Story Of The Twins

Story Of The Twins
Belajar Bersama Faiz dan Jonathan


__ADS_3

Pagi ini Ivan dan Jonathan sudah bersiap siap untuk berangkat kekampus mereka.


Mereka berangkat dengan diantar oleh Roy yang memang ditugaskan untuk mengawal dan menjadi supir pribadi dua kembar tampan itu.


Sesampai nya dikampus seperti biasa pandangan semua mata selalu tertuju pada dua kembar itu. Pesona mereka memang tidak diragukan lagi, apalagi semua orang sudah tahu bahwa mereka adalah pewaris perusahaan terbesar dinegara itu.


Beberapa mahasiswi menegur ramah mereka, namun hanya Ivan yang menjawab, sedangkan Jonathan, seperti biasa berjalan dengan gaya cool nya dan wajah nya yang datar.


"Abang ramah dikit ngapa sama mereka, paling enggak senyum lah sedikit kalau disapa" kata Ivan yang berjalan disebelah Jonathan


Jonathan hanya melirik Ivan sekilas dan kembali menatap lurus kedepan


"sudah ada kamu, itu sudah cukup" jawab Jonathan singkat membuat Ivan mendengus


"CK, mereka juga pengen kali denger suara Abang" kata Ivan lagi


"sama saja" kata Jonathan lagi membuat Ivan langsung menggaruk tengkuk nya dengan gemas


Abang nya ini memang selalu membuat nya gemas dengan sikap nya yang begitu dingin, entah kenapa sifat mereka begitu berbeda, padahal wajah mereka sangat mirip.


"hei, Upin Ipin" panggil Samuel yang langsung merangkul pundak Ivan dan Jonathan dari belakang


"tumben lama kalian datang?" tanya nya lagi sembari tersenyum canggung melihat ekspresi Jonathan yang risih


"Lo kira kita duo botak. gak liat udah rapi dan ganteng begini dipanggil Upin Ipin" sewot Ivan membuat Samuel terbahak


"exited banget gue liat kalian berdua gini, pemandangan yang langka, liat kemana kalian pasti jadi pusat perhatian" ungkap Samuel menoleh kesegala arah menatap beberapa mahasiswi yang melihat mereka


"ya begini emang, resiko punya wajah tampan" kata Ivan terbahak


"hahaha, narsis banget Lo" kata Samuel yang berjalan diantara Ivan dan Jonathan


Mereka pun berjalan hingga tiba didalam kelas dimana semua teman teman dekat mereka sudah berkumpul seperti biasa.


"wiiihh, udah Dateng duo pangeran" kata Alex yang sedang berbincang dengan Dirga dan Faiz membuat semua teman nya langsung memandang Jonathan dan Ivan bergantian


"gue kalau diantara mereka gak ada yang ngomong, beneran gak tahu deh gimana bedain nya" kata Dirga terkekeh


"lu bedain aja dari ekspresi muka nya Dir" jawab Faiz


"iya, yang satu cengengesan Mulu, yang satu datar aja tu muka" timpal Samuel membuat mereka terbahak


"berisik kalian, tiap hari kita aja yang digibahin , gak ada objek lain apa?" sewot Ivan


"kalian itu lagi jadi trending topik dikampus ini, jadi harap maklum aja " jawab Samuel membuat Ivan mendengus senyum


Sementara Jonathan tetap diam sembari mengeluarkan buku dari dalam tas nya tanpa mau mengeluarkan suara nya.


Mereka bercerita dan tertawa bersama hingga jam pelajaran dimulai.


Ivan dan juga Faiz sangat mudah berbaur dengan teman teman Jonathan, apalagi mereka yang memang ramah dan mudah bergaul membuat teman teman Jonathan juga senang berteman dengan Ivan dan Faiz.


Awal nya mereka begitu terkejut saat tahu jika Jonathan dan Ivan ternyata adalah anak dari seorang pengusaha sukses dinegara itu sekaligus pemegang saham di universitas mereka. Pantas saja selama ini Jonathan dijaga ketat dan Ivan yang sengaja tinggal terpisah dari Jonathan, begitu yang mereka tahu.


...


Siang hari nya...


Ketika jam kuliah mereka telah selesai, Ivan mengajak Faiz kerumah nya karena ingin belajar bersama mengejar ketertinggalan mereka.

__ADS_1


Setelah seminggu berada diibukota, baru kali ini Faiz berkunjung kerumah mewah milik Maxwel itu.


Faiz langsung tercengang saat turun dari mobil dan melihat begitu besar dan megah nya rumah itu, sama ketika saat Ivan yang juga baru pertama kali melihat rumah nya.


"ini bener rumah Lo Van, gila gede bener" bisik Faiz ditelinga Ivan yang terkekeh melihat ekspresi wajah Faiz


"iya, mulut tu ditutup, takut masuk lalat" kata Ivan mengejek namun Faiz malah terus memperhatikan setiap detail rumah mewah itu.


