Story Of The Twins

Story Of The Twins
Dirumah Jonathan


__ADS_3

Setelah beberapa menit berkendara mobil yang ditumpangi Ivan pun tiba dirumah Jonathan.


Ivan memandang takjub rumah mewah yang sedang dilihat nya itu.


Ia turun dari mobil dengan menatap rumah itu.


Rumah dengan tembok kokoh yang menjulang tinggi, bahkan dari jarak jauh sudah terlihat seberapa megah nya rumah itu. Halaman luas dihiasi taman bunga milik Delisha yang terawat rapi, bahkan ada air terjun buatan mini yang dibuat seperti asli hingga menambah kesan sejuk dan mengagumkan dimata Ivan.


"walah,  ini rumah apa istana ya,  gede betul,  gila takjub gue" gumam ivan memandang takjub rumah mewah bak istana itu.  Ia sampai lupa jika sedang bersandiwara menjadi Jonathan.


"tuan ada apa? " tanya Roy memecah lamunan Ivan hingga membuat Ivan terkesiap kaget dan kelabakan


"eh,  tidak ada apa apa,  hehe" jawab Ivan cengengesan dan langsung masuk kedalam rumah.


"kenapa dengan tuan muda?  Mengapa jadi aneh begitu? " tanya Roy yang hanya dalam hati, lagi.


Setelah melangkahkan kaki nya masuk Ivan tambah dibuat takjub oleh interior rumah itu.  Tiang tiang besar dan furniture yang berlapis kristal dan perak mendominasi keseluruhan bagian rumah. Sebuah tangga tinggi berlapis kristal dengan alas karpet cokelat muda menghiasi bagian tengah rumah itu.


Ivan memandang kesana dan kemari berusaha bersikap setenang mungkin dan menghembuskan nafas nya yang terasa tersengal hebat.


"astaga,  berasa kayak mimpi gue.  " kata Ivan dalam hati dan terus mengerjapkan mata nya sambil mengelus dada nya yang tiba tiba bergemuruh hebat


"sadar Ivan sadar,  lo lagi akting sekarang.  Jangan katrok amat jangan,  jangan" ingat Ivan pada dirinya sendiri.


Hingga datanglah seorang wanita paruh baya menyapa nya.


"selamat datang tuan muda,  tumben cepat pulang nya? " tanya wanita itu


"ini pasti bu May" kata Ivan dalam hati memperhatikan bibi May


"iya bu,  gak jadi orang nya gak dirumah" jawab Ivan ramah, namun itu membuat bibi May mengerjapkan mata nya beberapa kali


"oh begitu.  Tuan mau makan atau minum, biar ibu siapkan? " tanya bu May lagi


"gak usah bu,  nanti aku ambil sendiri.  Masih kenyang hehe" jawab Ivan cengengesan.


"baiklah tuan" jawab bi May mengangguk.  Ia merasa sangat heran melihat sikap tuan nya yang berbeda jauh dari biasa nya.


"kok tuan muda aneh ya,  apa perasaan ku aja" tanya bibi May dalam hati.


Ivan pun melangkah menaiki anak tangga.  Ia ingat pesan Jonathan yang mengatakan bahwa kamar nya berada dilantai atas pintu kedua.


'ya Allah, ini beneran rumah nya ya. Kayak mimpi gue, ini kaki kenapa juga harus gemeteran' batin Ivan sembari mengedarkan pandangan nya, dan terlihat dari lantai atas seluruh keseluruhan rumah, dari ruang tamu, ruang tengah hingga ruang makan membuat Ivan kembali berdecak kagum


'gila bagus bener' batin Ivan lagi


Ia pun menuju kearah yang dituju.  Tidak sulit untuk menemukan kamar Jonathan, karena memang hanya ada tiga kamar dilantai atas.


Ivan membuka pintu kamar itu.


Setelah pintu terbuka ia pun melongo melihat kamar itu.


"wah gila kamar bang Jo,  luas nya aja seluas rumah bapak dikampung" kata Ivan sambil menutup pintu dengan mulut yang terbuka dan mata yang memandang takjub kamar Jonathan.


"adem dan wangi" gumam nya pula


Ivan mengedarkan pandangan nya keseluruh sudut kamar.  Melihat desain mewah kamar itu.  Nuansa gold dan putih mendominasi sehingga membuat kamar itu terkesan mewah dan sangat nyaman. Sebuah ranjang King size terletak ditengah tengah ruangan dengan dihimpit oleh sebuah meja belajar besar bewarna putih disebelah kiri nya dan meja nakas disebelah kanan nya.

