Story Of The Twins

Story Of The Twins
Hati Yang Sedang Tidak Baik Baik Saja


__ADS_3

Siang itu saat jam istirahat dua idola kampus sedang berada dikantin kampus untuk makan siang.


Terlihat mereka sesekali bercanda seperti biasa.  Meski sedang patah hati namun ketika bersama teman teman nya Ivan bisa menghilangkan sedikit luka dihati nya.


Terlihat disudut ruangan juga ada Karina bersama teman teman nya. Mereka juga nampak nya tengah beristirahat juga.


Dimana pun dua kembar idola kampus itu berada pasti selalu menjadi tempat persinggahan bagi yang lain juga.  Mereka tak pernah lengah untuk bisa selalu melihat dan menatap idola mereka dikampus,  seperti sudah menjadi candu dan semangat untuk para dewi dikampus itu.


Kalau dulu mereka merasa iri dan cemburu karena hanya Erika yang bisa mendekati dua kembar itu,  maka sekarang mereka juga merasa iri karena dua gadis lain juga bisa bergabung dengan geng tenar mereka.  Siapa lagi kalau bukan Amelia dan juga Karina, meski mereka bergabung hanya pada saat Opema berkumpul saja.  Namun bagi semua mahasiswi dikampus itu,  itu sudah menjadi hal yang bisa membuat hati mereka seperti meledak ledak melihat nasib mujur dua gadis itu.  Apalagi Karina yang bisa dikatakan murid baru.


"gue perhatiin ada yang ngeliatin bendahara opema tu aja dari tadi  " sindir Samuel


"hmm,  siapa? " tanya Alex


"pak bos kutub kita,  tu liat muka nya udah merah"  ejek Samuel yang membuat jo tersedak minum nya


Sementara Ivan dan Faiz hanya saling pandang.  Dan Erika berusaha untuk meredam cemburu tentu nya.


"apa,  ?" tanya Jonathan singkat ketika mereka semua menatap kearah nya.


"haha,  gue rasa makhlus es kita bentar lagi bakalan meleleh deh,  udah kenak benih benih yang seger nampak nya" ejek Samuel lagi


Jonathan hanya diam melirik tajam


"ya bagus dong,  sebuah kemajuan besar kalo si jo bisa buka hati nya buat cewe" kata Dirga membela Jonathan entah mengejek nya


"apaan sih kalian" dengus Jonathan


"sikat terus bang,  jangan sampek keduluan orang" kata Ivan sambil mengaduk aduk minuman nya,  entah mengapa hati nya tercubit ketika mengatakan itu, menatap Jonathan dengan senyum kecut terpaksa pula


"ha,  bener tu,  adek lo aja udah setuju" kata Dirga menambahi


"waah,  tapi kalau sampai si jo beneran deketin tu anak,  otomatis bakalan banyak yang patah hati" sindir Alex melirik ke arah Erika yang masih diam sendiri


"iya bener itu, bukan patah lagi,  guling guling mungkin.  " tambah Faiz yang melirik lirik ke arah Ivan


Sementara dua orang yang dilirik hanya sibuk pada kegiatan nya mengaduk aduk minuman yang sudah mulai berubah warna.


"berisik kalian,  aku duluan. Van bayarin" kata Jonathan berdiri dan langsung meninggalkan teman teman nya yang langsung tertawa serempak


"lah kok gue sih, " kata Ivan heran


"haha,  liat deh salting tu anak" ejek Samuel


Mereka semua pun akhirnya membubarkan diri dan kembali kekelas lagi.


..


Jonathan tengah berdiri disebelah mobil nya hendak pulang kerumah.  Namun tak sengaja pandangan mata nya melihat Karina yang tengah berjalan juga kearah gerbang kampus.  Dia pun langsung melajukan mobil nya kearah gadis itu.


Jonathan seperti tidak peduli tatapan terkejut dan kagum teman teman Karina melihat nya menghampiri gadis itu disana.


"ayok naik" kata Jonathan membuka kaca mobil nya


"eh,  gak usah kak,  aku bisa naik taksi aja" ucap Karina tak enak


Mendengar itu Jonathan pun keluar dari mobil nya dan langsung membukakan pintu untuk Karina. 


Karina dan teman teman nya langsung pandang heran melihat reaksi Jonathan yang dengan wajah datar nan dingin nya membukakan pintu untuk seorang Karina.

