Story Of The Twins

Story Of The Twins
Biji Kacang


__ADS_3

Hari ini Amelia dan Ivan sudah berada disebuah rumah sakit tempat dokter Sandra praktek. Mereka akan memeriksakan kandungan Amelia. Dan tentunya ditemani oleh Delisha dan juga Karina.


Wajah Amelia begitu pucat, sedari pagi dia terus memuntahkan isi perutnya, yang bahkan hanya berisi air dan buah saja. Dia sama sekali tidak bisa memakan nasi ataupun makanan yang lain. Dan itu membuat Ivan dan mama nya khawatir.


"Pelan pelan sayang" ucap Ivan yang merebahkan tubuh Amel diatas ranjang untuk diperiksa


"Mual ya?" tanya dokter Sandra dengan senyum teduh nya. Dia menyentuh dari Amel sekilas dan meraih sebuah alat untuk mengukur tekanan darah Amel


"Muntah terus dok dari pagi. Gak ada makan sama sekali" adu Ivan yang masih berada didekat istrinya


"Mual dan muntah hal yang wajar. Nanti saya kasih vitamin supaya gak terlalu mual" jawab dokter Sandra sembari terus memeriksa tekanan darah Amel


"Kalau bisa ya vitamin penambah nafsu makan dok, atau biar gak muntah lagi. Kasian saya gak ada temen nya mau makan" ungkap Ivan


Delisha langsung melebarkan matanya mendengar ungkapan Ivan. Anak nya ini memang ada ada saja


"Kok malah jadi kak Ivan sih yang kasihan, kak Amel yang ngerasain" omel Karina yang berada tidak jauh dari mereka


Dokter Sandra tampak tertawa kecil mendengar nya


"Ya kan aku juga kasihan, cepet sembuh ya sayang" Ivan langsung mengusap kaki Amel yang tertutupi selimut


Amel hanya mendengus saja, dia sudah pusing dan kelakuan Ivan selalu bisa menambah kepala nya bertambah berdenyut


"Asam lambung nona tinggi, tekanan darah nya juga rendah. Harus dipaksain masuk makanan ya" ujar dokter Sandra


"Mual dok" jawab Amel


"Nanti saya kasih vitamin. Mudah mudahan bisa makan walaupun cuma buah" jawab dokter Sandra


"Apa gak pengaruh sama janin nya San?" tanya Desliha khawatir, namun dokter Sandra langsung menggeleng


"Enggak apa apa. Yang penting jangan stress aja" jawab dokter Sandra


"Tuh, dengerin kak. Jangan suka buat stress" sahut Karina pada Ivan


"Lah kenapa jadi aku?" Ivan tampak tidak terima


"Istri itu kuncinya suami" Kini Delisha yang menjawab nya

__ADS_1


Ivan langsung cemberut dan mengangguk pasrah


"Iya iya. Ivan kan suami yang baik. Mana mau bikin istri stres. Yakan sayang" kata Ivan memandang Amel yang hanya menggeleng


"Tahu ah, kamu dari pagi udah bikin kesel kok" dengus Amel


"Sayang kok gitu sih, aku kan gak ngapa ngapain" jawab Ivan. Sejak beberapa hari ini Amel benar benar sensitif sekali. Apa ini bawaan bayi?


"Ibu hamil pasti mengalami perubahan hormon tuan. Jadi perasaan mereka lebih peka dan sensitif. Peran suami sangat diperlukan dalam tahap kehamilan" ungkap dokter Sandra lagi.


Ivan langsung mengangguk dan tersenyum. Ternyata begitu, dia pasti akan berusaha menjadi suami siaga untuk Amelia dan calon anak mereka.


"Kita mulai periksa ya" ujar dokter Sandra


Mereka semua langsung mengangguk dan mulai mendekat. Dokter Sandra terlihat menyingkap baju Amel. Dia mengoleskan sesuatu diperut Amel yang masih terlihat rata itu. Dan setelah itu dia menempelkan alat nya diatas perut Amel.


Amel sedikit terkesiap, karena alat itu terasa sedikit dingin menyentuh kulitnya.


"Lihat, sudah terbentuk kantung janin nya, masih sebesar biji kapas" kata dokter Sandra seraya memandang kelayar monitor. Semua mata memandang kesana,.binar mata mereka terlihat terharu dan sangat bahagia, bahkan mata Amel terlihat berkaca kaca. Ternyata dia benar benar hamil. Ada calon buah hatinya disana. Dia masih sangat tidak menyangka.


