Story Of The Twins

Story Of The Twins
Jangan Takut Amel


__ADS_3

Tidak terasa bulan berlalu begitu cepat. Saat ini usia kehamilan Amelia dan Karina sudah memasuki bulan kesembilan. Mereka sudah tinggal menunggu waktu untuk lahiran. Apalagi Amelia, waktu lahiran nya sudah ditentukan sekitar dua hari lagi.


Amelia akan menjalani operasi Caesar saat melahirkan anak nya nanti. Dokter Sandra menyarankan agar Amel dioperasi karena kondisi tubuhnya yang lemah. Dan mau tidak mau mereka harus menuruti nya.


Keadaan tubuh Amel memang cukup lemah, bahkan sampai sekarang dia masih sering muntah jika tidak menyukai sesuatu. Amelia juga sering pusing karena tekanan darah nya yang rendah, dan itu membuat Ivan benar benar cemas. Dia sudah tidak lagi bekerja, perusahaan Faiz yang menghandle sejak dua hari ini. Amel sudah tidak bisa lagi tidur dengan baik, dan juga sering mengeluh sakit dipinggang setiap hari. Ivan benar benar tidak tega meninggalkan nya, meski dirumah sudah ada mama nya yang juga siaga dengan Amel. Bahkan Karina juga begitu meski dia juga hamil.


Sedangkan Karina jadwal lahiran nya sekitar dua Minggu lagi. Dia akan melahirkan secara normal karena keadaan nya baik baik saja. Sebenarnya Jonathan ingin dia operasi saja mengingat dua yang harus Karina keluarkan. Namun Karina tetap kekeh untuk melahirkan secara normal, karena dia menganggap tubuhnya cukup kuat untuk itu. Dokter Sandra juga tidak mempermasalahkan nya, karena Karina sangat jauh berbeda dengan Amel yang lemah.


Seperti malam ini, hari sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Ivan masih belum memejamkan matanya. Dia masih mengusap lembut punggung Amelia yang sudah tertidur, namun terlihat gelisah seperti biasa. Ya, menjelang lahiran, tubuhnya sudah tidak lagi bisa beristirahat dengan baik.


Tangan Ivan yang satunya masih memegang ponsel seraya menonton film anime kesukaan nya. Sembari untuk membuang kantuk yang sudah mendera. Dia belum bisa meninggalkan Amel tidur saat ini, biasanya Amel akan tertidur dengan nyenyak sekitar pukul empat pagi. Dan saat itu barulah Ivan bisa tertidur.


Ivan langsung terkesiap saat Amel menggeliat dan membalikkan tubuh menghadap nya.


Dan dengan sigap pula Ivan meletakkan ponsel dan mendekap Amel seraya mengganjal punggung Amel dengan sebuah bantal.


"Sayang" panggil Amel begitu serak dan pelan


"Iya... kenapa yank, mau apa?" tanya Ivan seraya mengusap kepala Amel dan mengecup hangat dahinya.


"Sakit banget pinggang aku" kata Amel


Ivan tersenyum dan memijat pelan pinggang Amel dengan lembut.


"Sabar ya, gak lama lagi baby nya keluar, kamu gak akan sakit lagi" kata Ivan yang terus memijat pelan pinggang Amel.


"Aku takut" gumam Amel dalam dekapan Ivan.


"Takut kenapa sayang" tanya Ivan. Kini tangan nya menyapu rambut Amel yang menutupi wajah itu. Wajah Amel sudah begitu membengkak, bahkan pucat. Ivan benar benar tidak tega melihat nya. Jika seperti ini tersiksa nya dia saat hamil, maka Ivan tidak ingin lagi memiliki anak. Sudah cukup satu, dan dia tidak ingin kehilangan keceriaan Amel lagi.


"Aku takut kalau lahiran nanti aku kenapa kenapa gimana?" tanya Amel. Kini dia membuka matanya dan memandang Ivan dengan sendu.

__ADS_1


Ivan kembali tersenyum dan memandang Amel. Ditengah malam yang sepi ini bisa bisanya Amel terbangun dan berkata seperti itu.


"Kamu gak akan kenapa kenapa sayang. Kamu pasti kuat, anak kita butuh kamu, dan aku juga gak bisa kalau gak ada kamu" jawab Ivan.


"Tapi kalau..."


Ivan langsung membungkam mulut Amel dengan cepat. Dia takut perkataan Amel akan menjadi doa nantinya.


"Jangan berfikiran yang enggak enggak. Kamu sayang kan sama aku?" tanya Ivan.


