Story Of The Twins

Story Of The Twins
Bulan Madu Ivan Dan Amelia


__ADS_3

Hari ini, semua orang telah berada dibandara internasional Soekarno Hatta. Mereka akan mengantar kepergian Ivan dan Amelia untuk berbulan madu. Wajah wajah mereka tampak bahagia melihat kebahagiaan kedua pasang pengantin baru itu.


"Hati hati disana, sering sering kasih kabar ya nak" pesan Delisha pada Amel dan Ivan. Dia memeluk mereka satu persatu.


"Iya ma" jawab Amel


"Pulang harus sudah bawa kabar bahagia" pinta Maxwel pula


"Cepet banget pa. Abang aja tuh duluan" tunjuk Ivan pada Jonathan yang ada didekat mereka


"Ya, siapa tahu kalian barengan, jadi papa dan mama bisa mempunyai banyak cucu sekaligus" jawab Maxwel


"Udah gak sabar banget kayak nya jadi kakek" kata Ivan tertawa lucu


"Ya, selagi papa dan mama masih sehat. Kami ingin melihat anak anak kalian" jawab Maxwel


"Doakan saja semoga cepat" kini Jonathan berjalan mendekat kearah Ivan


"Udah pengen ya bang" goda Ivan dan Jonathan langsung mengangguk jujur membuat Karina langsung tertawa malu mendengar nya


"Mama doakan semoga kalian cepat dapat anak. Kalau ikut mama,.lama dulu baru dapat kalian" ucap Delisha


"Aammiin, semoga cepat ma" jawab Karina dan Amelia berbarengan. Ya, siapa yang tidak ingin cepat memiliki anak, bukan kah tujuan menikah adalah itu. Membentuk sebuah keluarga baru yang harmonis dan penuh dengan keceriaan. Meski anak bukan sumber kabahagiaan, tapi tanpa anak kebahagiaan mereka tidak akan lengkap.


"Jangan pakai drama hilang kabar lagi" kata Jonathan seraya menepuk pundak Ivan


Ivan langsung tertawa dan mengangguk


"Enggak kok, kali ini kan bukan kehutan lagi" jawab Ivan


Akhirnya mereka berpamitan pada orang orang yang ada disana. Andrean juga ada bersama istrinya, sedangkan pak Tarman dan Bu Sari sudah pulang kekampung pagi tadi.


"Jangan lupa oleh oleh nya ya adik ipar" goda Karina


"Tenang aja, nanti aku bawain oleh oleh yang banyak" jawab Amelia


"Hati hati disana, have fun ya" kini gantian Indah yang memeluk Amel


"Iya kak, kakak juga baik baik disini" jawab Amelia


"Kok Nesya gak diajak sih, aku kan kangen" kata Amel pada Indah


"Nesya lagi gak enak badan, takut bawa dia pergi. Nanti vidcall aja" ujar Indah dan Amel langsung mengangguk.


"Yasudah, kami pergi dulu ya" pamit Ivan pada semua orang yang ada disana.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk dan melambaikan tangan nya pada sepasang pengantin baru itu. Ivan dan Amelia hanya pergi berdua. Mereka sama sekali tidak ingin membawa pelayan ataupun pengawal. Mereka ingin menikmati waktu mereka di Swiss selama sebulan ini. Ya, Maxwel menepati janjinya untuk memberi Ivan cuti selama sebulan, yang awal nya jatah dia bulan madu hanyalah dua Minggu, namun dilebihkan untuk dua Minggu kedepan.


Sebulan kedepan, mereka akan menikmati manis madu suasana pengantin baru. Tanpa memikirkan apapun, masalah perusahaan dan butik mereka serahkan pada asisten mereka masing masing. Untuk sebulan kedepan, mereka hanya ingin bersantai dan menikmati hari hari berdua tanpa beban apapun. Semoga, semua berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.


.....


Hampir 17 jam penerbangan, akhir nya mereka tiba Swiss.


Kota yang pertama kali mereka kunjungi adalah Interlaken. Salah satu kota di Swiss yang mempunyai keindahan alam yang begitu memanjakan mata. Kota dengan desa desa yang terapit oleh dua danau besar dan juga dialiri oleh sungai Aaree.


