
Siang ini Ivan dan Dirga masih duduk didalam kelas mereka yang sudah nampak sepi karena teman teman yang lain sudah beranjak pulang kerumah mereka masing masing.
Ivan dan Dirga sengaja menunda untuk pulang karena harus menjalankan rencana yang Rico buat.
Setelah kelas benar benar kosong mereka mulai berjalan kearah parkiran diikuti dengan Roy dan pengawal lain nya.
Tampak diseberang jalan seseorang tengah memperhatikan mereka.
Ivan dan juga Dirga serta Roy mengetahui itu namun mereka tetap tenang seperti biasa berpura pura tidak tahu.
Mereka saling pandang kemudian menganggukan kepala. Seolah saling berbicara melalui tatapan mata.
Ivan masuk ke dalam mobil yang dikendarai Roy dan Dirga masuk kemobil nya sendiri.
Ditengah jalan yang padat tampak sebuah mobil mengikuti Ivan dan Roy. Roy mengetahui itu namun dia masih tetap tenang.
Dia hanya melirik sekilas kearah mobil itu. Begitu pula dengan Ivan, meski perasaan nya mulai risau namun dia bersikap setenang mungkin.
Ternyata kehidupan nya yang sebenar nya serumit ini, Ivan tidak pernah menyangka jika pertemuan nya dengan orang tua kandung nya akan melalui jalan yang seperti ini. Sungguh dia mulai mengerti mengapa Jonathan ingin sekali keluar dari zona nyaman nya dan mencoba hal yang baru, karena ternyata hidup Jonathan serumit dan setegang ini setiap hari nya.
Meski terlihat egois, namun Ivan mengerti jika tidak seperti ini, dia tidak akan pernah berjumpa dengan orang tua kandung nya.
...
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Roy berhenti disebuah pusat perbelanjaan.
Ivan dan Roy turun dan masuk kedalam pusat perbelanjaan tersebut, dan tampak mobil yang membuntuti mereka juga ikut berhenti mengawasi gerak gerik mereka.
Didalam pusat perbelanjaan itu ternyata sudah ada Dirga dan seorang pemuda seumuran Ivan yang menunggu disana.
"udah, langsung aja ya" kata Dirga tanpa basa basi
Ivan dan pemuda itu kemudian masuk ke sebuah ruangan ganti untuk bertukar posisi seperti yang pernah dilakukan nya dengan Jonathan dulu. Pemuda itu memakai pakaian yang dikenakan Ivan dan juga masker untuk menutupi wajah nya.
Melihat hal itu Ivan langsung terkekeh pelan
"kenapa lo ketawa gak jelas gitu, jangan bilang lo gila Van" kata Dirga
"gue ngerasa dejavu Dir, hehe. Keinget kelakuan gue sama bang Jo" jawab Ivan sembari menggaruk tengkuk nya
"iya, konyol kalian emang, ngibulin semua orang" balas Dirga
" yauda Bob, lu pergi sama bang Roy. Yang bagus akting lo ya" ucap Dirga pada pemuda yang bernama Bobi itu.
"siap bos" jawab Bobo
Roy dan juga Bobi yang menggantikan posisi iIvan pun mulai berjalan keluar. Mereka mengecoh orang yang mengikuti mereka tadi. Dan benar saja orang orang itu tidak mengetahui bahwa orang yang mereka ikuti bukan lagi Ivan melainkan orang lain.
Setelah mereka pergi barulah Ivan dan Dirga keluar dan masuk kedalam mobil Dirga. Mereka pulang kerumah Rico karena Rico memerintahkan bahwa Ivan dan ibu nya harus berada dirumah Rico untuk sementara waktu ini.
Sesampai nya dirumah Rico terlihat sudah banyak pengawal yang berjaga disekeliling rumah.
"wah, berasa kayak anak pejabat gue. Dikelilingi bodyguard sebanyak ini" kata Ivan sembari menggelengkan kepala nya melihat iringan pengawal yang ditugaskan Rico untuk menjaga nya.
"lebih dari pejabat asal lo tau" jawab Dirga
"iya kan, sebenernya seberapa kaya nya sih orang tua gue Dir, heran gue" tanya Ivan sembari berjalan masuk kerumah Dirga
"lo gak kan bisa bayangin nya Van, presiden aja kalah. " jawab dirga
"masak iya, tapi gue liat lo juga kaya, tapi gak gini amat penjagaan nya" kata Ivan lagi, kini mereka berada didalam kamar Dirga.
Dirga melepaskan tas dan jaket nya dan langsung berbaring ditempat tidur nya, sementara Ivan duduk dikursi meja belajar Dirga. Rumah masih sepi karena ibu Dirga sedang berada diperusahaan menemani Delisha dan Rico sibuk mengurus musuh yang akan mulai menyerang malam nanti.
