
Ivan turun dari mobil dan langsung berjalan dengan tergesa masuk kedalam rumah sakit. Dia sedikit terlambat datang karena harus menggoda pasangan pengantin baru itu tadi. Jadi hari sudah cukup siang dia baru tiba dirumah sakit.
Semoga saja Amelia tidak menggerutu dan memarahinya karena terlambat. Sejak kejadian kecelakaan pesawat kemarin. Amelia sedikit sensitif jika dia terlambat ataupun tidak ada memberi kabar. Yah, mungkin karena dia masih trauma. Ivan cukup mengerti tentang itu.
Ivan mengetuk pintu ruangan beberapa kali dan membuka nya secara perlahan. Dia tersenyum saat Amelia dan Indah langsung menoleh kearah nya.
"Aku kelamaan ya?" kata Ivan yang langsung mendekat kearah Amelia. Gadis itu sudah duduk disisi ranjang, sedangkan Indah sedang membereskan pakaian dan barang barang Amelia.
"Kok lama, Kiran kamu gak Dateng" jawab Amel
Ivan tersenyum dan mengusap sekilas kepala Amel
"Dateng dong, tadi ngobrol bentar sama bang Jo. Jadi lupa waktu" jawab Ivan dengan tawa kecilnya
"Ngobrol atau godain mereka" dengus Amel yang sudah tahu kelakuan Ivan
"Dua dua yang. hehe" jawab Ivan
"Kita langsung pulang aja ya" ajak Indah yang ternyata sudah selesai dengan pekerjaan nya
"Oke" sahut Ivan yang langsung membantu Amelia turun dari atas ranjang nya dengan pelan
"Kamu yakin udah baik baik aja yang?" tanya Ivan ragu, wajah Amel masih kelihatan pucat
"Iya, aku mau istirahat dirumah aja. Disini gak enak" jawab Amel yang memakai sendal nya
"Yauda, hati hati" ucap Ivan
"Sini kak, biar aku yang bawain" Ivan langsung meraih tas besar yang dijinjing Indah. Membuat Indah sedikit terkesiap dan langsung mengangguk
"Kak Andrean keperusahaan ya?" tanya Ivan seraya berjalan keluar bersama Amel
"Iya, katanya ada meeting pagi ini jadi gak bisa jemput Amel" jawab Indah
"Gak papa, kan ada aku" kata Ivan lagi. Mereka berjalan keluar kamar dengan Ivan yang membawa tas dan Amelia yang menggandeng lengan nya
"Kamu gak keperusahaan lagi yang?" tanya Amel memandang Ivan yang menggeleng
"Enggak, aku udah disuruh libur sama papa. Ada Faiz sama om Rico yang ngurus. Palingan aku kerja dari rumah aja" jawab Ivan
Amel langsung menganggukkan kepala nya
"Diana juga udah mulai kerja lagi, aku jadi sepi lagi deh" gumam Amel
Indah sudah berjalan lebih dulu meninggalkan mereka. Sepertinya kakak ipar Amelia itu begitu pengertian dan tidak ingin mengganggu mereka .
"Diana semakin sibuk sekarang, diakan mau diangkat jadi kepala divisi gantiin Karina" ungkap Ivan
__ADS_1
"Yang bener?" tanya Amel dan Ivan langsung mengangguk
"Iya, Karina udah gak dibolehin kerja lagi. Jadi kamu masih ada temennya " kata Ivan
Amelia langsung tertawa dan mengangguk.
"Dia pasti sedih" kata Amel
"Kamu kan tahu bang Jo gimana, mana mungkin dia biarin Karina kerja" ucap Ivan
"Tapi kamu gak gitu kan?" tanya Amel
Ivan tersenyum dan menggeleng
"Enggak kok. Kamu masih boleh ngurus butik, itu kan impian kamu dari dulu. Yang penting fokus utama kamu harus aku" kata Ivan
Amelia tersenyum dengan senang dan langsung memeluk lengan Ivan dengan gemas
"Aku janji, kamu adalah prioritas utama aku" jawab Amelia
Ivan tertawa kecil mendengar nya. Dia tidak mungkin melarang Amelia. Bukan nya tidak sayang, tapi sejak dulu dia tahu jika Amelia memang ingin menjadi seorang desainer terkenal. Dan sekarang cita cita nya sudah tercapai, tidak mungkin dia melarang Amel untuk meneruskan karir nya. Dia tidak sejahat itu. Untuk sampai dititik ini tidak semudah itu, dan Ivan tahu bagaimana keras nya Amel sudah berjuang.
Mereka berjalan dengan santai menuju lobi rumah sakit, dimana mobil Ivan memang dia letakkan saja disana. Siapa yang mau melarang, jika rumah sakit itu adalah salah satu aset keluarga Alexander. Ya, menjadi anak sultan terkadang memang enak, yang tidak enak nya ketika harus mengurus perusahaan dan bisnis lain nya yang terasa begitu menguras otak
Tiba dilobi Ivan langsung memasukan barang barang Amelia kebagasi. Indah sudah menunggu sejak tadi, namun untuk menggerutu dia tidak berani karena tahu kondisi Amel yang masih lemah.
Akhir nya pagi menjelang siang itu Ivan mengantar Amelia kerumah nya. Dan tinggal dua hari ini waktu mereka bersama, setelah itu mereka tidak diperbolehkan lagi untuk bertemu. Mereka baru akan bertemu saat ditempat mereka menikah nantinya.