Kota dengan desa desa yang tertata rapi dengan keindahan alam bak negeri dongeng. Kota tenang dan damai dengan keindahan nya, dan itu adalah tempat impian yang ingin Amelia kunjungi sejak dulu. Dan tentu saja, Ivan langsung mengabulkan nya. Meski pun dia tidak tahu apa apa tentang kota ini. Ini adalah kepergian terjauh nya selama dia hidup.


Mereka menyewa sebuah vila kecil yang ada disana. Hanya untuk seminggu, karena mereka akan membagi waktu untuk mengelilingi Swiss dalam sebulan ini. Banyak tempat yang sudah terdata dalam list liburan bulan madu mereka.


Vila kecil yang terdapat disebuah desa yang terletak dipinggir danau, dan tentu nya dengan tempat dan area yang pas dengan keinginan Amel.


Suasana disana sangat sejuk dan asri. Seluas mata memandang hanya ada hamparan danau biru dan juga Padang rumput yang menghijau. Lembah lembah dan perbukitan juga sangat memanjakan mata.


Amelia tersenyum dan merentangkan tangan nya dibalkon kamar mereka. Dia benar benar menyukai tempat ini.


"Sayang" panggil Ivan dengan manja. Dia langsung memeluk Amelia dari belakang dan menikmati kehangatan dari istrinya itu


"Indah banget kan pemandangan disini. Tenang dan damai banget. Berasa legaaaaa dan nyaman" ucap Amel seraya mengusap lengan Ivan yang melingkar diperut nya


"Didalem kan ada penghangat, lagian nanti kalau udah beberapa hari pasti terbiasa sayang" ujar Amel


"Aku mau dihangatin sama kamu aja" pinta Ivan yang langsung membalikkan tubuh Amel


Amel melingkarkan tangan nya dileher lelaki itu dan memandang wajah tampan yang selalu mempesona. Wajah tampan yang telah menjadi miliknya


"Mau dihangatin" tanya Amelia dan Ivan langsung mengangguk dengan cepat


"Tapi ada syarat nya" pinta Amelia


"Apa syaratnya?" tanya Ivan yang menarik tubuh Amelia lebih merapat lagi


"Emmm.... kalau udah aku hangatin, malam nanti temani aku jalan jalan, gak boleh nolak" pinta Amel


"Aah siap, yang penting tergantung Service nya" kata Ivan dengan memainkan sedikit alis nya


"Aku bakalan bikin kamu puas" bisik Amel


Ivan tersenyum girang mendengar itu


"Kalau enggak gimana" kata Ivan seraya mendekatkan wajahnya pada Amel yang mendongak

__ADS_1


"Kamu pasti puas. Tunggu disini" kata Amel. Dia mengecup sekilas bibir Ivan dan langsung berlari kedalam kamar mereka meninggalkan Ivan yang memandang nya dengan senyum bahagia. Baru beberapa hari menjadi pasangan suami istri, tapi Amel sudah bisa mengimbangi nya. Bukan hanya dia yang ingin membahagiakan gadis itu, tapi juga sebaliknya, Amel selalu tahu bagaimana cara membalas apa yang dilakukan oleh Ivan. Baik itu urusan luar maupun dalam. Seperti saat ini, padahal mereka belum lama tiba dan baru beristirahat sejenak, tapi Amel selalu punya cara untuk menyenangkan nya.


Ivan memandang teduh pemandangan yang begitu memanjakan mata didepan nya. Meski dingin dan begitu menggigit, namun melihat pemandangan dan suasana disini, semua rasanya menjadi tidak terlalu terasa.


Lelah akibat perjalanan yang cukup jauh rasanya juga terbayar lunas. Yah, sesuatu yang indah memang tidak mudah untuk dicapai dan dinikmati. Begitu pula dengan kehidupan nya saat ini. Dahulu dia tidak pernah berfikir jika bisa merasakan semua kemewahan dan keindahan ini. Dulu, dia hanya anak seorang petani miskin yang untuk makan saja begitu susah. Untuk membeli sehelai baju seharga 30 ribu saja begitu sulit. Tapi sekarang, kehidupan nya berubah. Kemewahan, kenikmatan dan kekuasaan, semua ada didalam genggaman tangan nya.


