Story Of The Twins

Story Of The Twins
Bangun Amel


__ADS_3

Pagi pagi sekali Ivan sudah pergi kerumah Andrean. Setelah bertemu dan saling melepas rindu bersama kedua orang tua angkatnya terlebih dahulu.


Ivan benar benar mengkhawatirkan keadaan Amelia. Dia takut jika gadis itu juga menganggapnya telah tewas seperti yang lain. Dan sudah pasti Amelia pasti begitu terpukul mendengar ini. Semoga saja Amelia tidak seperti mamanya, batin Ivan. Tapi Ivan tidak tahu apa yang telah terjadi sebenar nya.


Ivan turun dari mobil dengan sedikit berlari. Membuat penjaga digerbang rumah Andrean sedikit terkesiap melihat Ivan.


"Tuan muda Jonathan, ada apa?" Tanya seorang penjaga


Ivan mengernyit, sudah jelas mereka pasti menganggap Ivan telah tewas.


"Dimana Amelia?" Tanya Ivan langsung. Dia sudah malas jika harus menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Nona Amelia dibawa kerumah sakit tuan, kondisi nya drop" jelas penjaga itu


Ivan mematung, jantung nya terasa sakit sekarang


"Kenapa, dia kenapa?" Tanya Ivan


"Kami juga tidak tahu tuan, tapi sejak mendengar berita kematian tuan muda Ivan nona Amelia begitu terpukul dan tidak sadarkan diri" jawab penjaga itu


Seketika lutut Ivan terasa lemas. Dia benar benar merutuki kebodohan nya.


"Dirumah sakit mana?" Tanya Ivan lagi.


Penjaga itu pun langsung memberitahu dimana Andrean membawa Amelia. Dan langsung saja Ivan melajukan mobil nya menuju rumah sakit itu dengan kecepatan tinggi. Hatinya benar benar tidak tenang. Dia benar benar merasa bersalah pada gadis itu. Amelia pasti sangat sedih, dia sudah berjanji akan kembali dan menikah dengan nya. Tapi malah ada kabar buruk seperti itu.


Ivan benar benar khawatir sekarang.


Ditengah jalan ponsel nya berbunyi, Ivan melihat siapa yang menghubungi nya, ternyata Jonathan. Dia meraih ponsel itu dan mengangkat nya, masih dengan laju mobil yang begitu tinggi.


Jonathan memberi tahu Ivan jika sekarang Amelia dirawat dirumah sakit. Karina baru saja mendapat kabar dari Diana. Mereka sebelum nya memang tidak ada yang tahu tentang kabar itu. Semua sibuk pada hati masing masing sehingga tidak ada yang tahu jika Amelia masuk rumah sakit.


Ivan melemparkan begitu saja ponsel nya, dia kembali menginjak gas dengan penuh nafsu. Hingga tidak lama kemudian dia tiba dirumah sakit.


Ivan berlari dengan cepat, setelah mencari tahu dimana kamar Amelia berada, dia dengan begitu tergesa menyusuri setiap lorong dan kamar mencari nama ruang perawatan Amelia.


Didepan ruangan dia bertemu dengan Andrean. Tampaknya lelaki itu tidak pergi keperusahaan. Tapi kenapa wajahnya kusut sekali?


"Bang" sapa Ivan


Andrean mengernyit dan sedikit terkejut


"Tuan Jonathan, ada apa?" Tanya Andrean


"Ini aku Ivan, dimana Amelia" tanya Ivan langsung


Andrean terkejut bukan main, dia menilik Ivan dengan begitu lekat. Tapi sepertinya memang iya. Andrean langsung mundur beberapa langkah, membuat Ivan berdecak kesal. Lagi lagi dia pasti disangka Hantu. Memang keterlaluan, tapi bukan salah mereka juga

__ADS_1


"Aku Ivan bang. Maafin aku,.aku gak ada ngabarin kalian kalau aku batal pulang kemarin, aku gak naik pesawat yang jatuh itu" lagi lagi Ivan harus menjelaskan masalah ini


"Apa? Benarkah?" Tanya Andrean lagi


Ivan langsung mengangguk


"Dimana Amelia?" Tanya Ivan lagi


Bukannya menjawab, namun Andrean tampak kesal. Dia mendekat kearah Ivan dengan wajah marahnya. Oke seperti nya dia akan diamuk lagi setelah ini


"Lalu kenapa kamu tidak ada memberi kabar ha?" Tanya Andrean sedikit menguatkan suara nya, dia terlihat sangat marah, apalagi dia yang paling tahu bagaimana Amelia.


"Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya dia saat mendengar kabar itu kan!" Seru Andrean lagi dan Ivan masih diam dengan hati yang semakin tidak menentu


"Dia sudah seperti orang gila yang kehilangan nyawa. Bisa bisa nya kamu tidak mengingat tentang perasaan nya" gerutu Andrean begitu kesal. Jika tidak mengingat Ivan adalah tuan muda Alexander rasa nya dia benar benar ingin menghajar Ivan saat ini


Indah, istrinya langsung keluar kamar saat mendengar suaminya yang marah marah. Dan matanya sedikit melebar melihat Ivan yang tertunduk dengan raut wajah penuh rasa bersalah


"Mas ada apa?" Tanya Indah berjalan mendekat


"Maafkan saya. Keadaan genting disana. Sinyal ponsel tidak ada, jadi saya tidak bisa menghubungi siapapun disini" jawab Ivan begitu menyesal


"Tuan muda Ivan. Kamu masih hidup?" Tanya Indah terperangah takjub dan begitu kaget


Ivan langsung mengangguk dan menatap penuh harap pada Indah. Dia sudah benar benar ingin bertemu dengan Amelia saat ini.


Ivan langsung memandang Andrean tidak menentu


"Mas sudah, yang terpenting tuan muda Ivan sudah disini. Dia selamat bukankah itu hal yang bagus. Amel pasti senang" kata Indah mencoba menenangkan suami nya


"Ayo masuk, dia menunggu kamu" ajak Indah.


Ivan langsung mengikuti langkah kaki Indah masuk kedalam ruangan Amelia. Meninggalkan Andrean yang menarik nafas kesal. Tapi sebenarnya dia juga merasa lega melihat ternyata Ivan masih hidup.


Ivan masuk kedalam ruangan Amel. Namun seketika dia langsung mematung, berdiri ditempat nya saat melihat keadaan Amelia yang begitu menyedihkan.


Berbagai selang dipasang ditubuhnya, alat bantu pernafasan juga terlihat menghiasi wajah Amel. Wajah gadis itu begitu pucat, bahkan sangat pucat seperti tidak dialiri darah.


"Amel" lirih Ivan dengan hati yang begitu sakit. Rasa nya dia benar benar lemas sekarang. Kenapa Amel nya jadi begini.


"Dia benar benar syok mendengar kabar kamu yang tewas. Dari sore sampai larut malam dia menunggu kamu dibandara. Berharap kamu datang dan kembali. Tapi yang dia dapati hanya kabar buruk itu. Apalagi nama kamu yang juga tercantum disana" ungkap Indah begitu sedih


Ivan tidak bisa lagi membendung air mata nya. Hati nya benar benar sakit dan merasa bersalah. Pantas saja Andrean begitu marah padanya, jika keadaan Amel yang seperti ini


Ivan berjalan menuju tempat dimana Amel berbaring. Hatinya seperti tersayat duri yang begitu tajam, tangan Ivan mengusap wajah Amel yang pucat dan sangat dingin


"Jantungnya melemah, dia terkena syok kardiogenik yang mengakibatkan kesadaran nya menghilang. Dokter belum bisa memastikan kapan dia sadar. Tapi jika sampai besok dia tidak sadar, nyawa nya bisa terancam" ungkap Indah terdengar begitu menyeramkan

__ADS_1


Ivan langsung terduduk lemah dikursi yang ada disamping ranjang Amel


"Dia menunggu kamu. Mengetahui kamu datang dia pasti senang." Ucap Indah lagi.


Ivan terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Kenapa Amel bisa sampai seperti ini, setakut itukah dia kehilangan Ivan?


Indah keluar dari ruangan itu, membiarkan Ivan dan Amelia berdua. Semoga Amelia bisa cepat sadar dengan kehadiran Ivan.


Air mata menetes diwajah tampan Ivan. Dia benar benar sedih melihat Amel seperti ini. Amelnya yang ceria, Amel nya yang manis sekarang lemah dan tidak berdaya.