....
Sementara diperusahaan pusat....
Saat ini sedang diadakan rapat koordinasi pengangkatan ketua divisi utama disana. Diana begitu terkejut ketika ditunjuk sebagai kandidat nya. Dia tidak menyangka jika dia bisa meraih jabatan itu. Jabatan yang tentu saja sulit untuk didapatkan dengan mudah. Karena tanggung jawab dan reward yang didapat juga tidak main main.
Dia sangat berterimakasih pada Karina dan Jonathan, sebenar nya dia sedikit sungkan karena jabatan ini dia peroleh karena rasa balas Budi dari mereka. Tapi mau bagaimana lagi, jika Jonathan sudah berbicara maka tidak akan ada yang bisa menolaknya.
"Saya harap kamu bisa bekerja lebih baik mulai hari ini. Tanggung jawab kamu sudah lebih besar" ucap Jonathan dengan penuh wibawa.
Diana langsung mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya
"Baik tuan, terimakasih atas kepercayaan anda" jawab Diana
"Siang nanti kita akan mengadakan rapat akhir bulan. Kalian semua persiapkan setiap laporan yang ada. Jangan ada sedikit saja kesalahan. Saya harap hari ini kalian tidak membuat mood saya berantakan" ujar Jonathan lagi
"Baik tuan" jawab seluruh bawahan nya
Karina hanya menghela nafas pelan melihat Jonathan yang terlihat begitu angkuh itu, dia bahkan tidak perduli tua atau muda lawan bicara nya. Semua dianggap sama, dia hanya tahu jika dia adalah pemimpin disini, dan tidak ada yang boleh membantah.
__ADS_1
Terkadang Karina juga merasa jika dia memang tidak seharus nya bekerja lagi. Dengan begitu dia tidak akan melihat bagaimana angkuh nya suami tampan nya itu.
Setelah rapat selesai, Karina langsung mengikuti Jonathan keruangan nya. Jonathan tidak lagi memperboleh kan Karina kemana mana. Dia hanya ingin Karina ada didepan matanya saat ini. Dia hanya memperbolehkan Karina berpamitan pada teman teman nya cuma sebentar.
"Kak, Karin mau keruangan Diana, mau lihat mereka disana" ucap Karin mendekat kemeja Jonathan
"Disini saja, tadi kan sudah berpamitan" jawab Jonathan terlihat acuh. Dia bahkan langsung membuka layar komputer nya
Karina langsung berdecak kesal dan menatap cemberut suami nya itu
"Ngapain coba Karin disini, bosen tahu" gerutu Karina
Jonathan mendengus dan kembali menoleh kearah nya. Dia menarik tangan Karina dengan kencang membuat istrinya itu langsung terjerembab jatuh kepelukan nya
"Kakak" seru Karina begitu terkejut namun Jonathan hanya tertawa kecil saja
"Kamu itu istri Presdir disini. Nyonya Jonathan Alexander. Jangan suka kelayapan seperti seorang bawahan. Cukup duduk disini dan lihat saja aku bekerja" kata Jonathan yang membenarkan posisi Karina yang duduk diatas pangkuan nya
Karina mengerucutkan bibirnya sekilas dan meletakkan tangan nya didada Jonathan
"Bosan tahu" jawab Karina kesal
"Kamu bosan melihat wajahku?" tanya Jonathan dengan tidak suka
Karina berdecak sekilas dan menepuk dada Jonathan dengan gemas
"Bosan kalau cuma duduk. Lihat wajah kakak ya mana pernah bosan, gemesin gini kok" kata Karina sembari menangkup wajah Jonathan yang tersenyum dan meraih tangan Karina
"Jika begitu tetaplah disini. Aku tidak akan bisa bekerja jika kamu tidak terlihat" pinta Jonathan
"Dih, besok juga Karin gak ikut. Apa gak bisa kerja juga?" tanya Karina heran
"Itu berbeda. Hari ini aku mau kamu menemaniku satu harian disini" jawab Jonathan.
"Apa imbalan nya" kata Karina
Jonathan tersenyum dan menarik tubuh Karina lebih dekat padanya
"Ini imbalan nya" bisik Jonathan yang langsung menyergap bibir Karina yang terkejut dan melebarkan matanya. Dia sedikit memberontak namun lama kelamaan dia juga terbuai dengan sentuhan Jonathan yang selalu bisa membuat nya melayang. Bahkan dia lupa sedang berada dimana sekarang.
Hingga beberapa detik kemudian...
"Permisi tuan....." Diana yang masuk kedalam ruangan Jonathan tampak melebarkan matanya melihat pemandangan itu. Dia langsung gelagapan dan terlihat canggung. Apalagi melihat Karina dan Jonathan yang terkejut melihat kedatangan nya.
"Eh, maaf tuan, Bu... saya mau bilang kalau ada tamu dibawah. Permisi" kata Diana yang langsung menutup pintu dan berlari menjauh dengan wajah memerah.
"Kakak....." rengek Karina yang langsung menyembunyikan wajah nya kedada Jonathan. Dia begitu malu dipergoki oleh karyawan Jonathan, meskipun itu teman nya sendiri
__ADS_1
Jonathan hanya terkekeh kecil dan mengusap punggung Karina yang malu...
Apa boleh dibuat, dia selalu tidak bisa menahan jika sudah berada didekat istrinya.