
Malam pesta pernikahan Jonathan dan Karina diakhiri dengan peristiwa berdarah yang membuat semua orang begitu panik. Karina tampak duduk dikursi dengan wajah yang benar benar pucat, dia benar benar kaget dengan kejadian itu, dimana tiba tiba Diana langsung mendorongnya hingga dia sendiri yang tertusuk pisau dari seorang perempuan yang tidak dikenal.
Saat ini perempuan itu sudah diamankan oleh Maxwel dan juga Rico dikantor polisi, sementara Diana dilarikan kerumah sakit oleh Dirga dan juga Ivan, Amelia juga ikut kesana untuk melihat keadaan Diana. Karina tetap tinggal dihotel bersama Jonathan, karena mereka tidak diperbolehkan untuk kemanapun. Hotel telah dijaga ketat oleh orang orang Maxwel dan juga beberapa anggota kepolisian yang masih mengusut kasus ini.
Jonathan sungguh ingin ikut untuk mencari tahu apa yang terjadi, namun Maxwel melarang nya, ini adalah malam pernikahan mereka, dan kasus ini Maxwel yang akan menyelidiki nya. Dia tidak akan tinggal diam saat ada orang yang ingin mencelakai keluarga nya, apalagi menantu pertama dikeluarga Alexander, tidak akan dia biarkan lepas.
"Karin, kamu istirahat saja ya" pinta Jonathan untuk yang kesekian kali, mereka masih ada diaula gedung, orang tua Karina dan juga Delisha juga ada disana untuk menemani mereka, sedangkan teman teman mereka yang lain sudah pulang kerumah masing masing karena pesta sudah dibubarkan, lagi pula hari juga sudah cukup larut malam. Sedangkan Aldo bersama bapak nya berada didepan gedung hotel menemani anggota kepolisian yang berjaga.
"Iya nak, lebih baik kamu istirahat, mandi biar seger" kata ibu Karina mengusap lembut punggung Karina
"Karin khawatir sama keadaan Diana bu, Karin takut dia kenapa kenapa" jawab Karina dengan mata yang berkaca kaca dan wajah yang begitu cemas.
"Semoga dia gak kenapa kenapa Rin, kita tunggu nak Ivan kasih kabar" ucap ibu. Dan Karina langsung tertunduk sembari mengusap air mata yang sudah menetes diwajah nya yang kusut. Dia bahkan masih mengenakan gaun pengantin nya sekarang. Kejadian tadi benar benar mengganggu hari bahagia nya, entah siapa wanita itu, padahal Karina tidak pernah merasa memiliki musuh. Semua acara berjalan dengan lancar hingga malam ini, tapi kenapa harus ditutup dengan kejadian mengerihkan seperti ini
Delisha langsung beralih pada Jonathan yang terlihat diam ditempat duduk nya, seperti nya anak nya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Jo" panggil Delisha dengan lembut, Jonathan yang sedang melamun langsung menoleh kearah ibu nya,
"Apa kamu memiliki musuh, atau seseorang yang tidak menyukaimu nak?" tanya Delisha.
Jonathan terdiam dan menggeleng pelan, dia juga tidak tahu, yang tidak menyukai nya pasti banyak, tapi siapa pula yang berani mencelakai Karina secara terang terangan begini, apa orang itu cari mati.
"Apa kamu yang punya musuh Rin, siapa tahu kamu pernah buat orang sakit hati" kata ibu pula
"Enggak pernah bu, Karin selalu inget pesan ibu kok" sahut Karina pula
"Yasudah lah, sebaik nya kalian istirahat aja dikamar, besok baru kita jenguk Diana dirumah sakit" ucap Delisha dan Jonathan langsung mengangguk kan kepala nya
"Ayo" ajak Jonathan namun Karina begitu enggan untuk pergi, hati nya benar benar risau sekarang
"Nak, pergilah" kata ibu pula
Dan akhir nya mau tidak mau Karina berdiri dan berlalu menuju kamar pengantin bersama Jonathan. Malam yang seharus nya menjadi manis, kini sudah terasa hambar untuk mereka.
...
Sementara ditempat lain, dikantor polisi, wanita yang membuat kerusuhan tadi tampak mengamuk dan menangis histeris, tangannya dipegangi oleh dua orang polisi. Maxwel dan Rico tampak berdiri didepan nya dengan pandangan tajam.
