Penantian Kinara

Penantian Kinara
Senaseb!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Selama dalam perjalanan menuju ke mesjid hingga pulang ke mesjid ada yang aneh dengan Lana. Ali menatap Abang iparnya itu dengan raut wajah kebingungan.


Ingin bertanya tapi tidak berani. Takut terkena semprot komandan Lana. Lana memang lah ramah orangnya. Tapi jika salah satu anggota sudah melakukan kesalahan, Lana pasti bertindak tegas pada setiap bawahannya.


Teguran untuk mereka pun tidak main-main. Ali menjadi bingung sendiri dengan sikap Lana yang menjadi pendiam. Bahkan saat tadi mereka berdua menuju ke camp, Lana tetap terdiam seribu bahasa.


Sampai saat inipun, Lana masih berdiam diri. Tidak mau membuka suaranya pada Ali. Ali yang dibuat seperti ini oleh Lana, merasa ada yang janggal dengan komandan sekaligus Abang iparnya ini.


Dengan sedikit menahan rasa takut di semprot, Ali berusaha untuk mencairkan suasana. ''Ehem, Abang kenapa?? Ada masalah Sama Kak Maura??'' tanya Ali hati-hati


Jantung nya saat ini berdegup tak beraturan. Ia sesekali menoleh pada Lana yang masih berwajah datar tanpa ekspresi.


Ali menghela nafasnya. ''Abang kenapa? Apakah aku ada salah Sama Abang? Sampai Abang abaikan seperti ini?? Kalau memang aku ada salah, tolong katakan. Biar aku bisa memperbaiki nya..'' lirih Ali dengan wajah sendunya.


Entah kenapa, tiap kali Lana berdiam diri dan tidak mau berbicara padanya ada rasa tidak menyenangkan dihatinya. Ia lebih menyukai Lana yang terlihat sangar dan marah-marah padanya dibanding kan dengan berdiam diri seperti ini.


Lana menoleh sekilas pada Ali kemudian menghela nafasnya. ''Abang tidak marah sama kamu Ali.. hanya sedang merasa kecewa dengan naseb!'' kesal Lana pada Ali.


Ali menoleh sekilas, saat ini ia sedang menyetir mobil Pajero milik Lana dan baru saja mereka pulang dari camp karena komandan Kevin memanggil mereka semua untuk hadir disana.


''Eh? Naseb?? Naseb kenapa?? ada apa rupanya dengan naseb Abang? Eh?'' tanya Ali dengan lidah sedikit keseleo di bibirnya.


Lana terkekeh, Ali pun tersenyum. ''Hah! Nanti kamu akan tau. Tidak perlu Abang jelaskan padamu. Suatu saat kamu pasti akan tau. Lebih baik bicarakan hal yang lain saja. Hem??''


Ali tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mau tau tentang pribadi Lana lebih dalam. Walaupun ia begitu akrab dengan Lana tapi untuk hal privasi, Ali tidak berani bertanya lebih banyak padanya.


Ali sadar akan batasan antara dirinya dan Lana. Dan Lana pun sangat mengenal Ali. Maka dari itu, ia betah jika berada disamping Ali sebagai rekan nya.

__ADS_1


Tiba dirumah Lana, Maura sudah menunggu mereka dengan wajah berseri. Tidak terlihat Nara disana. Ali pun tau itu jika saat ini sang istri masihlah di sekolah sedang menuntut ilmu.


Makanya hanya Maura saja yang menyambut mereka berdua. Maura menyambut uluran tangan Lana dan di kecup nya dengan takzim. Ali terkekeh, Nara pun juga begitu jika Ali sedang keluar.


Mengingat istri kecilnya itu, Ali tersenyum-senyum sendiri saat mengingat tadi malam sang istri begitu polos. Namun tidak sepolos yang ia duga.


Ternyata Nara tau semuanya tentang hukum dan adab berjimak. Ali sampai takjub dibuatnya. Ketika ditanya, siapa yang mengajari?


Jawabannya, Mami dan Papi. Mereka berdua mengajari Nara sebelum Nara menikah dengan Ali seminggu yang lalu.


Nara menceritakan pada Ali saat Papi dan Maminya berbicara hal tentang Nina ninu itu, yang membuat Mami dan Papi saling timpuk satu sama lain.