"keluarga gue mah mana ada apa apa nya Van, cuma seupil doang dari kekayaan orang tua elo" ungkap Dirga membuat Ivan mendengus senyum
"masak iya sih, kayak gini lo bilang seupil. Terus banyak nya gimana lagi" ejek Ivan
"lo tuh mana ngerti. Lo tau perusahaan bokap lo itu yang terbesar di Asia, cabang nya udah sampek di mana mana bahkan udah ada yang di Amerika. Tapi karena bokap lo menghilang jadi yang disana terhambat pengerjaan nya. Sampek bepuluh turunan dan ngasi makan orang sekota juga gak bakal habis harta lu Van" ungkap Dirga lagi membuat Ivan langsung tertegun, dia seolah sedang berada didunia khayalan, dari seorang anak petani yang miskin tiba tiba berubah menjadi anak seorang milyarder
__ADS_1
"wah beneran apa, sekaya itu. Lo tahu dari mana" tanya Ivan masih tidak percaya
"ish lo ini ya, gimana gue gak tau kalau bokap gue tu bawahan bokap lo, ibarat nya tangan kanan bokap lo lah" jawab Dirga
"iya ya, pantes aja gue lihat bokap lo setia banget sama keluarga bang Jo" balas Ivan
"keluarga lo juga sekarang." jawab Dirga
" bokap gue dulu itu susah Van, tapi karena kebaikan hati bokap lo maka nya kami bisa kayak sekarang ini. " ungkap Dirga
"hmmh, gak nyangka gue. Gue terlahir dari keluarga yang super kaya. berasa kayak mimpi" gumam Ivan
"bukan super lagi Van, tapi bilionerd. Gak kehitung lagi jumlah nya, dan Lo beruntung karena itu," kata Dirga terkekeh
"hehe. Iya ya, tapi kaya juga gak tenang gini ya Dir. Kasian gue sama orang tua gue dan juga bang Jo" lirih Ivan
"ya mau gimana lagi. Udah takdir nya kalian begini. Tapi gue lebih kasian liat elo baru juga mau ngerasain jadi orang kaya malah langsung kenak masalah kan. Haha" ejek Dirga
"haha, sialan lo. Gak papa lah, yang penting gue udah tau siapa orang tua kandung gue sebenar nya" jawab Ivan
"haha, iya, Jonathan pasti seneng bisa punya saudara kayak Lo Van, asik dan nyenengin, walaupun wajah kalian mirip, tapi sumpah, sifat kalian ibarat langit dan bumi, beda banget" ungkap Dirga membuat Ivan terbahak
"Sampek dijuluki pangeran es ya" jawab Ivan
"lah iya, pelit amat ngomong, maka nya waktu pertama kali Lo gabung sama kita, gue berasa terkejut Van, kok bisa gitu sikap Jonathan berubah drastis" ungkap Dirga lagi
"hahaha, gue yakin temen gue disana juga pada aneh ngeliat bang Jo" jawab Ivan
"ya udah pasti itu. ah gue jadi rindu sama manusia es satu itu" kata Dirga
"tapi gimana ya kalo dia tahu gue saudara nya" gumam Ivan tiba tiba, entah kenapa dia merasa takut, apa Jonathan akan menerima nya, seperti dia yang begitu senang karena tahu bahwa orang yang diidolakan nya ternyata adalah saudara nya.
"Lo ini mikir apasih, ya udah pasti dia seneng lah. Dari dulu hidup nya itu sendiri dan kesepian terus Van, punya saudara kayak elo begini pasti dia seneng, gue jamin deh" jawab Dirga membuat Ivan mengangguk dan tersenyum haru.
...
Malam hari ...
Drrtt drrtt drrtt
Tampak Rico menerima panggilan telpon dengan wajah yang tak bisa diartikan. Membuat semua orang yang ada disana merasa heran dan was was.