"Apa dia masih belum mengaku?" tanya Maxwel pada kepala kepolisian
"Belum tuan, dia hanya bilang jika disuruh orang, tapi sampai sekarang dia belum mau bicara siapa orang itu" jawab kepala polisi itu
Maxwel dan Rico tampak saling pandang bingung, sebenar nya jika hanya mengharapkan pihak kepolisian kasus ini pasti akan sedikit rumit, seperti nya mereka harus mencari tahu sendiri.
Pandangan mata mereka langsung menoleh pada kedatangan Ivan dan Dirga yang tampak datang terburu buru
"Gimana pa?" tanya Ivan namun Maxwel langusung menggeleng pelan
__ADS_1
"Apa ini ada hubungan nya dengan Cyintia?" gumam Dirga
"Cyintia?, sekretaris Jonathan ?" tanya Maxwel pula dan Dirga langsung mengangguk.
Ivan sedikit mengernyit saat melihat reaksi wanita itu ketika nama Cyintia disebut. Ivan berjalan perlahan mendekati nya namun segera dihalangi oleh Dirga
"Mau apa?" tanya Dirga namun Ivan langsung menggeleng dan terus berjalan menuju wanita itu. Mata nya mengernyit saat melihat wajah wanita itu yang berantakan, dia begitu takut melihat Ivan, apa mungkin dia berfikir Ivan adalah Jonathan , karena seperti nya Ivan pernah melihat wanita ini
"Kamu salah satu karyawan diperusahaan pusat?" tanya Ivan namun wanita itu segera menggeleng dengan cepat, rambut nya yang terurai berantakan dan wajah nya yang basah karena air mata membuat nya terlihat seperti orang gila
Ivan langsung menoleh pada Dirga yang memperhatikan wanita itu dengan lekat
"Seperti nya iya, aku pernah beberapa kali melihat nya" jawab Dirga
"Tidak tidak !! bukan saya" teriak wanita itu yang kembali menangis histeris namun dua anggota kepolisian itu masih mencengkram lengan nya dengan kuat
"Bukan saya tuan, saya, saya hanya disuruh, ampuni saya!!!" gumam nya frsutasi
"Siapa yang menyuruh mu" tanya Dirga dengan begitu tajam, namun wanita itu kembali menundukkan kepala nya, dia tampak ragu dan ketakutan
"Kamu tidak perlu takut, jika kamu jujur hukuman mu bisa diringankan" rayu Ivan, wanita itu tampak melihat nya dengan tatapan yang begitu memelas dan penuh harapan
"Saya saya" lirih nya masih tampak meragu
"Pak, bisa dilepasin dulu" pinta Ivan, namun semua orang disana tampak terkesiap mendengar nya
"Tapi tuan" ucap kepala kepolisian begitu keberatan
Kepala kepolisian menoleh pada Maxwel yang tampak menganggukkan kepala nya, dan dua orang polisi itu langsung melepaskan wanita itu namun tetap dengan sikap waspada, takut takut dia akan mencelakai tuan muda Alexander ini.
Wanita itu langsung berlutut dihadapan Ivan dan memegangi kaki Ivan dengan tangisan nya, membuat kedua polisi itu ingin menarik nya kembali namun dicegah oleh Ivan.
Ivan juga ikut berlutut dihadapan wanita itu, dia masih menangis tersedu sedu dan tidak berani menatap Ivan. Ivan tahu kelihatan nya wanita ini memang terpaksa melakukan nya, dia terlihat begitu emosional, bukan takut dihukum, tapi ada sesuatu yang membuat nya takut untuk berkata jujur.
"Katakan lah, aku pasti akan membantumu" kata Ivan
"Benar tuan?" tanya wanita itu dan Ivan langsung mengangguk dengan yakin
"Ta tapi, saya takut" wanita itu kembali tertunduk dengan tangan yang saling meremas
"Apa ini ada hubungan nya dengan Cyintia?" tanya Ivan. Wanita itu langsung menelan saliva nya dan melirik kearah Maxwel yang masih menatap nya dengan pandangan datar.
Dia kembali menoleh pada Ivan dengan air mata yang semakin mengalir.
