
Beberapa jam sebelum nya....
Ivan sudah terlihat rapi dengan setelan jas dan kaus dengan kerah yang menutupi leher nya. Terlihat santai namun juga rapi.
Dia benar benar tampan saat ini, apalagi dengan wajah nya yang selalu tersenyum hangat.
Jantung nya bergemuruh tidak menentu, rasa nya dia benar benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Amelia.
Lelah setelah seharian berkeliling perusahaan, tidak membuat niat nya mundur sedikit pun.
Saat ini dia berada dimeja makan bersama Maxwel dan Delisha untuk menikmati makan malam mereka. Acara ajang desainer berbakat itu akan dilaksanakan pukul delapan, masih ada waktu satu jam setengah lagi untuk Ivan makan malam bersama kedua orang tua nya.
"yang mau bertemu pacar, ganteng banget" goda Delisha membuat Ivan terkekeh pelan mendengar nya
"harus dong ma, nanti kalau Ivan jelek, dia malah lupa" jawab Ivan dan kini Delisha yang tertawa mendengar nya
"ya semoga saja dia tidak lupa, dia cantik dan ternama, sudah pasti banyak yang menyukai nya, jangan terlalu percaya diri" ucap Maxwel membuat Ivan langsung tersedak makanan nya
"papa, kenapa malah menghancurkan khayalan Ivan sih" kesal Ivan sembari mengusap mulut nya dengan tisu
"papa hanya mengingatkan" jawab Maxwel santai
"papa kamu tidak pernah muda nak, dia memang tidak pernah merasakan rasa rindu seperti kalian" ungkap Delisha membuat Maxwel langsung menoleh kearah nya dan Ivan tertawa melihat wajah kesal Maxwel
"sayang, aku selalu merindukan kamu, jangan berkata bohong" sahut Maxwel cepat namun Delisha malah mendengus
"kamu tahu, sebulan tidak bertemu mama, bahkan papa tidak ada memberi kabar sekalipun, dia benar benar datar" kata Delisha lagi membuat Ivan semakin tertawa dan Maxwel tersenyum canggung mendengar nya
"kamu masih mengingat itu hmm" tanya Maxwel sembari terkekeh kecil
"ya, tentu saja. Hari itu sangat menyebalkan jika diingat" jawab Delisha
"jika papa menyebalkan kenapa mama mau" tanya Ivan pula.
"entah lah, mama juga tidak tahu, mungkin khilaf" jawab Delisha membuat Maxwel kembali menatap nya
"sayang" seru Maxwel
"haha, aku bercanda mas." kata Delisha sembari mengusap lembut punggung Maxwel
"papa memang semenyebalkan itu ya, dan beruntung nya mama mau dengan papa" ejek Ivan membuat Maxwel mendengus kesal
"jika mama tidak mau, bagaimana kau ada ha," dengus Maxwel membuat Ivan dan Delisha langsung tertawa terbahak bahak
Malam itu mereka sempatkan untuk berbincang santai dan bercanda bersama sebelum Ivan pergi menemui Amelia.
"selamat malam tuan besar, nyonya, dan tuan muda" sapa seseorang yang menghentikan pembicaraan mereka
Orang itu adalah Faiz, dia baru tiba dirumah mewah itu untuk menjemput Ivan.
"oh Faiz, ayo makan malam" ajak Delisha langsung, namun Faiz dengan sopan menolak nya
"tidak nyonya, terimakasih, saya sudah makan tadi" jawab nya sembari membungkukkan sedikit tubuh nya.
Sahabat sekaligus asisten Ivan itu ternyata sudah mendalami peran nya sebaik mungkin.
__ADS_1
"baiklah, kalian mau pergi sekarang?" tanya Delisha yang kini menatap Ivan yang mulai beranjak dari duduk nya sembari merapikan sedikit jas nya
"ya ma, sebentar lagi acara nya dimulai" jawab Ivan
dia langsung menyalami tangan Delisha dan Maxwel yang dengan senang hati menyambut nya
"kami pergi pa, ma" ucap Ivan diikuti oleh Faiz yang juga menyalami punggung tangan Maxwel.
