. Kakak pe-pergiii... Haaaaa.. Hiks.. Udah kakaak hiks larang.. Tetapi hiks kakak nggak ma-mau... Maaf pi... Maaf..." isak Zia sambil bersimpuh dihadapan Lana yang kini mematung dengan air mata beruraian.
Ia menangis tanpa suara. Sakit sekali hatinya saat sang putri mengatakan hal yang begitu membuatnay terkejut.
Jika tadi siang terkejut karena Malda akan segera kembali ke Malaysia, kini ia lebih di kejutkan lagi saat mendengar berita yang begitu mengejutkan dirinya.
Hingga rasanya dunia nya runtuh seketika. Ia menatap nanar pada Maura dan zia yang kini di hadapan nya.
Lana menatap kosong ke arah lemari yang kini terbuka lebar dan terlihat jika baju Malda sudah hilang separuhnya.
"I-ini nggak benar kan Nak? Kakak kamu tidak beneran pergi 'kan? Ini bohong kan ya?"
Zia tidak menyahut. Ia semakin merasa bersalah karean tidak bisa melarang Malda untuk tidak pergi.
"Maaf Pi.. Kakak salah.. Hiks.. Maaf.. Kakak salah.. Kakak nggak bisa melarang kakak. Kakak pergi tidak ingin merusak kebahagiaan Papi yang kini sedang berbahagia. Kalian baru saja berkumpul. Dan kakak tidak ingin merusaknya. Bukankah tadi kalian bertengkar gegara ingin mengantar kakak, tetapi mami tidak mengizinkan?"
"Hah?" Lana menganga mendengar ucapan Zia.
Ia tertawa tetapi air mata bercucuran. Tak lama setelahnya, mata itu terpejam dan..
Brruuukk..
__ADS_1
"Astaghfirullah ya Allah.. Papi.. Mami..." pekik Zia