__ADS_1


"gila gila gila,  kalau gini cerita nya bakalan betah gue" kata Ivan sambil terus mendekat kearah tempat tidur Jonathan.


"ini tempat tidur nya kayak yang ditv TV itu ya, boleh ditidurin gak sih, kok ngerih gue" gumam Ivan sembari tangan menyentuh permukaan tempat tidur itu dan kemudian menjatuhkan tubuh nya diatas ranjang dengan perlahan.


"woaahh,, buset dah, enak banget. Kalo kayak gini mah, bisa tidur selama nya gue" kata Ivan tergelak sembari merebahkan tubuh nya dengan tangan yang merentang keatas.


Ivan memejamkan kan mata nya dan kemudian tersenyum.


"rasain lo bang,  sengsara deh lu disana.  Udah nyaman hidup kayak gini kok malah kepengen ngerasain jadi gue" kata Ivan yang tiba tiba mengingat Jonathan.


Ivan bangun dari kasur mewah itu dan berjalan menuju sebuah pintu didekat jendela besar.  Ia membuka pintu itu dan setelah dibuka ternyata itu adalah pintu menuju balkon tempat biasa Jonathan bersantai.


"wah pemandangan nya mantep " ucap Ivan memandangi taman bunga milik Delisha dan sebuah kolam renang besar sembari menikmati segar nya angin disiang hari yang tengah mendung.


Setelah beberapa menit disana Ivan pun berbalik arah dan melihat ada lagi sebuah pintu dengan dinding kaca transparan.


"gak papa kali ya gue bongkar bongkar kamar nya" gumam Ivan sembari memegang handle pintu itu.


Ia membuka pintu itu dan melihat ternyata disana adalah tempat olahraga Jonathan.  Terdapat beberapa alat alat gym milik Jonathan yang tersusun rapi.


"gile,  salut gue" lirih Ivan kagum sambil berjalan mengitari ruangan yang dipenuhi oleh alat olahraga itu


"ini mah anak sultan beneran dia, kalah Raffi Ahmad" kata Ivan lagi lagi tergelak sembari mengitari berbagai macam alat gym milik Jonathan.


Setelah cukup dia keluar lagi dan duduk disalah satu sofa disudut dikamar sembari masih menatap kagum kamar mewah Jonathan.


"satu harian aja gak cukup mandangi kamar nya,  gimana dengan rumah ini,  butuh waktu seminggu gue buat muter muter doank"  kata Ivan terkekeh.


"tapi apa ya yang buat bang Jo gak betah,  heran gue.  Gak bersyukur tu orang ya" fikir Ivan


"Eh tapi tunggu dulu,  rumah sebesar ini penghuni nya pada kemana ya,  yang gue liat cuma pengawal nya aja tadi sama bu May.  Kok sepi amat ya kayak dikuburan. " pikir Ivan sambil menggaruk dahi nya yang tidak gatal


"emmh, udah mau Maghrib ya" gumam nya


"ini kamar mandi nya dimana ya, tadi keasikan nyobain gym bang Jo jadi lupa, gak sadar kalo belum lihat kamar mandi. Gak mungkin kan kamar mandi nya ada dibelakang rumah" gumam Ivan memandang kesana kemari dan berjalan kebuah ruang dan disana terdapat ruang ganti dan kamar mandi.


Ivan membuka salah satu pintu dan ternyata memang itu kamar mandi nya. Lagi lagi dia dibuat takjub


"gila, kamar mandi nya sebersih ini, eh, tapi ini kamar mandi bukan ya" Ivan langsung mengernyit heran, Karena dia hanya melihat sebuah rak tempat penyimpanan handuk, wastafel yang disebelah nya juga terdapat berbagai macam botol pencuci muka dan sikat gigi bersama printilan yang lain.


"mana air nya, kok gak ada?" tanya Ivan bingung melihat sebuah bak kosong disudut ruangan, dimana bak itu adalah tempat berendam Jonathan.


"mandi nya gimana coba" gumam Ivan dengan wajah yang semakin bingung, dia kembali mengedarkan pandangan nya, mencoba menemukan keran air yang bisa mengeluarkan air.


"ini shower kan, yang kayak ditv itu. gimana ngidupin nya" tanya Ivan sembari memeriksa bagian dari shower yang tergantung didalam kamar mandi itu.


dan


"wow, ngejutin aja" teriak Ivan tiba tiba saat air langsung memancur membasahi tubuh nya ketika dia menarik sebuah tuas kecil didinding kamar mandi.


"memang gak bakat gue jadi orang kaya, gini aja kagak tau. astaga" kata Ivan tergelak sendiri didalam kamar mandi itu.