Mereka berjalan keluar meninggalkan Delisha dan Maxwel yang masih duduk dimeja makan itu dengan perasaan terharu nya. Anak mereka yang satu ini benar benar berbeda
"bahkan setelah tiga tahun dia tidak melupakan tentang adab dan sopan santun nya" gumam Maxwel
"ya, kehidupan nya benar benar berbeda, aku sungguh bersyukur memiliki dia mas, karena kehadiran nya, keluarga kita bisa sampai dititik ini" ungkap Delisha dengan mata yang berkaca kaca
"ya, semua karena Jovankha, dia pembawa berkah dikeluarga kita. " sahut Maxwel membuat Delisha langsung mengangguk
"sekarang mereka sudah dewasa, dan tidak terasa sebentar lagi mereka pasti akan meninggalkan kita" kata Delisha lagi
Maxwel langsung mengusap lembut lengan Delisha yang masih terlihat kencang meski sudah berumur
"mereka tidak pergi sayang, mereka ada dan akan bersama kita terus menerus, mereka hanya pindah rumah, dan itupun aku pastikan tidak akan jauh dari kita" ungkap Maxwel membuat Delisha langsung mengernyit bingung
"bagaimana mungkin?" tanya Delisha
"maafkan aku, aku belum memberitahu ini padamu, aku sudah membeli dua rumah di depan rumah kita ini, hanya tinggal direnovasi sedikit maka sudah bisa ditempati" ungkap Maxwel
"rumah besar didepan, bukan kah ada penghuni nya?" tanya Delisha heran
"ya, mereka akan segera pindah, aku membeli nya dengan harga mahal sayang, dan beruntung nya mereka mau menjual nya" kata Maxwel terkekeh
"tentu saja, meski terlihat mengatur, tapi aku ingin dihari tua kita, kita dan anak anak berkumpul bersama, aku tidak ingin anak dan cucuku berjauhan, aku ingin kita selalu dekat, karena kamu pasti tahu, kehadiran mereka adalah anugerah yang selalu kita nantikan dulu nya" jawab Maxwel
"mas, terimakasih. mereka pasti senang" kata Delisha
"ya, bukan tanpa alasan aku meminta waktu satu tahun untuk mereka, selain untuk melihat kemampuan mereka diperusahaan, aku juga ingin merenovasi rumah itu terlebih dahulu, bagaimana, kamu tidak apa apa kan?" tanya Maxwel lagi dan Delisha langsung menggeleng dengan senyum nya yang merekah indah, dia benar benar terharu dengan pemikiran suami nya
"tentu, dan aku sangat setuju" jawab Delisha
...
Sementara itu, Ivan baru saja tiba didepan gedung tempat acara Amelia. Pengunjung sudah terlihat begitu ramai, bahkan paparazi pencari berita sudah banyak yang berseliweran kesana kemari demi mendapatkan gambar terbaik dari tamu yang datang.
Ivan dan Faiz masih berada didalam mobil saat ini.
"gila banget, gimana cara nya bertemu dengan dia" gumam Ivan
"ya tinggal masuk, dan say Hay saja lah" jawab Faiz santai membuat Ivan langsung mendengus
"masalah nya kita tidak diundang, main masuk saja, gimana cerita nya" dengus Ivan membuat Faiz menghela nafas lelah melihat sahabat sekaligus tuan muda nya itu
"ya ampun, tuan muda Jovankha yang terhormat, apa anda lupa, gedung ini milik siapa. Milik tuan Maxwel Alexander. Otomatis tuan Maxwel diundang kan, dan karena tuan Maxwel tidak bisa datang, ya anggap saja tuan yang mewakilkan" jawab Faiz kesal
"ah iya juga ya, kenapa gue bisa lupa" kata Ivan sembari tertawa dan memukul singkat dahi nya
"untung terselamatkan sama tampang" gumam Faiz
__ADS_1
"apa lu bilang" sinis Ivan membuat Faiz terkesiap kaget
"eh, tidak ada tuan, saya hanya bilang ,jika anda terlihat begitu tampan malam ini" jawab Faiz membuat Ivan langsung berdecak sinis
"geli banget gue denger bahasa Lo itu" kata Ivan membuat Faiz langsung tertawa