"seperti nya apa yang dikatakan teman kalian benar. Sekarang rumah nyonya sudah ada yang mengepung. Mereka mulai masuk kedalam rumah itu dan mencari keberadaan nyonya dan juga tuan muda" ungkap Rico membuat Delisha dan Ivan nampak tegang
"bagaimana dengan Roy dan juga pelayan pelayan yang ada disana Rico? " tanya Delisha cemas
"tenang lah nyonya. Pelayan pelayan disana sudah saya amankan semua. Mereka tak akan menemukan siapapun dirumah itu. Sebentar lagi polisi juga akan datang kesana untuk menghentikan aksi mereka" jawab Ricomemandang Delisha dan juga Ivan
Delisha hanya menganggukan kepala nya
"lalu apakah mereka tidak akan mencari kita sampai kesini om? " tanya Ivan
"entah lah, saya rasa untuk malam ini mungkin belum karena polisi pasti sudah menghentikan rencana mereka. Kita aman untuk malam ini" kata Rico pada Ivan
"sebaik nya nyonya dan nak Ivan istirahat dulu, jangan terlalu difikirkan nyonya. Kita berdoa saja semoga masalah ini cepat selesai" ujar Nina istri Rico
"ya baiklah, terima kasih untuk kalian sudah banyak membantu kami" kata Delisha tulus
"jangan begitu nyonya, ini sudah tugas kami" jawab Nina
"oh ya Dirga dan tuan muda, sebaik nya besok kalian cari tau dari mana gadis yang kalian ceritakan itu mengetahui tentang rencana ini. Saya takut dia juga salah satu mata mata dikampus kalian dan sengaja untuk menjebak kita. " titah Rico serius
"siap pa, "
"siap om"
jawab Dirga dan Ivan serempak
"tapi apa tidak apa apa Jovankha keluar rumah Rico, saya khawatir mereka menyerang saat Jovankha sendiri" kata Delisha khawatir
__ADS_1
"tidak apa apa mama, tenanglah. Kan ada bang Roy. " kata ivan menenangkan Delisha
"iya tante, Dirga juga akan bantu jaga Ivan kok" timpal Dirga pula
"tapi mama khawatir pada kalian berdua nak" lirih Delisha
"mama tenang aja. Ivan pasti bisa jaga diri baik baik. Ivan dan Dirga akan membantu mencari bukti kejahatan orang itu agar masalah ini cepat selesai. " kata Ivan sembari menggenggam erat tangan Delisha. Terlihat dari raut wajah nya menunjukan keyakinan mendalam.
"tenang lah nyonya. Saya akan menyuruh Roy untuk lebih memperketat keamanan tuan muda" timpal Rico pula
"baiklah, " kata Delisha
Mereka pun masuk kekamar masing masing untuk beristirahat, meski hati mereka dipenuhi oleh kecemasan.
..
Ditempat lain
Prankk!!!!
Terdengar suara vas bunga pecah terpental kedinding rumah mewah.
"sialan, kenapa kalian bisa terkecoh ha!! Dasar bodoh" umpat Darwin pada anak buah nya
"maaf tuan, seperti nya rencana kita telah mereka ketahui" tutur Seon takut
"bagaimana mungkin mereka bisa tahu, apa ada pengkhianat disini. Akan aku habisi dia" kata Darwin murka
"saya akan cari tau tuan" jawab Seon
"Andreaaaaann!! " teriak Darwin memanggil anak nya
"iya ayah, ada apa lagi" jawab Andrean kesal
"ada apa lagi katamu ha! Bagaimana ini bisa terjadi. Kenapa anak sialan itu bisa tak ada dirumah. Aku sudah menyuruh mu untuk memata matai nya bukan" ucap Darwin masih dengan nada tinggi
"aku sudah mengikuti nya sampai kerumah ayah. Dan aku melihat nya sendiri masuk kedalam rumah dengan pengawal nya. Dia juga tidak ada keluar lagi setelah itu" ungkap Andrean
"tapi mereka sama sekali tidak ada dirumah. Bisa kah kau berguna sedikit untuk ku" bentak Darwin
Andrean yang mendengar itu langsung emosi
"bisakah ayah sudahi kegilaan ayah ini. Aku sudah melakukan apa yang ayah perintahkan. Tidak cukupkah dengan apa yang ayah miliki sekarang" ucap Andrean dengan nada yang mulai meninggi
Plakk
"berani nya kau" ucap Darwin murka, dia menampar wajah Andrean dengan kuat
"aku tak mau lagi mengikuti ambisi mu ini ayah. Aku mau hidup tenang. " kata Andrean lagi
"kalau kau berani menentangku ku, maka jangan harap kau bisa menginjakan kaki dirumah ini lagi" ucap Darwin tegas
"aku lebih baik pergi dari sini dari pada hidup seperti dineraka. Sudah cukup bertahun tahun aku menuruti kegilaan mu. Sudah cukup ibu dan adiku menderita karena ini," ucap Andrean lantang
"dasar anak sialan, pergi kau. Pergi dengan ibu dan adik mu yang tidak berguna itu" kata Darwin murka.
Andrean pun langsung bergegas pergi dari hadapan ayah nya dengan wajah memerah menahan amarah dan sesak didada nya.
Sudah cukup dia bertahan selama ini, dia tidak ingin lagi menjadi mata mata ayah nya.
Sudah cukup rasa nya ia menghormati Darwin sebagai ayah nya.
Dia sudah tidak tahan lagi. Karena kegilaan ayah nya ibu nya menjadi depresi dan dirawat dirumah sakit jiwa.
"kakak" panggil seorang gadis.
Andrean yang mendengar itu langsung menghampiri nya.
Dia mengelus sayang puncak kepala gadis itu.
__ADS_1
"ayo ikut kakak pergi dari rumah ini" ajak Andrean masih dengan menatap wajah gadis itu
Gadis itu hanya mengangguk mengikuti langkah Andrean.