"masuk lah, kenapa kalian berdiri disini. anggap rumah sendiri Iz, aku duluan kekamar" kata Jonathan menepuk pelan pundak Faiz yang terkesiap kaget


"eh, iya Jo" jawab Faiz kikuk


Jonathan hanya tersenyum tipis dan berjalan duluan masuk kerumah dan kekamar nya setelah menyapa bibi May yang menghampiri mereka


"sini ibu bawa tas nya tuan" kata Bibi May hendak mengambil tas Ivan namun langsung ditepis dengan lembut oleh Ivan


"gak usah Bu, ibu kebiasaan deh. Biar aku aja, cuma tas ringan gini kok" jawab Ivan membuat bibi May terkekeh ringan


"ini temen nya ya tuan" tanya bibi May menatap Faiz


"iya Bu, ini Faiz, temen aku dari kampung dulu" ungkap Ivan.


Faiz pun langsung memperkenalkan diri nya pada bibi May.


"yauda tuan, bawa masuk temen nya. biar ibu buatin minum" kata Bibi May


"iya Bu, makasi. Oh ya, mama mana?" tanya Ivan


"nyonya sedang kesalon tuan, mungkin sore nanti baru pulang" jawab bibi May membuat Ivan mengangguk paham


Ivan pun membawa Faiz kekemar nya, disepanjang jalan menuju kamar nya Faiz hanya bisa geleng geleng takjub. apalagi setelah masuk kekamar Ivan yang sangat luas dan lengkap sama dengan kamar Jonathan, hanya berbeda warna, jika kamar Jonathan bernuansa silver dan gold maka kamar Ivan bernuansa hitam dan putih.


"gue kayak lagi mimpi kayak nya ini Van" kata Faiz melongo didepan pintu kamar Ivan membuat Ivan terkekeh geli


"sakit ?" tanya Ivan


"he eh" Jawab Faiz mengangguk


"berarti Lo gak lagi mimpi bego" kata Ivan lagi membuat Faiz langsung terbahak


"gila, ternyata Lo bukan hanya sekedar anak orang kaya, ini mah anak sultan Van" ucap Faiz lagi sembari terus memperhatikan seluruh kamar Ivan yang sangat luas dan nyaman itu


"ya, gue juga sama kayak Lo waktu pertama kali masuk kerumah ini. bahkan Sampek sekarang gue masih gak nyangka bisa ngerasai kehidupan yang kayak begini, semua udah ada, gak perlu susah payah lagi" ungkap Ivan yang kini merebahkan tubuh nya ditempat tidur super empuk nya


Faiz duduk disisi tempat tidur Ivan dan memperhatikan Ivan dengan penuh arti. Teman seperjuangan nya sedari kecil yang selalu bekerja keras untuk mencapai keinginan nya ternyata memiliki kehidupan yang seperti ini.


Dia masih ingat betul perjuangan Ivan untuk bertahan hidup, mulai dari mencari rumput dihutan, memerah susu sapi hingga mengamen ditengah terik demi mendapatkan uang recehan. Kini semua nya tinggal kenangan dan tergantikan dengan kehidupan yang lebih dari cukup.


"Lo harus bersyukur Van, mungkin ini buah kesabaran Lo dari Tuhan selama ini. Dengan Lo pisah sama orang tua kandung Lo, Lo jadi tahu hidup susah tu gimana rasa nya, jadi Lo gak akan bersikap sombong ketika Lo dapetin kehidupan mewah kayak gini" kata Faiz membuat Ivan tersenyum lembut dan haru


"ya, Lo bener Iz, semua masalah pasti ada hikmah nya. Gue harus bersyukur memang" jawab Ivan


"ya, gue juga terimakasih banget sama lo dan sama bokap Lo, udah mau biayain sekolah gue dan ngasi tempat tinggal buat gue, padahal gue gak Lo lupain aja udah seneng banget" kata Faiz terharu karena kebaikan orang tua Ivan


"hahaha, apaan sih Lo, gue kan udah pernah bilang, susah seneng kita bareng bareng. Saat gue susah dulu Lo selalu ada buat gue, nah sekarang saat gue seneng , ya Lo harus ikut ngerasain juga dong" kata Ivan membuat Faiz langsung tersenyum lebar dan ikut merebahkan diri nya disamping Ivan


"kehidupan gak ada yang tahu ya kan Van, dulu susah, sekarang seneng, liat Lo sekarang, dulu mau beli kaos aja susah, sekarang pakaian nya udah barang branded semua" ungkap Faiz membuat Ivan terkekeh


"haha, iya Iz, kadang gue masih ngeri mau makek nya, apalagi pas tahu harga nya" ungkap Ivan dan mereka langsung tertawa bersama sembari mengenang saat saat mereka berada dikampung dahulu.

