
Beberapa hari berlalu.....
Ivan terbaring disofa ruang tengah rumah nya. Wajah nya tertekuk dan terlihat sangat bosan. Sudah beberapa kali satu hari ini dia hanya mondar mandir mengelilingi rumah mewah itu. Pernikahan nya hanya tinggal menghitung hari. Dan yang membuat nya jenuh adalah dia sudah tidak bisa bertemu dengan Amel lagi.
Sudah empat hari mereka tidak ada bertemu, dan itu yang membuat Ivan uring uringan . Meskipun setiap hari selalu berhubungan lewat ponsel tapi tetap saja rasa rindunya tidak bisa terlampiaskan.
Beberapa kali dia menghela nafasnya. Entah apa yang harus dia lakukan, semua nya terasa jadi tidak bersemangat.
Dirumah tidak ada siapapun, hanya Bibi May dan pelayan serta penjaga diluar.
Jonathan dan Maxwel masih diperusahaan, sedangkan Delisha dan Karina sedang melihat persiapan tempat pesta Ivan nanti.
Semua begitu sibuk dengan urusan mereka masing masing, hanya dia yang tidak diperbolehkan melakukan apapun. Menyebalkan!
"Tuan muda, kenapa dari tadi ibu lihat manyun terus. Calon pengantin gak boleh stres stres" kata bibi May mengejutkan Ivan. Bibi May datang dengan sepiring kue basah dan segelas teh hangat, dia menyajikan nya didepan Ivan.
Ivan langsung beranjak dan duduk dengan benar. Dia memandang kue klepon yang terlihat masih hangat itu
"Bosen tahu Bu, gak ngapa ngapain. Mau ikut papa gak boleh, ikut mama apa lagi" gerutu Ivan sambil tangan nya mencomot kue dihadapan nya dan melahap nya sekali suap
Bibi May tersenyum dan duduk didepan Ivan, wanita tua yang sudah bekerja dirumah keluarga Alexander sejak sebelum Ivan dan Jonathan lahir itu terlihat begitu menyayangi kedua tuan muda ini. Apalagi pada Ivan yang memang lebih hangat dan ramah.
"Nama nya juga mau jadi pengantin. Memang harus dipingit dirumah. Tuan Jonathan juga begitu kemarin" jawab bibi Mai
"Lama banget nunggu tiga hari. Berasa nunggu tiga tahun. " ucap Ivan yang kembali memakan kue nya
Bibi Mai tertawa dan menggeleng pelan
"Sabar. Memang nya gak deg degan. Bentar lagi Lo" tanya Bibi Mai
Ivan tertawa dan mengangguk, menelan terlebih dahulu kue didalam mulutnya
"Deg degan lah Bu. Aku bahkan udah ngapalin kalimat ijab nya. Hehe" kata Ivan dengan tawanya
"Awas aja nanti kalau lupa, jangan karena gugup jadi lupa semua" ungkap bibi Mai
"Jangan nakutin gitu dong Bu" kata Ivan
Bibi Mai kembali tertawa
"Enggak kok. Ibu bilang bener. Itu ujian terakhir menjelang sah. Lihat tuan Jo kemarin, yang biasanya datar dan tenang, kelihatan banget gugupnya, ibu aja jadi ikut tegang" ungkap bibi Mai
"Iya sih. Ah, mudah mudahan aku bisa deh. Doain aja Bu" pinta Ivan
Bibi Mai langsung mengangguk dan tersenyum. Ivan memang terlihat begitu tenang dan selalu ceria. Dan itulah yang membuat semua orang menyukai nya. Kabar buruk yang sempat mereka terima kemarin benar benar membuat semua orang kehilangan. Tapi untung nya, semua terlewati dan sekarang dia masih ada disini untuk menanti pernikahan nya. Bibi Mai berharap semua berjalan lancar, karena sudah cukup rasanya Ivan merasakan derita selama sembilan belas tahun pertama hidupnya
Pandangan mereka teralih kearah pintu saat tiba tiba Maxwel datang dan berjalan kearah Ivan. Bibi Mai segera beranjak dan memberi sapa pada Maxwel
"Kamu gak takut gemuk, ngemil aja setiap hari" ucap Maxwel yang duduk disamping Ivan, sementara bibi Mai pergi membawa tas kerja dan jas nya
Ivan menyeruput teh nya sejenak dan menoleh pada papa nya
"Sayang gak dimakan pa, udah dibuatin. Lagian cuma makan ginian doang, gak akan buat gemuk" jawab Ivan
__ADS_1
Maxwel mendengus senyum seraya merenggangkan dasi dileher nya
"Memang dasar nya kamu doyan ngemil. Jangan lupa juga olahraga, kamu gak mau kan, baju pengantin kamu gak muat nanti" kata Maxwel lagi
"Udah capek Ivan olahraga. Dari pagi sampek sore gak berhenti berhenti. Sampai keringat udah gak mau keluar lagi" kata Ivan begitu mendramatisir
"Dasar pembohong. Setiap pulang kerja papa selalu lihat kamu makan dan ngemil" sahut Maxwel seraya memukul pundak Ivan. Ivan langsung terbahak dan kembali mencomot kue nya
"Bosen tahu pa. Ivan itu gugup, takut, kalau dibuat makan fikiran Ivan jadi tenang sedikit" jawab Ivan yang kembali memasukkan kue nya kedalam mulut
Maxwel menggeleng pelan melihat kelakuan Ivan. Anaknya satu ini memang selalu saja ada tingkah yang membuat nya geleng geleng kepala.