"haha, lah kan emang harus dibiasakan begitu, gimana sih, lagi mendalami peran juga, langsung dijatuhi, gak asik Lo" kata Faiz kesal membuat Ivan langsung terbahak juga mendengar nya
"gila ya, begini amat kisah kita" ucap Ivan sembari menggelengkan kepala nya dan kembali menatap kearah gedung
"ya, gue sih bersyukur banget, bisa ada difase ini. Asisten seorang sultan gitu loh, mimpi apa coba, ah ini pasti berkat doa ibu gue siang malam" gumam Faiz begitu bangga dan bahagia
"eh, kan gue lagi berperan jadi asisten Lo, kenapa bahasa nya balik lagi coba" gerutu nya seorang diri membuat Ivan kembali mendengus
"ck, berisik lah Iz. Yauda lah yuk masuk, kenapa jadi malah bahas bahasa coba" gerutu Ivan yang mulai beranjak dari duduk nya namun langsung dihalangi oleh Faiz
"eh tunggu dulu" kata Faiz membuat Ivan tidak jadi membuka pintu mobil nya
"apa?" tanya Ivan
"tuan tidak ingin memberi kejutan begitu?" tanya Faiz lagi membuat Ivan langsung mengernyit
"kejutan" gumam Ivan dan Faiz langsung mengangguk
"lama tidak ketemu, berilah sesuatu yang bisa menjadi kenangan untuk dikenang seumur hidup" ungkap Faiz
Ivan kembali duduk dengan benar dan menatap Faiz
"kejutan apa, gue bahkan malu mau masuk kedalam, apalagi melihat manusia sebanyak itu" jawab Ivan membuat Faiz langsung mendengus
"apa yang harus dimalukan tuan Jovankha, astaga. Tampan oke, duit banyak, tenar, anak Sultan pula, malu nya dimana?" tanya Faiz kesal membuat Ivan langsung tertawa
"Lo sih gak tahu gimana gugup nya gue" dengus Ivan
"mana gue tahu, kan elu yang punya binik" ketus Faiz
"sialan Lo, baru juga pengen mendalami peran, udah begitu aja bahasa lu" kata Ivan membuat Faiz terkesiap dan memukul pelan mulut nya sendiri sembari tertawa
"hehe, khilaf tuan. Anda terlalu menyebalkan" kekeh Faiz membuat Ivan mendengus
"sudah lah lihat situasi saja dulu. Ini malam final, semoga dia bisa menang, dan kalau dia menang, kasih sesuatu yang mengesankan untuk dia. Ya, itung itung pembuktian cinta lah. Selama ini juga dia terus yang berjuang deketin tuan muda" ungkap Faiz membuat Ivan langsung tertegun dengan hati yang tertohok. Karena semua perkataan Faiz memang benar.
Amelia adalah gadis yang selalu berusaha membuat nya bahagia, dan selama ini Ivan belum ada sekalipun membuktikan jika dia mencintai gadis itu. Dan rasa nya Ivan benar benar malu dan teriris mengingat bagaimana perjuangan Amelia untuk merebut hati nya.
"gimana? jangan sampai didahului orang . Dia semakin cantik sekarang, nama nya juga sudah mulai terkenal, sudah pasti banyak laki laki lain yang menginginkan dia, yang lebih mencintai dia bukan hanya sekedar harapan dan harapan saja" ungkap Faiz lagi
"lu kalau bicara suka bener Iz, langsung nusuk kejantung gue" dengus Ivan membuat Faiz terbahak
"haha, saya hanya mengingatkan tuan muda. Buktikan cinta anda, sebelum hati nya direbut pria lain" kata Faiz lagi semakin memanas manasi Ivan
"sialan" ketus Ivan
Faiz hanya tertawa dan menggeleng kan kepala nya, dia mengamati sekitar begitu juga dengan Ivan. Lama mereka terdiam hingga tiba tiba Ivan langsung bergerak dan membuka pintu mobil nya membuat Faiz terkesiap
"kita keluar, gue bakal ngasih kejutan yang seumur hidup gak akan pernah dilupakan nya" kata Ivan terdengar begitu yakin.
__ADS_1
Faiz langsung tersenyum smirk mendengar nya. Terkadang Ivan sangat tidak peka dengan hal percintaan, dan itu membuat Faiz sebagai sahabat harus turun tangan dahulu.