__ADS_1


Dan tidak berapa lama kemudian bibi May masuk kekamar Ivan dengan membawa dua gelas jus jeruk dan setoples makanan ringan


"tuan mau makan, biar ibu siapkan" tanya bibi May sembari meletakan minuman itu dimeja nakas Ivan


"enggak Bu, kami udah makan tadi mau pulang, nanti aja kalau udah laper" jawab Ivan dan di angguki oleh Faiz


"oh ya udah, kalau ada perlu sesuatu panggil ibu dibawah ya tuan" kata bibi May lagi dan Ivan hanya mengangguk dan tersenyum


Setelah bibi May keluar Ivan dan Faiz langsung duduk dilantai yang beralaskan karpet bulu mewah disamping tempat tidur nya dengan beberapa buku dan dua buah laptop.


"enak banget dilayani ya Van, udah kayak anak raja aja Lo. dulu apa apa sendiri" ejek Faiz sembari terkekeh lucu


Ivan yang sedang membuka buku nya pun ikut terbahak


"iya Iz, emang berasa kayak anak raja gue. Apalagi kalau Lo ngeliat mama sama papa gue gimana memperlakukan gue sama bang Jo, beh mungkin Lo ketawa karena mereka terlalu memanjakan kami" ungkap Ivan


"ya wajar lah, apalagi kalian baru ngumpul, pasti lah mereka sayang banget sama kalian" jawab Faiz dan Ivan langsung mengangguk mantap


Tiba tiba pintu kamar Ivan kembali dibuka, dan kali ini Jonathan yang masuk kedalam dengan membawa beberapa tumpukan buku di tangan nya.


"kalian sudah mulai?" tanya Jonathan yang ikut duduk disebelah Ivan


"baru mulai bang" jawab Ivan


"ini buku dan makalah pelajaran yang bisa kamu dan Faiz pelajari" kata Jonathan menyerahkan beberapa buku ditangan nya


Ivan dan Faiz langsung mengambil buku masing masing yang ingin mereka baca.


Faiz dan Ivan saling pandang kagum karena tulisan dan pekerjaan Jonathan benar benar rapi dan semua nilai nya berada diatas rata rata.


Siang itu mereka pun belajar bersama dengan dibantu oleh Jonathan sebagai pembimbing mereka. Untung nya Ivan memang pintar, hanya dengan sekali penjelasan dia sudah bisa menguasai materi pelajaran yang tertinggal itu.


Begitu pula dengan Faiz , meski agak kesulitan namun dia juga tampak nya berusaha untuk bisa mengimbangi Ivan karena dia tidak ingin mengecewakan teman nya itu.


Mereka belajar hingga hari mulai sore barulah mereka berhenti dan beristirahat dibelakang rumah dekat kolam berenang sembari menghirup udara segar setelah satu harian otak mereka dipenuhi oleh angka dan huruf.


Bibi May juga menyediakan banyak makanan dan minuman untuk ketiga pemuda itu.


"berenang kayak nya enak ini" kata Ivan menatap kolam renang bersih didepan nya


Faiz yang sedang mengunyah makanan nya pun langsung menoleh kearah kolam renang


"dalem itu Van" ucap Faiz membuat Ivan terbahak dan Jonathan yang sedang duduk bersandar dengan ponsel ditangan nya pun ikut tersenyum


"ya kalo cetek bukan kolam renang nama nya Iz , kolam bebek itu" sewot Ivan membuat Faiz mendengus


"Lo kan tau gue gak bisa amat berenang, lah kalo gue kendelem gimana" tanya Faiz


"itu tidak dalam. Mungkin hanya sebatas leher kamu" kali ini Jonathan yang menjelaskan


"nah tu denger, ayok ah, mumpung gratis ini" kata Ivan yang lagi lagi membuat Faiz mendengus kesal


"lah gimana gak gratis kolam nya juga punya bapak elu" jawab Faiz membuat Ivan terbahak


Ivan langsung merebut makanan di tangan Faiz dan menarik tangan Faiz hingga mereka tercebur ke kolam bersama .


Ivan terbahak bahak melihat wajah Faiz yang terkejut dan langsung menepi memegang pinggiran kolam itu


"dasar suek lu. masuk air ini Idung gue" teriak Faiz kesal

__ADS_1


"latihan berenang, biar kurus badan Lo itu" teriak Ivan pula


Jonathan hanya menggeleng geleng kan kepala nya melihat kelakuan Ivan yang selalu suka menjahili orang. Tapi dia begitu senang karena sekarang dirumah itu dia tidak merasa sendiri dan kesepian lagi karena sudah ada Ivan yang menjadi saudara sekaligus teman untuk nya.


__ADS_2