Siapa yang menyangka, jika anak yang dipungut dibalik gedung kosong didalam semak, ternyata adalah anak seorang milyuner yang mempunyai segala nya.


Dan sekarang, rasa sakit dan penghinaan dulu, sudah terbayar dengan apa yang Ivan dapatkan. Kebahagiaan nya semakin lengkap saat Amelia juga hadir dalam kehidupan nya. Menjadi cinta yang sesungguhnya. Maka, nikmat mana lagi yang harus dia dustakan.


Tidak ada yang mudah untuk sesuatu hal yang menyenangkan. Semua perlu proses dan ujian. Jika bisa melewatinya, maka hasil yang didapat juga pasti akan sempurna. Dan dari kepahitan hidup yang telah dialami, Ivan jadi belajar, untuk bisa terus menghargai setiap waktu dan proses yang dia lewati.


"Sayang" seruan Amel dari dalam kamar membuyarkan lamunan Ivan. Dia langsung berbalik badan dan menoleh pada Amel.


Matanya melebar sempurna saat melihat penampilan istrinya yang terlihat begitu....menggoda.


Amel baru selesai mandi, bahkan rambut nya masih lembab. Wajah nya begitu segar dengan sedikit polesan make up tipis. Dan yang membuat Ivan langsung menelan air liur nya adalah, Amelia berdiri didepan pintu dengan hanya memakai lingerie tipis bewarna hitam.


Mata Ivan mengerjap beberapa kali, apalagi melihat senyum Amelia yang sangat menggoda.


"Taraaa...... apa kamu sudah siap sayang" kata Amel yang hendak berjalan mendekati Ivan, namun Ivan segera berlari kearah nya dan menarik Amelia masuk kembali. Amel langsung memandang Ivan dengan heran


"Nakal banget sih, kalau ada yang ngeliat gimana" tanya Ivan memandangi Amel yang begitu seksi. Lekuk tubuhnya terpampang sempurna. Apalagi semua masih begitu ranum dan sintal


"Gak ada yang ngeliat. Gak ada orang juga" jawab Amel yang mulai membuka jaket Ivan. Dan baru segitu, namun darah Ivan sudah berdesir dengan hebat


"Kamu mau menggoda ku hmm" tanya Ivan seraya mengangkat dagu Amel


Amel tersenyum dan mengangguk. Dia mengusap dada bidang Ivan dengan gerakan sensual dan menggoda. Memainkan jarinya disana membuat Ivan semakin tidak tahan melihat itu


"Baiklah, sekarang kamu memang udah pintar. Dan aku gak tahan lagi" ucap Ivan yang langsung mengangkat tubuh Amel dan langsung membawa nya ketempat tidur.


Amel tertawa dan berbaring memandangi Ivan yang terlihat tergesa membuka pakaian nya. Dan lagi, tubuh kekar itu selalu membuat Amel terpesona dan tidak tahan untuk tidak menyentuh nya


Ivan langsung naik keatas tempat tidur dan mengungkung tubuh Amel, namun Amel menahan dada nya


"Stop, kali ini kamu cukup diam oke. Biar aku yang akan menghangatkan kamu" ujar Amel


Ivan tersenyum dan langsung memutar posisi mereka. Kini Amel lah yang ada diatas nya.


"Aku gak bisa nunggu sayang" ucap Ivan dengan suara yang begitu serak dan menggebu


Amel tersenyum, dia mulai memainkan aksi nya. Mulai dari mencumbu wajah Ivan, dada nya dan beralih kebagian bawah nya.


Ivan menggeram puas, Amelia benar benar terlihat sudah berpengalaman, padahal ini adalah yang pertama kali untuk mereka. Derit ranjang disore hari itu menjadi saksi bagaimana mereka bekerja sama, saling memberi dan menerima. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna selain itu. Saat ini dunia hanyalah milik mereka. Hingga lagi lagi keringat dan aroma feromon langsung menguar dikamar itu, menumpahkan benih benih cinta yang akan muncul sebagai bukti cinta mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2