__ADS_1


Meski nampak enggan namun karena tidak enak melihat banyak nya mata yang melihat kearah mereka Karina pun akhirnya masuk kedalam mobil Jonathan.


Dengan gaya cool khas nya Jonathan pun menutup pintu nya dan kembali kekursi pengemudi mengabaikan tatapan heran dari semua penghuni kampus yang tengah melihat dia bersikap manis pada seorang wanita.


Sebuah kejadian langka seorang Jonathan Alexander mendekati wanita.  Apalagi seorang mahasiswi baru yang belum lama dikenal.


"gila, beruntung banget tu sih Karin,"


"dari deket ganteng nya kebangetan"


"ya Allah, ngiri banget aku ngeliat dia"


Begitulah reaksi teman teman Karina yang melihat Karina diperlakukan istimewa oleh Jonathan. Karina hanya bisa tersenyum canggung kearah teman teman nya saat mobil yang dikendarai Jonathan pergi meninggalkan kampus itu.


Saat anak anak lain masih dengan ketidakpercayaan dan keiri hatian mereka maka ada dua orang yang sedang memegang hati mereka agar jangan patah.  Siapa lagi kalau bukan Ivan dan juga Erika.


"ah,  seperti nya memang kita gak jodoh rin" batin Ivan mencelos saat melihat Jonathan membawa Karina


Dia pun langsung melajukan motor nya dengan hati yang masih kacau.


Sementara Erika


"apa kurang nya aku Jo,  bertahun tahun kita sama sama tapi sedikitpun kamu gak pernah liat aku,  dan dengan gadis itu yang baru kamu kenal dia sudah bisa merebut hati mu" lirih Erika yang masih berdiri mematung disamping mobil nya


Hingga lamunan nya buyar ketika seseorang menepuk pundak nya.


"sabar,  masih banyak yang lebih baik dari dia" kata Alex mengejutkan lamunan Erikaa


"hmm,  gak papa,  gue bisa jadi temen nya aja udah seneng" jawab Erika pelan namun terdengar menyedihkan ditelinga Alex.


...


Dia masuk kedalam rumah dengan wajah yang masih lesu mengenang Jonathan yang sudah mulai berani menampakan diri jika dia benar benar menyukai gadis idaman Ivan selama ini.


"tumben cepat pulang tuan?" tanya Bibi May mengejutkan Ivan


"eh, Bu, iya ni. mau istirahat cepet, banyak tugas kuliah juga" jawab Ivan


"mau ibu buatin makanan apa tuan, biar capek nya ilang" tanya bibi May lagi


"gak usah Bu, makasi. tadi aku udah makan dikampus" jawab Ivan .


Bibi May pun hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan Ivan yang juga berlalu hendak kekamar nya.


Tiba dikamar Ivan langsung merebahkan diri nya diatas tempat tidur mewah nya dengan mata yang terpejam.


Mencoba untuk menetralkan emosi yang terasa menumpuk didada nya.


Ini sungguh menjengkelkan, dia benar benar tidak baik baik saja saat ini.


Mencoba merelakan tapi hati nya masih terlalu berat untuk menerima semua nya.


Jika itu orang lain mungkin dia bisa terima dan mencoba bersaing dengan sehat, tapi ini saudara nya sendiri yang sudah memberikan segala yang tidak dia punya selama ini.


Bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan hati Jonathan, seseorang yang menjadi panutan nya, meski kini dia menjadi sumber masalah hati nya.


Ivan mendengus nafas kasar sembari menarik rambut nya kuat.


"gue harus gimana, ini bener bener ngerusak mood gue. kenapa harus elu sih bang, kenapa gak orang lain aja coba" keluh Ivan kesal

__ADS_1


Bagaimana mungkin dia merelakan begitu saja, gadis itu adalah cinta pertama nya, gadis yang menjadi semangat nya ketika dia hidup dikampung dulu, gadis yang menjadi penyebab nya dicaci setiap saat oleh Aldo, namun disitu letak ambisi nya untuk merubah hidup lebih baik, namun kini yang terjadi malah cinta nya bertepuk sebelah tangan. Dan itu sungguh menyakitkan.