Amel langsung mengangguk pelan, namun matanya terlihat berkaca kaca. Entah kenapa dia terfikir bagaimana jika dia tidak selamat saat melahirkan nanti. Dokter Sandra berkata jika keadaan nya sangat lemah. Janin nya juga dalam posisi yang kurang baik, dan itu cukup membuat Amel merasa takut. Dia begitu takut jika dia tidak akan selamat dan pergi untuk selama lamanya.


"Kalau kamu sayang aku, kamu harus berjuang untuk aku. Aku janji, aku bakalan Nebus semua pengorbanan kamu ini. Aku bakalan Nebus dengan seluruh umur aku untuk terus sayang sama kamu" ungkap Ivan.


Dan sungguh, ungkapan itu malah membuat Amel semakin sedih, bahkan dia mulai menangis sekarang. Ivan langsung meraihnya dan memeluk nya dengan lembut.


"Kamu pasti baik baik saja sayang. Jangan cemas, jangan takut, kan ada aku" kata Ivan lagi. Meski sebenarnya dia juga begitu takut menghadapi hari lahiran Amelia nanti.


"Aku janji sayang. Aku pasti nemeni kamu. Jangan takut ya, gak akan kenapa kenapa. Kita harus pasrah dan terus berdoa" ujar Ivan.


Amel mengangguk dalam pelukan Ivan.


"Setiap malam aku selalu berdoa, kamu dan anak kita sehat dan baik baik aja. Kita bisa terus sama sama sampai tua nanti. Kita nyaksiin anak kita menikah dan punya anak." ungkap Ivan dengan mata yang juga berkaca kaca. Sepertinya malam yang semakin larut ini membuat suasana menjadi hening dan mellow.


Amel mendongak dan memandang wajah sendu Ivan. Meski kusut, namun tetap saja pesona Ivan selalu membuat Amel merasa tenang dan begitu nyaman. Apalagi Ivan yang selalu siaga dan tidak pernah membiarkan nya merasakan sakit sendiri. Sungguh, Tuhan begitu baik mengirimkannya malaikat tak bersayap dalam wujud suaminya ini.


"Aku udah berubah fikiran sayang" ucap Ivan tiba tiba.


"Berubah fikiran apa?" tanya Amel.


Ivan tersenyum seraya mengusap air mata diwajah Amel.

__ADS_1


"Kayak nya cukup satu aja deh kita punya anak, gak usah nambah lagi" jawab Ivan


"Kenapa?" tanya Amel begitu heran.


"Aku gak tega lihat kamu kayak gini." jawab Ivan


"Kamu capek ya ngurusin aku?" tanya Amel pula, namun Ivan segera menggeleng dengan cepat.


"Enggak, bukan begitu. Aku gak bisa lihat kamu kesakitan dan tersiksa kayak gini. Aku sedih sayang. Aku gak tega, rasanya pengen gantiin kamu, biar aku yang ngerasain semua nya. Dari muntah, mual, pusing, sakit, sampai gak bisa tidur malam, pasti tersiksa kan. Aku bener bener gak tega" ungkap Ivan


Amel tersenyum dengan matanya yang kembali berair. Dia mengusap wajah Ivan dengan lembut.


"Gak apa apa, aku ikhlas kok. Cuma terkadang, gak tahu kenapa pengen manja sama kamu. Maafin aku ya udah buat kamu khawatir " ucap Amel.


Ivan menggeleng dan meraih tangan Amel, mencium nya dengan hangat dan penuh perasaan.


"Enggak apa apa. Aku senang kamu manja sama aku. Lagian memang kamu ngerasain sakit dan gak enak selama ngandung anak kita. Aku enak tinggal buat, tapi kamu yang berjuang selama sembilan bulan sampai dia lahir." ungkap Ivan


"Terimakasih ya, kamu udah mau ngandung anak aku, kamu harus rela tersiksa kayak gini" ucap Ivan lagi, kini tangan nya mengusap perut buncit Amel yang selalu bergerak didalam sana.


"Ini bukan anak kamu aja, ini kan anak aku juga sayang" ungkap Amel.


"Ya, anak kita, anak yang akan jadi buah cinta kita berdua" balas Ivan.


"Terimakasih, dan aku harap kamu tetap berjuang untuk aku dan anak kita ya" pinta Ivan penuh harap.


"Aku pasti berjuang, yang penting kamu selalu ada buat aku" jawab Amel


Ivan kembali memeluk Amelia dengan hangat, mencium dahinya penuh sayang.


"Aku janji sayang. Aku pasti akan selalu ada buat kamu dan anak kita" jawab Ivan

__ADS_1


__ADS_2