Bukannya belajar, Nara malah jadi malu sendiri saat kedua orang tuanya mengajarinya tentang adab berjimak.


Nara menjadi malu pada Ali. Ali meminta Nara untuk mempraktekkan satu saja padanya. Dengan polosnya, Nara memberikan apa yang Ali minta.


Hingga membuat Ali semakin tergila-gila pada istri kecilnya itu. Wajahnya saja polos bin lugu. Tapi otaknya itu begitu pintar saat mencerna semua arahan yang Ali berikan padanya.


Mengingat tentang itu, Ali terkekeh kecil. Semua itu tidak luput dari perhatian Lana dan Maura. Mereka saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.


Ternyata Lana dan Ali senaseb euuuyy!


Dirasa cukup menertawai Ali, kini Lana menatap nya dan ingin bertanya ada apa gerangan dengan rekan sekaligus iparnya ini.


''Kamu kenapa Ali?'' tanya Lana karena melihat Ali tersenyum tak jelas sendiri.


''Tak apa bang. Ya sudah, aku pulang dulu ya? Bentar lagi pun mau jemput adek kesekolah nya.''


Lana terkekeh, ''Biasanya nggak pernah kamu jemput? Tumben!'' celutuk Lana pada Ali.

__ADS_1


Ali terkekeh lagi, ''Adek yang minta Bang, tadi pagi. Katanya hari ini akan sangat siang pulangnya. Bus pun kalau udah sore mana ada lagi kan?? Maka dari itu aku harus menjemput nya.'' jelas Ali masih dengan tersenyum tercetak di wajah tampan nya.


Lana pun ikut tersenyum. ''Ya sudah, bawa aja mobil Abang. Lihatlah cuaca begitu mendung saat ini. Takutnya belum lagi kamu tiba di sekolah adek, kamu udah basah kuyup. Nggak etis kan, yang jemput malah basah kuyup??''


Ali tertawa. ''Tak apa Bang. Adek maunya di jemput pakai motor katanya. Lagipun kalau hujan aku kan bisa singgah dulu Bang??''


Lana menghela nafasnya. ''Terserah mu lah Dek!'' celutuk nya membuat Ali tertawa.


''Aku balik Bang! Assalamualaikum!''


''Waalaikum salam...'' sahut Lana.


Ali dengan segera masuk kerumah mereka melalui pagar samping yang baru saja di rehab Lana kemarin siang. Maura dan Nara bilang, agar nggak kepayahan saat masuk kerumah mereka jika ada sesuatu. Begitu pun sebaliknya.


Ali masuk kerumah setelah mengucapkan salam. Ia langsung menuju ke kamar untuk istirahat sebentar sebelum menyusul Nara ke sekolahnya.


Ia sengaja menyetel alaram agar bangun tepat waktu. Cukup satu jam saja ia istirahat, setelah nya baru menyusul Nara.


Tubuh yang begitu lelah, membuat Ali terlelap begitu saja saat mencium bau harum tubuh Nara yang masih tertinggal di bantalnya. Aroma yang menenangkan hati dan pikirannya.


Ia terlelap dengan bibir terus menyungging kan senyum manis saat mengingat istri kecilnya itu yang sebetulnya tidak lah polos seperti pemikiran orang-orang.


Sementara Nara masih saja berkutat dengan pelajaran tambahan yang guru mereka berikan.


Ia menghela nafasnya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Yang berarti saat ini Ali sedang istirahat sebelum nantinya sang suami menyusulnya.


Semenjak pernikahan mereka, baru kali ini Nara meminta bantuan Ali untuk menyusul nya.


Bukan apa sih. Biasanya kalau begini pasti ada Rayyan yang selalu menyusulnya dan Algi. Tapi sekarang? Rayyan sedang tidak bersama nya.

__ADS_1


Jadi dengan sangat terpaksa harus meminta tolong pada Ali untuk menyusulnya setelah ashar di sekolahnya. Daripada pulang sendirian akhirnya kemalaman, 'kan lebih baik di jemput Ali? Begitu pikir Nara.


Dan ya, saat ini ia sedang menunggu sang suami untuk menjemput nya ke sekolah untuk pertama kalinya.


__ADS_2