Akhir nya Ivan pun mandi hingga hampir satu jam berada disana, mencoba semua botol botol sabun dan shampo milik Jonathan. Dia keluar hanya dengan menggunakan handuk dan mencari dimana letak pakaian milik Jonathan.


Dan dia kembali bingung setelah tiba diruang ganti milik Jonathan.


"dimana sih baju nya" gumam Ivan . Dia pun menggeser sebuah pintu lemari besar seluas dinding hingga menampakan semua perlengkapan Jonthan, mulai dari baju, celana , jaket , kaos dan kemeja, semua sudah tersedia dan tersusun rapi.

__ADS_1


"eh buset. ini toko baju atau apa ya" gumam Ivan terkejut


"hadeh, Sampek bingung gue mau makek yang mana" tambah Ivan lagi sembari mengambil baju kaos putih dan celana jeans hitam.


Setelah selesai dia hendak keluar namun mata nya dibuat penasaran pada lemari yang ada didepan nya.


"emmh, maaf ya bang, gue periksakan semua punya lo. hehe" kekeh Ivan sembari menggeser kembali lemari itu dan lagi lagi dia dibuat terkejut


"ya Tuhan, berasa mau keluar mata gue, keren keren banget gila" ucap Ivan kagum melihat rak sepatu , sandal, tas, jam dan aksesoris mahal lain nya disana.


"mimpi apa gue bisa masuk ke kehidupan orang kaya begini ya" gumam nya sembari keluar dari sana dan duduk didepan tv besar kamar itu.


..


Tok tok tok


Nampak Delisha masuk kekamar Jonathan.  Ia melihat Ivan yang dikira Jonathan tengah asik menonton televisi besar.  Hingga tidak menyadari kedatangan nya.


"sedang nonton apa nak,  mama datang sampai tidak tau" sapa Delisha dari dekat pintu hingga membuat Ivan terkejut dan langsung menoleh.


"eh bu,  eh ma, hehe, gak dengar" jawab Ivan gelagapan,


"aduh, manggil nya apa coba" gumam Ivan sembari menggaruk tengkuk nya menatap canggung Delisha


"yasudah,  ayo turun,  kita makan" ajak Delisha lembut namun heran dengan sikap anak nya yang terlihat sangat berbeda


Dan Ivan hanya mengangguk.  Ia menatap dalam Delisha.  Seketika hati nya menghangat melihat tatapan teduh Delisha.


Ivan pun turun kebawah mengikuti langkah Delisha.


Dia duduk dimeja makan dengan mata yang berbinar.


Memandang takjub makanan yang belum pernah ia makan sebelum nya.


"astaga,  terima kasih Tuhan,  berasa seperti didalam mimpi,  makanan nya sungguh menggugah selera,  ingin rasa nya aku habiskan semua makanan ini" ucap Ivan dalam hati.


Ivan memperhatikan Delisha yang menyendokan makanan kedalam piring nya.


"makan lah nak" titah Delisha dengan senyum anggun nya


"inikah rasa nya punya seorang ibu,  sungguh ibu yang sangat baik,  cantik dan anggun" lirih Ivan dengan wajah yang berubah sendu.


Delisha yang memperhatikan itu melihat seperti ada yang aneh dengan anak nya.


"apa yang sedang kau pikirkan Jo? " tanya Delisha lembut


"eh,  tidak ada ma,  tidak ada" jawab Ivan terbata.  Ia pun melirik Delisha dengan tersenyum dan melanjutkan makan nya meniru cara Delisha.


"baru dua hari mama tak melihat mu,  seperti nya kau sedikit kurus sayang,?" tanya Delisha melihat Ivan yang agak sedikit lebih kurus dan rambut yang agak kusut.


"emm,  mungkin cuma perasaan mama aja" kata Ivan cepat lalu menundukan wajah nya tak berani ia menatap delisha.


"mungkin lah" ucap Delisha lagi.


"maafkan aku bu,  anak mu yang menyuruhku disini" ucap Ivan dalam hati.


Tapi entah mengapa hati nya merasa tenang dan nyaman saat melihat Delisha.  Ada getaran aneh didalam dirinya yang tak ia sadari.

__ADS_1


"entah mengapa hatiku berkata ini seperti bukan Jonathan ku,  pandangan mata nya yang tidak seperti biasa,  hmmhh apa mungkin cuma perasaanku saja? " tanya Delisha dalam hati


Mereka pun menghabiskan makan malam mereka dengan tenang, meski terlihat Ivan begitu canggung dan menahan selera untuk menghabiskan makanan dimeja .


__ADS_2