"Tuan, saya tidak apa apa jika anda akan memenjarakan saya, atau bahkan menghukum mati saya, saya rela, tapi tolong, tolong selamatkan adik saya yang disekap mereka" pinta wanita itu dengan begitu hancur dan tangis yang benar benar tidak bisa ditahan nya
"Mereka siapa?" tanya Ivan, semua orang yang ada disana memilih untuk diam, karena sepertinya wanita ini hanya percaya pada Ivan saja
__ADS_1
"Ayah nona Cyintia" jawab wanita itu. Maxwel dan Rico tampak terkesiap kaget, apa apaan ini, kenapa ayah nya juga berniat mencelakai menantu nya, apa karena anak nya yang mereka penjarakan
"Saya diminta untuk mencelakai tuan muda Jonathan dengan menggunakan racun yang sudah disediakan oleh dia, tapi saya takut, karena racun itu tidak ada penawar nya, maka dari itu saya mencoba mencelakai nya secara terang terangan" ungkap wanita itu lagi.
Maxwel terlihat menggeram, namun Rico segera menenangkan nya, begitu pula dengan Dirga, bisa bisa nya dia mau meracuni Jonathan. Hanya Ivan yang masih terlihat tenang, meskipun hati nya benar benar bergejolak saat ini.
"Dimana racun itu?" tanya kepala kepolisian
"Ada disaku saya" jawab nya sembari menoleh kearah saku celana nya
Anggota kepolisian langsung memeriksa nya, dan benar saja ada sebuah serbuk yang terbungkus kertas putih disana.
"Serahkan ke lab, ini akan diuji coba, jika wanita ini berbohong maka hukuman nya akan bertambah" ucap kepala kepolisian itu
Wanita itu hanya meneteskan air mata nya dan tertunduk dengan sedih, Dirga dan Ivan yang melihat nya menjadi iba meskipun mereka benar benar kesal
"Tuan tolong adik saya" pinta wanita itu pada Ivan yang langsung mengangguk
"Katakan dimana adik kamu berada" ucap Ivan
"Adik saya berada diperumahan indah sari, tuan Beno menempatkan nya disana, jika saya gagal, maka dia akan menjual nya pada mucikari dirumah pelacuran" jawab wanita itu membuat Ivan dan Dirga langsung melebarkan mata nya, begitu pula dengan yang lain nya, bukankah ini adalah perdagangan manusia, Tidak bisa dibiarkan.
"Tuan, saya rela dihukum mati karena telah berani mengusik keluarga kalian, tapi saya mohon selamatkan adik saya. Tuan Beno adalah salah satu sindikat perdagangan manusia, dia selalu mencari gadis gadis muda untuk dijual nya kepada mucikari" ungkap wanita itu
"Bagaimana mungkin, usaha showroom nya cukup maju" gumam Maxwel tidak percaya
"Tuan, saya tidak berbohong, kalian bisa memeriksa nya diperumahan indah sari, disana tempat mereka melakukan transaksi." jawab wanita itu lagi
"Lalu apa motiv nya ingin mencelakai Jonathan" tanya Ivan yang sedari tadi masih bingung
"Apa karena anak nya dipenjara" ucap nya lagi
"Itu hanya salah satunya, namun yang paling penting dia sakit hati karena tuan Maxwel tidak mau bekerja sama untuk mengembangkan usaha showroom nya, ditambah dengan tuan muda Jonathan yang memenjarakan Cyintia" ungkap wanita itu
"Astaga, kurang ajar, hanya karena kesalahan nya sendiri dia bisa sampai seperti itu" gumam Maxwel
Ivan langsung mengangguk mengerti mendengar nya
"Baiklah, aku pasti akan menyelamatkan adikmu, tapi aku tidak berjanji untuk bisa membebaskan mu" ucap Ivan, dan wanita itu langsung mengangguk senang meski air mata sejak tadi tidak berhenti menetes diwajahnya
"Tidak apa apa tuan, saya salah dan saya pantas untuk dihukum, adik saya masih berusia lima belas tahun, dia memiliki lesung pipi dikedua pipi nya, setelah tuan membebaskan nya, saya mohon kembalikan dia kekampung, disana masih ada bibi saya yang akan menjaga nya" ungkap wanita itu, wanita yang masih muda sebenar nya, mungkin seusia Karina atau Amelia
"Kau tidak mempunyai orang tua" tanya Dirga dan wanita itu langsung mengangguk sedih
"Siapa namamu" tanya Ivan pula
"Kasih tuan" jawab nya
__ADS_1
"Baiklah Kasih, terimakasih atas informasi nya, aku pasti akan membantumu, dan terimakasih untuk tidak menuruti permintaan mereka" ucap Ivan sembari mengusap sekilas bahu nya membuat Kasih langsung mengangguk dan tertunduk sedih, dia menyesal, tapi dia juga tidak punya pilihan lain.
*Belum jadi buka segel ya guys. wkwkw