"Gugup mau ijab kabul nanti" tanya Maxwel dan Ivan langsung mengangguk
"Yang penting kamu yakin dan tenang. Semua pasti baik baik saja. Memang begitu, semakin dekat kamu akan semakin gugup. Papa juga begitu dulu, kamu juga lihat Abang mu juga begitu" kata Maxwel
Ivan kembali mengangguk
"Apa papa sama Mama juga dipingit begini dulunya?" tanya Ivan
Maxwel mengernyit bingung, namun tidak lama kemudian dia mendengus senyum
"Kenapa, sudah rindu?" tanya Maxwel
"Rindu lah, udah lama gak ketemu. Dari dulu sampai sekarang, selalu ada aja yang ngelarang buat ketemu" gerutu Ivan. Maxwel langsung tertawa mendengar nya
"Sabar. Ini yang terakhir. Setelah itu kamu dan dia akan bersama setiap hari. Hubungan yang diawali dengan ujian yang berat, pasti akhirnya akan terasa lebih bermakna. Kalian jadi bisa lebih menghargai tentang penting nya kebersamaan nantinya" ungkap Maxwel.
"Ya, semoga aja pa..Harapan nya memang begitu. Ivan pengen seperti papa dan mama, yang walaupun udah selama ini menjalani pernikahan, tapi tetap selalu baik baik aja dan pastinya tetap romantis" ucap Ivan
"Yang terpenting, kuncinya hanya percaya dan saling jujur. Saling terbuka dan menerima. Hubungan kalian pasti akan baik baik saja" kata Maxwel. Ivan langsung mengangguk setuju
"Tidak ada pernikahan yang baik baik saja nak. Papa sama Mama juga sering berdebat hal hal kecil maupun besar. Perbedaan pendapat pasti selalu ada, tapi kamu harus ingat ini, ketika kamu dan istri kamu mendapati hal yang demikian. Harus ada diantara kalian yang mengalah. Terutama kamu sebagai kepala keluarga, kamu harus lebih bisa mengalah, tapi bukan berarti diam. Kamu mengerti kan" tanya Maxwel dan Ivan kembali mengangguk setuju
"Ya, karena perempuan selalu benar" sahut Ivan dengan tawanya
"Nah, benar itu. Lagi pula memang begitu sifat alamiah wanita. Tapi jika mereka memang tulus dan mencintai kamu, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama" ujar Maxwel
"Tanggung jawab mu setelah ini akan semakin besar. Kamu harus lebih bisa bersikap dewasa dan membimbing rumah tanggamu menuju kebaikan. Harta dan tahta yang kamu miliki hanya sekedar bonus dan penopang kehidupan kalian. Tapi yang sesungguhnya perlu kamu ingat adalah bagaimana kamu mendidik dan menjadikan keluarga mu keluarga yang dipenuhi kebaikan dan kerukunan" ungkap Maxwel mencoba memberi petuah pada Ivan
"Tentu pa. Ivan pasti akan berusaha menjadi suami yang baik nantinya. Menikah hanya sekali, udah pasti Ivan berharap kebahagiaan dan kebaikan untuk kami. Ivan harap meskipun Ivan udah menikah nanti, papa masih mau membimbing Ivan kayak gini" pinta Ivan pada Maxwel yang langsung mengangguk dan tersenyum.
