
Ivan menatap nanar punggung Amel yang menghilang masuk kedalam mobil nya. Hati nya masih bergejolak hebat saat ini.
Rasa nya dia benar benar masih ingin berada didekat gadis itu. Tapi perkataan Amel yang terakhir membuat nya terdiam dan tak lagi banyak berbicara. Bahkan dia juga tak mengizinkan Ivan untuk mengantar nya kerumah seperti biasa, padahal Ivan begitu khawatir melihat Amelia menyetir sendiri dengan mobil nya dalam keadaan yang sedang tidak baik baik saja.
Ivan terduduk disudut parkiran khusus diuniversitas nya. Tatapan nya memandang kosong kedepan. hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang disana karena hari sudah beranjak sore hari.
'terimakasih sudah membalas perasaan ini, Amel juga sangat mencintai kakak. Tapi Amel tahu, kita berada dijalan yang berbeda, ada pembatas yang tak bisa kita robohkan untuk kita bisa bersatu. Dan Amel tak mungkin berharap lebih untuk itu, Amel tak ingin menghancurkan keluarga kakak untuk yang kedua kali nya'
'kejarlah cita cita kakak, buat orang tua kakak bahagia. Amel sudah benar benar bahagia mendapatkan perasaan kakak, tak ada yang lebih indah selain itu, karena sejak pertama Amel yakin dengan perasaan ini, Amel tak pernah berharap lebih untuk kita bersatu'
'jangan bersedih, kita mungkin tak bisa bersama saat ini, tapi yang harus kakak tahu Amel selalu melangitkan harapan Amel, agar Amel tak lagi mencintai lelaki manapun selain kakak'
'bahagialah, bulan depan kakak wisuda kan, dan saat itu juga kehidupan baru kakak dimulai. Jangan lagi bersedih karena cinta, kakak terlalu hebat jika terpuruk karena perasaan ini'
Ivan mencengkram dada nya dengan erat, kalimat itu benar benar membebankan hati nya, hingga rasa nya benar benar sesak.
Dia tak mampu menjanjikan apapun pada gadis itu, karena dia sendiri pun tak tahu apa yang harus dilakukan nya dengan perasaan nya saat ini.
Dia benar benar tak mampu untuk menyakiti hati Maxwel, tapi bagaimana dengan hati nya yang baru saja tumbuh?
Pluk
Sebuah tepukan jatuh dibahu Ivan, dan Ivan langsung menoleh pada orang yang kini telah duduk disebelah nya
"Balek yuk" ajak Faiz , yang ternyata belum pulang sedari tadi.
Ya, dia masih menunggu Ivan diparkiran, didekat motor Ivan.
"Kok Lo masih disini?" Tanya Ivan memandang kearah depan nya
"Males gue naek taksi, nebeng Lo lebih enak gratis" jawab Faiz cengengesan. namun Ivan hanya diam, tak seperti biasa yang selalu menanggapi guyonan Faiz
"Kita kerumah Lo aja" kata Ivan langsung beranjak, membuat Faiz geleng geleng kepala dan mengikuti langkah nya.
Dia tahu sahabat nya ini benar benar patah hati, bahkan lebih parah dari pada saat patah hati karena Karina dulu.