Namun berbeda dengan Ivan, dia terlihat bingung menatap layar monitor itu.


Dan


Semua orang langsung memandang kearah nya dengan wajah aneh dan kesal. Ivan sungguh bisa merusak rasa bahagia mereka


"Nak... kamu ini gimana sih. Jangan bercanda dong" ujar Delisha yang langsung mencubit lengan Ivan


"Bercanda dari mana. Dokter Sandra nih yang bercanda. Katanya istri saya hamil. Terus mana bayi nya. Kenapa cuma biji kacang hijau begitu?" tanya Ivan. Wajahnya terlihat kesal


Amelia dan Karina memandang nya dengan jengah. Ingin sekali rasanya menjitak kepala Ivan sekarang


"Kak, pernah sekolah gak sih" bisik Karina


"Astaga Ivan" gumam Delisha tak habis fikir, sementara dokter Sandra terlihat tertawa melihat tuan muda yang ternyata begitu polos ini. Bisa bisa nya dia tidak mengetahui bagaimana bentuk embrio.


"Usia kandungan nona Amelia ternyata sudah memasuki Minggu keempat, sudah terbentuk" ungkap dokter Sandra


"Dokter, tolong dong. Dimana bayinya, dari tadi saya cuma lihat biji kacang hijau didalam kantung" gerutu Ivan lagi

__ADS_1


"Sayang....." panggil Amel


Ivan langsung menoleh kearah Amelia. Wajahnya terlihat kesal disaat yang lain tampak bahagia. Ivan serasa dibodohi sendiri. Atau dia yang tidak mengerti???


"Bayi nya belum berbentuk. Kan masih empat Minggu" jawab Amelia dengan gemas


"Emang bayi empat Minggu itu gimana" gumam nya lagi


"Ya kayak gitu kak. Masih berbentuk embrio. Belum jadi janin. Astaga, mama ngidam apa coba dulu" Karina terlihat frustasi melihat adik iparnya ini


Delisha hanya geleng geleng kepala melihat Ivan


"Benar tuan, masih berbentuk embrio. Jika anda ingin melihat bentuk bayi yang sudah sempurna, itu disaat usia kehamilan menginjak enam belas Minggu keatas" jawab Dokter Sandra


"Ooh begitu. Tapi itu kenapa kayak kacang hijau sih. Apa karena istri saya kebanyakan makan kacang ya dok?" tanya Ivan lagi. Wajahnya benar benar polos, tapi sungguh mampu bisa membuat orang kesal


"Astaga" gumam Delisha yang tidak tahu harus bagaimana menjelaskan nya pada Ivan


Amelia menjadi malu dengan dokter Sandra sekarang. Bahkan asisten dokter Sandra tampak mengulum senyum nya


"Itu embrio nya kak Ivan. Ya ampun.. dokter maaf ya. Tuan muda ini kebanyakan hidup diperkebunan, jadi begini" sahut Karina. Sedari tadi hanya dia yang tidak tahan untuk tidak menjawab Ivan


Dokter Sandra tertawa dan menggeleng. Dia kembali mengusap dan mengitari perut Amel. Amel malas meladeni Ivan, dia lebih fokus kelayar monitor. Itu lebih membuat hati nya senang. Bahkan rasa mual nya sudah berkurang melihat itu


"Ivan... kamu anak sendiri dibilang kacang hijau. Gimana sih" omel Delisha


Ivan langsung menggaruk tengkuk nya dan kembali memandang kelayar monitor. Dia memperhatikan benda itu dengan lekat. Memang seperti biji kacang hijau. Lalu salah nya dimana?


"Apa itu yang akan menjadi bayi?" tanya nya


"Benar tuan..Semakin hari dia akan semakin berkembang. Jika ibu sehat dan bahagia, maka perkembangan calon bayi akan sempurna dan cepat" jawab dokter Sandra


"Wah hebat sekali" gumam Ivan


"Biji kacang bisa jadi bayi" ungkap nya lagi


Delisha kembali menampar lengan Ivan


"Biji kacang lagi yang disebut" dia benar benar kesal melihat Ivan. Bukan nya merasa bersalah Ivan malah tertawa. Ternyata ular bersayap nya benar benar hebat, bisa membuat biji kacang tumbuh secepat ini. Keren bukan !

__ADS_1


__ADS_2