"Tentu nak, selama papa ada. Papa pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuk kalian" jawab Maxwel
Ivan langsung tersenyum mendengar nya. Yah, sebagai seorang anak, dia pasti ingin mencontoh hal hal baik dari orang tuanya. Apalagi papa dan mamanya yang selama beberapa tahun ini tidak pernah dia lihat sekalipun bertengkar atau berdebat hal hal yang tidak semestinya. Didepan mereka, orang tua Ivan selalu tampak harmonis dan manis.
"Oh iya pa, nanti ketika udah menikah. Ivan boleh tinggal berdua aja sama Amel. Ivan pengen mandiri" pinta Ivan terdengar ragu, namun Maxwel malah tersenyum mendengar nya. Sudah dia duga anak anak nya pasti akan meminta hal ini
"Tentu nak, kamu memang harus memiliki rumah sendiri dan membentuk keluarga mu sendiri. Papa tidak akan larang, hanya saja, papa dan mama tetap tidak ingin berjauhan dengan kalian" jawab Maxwel
Ivan langsung menggeleng cepat
"Enggak, Ivan janji bakalan sering pulang" jawab Ivan cepat
__ADS_1
"Apa kamu sudah memiliki rencana ?" tanya Maxwel
Ivan tersenyum canggung dan menggeleng
"Untuk rumah, memang belum Ivan siapkan. Tapi memang udah Ivan rencanain" jawab Ivan
"Papa sudah menyiapkan nya untuk kalian" ucap Maxwel
Ivan sedikit terkesiap mendengar itu.
"Rumah?" tanya Ivan
Dan Maxwel langsung mengangguk
"Ya, rumah untuk kamu dan Abang kamu" jawab Maxwel
"Pa, apa itu gak berlebihan. Ivan masih punya tabungan untuk itu" kata Ivan terdengar keberatan
"Tidak, kamu bisa menyimpan uang mu untuk rumah tanggamu nanti. Rumah memang sudah papa siapkan sejak dulu. Masih dikomplek perumahan ini. Kita akan bertetangga nanti. Jadi mama tidak akan kesepian. Jauh dari kalian tentu kami tidak akan bisa" ungkap Maxwel
"Apa Abang tahu" tanya Ivan dan Maxwel langsung mengangguk
"Tahu, papa sudah memberitahukan nya masalah ini. Setelah kamu menikah baru kalian boleh pindah rumah. " jawab Maxwel
"Kami selalu menyusahkan papa" gumam Ivan
Maxwel tertawa dan menepuk pundak anak nya. Ivan sejak dulu memang selalu perhitungan masalah uang. Padahal itu masih tidak ada apa apa untuk nya
"Papa bekerja sejak dulu untuk kalian. Untuk anak anak papa. Jadi sekarang jika tidak kalian nikmati, apa guna nya papa bekerja keras dan membangun bisnis ini hmm" ungkap Maxwel
"Ya, tapi Ivan rasa semua yang papa berikan udah lebih dari cukup" sahut Ivan
"Sudah lah. Kamu hanya tinggal menikmati. Papa sudah cukup puas dengan semua yang papa miliki. Kedepan nya semua yang papa punya adalah milik kalian. Yang papa harapkan kalian bisa menjalankan nya lebih baik dari papa" harap Maxwel
"Tentu pa. Ya, meski terkadang cukup pusing. Tapi Ivan akan berusaha sebaik mungkin menjalankan perusahaan agar lebih maju" jawab Ivan
"Ya, itu harus. Tidak ada usaha yang mudah jika ingin hasil yang bagus" kata Maxwel dan Ivan langsung mengangguk setuju.
Tiba tiba pandangan mereka langsung beralih kearah pintu dimana Jonathan yang baru pulang. Wajah nya terlihat kesal dan semakin dingin, entah apa yang terjadi pada Abang nya itu. Ivan memandang nya dengan heran
"Baru pulang bang" sapa Ivan
Jonathan menghela nafas lelah, dan langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa, tepat dihadapan Maxwel dan Ivan
"Apa ada masalah?" tanya Maxwel yang aneh melihat wajah Jonathan yang tertekuk
"Seperti nya aku akan mencari asisten baru nanti" gerutu nya terlihat kesal
"Asisten baru?" tanya Ivan dan Maxwel terkejut
"Ya, sudah tahu diperusahaan begitu banyak pekerjaan. Dia malah jarang masuk dan asik dengan perempuan itu" ungkap Jonathan
Maxwel dan Ivan saling pandang heran. Apa yang Jonathan maksud adalah Dirga???
__ADS_1
Dan perempuan mana yang dia maksud????