__ADS_1
Kali ini Faiz yang membawa motor Ivan, dia tak mengizinkan Ivan yang membawa nya, karena seperti dulu, saat dia galau Ivan seperti orang gila yang memiliki nyawa sembilan jika membawa motor, dan dia takut ini bisa lebih parah
Sesampai nya dirumah Faiz, Toni masih asik bermain ponsel disofa ruang tamu nya. Dia langsung duduk dan menatap Ivan yang berjalan lemas dan menuju kamar tidur milik nya
"Gue mau tidur, jangan ganggu gue" kata Ivan tanpa menoleh pada Toni yang terbengong melihat nya
"Woi bang" seru Toni hendak mengucapkan sesuatu namun Faiz langsung melemparkan kuci motor kearah nya dan menggeleng pelan dengan tatapan mata mengancam
Toni kembali menatap punggung Ivan yang menghilang dibalik pintu dan kini beralih pada Faiz
"Kenapa tuh?" Tanya Toni pada Faiz yang sudah duduk dihadapan nya
"Biasalah galau" jawab Faiz sembari melepaskan jaket dan tas nya
"Galau Mulu. Oh iya bang, tadi pagi kak Amel Dateng kemari" kata Toni membuat Faiz langsung menolehkan kepala nya pada Toni
"Ngapain?" Tanya nya heran
"Nanyain kak Ivan, dia nanyak, kak Ivan ada kemari gak, nomor nya gak bisa dihubungi juga. Sama wajah nya kayak kak Ivan, wajah wajah galau" jawab Toni
Faiz menghela nafas berat dan merebahkan diri nya disandaran sofa
"Berantem tu enggak, tapi gak tahu lah gue. Mungkin karena mau pisah lama makan nya sama sama galau" dalih Faiz membuat Toni menganggukan kepala nya
"Tapi, gue lihat, bang Ivan kayak orang patah hati aja, bahkan lebih parah dari pada sama Karina dulu" gumam Toni
Faiz langsung mengangguk setuju
"Ya, lebih parah emang" gumam nya
...
Ditempat lain...
Dipinggir pantai seorang gadis duduk termenung diatas pasir pantai. angin berhembus meniup rambut ikal dan pirang nya.
__ADS_1
Pandangan mata nya menatap lurus kedepan dimana matahari mulai tenggelam diujung sana, membuat suasana benar benar membuat hati nya terasa mengambang dan tak tentu arah.
Air mata kembali menetes membasahi wajah nya yang sudah benar benar sembab, serta penampilan nya yang juga sudah terlihat kusut dan berantakan.
Amelia, gadis itu memutuskan untuk menepi dan menenangkan hati nya yang begitu sakit. Lagi dan lagi, dia merasakan kebahagiaan, namun dalam sekejap perasaan nya terhempas begitu saja.
"Kak Ivan, kenapa harus begini. Kenapa harus seperti ini" gumam nya terisak pedih
Air laut dan pasir pantai seolah menjadi saksi bisu kesakitan hati nya yang terasa begitu menyesakan.
"Apa aku terlalu egois jika mengharap kita bisa bersatu kak" gumam nya lagi
"Bibir ini berkata tak berharap lebih, tapi hati ku benar benar tak mampu untuk tidak berharap, apalagi kamu juga membalas nya kak" gumam nya lagi
Amel tertunduk dan memeluk lutut nya disana. Harapan nya benar benar menyakiti perasaan nya.
Dia ingin Ivan, dia ingin selalu ada didekat Ivan. Ini cinta pertama nya, tapi kenapa sesakit ini.
Apa hidup nya memang tak akan pernah bisa mendapatkan kebahagiaan.
Dia kesepian selama ini, dan hanya Ivan yang menjadi semangat nya dalam menjalani hari hari nya, hanya Ivan kebahagiaan nya disaat dia tak dianggap dikeluarga nya, disaat Andrean sibuk dengan pekerjaan nya, hanya Ivan yang selalu menemani nya meskipun dengan Amel yang selalu memulai semua nya.
Tapi sekarang, mereka harus berjauhan, mereka tak bisa lagi bersama bahkan untuk sekedar berteman.
Kesalahan apa yang pernah dilakukan nya hingga Tuhan menghukum nya seperti ini.
Ini sakit, begitu sakit.
Tapi dia ingat perkataan Ivan sebelum mereka berpisah
'dulu Tuhan mengabulkan doa ku, agar ketika aku jatuh cinta kembali, maka orang itu adalah kamu. Dan seperti yang kamu katakan jika kamu melangitkan harapan mu untuk bisa selalu bersama ku, maka aku juga akan melangitkan doa ku agar kita bisa bersatu suatu saat nanti'
'maafkan aku yang tak bisa berbuat apapun untuk saat ini, tapi satu hal yang harus kamu ingat, hati ku tidak mudah untuk terbuka kembali setelah kita berpisah nanti'
'jaga dirimu baik baik, aku tahu, kamu gadis yang hebat'
__ADS_1
Amel terisak dan menggeleng pelan sembari membenamkan wajah nya diantara tangan dan lutut nya
"Aku gak sekuat itu kak, aku bahkan takut untuk menjalani hari tanpa kamu kedepan nya nanti" gumam nya lirih