"kayak nya gue butuh liburan, gue gak bisa dirumah ini dan ngeliat bang Jo setiap hari. Gue takut gak bisa ngendaliin emosi gue untuk saat ini. Gue harus nenangin hati gue supaya bisa ngerelain ini semua" gumam Ivan yang kini sudah duduk dipinggir tempat tidur nya


"tapi kemana?" tanya Ivan pada diri nya sendiri


"ck, gak ada cara lain. kayak nya kekampung aja, kerumah bapak sama ibuk, udah lama juga gak kesana. gak ada juga yang curiga kalau gue pergi nya kesana" gumam Ivan lagi.


Dia langsung melirik jam ditangan nya, dan saat itu jam masih menunjukan pukul 2 siang.


"kebetulan besok hari Sabtu, kayak nya tiga hari disana cukup, gue pergi sekarang aja" kata Ivan yang langsung mengambil tas ransel nya dari dalam lemari dan memasukan beberapa helai pakaian yang diperlukan


Setelah itu dia buru buru menyambar kunci motor nya dan keluar dari kamar, sebelum Jonathan pulang dan menanyakan hal yang tidak bisa dijawab nya.


saat tiba dianak tangga terakhir Ivan langsung menghentikan langkah nya sembari menepuk dahi nya melupakan sesuatu


"astaga, lupa kan pamitan. gara gara hati sialan ini" gerutu nya sembari berlari mencari keberadaan Delisha


"mama, maaa!!!" teriak Ivan berjalan kearah belakang rumah tempat biasa Delisha menghabiskan waktu nya


"iya sayang, mama disini" jawab Delisha yang ternyata berada didapur mewah mereka sedang membuat sesuatu


"ada apa, kenapa teriak teriak hm?" tanya Delisha heran, mata nya juga memicing saat melihat Ivan membawa ransel dipunggung nya


"Ivan mau pamit, Ivan mau pulang jenguk bapak sama ibu ma" jelas Ivan membuat Delisha terhenyak kaget


"loh, kenapa tiba tiba nak, ada apa?" tanya Delisha menjadi khawatir


"tidak ada, udah lama Ivan gak kesana, rindu sama mereka dan temen temen disana juga, gak apa apa kan ma?" tanya Ivan lagi


"yasudah tidak apa apa, kamu diantar Roy kan, seperti biasa?" tanya Delisha lagi dan Ivan langsung menggaruk tengkuk nya


"Ivan bawa motor aja deh ma, lagian hari Minggu baru Ivan pulang kemari" jawab Ivan


"tapi itu kan jauh nak" kata Delisha keberatan


"cuma tiga jam kok. gak apa apa. Nanti mama pamitin Ivan sama papa ya, sama Abang juga" kata Ivan


"hmm yasudah, tapi kamu hati hati. Harus selalu kasih kabar mama" kata Delisha lagi


"iya ma. Pasti. yasudah, Ivan berangkat dulu" kata Ivan mengambil tangan Delisha dan mencium nya, dia juga mengecup singkat pipi Delisha seperti kebiasaan Jonathan.


Delisha mengusap lembut kepala Ivan dan tersenyum menatap nya, dia tahu ada sesuatu yang terjadi pada anak nya yang satu ini. Karena sifat Ivan berbeda beberapa hari ini. Dan dia tidak ingin ikut campur karena anak anak nya sudah dewasa sekarang


"hati hati nak" teriak Delisha saat Ivan sudah melesatkan motor nya keluar gerbang rumah mewah itu bersamaan dengan mobil Jonathan yang baru tiba disana.


Jonathan keluar dari mobil nya dan menghampiri Delisha yang masih mematung didepan pintu menyambut nya dengan senyum hangat nya


"Ivan mau kemana ma?" tanya Jonathan langsung


"kerumah bapak dan ibu nya, rindu kata nya" jawab Delisha


"tumben naik motor" kata Jonathan sembari mengikuti langkah kaki Delisha yang berjalan masuk kerumah


"entah lah, mungkin dia hanya ingin nak" jawab Delisha dan Jonathan hanya mengangguk meski hati nya bertanya tanya, tidak biasa nya Ivan pergi sendiri, minimal dia pergi dengan Toni ataupun Faiz, dan terkadang dia juga ikut Ivan kesana bersama Roy.


Ini jangan kan mengajak nya, pamit saja tidak.


'ada apa dengan anak itu' batin Jonathan heran

__ADS_1


__ADS_2