Story Of The Twins

Story Of The Twins
Dirumah Ivan


__ADS_3

Ditempat lain beberapa saat sebelum nya....


Jonathan bersama kang Tejo baru saja tiba dirumah Ivan. Jonathan pun turun dari mobil nya.  Ia memandangi rumah itu dengan seksama.


Dilihatnya kang Tejo turun dari mobil sambil mententeng ransel kecil.


" woi,  ngelamun aja koe dari tadi" kata Tejo mengejutkan lamunan Jonathan.  Ia pun meninggalkan Jonathan dan langsung menghampiri pak Tarman dan Sari yang baru saja keluar rumah.


"mungkin itu bapak dan ibu nya Ivan". gumam Jonathan yang juga ikut menghampiri.


"capek le,  kok lesu tenan" tanya pak Tarman dan Jonathan hanya mengangguk sambil tersenyum.


"baru gitu aja wes ngeluh,  gimana mau sukses" ketus Sari.  Dan Jonathan pun hanya diam saja memperhatikan rumah yang sungguh jauh dari kata bagus itu.


Meski hari sudah senja namun penerangan disana dapat membuat nya melihat dengan jelas seperti apa rumah Ivan. Rumah yang hanya berdinding papan tanpa dicat sedikit pun, dengan atap yang berupa genteng merah yang sudah sangat usang dan lantai yang hanya berlapiskan semen kasar tanpa karpet.


"yowes kono,  masuk aja.  Mandi habis itu istirahat " ucap pak Tarman.


"iya pak" jawab Jonathan sopan.


Jonathan pun masuk kedalam rumah kecil berdinding papan itu.  Ia mengedarkan pandangan nya.  Dicari nya mana yang merupakan kamar Ivan.  Ia mengintip satu persatu kamar yang ada dirumah itu.


Untung nya setiap kamar nya tidak memiliki pintu,  hanya ditutupi oleh sehelai kain saja.


Setelah memeriksa beberapa kamar,  barulah dijumpai nya kamar Ivan yang letak nya ditengah tengah. Antara kamar bapak dan adik nya.


Jonathan mengetahui bahwa kamar itu adalah kamar milik Ivan karena dilihat nya ada sebuah foto berbingkai kecil milik Ivan bersama teman nya yang terpajang didinding kamar.


"ah,  untung ada foto ini" ucap Jonathan sambil memandangi foto itu.


"sungguh keajaiban Tuhan yang nyata,  dia terlihat begitu mirip denganku.  Dan bahkan orangtua nya pun tak bisa tau bahwa aku bukan anak mereka. 


Hmmh semoga saja mama juga begitu"


Ucap Jonathan dalam hati.


Jonathan mengamati keadaan kamar Ivan. Kamar yang berukuran sempit namun tetap bersih karena Ivan memang rajin membersihkan kamar nya. Didalam kamar itu hanya ada sebuah ranjang dengan kasur tipis untuk ukuran satu orang dan sebuah lemari kayu usang yang hanya tertutupi oleh selembar kain berwarna merah.


Setelah dirasa cukup Jonathan langsung mencari baju ganti Ivan dilemari usang itu, handuk dan kemudian membawa nya kekamar mandi di dekat dapur yang sempat ia lihat tadi.


Tubuh nya terasa gerah akibat perjalanan panjang selama beberapa jam dari kota.


Ini adalah perjalanan pertama nya jauh dari rumah dan tanpa pengawal. Bisa dibilang ada rasa ragu namun rasa bahagia juga tak bisa dia elakan.


Jonathan masuk kedalam kamar mandi kecil dibelakang rumah.


Tidak seperti kamar mandi nya, disana hanya ada beberapa tempat air yang sudah kosong, dan sebuah sumur yang dipenuhi oleh tumbuhan lumut hijau. Tempat mandi itu juga tidak beratap, sehingga menampakan beberapa pohon yang menjulang tinggi.


Jonathan berjalan mendekat kearah sumur itu dengan perlahan dan melihat isi dalam nya .

__ADS_1


"bagaimana cara mandi nya " gumam Jonathan bingung.


Untuk seumur hidup nya baru ini dia merasa aneh dengan bentuk kamar mandi ini.


Jonathan melihat sebuah timba kecil yang terikat dengan sebuah tali karet dengan katrol yang berada diatas sumur itu.


"apa harus mengambil air dulu didalam sana" gumam nya lagi


"kenapa mau mandi saja harus usaha dulu" gerutu nya namun tangan nya tetap meraih timba kecil itu dan mulai menimba air didalam sumur.


Suara gesekan tali dengan katrol membuat telinga Jonathan merasa risih.


Dan akhir nya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh dan wajah nya, tempat air untuk nya mandi terisi penuh.


Jonathan membuang nafas nya dengan kasar sembari menghapus peluh yang menetes diwajah nya.


"belum ada dua jam aku disini, tapi perjuangan nya sudah harus dimulai" gumam nya


...


Setelah selesai mandi ia membaringkan tubuh nya diatas ranjang dipan milik Ivan.


Ranjang yang sangat berbeda jauh dengan miliknya.