Sungguh Ivan benar benar merasa sangat bersalah. Jika terjadi sesuatu pada Amelia, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sejak dulu, Ivan hanya bisa menorehkan luka pada gadis ini, padahal dia sudah berjanji untuk memberikan kebahagiaan, tapi nyatanya dia malah membuat Amelia seperti ini.


Ivan meraih tangan Amel, menggenggam nya dengan begitu lembut. Mencium nya penuh perasaan seraya menahan Isak tangis yang tidak bisa dibendung lagi


"Sayang, bangun. Aku pulang, aku kembali. Maafin aku. Maafin aku" ucap Ivan dengan Isak tangis nya. Dia mengecup tangan Amelia beberapa kali. Dia benar benar menyesali kebodohan nya


"Aku disini sekarang. Aku udah janji akan pulang, kenapa kamu seperti ini. Ayo bangun," pinta Ivan begitu sakit, namun Amel sama sekali tidak bergeming


Ivan menangis, dia benar benar tidak bisa melihat Amelia yang seperti ini. Tapi dia harus bisa meyakinkan Amelia dan membawa nya sadar kembali


Ivan mengusap air matanya, tangan nya masih menggenggam tangan Amelia dengan lembut. Seolah sedang meyakinkan dia untuk bangun.


"Hei, sebentar lagi kita menikah. Kenapa kamu malah seperti ini. Apa kamu tidak mau menikah denganku hmm" tanya Ivan dengan bibir yang bergetar. Matanya memerah bahkan terus menjatuhkan air mata. Dia benar benar lemah melihat Amelia yang seperti ini, apalagi karena dia


"Bangun sayang, bangun. Aku sudah kembali" kata Ivan lagi. Namun tetap saja, tidak ada pergerakan sama sekali dari gadis itu. Dia masih diam seperti sebuah tubuh yang sudah tidak mempunyai nyawa lagi.


Ivan beranjak, berdiri dari duduk nya. Memandang Amelia dengan begitu sedih.


Ivan menunduk dan mendekatkan kepala nya kewajah Amelia. Mencium kening nya dengan lama, sangat lama seolah sedang meyakinkan Amelia jika dia ada, dia ada dan sudah kembali.


"Bangun sayang, aku pulang.." bisik Ivan ditelinga Amelia


"Jangan tidur terlalu lama. Aku tahu aku salah, tapi jangan ngambek begini. Aku yang takut sekarang" ucap Ivan lagi. Dia mencium kembali kening Amel, kedua mata nya dan terakhir kedua pipi chubby nya yang pucat tanpa rona.


Ivan duduk dengan lesu. Tangan nya masih terus menggenggam tangan Amel. Mengusap nya dengan lembut, seolah ingin menghangatkan tangan nya yang dingin seperti es.


"Dua Minggu lagi kita menikah, enggak lama lagi kan, tapi kamu malah tidur. Maafin aku, aku salah gak ada ngasih kabar kamu. Tapi kamu harus bangun, jangan tidur. Masih banyak yang belum kita lakuin. Gimana kalau mama batalin pernikahan kita karena kamu gak bangun?" Ivan berusaha terus mengajak Amel bicara, berharap gadis itu bisa mendengar perkataan nya


"Aku udah berjanji untuk pulang, aku udah janji untuk nikahin kamu. Seharusnya kamu percaya. Bukan nya malah seperti ini" gumam Ivan seraya meletakkan tangan Amel diwajah nya


"Bangun dan lihatlah, aku baik baik saja sayang. Bangun ya, aku rindu banget sama kamu. Apa kamu gak rindu aku?"


"Udah dua belas hari kita gak ketemu, tapi kamu malah tidur" gumam Ivan. Memandang wajah Amel dengan lesu dan begitu pilu


Ivan menautkan jemarinya pada jari Amel yang lemah, memeluk lengan nya dan menciumi punggung tangan nya dengan perasaan sakit dan begitu sedih. Lagi lagi air mata nya mengalir, apalagi melihat Amelia yang tidak menunjukkan pergerakan apapun.


Apa Amel begitu sedih? Apa Amel marah padanya?

__ADS_1


__ADS_2