Ditatap nya langit langit kamar dengan pikiran yang masih tak menyangka,  menjalani hal konyol dengan bertukar posisi dengan orang lain.  Dia pun tersenyum sendiri mengingat hal bodoh yang tengah ia lakukan bersama Ivan.


"Van,  makan dulu " teriak pak Tarman menghancurkan lamunan Jonathan.


"selamat malam semua" ucap Jonathan sopan.


Sementara Toni,  Sari dan pak Tarman langsung melirik heran melihat tingkah Jonathan yang terlalu sopan dan tidak seperti biasa nya.


"wes le,  duduk makan lah.  Koe nampak lesu" kata pak Tarman.  Dan Jonathan pun hanya mengangguk.


Dia duduk dengan sangat sopan.  Tidak seperti Ivan yang urakan.


Toni melirik sekilas Jonathan yang dipikirnya Ivan itu.  Ia merasa ada yang aneh dengan abang nya


"perasaan kayak ada yang beda sama Ivan,  tapi apa ya" pikir Toni dalam hati.


Sedangkan Jonathan masih menatap aneh makanan yang ada dihadapan nya,  hanya ada tumis daun singkong,  ikan asin dan tempe goreng.


"makanan apa ini? " tanya Jonathan dalam hati sambil melirik kearah Toni yang sedang makan dengan lahap.


Karena tak ingin membuat orang curiga ia pun menyendokan sedikit nasi dan beberapa tempe dalam piring nya.


Ia mulai makan walau sebenar nya sungguh tidak berselera.


Dia makan dengan susah payah,  menahan perut nya yang sudah mulai mual karena makanan yang sungguh sangat aneh pikir nya.

__ADS_1


Sementara Toni beberapa kali melirik Jonathan yang terlihat sangat berbeda. Hanya diam dan diam tidak seperti biasa nya, ada saja yang Ivan bicarakan.


..


Malam kian larut.  Suara jangkrik terdengar begitu berisik menemani malam Jonathan.  Dia yang sedang berbaring dikamar Ivan sambil memandang kelangit langit kamar yang terbuat dari susunan batang bambu dan genteng yang nampak nya sudah usang.


Pikiran nya kembali melayang memikirkan tingkah konyol nya dengan ivan yang kini bertukar posisi.


"ternyata begini kehidupan nya,  sungguh menyedihkan. Maafkan aku mama,  ternyata selama ini aku kurang bersyukur.  Lihatlah anak ini,  untuk tidur dan mandi saja sungguh tidak nyaman, makan juga seadanya " lirih Jonathan mengenang Ivan.


"apa yang sedang dia lakukan,  semoga dia tidak membuat mama curiga" batin Jonathan.


Ting


Pesan masuk


Diraih nya ponsel yang ada disebelah nya.  Dilihat nya pesan masuk dari Ivan.  Jonathan pun tersenyum penuh makna.


"ternyata dia juga sama dengan ku" batin Jonathan.


Ivan : bang udah tidur


Jonathan: belum,  kenapa


Ivan: gak papa bang,  hehe.  Pasti abang susah tidur ya,  maaf ya bang,  aku gak punya ranjang yang empuk kayak punya abang ini


Jonathan: it's oke.  Nanti juga kalau ngantuk saya tidur.


Ivan: hehe iya bang,


Jonathan: besok jangan lupa kuliah.  Jadwal nya ada dimeja belajar. Diponsel saya ada beberapa foto teman teman saya, kamu bisa mengenali mereka dari situ.


Ivan : siap bang,  abang juga besok kalau mau langsung ke peternakan aja ya.  Jalan nya disimpang tiga belok kanan.  Disana ada bambang temen ku, orang nya kurus tinggi, rambut agak gondrong. Nanti abang bisa liat dia cara kerja nya.


Jonathan : oke.  Oh ya jangan sampai mama saya curiga ya.  Berperan lah sebagus mungkin.


Ivan : siap bang


Setelah puas mengobrol mereka pun memutuskan untuk tidur.  Namun Ivan maupun Jonathan nampak nya belum terbiasa dengan tempat baru mereka.


Jonathan hanya membalik balikan badan nya kesamping kanan dan kiri.


Udara yang panas membuat nya gerah.  Tidak ada ac maupun kipas angin yang bisa membuat tidur nya nyaman apalagi ranjang dipan yang keras membuat nya susah untuk terpejam.


Sementara di tempat Ivan,  ia sedang duduk dimeja belajar Jonathan.  Memeriksa berbagai kelengkapan sekolah milik Jonathan.  Mulai dari tumpukan buku,  makalah,  jurnal dan juga memo tentang semua tugas kuliah Jonathan.


"Universitas ekonomi" gumam Ivan sembari membolak balik buku buku Jonathan


"wah,  ternyata bang Jo pintar juga.  Rapi lagi.  Semua tugas nya juga udah diselesain.  Enggak kayak gue,  pinter sih tapi gak serapi ini.  Hehe" ucap Ivan sambil terkekeh sendiri.

__ADS_1


Setelah selesai menyiapkan keperluan untuk kuliah esok hari Ivan pun bergegas untuk tidur.  Dia terlelap dengan mimpi indah nya diranjang ternyaman yang pernah dirasakan nya.


__ADS_2