
Setelah selesai makan bersama, Ivan dan Bambang memisahkan diri dari mang Ujang dan yang lain nya untuk pergi ke pondok tempat biasa mereka berkumpul dulu.
Mang Ujang dan yang lain nya begitu senang mendapat traktiran dari Ivan, bukan hanya itu mereka juga membungkus makanan untuk dibawa pulang untuk anak dan istri mereka masing masing. Dan Ivan juga memberikan uang saku untuk mereka, bukan untuk mereka, tapi untuk anak anak mereka. Dan tentu saja itu membuat mereka bertambah senang, karena untuk ukuran orang yang sudah berumah tangga apalagi sudah mempunyai anak, kebutuhan sekarang sangat banyak apalagi mereka yang hanya bekerja serabutan seperti mang Ujang dan teman nya, bantuan Ivan sangat membantu mereka.
Kini Ivan dan Bambang berjalan menyelusuri jalan yang hanya dilapisi oleh kerikil kerikil saja untuk sampai ke pondok mereka. Area persawahan yang menghijau dan arus kali buatan yang membentang mengelilingi persawahan membuat Ivan benar benar merasakan ketenangan yang hakiki. Meskipun saat ini sudah tengah hari namun udara disana sama sekali tidak terasa panas membakar, malah terasa sejuk dan tenang.
"Van, jadi gimana Lo sama Karina sekarang, udah jadian belum?" tanya Bambang tiba tiba memecah ketenangan Ivan.
Ivan langsung menoleh sekejap kearah Bambang yang berjalan disamping nya. Kenapa juga dia harus menanyakan orang yang sedang dihindari nya itu, batin Ivan.
"masih kayak dulu bang. temenan aja" jawab Ivan singkat. Bambang langsung menatap aneh Ivan
"kok gitu sih. kan gak ada lagi penghalang nya Van, Aldo sama bapak nya pasti langsung setuju aja Lo Deket sama anak nya" ucap Bambang membuat Ivan menghela nafas nya sejenak
"masalah nya cinta gue yang bertepuk sebelah tangan bang" jawab Ivan membuat Bambang terkesiap kaget
"masak sih, kurang apa Lo coba.udah ganteng , tajir pula, Lo kurang perhatian mungkin" kata Bambang lagi membuat Ivan mendengus
"woi, Van, yaelah, kangen berat gue sama lo" teriak Dian dari jauh yang langsung berlari dan memeluk tubuh Ivan yang terkesiap kaget sementara Bambang berdecak gerah sembari memukul kepala Dian
"jijik bener gue denger nya," dengus Bambang membuat Ivan dan Dian terbahak bersama
"apa kabar Lo Van, wah gila, dua bulan gak ketemu makin seger aja ini muka. udah kayak opa" ucap Dian membuat Ivan menatap nya heran
"opa, kakek kakek dong gue" balas Ivan sembari berjalan beriringan menuju pondok yang sudah terlihat didepan mata
"haiias sue lu, opa opa yang kayak ditivi itu Lo" Jawab Dian dan Ivan langsung terbahak mendengar nya
"oooh oppa Korea itu, bilang dong. gue kira Lo ngatain gue udah tua, dipanggil opa" kekeh Ivan
Mereka kini telah tiba dipondok dan langsung duduk mengambil tempat masing masing
"ah, rindu banget gue tempat ini, sayang nya gak lengkap" kata Ivan merebahkan tubuh nya diatas papan yang dilapisi tikar yang terbuat dari daun pandan hutan
"Lo sih, kenapa juga gak ngajak Faiz" kata Bambang yang duduk disebelah nya
"loh berarti Faiz gak ikut pulkam?" tanya Dian pula
"enggak, dia sibuk sama tugas kuliah nya" alasan Ivan
"sepi kampung ini gak ada lo sama Faiz Van" lirih Dian membuat Ivan menatap nya sendu,
__ADS_1
"ya gimana, tempat gue sekarang disana, tapi gue juga bakalan sempetin buat pulang kemari, gue juga rindu sama kampung ini" jawab Ivan
"iya, yauda lah. mau gimana, takdir Lo memang disana. yang penting Lo gak lupa sama semua yang Lo tinggalin disini" kata Bambang pula
"iya lah bang, mana mungkin gue lupa. gue besar disini" jawab Ivan
"enak tinggal dikota ya Van" tanya Dian memperhatikan Ivan dengan lekat, penampilan nya sungguh jauh berbeda saat ini, membuat Dian berdecak kagum, dulu Ivan terlihat lusuh dan kusut, tapi sekarang dia sudah berubah, penampilan nya yang gagah dan ketampanan nya yang terlihat semakin bersinar
"enak enak gitu lah, kalau dikampung harus tebel telinga, tapi kalau dikota harus tebel dompet" gurau Ivan membuat Dian dan Bambang langsung tertawa
"bener banget itu Van" jawab Bambang
Mereka pun bercerita sembari bersenda gurau menghabiskan siang hari itu dengan candaan yang telah lama tidak mereka rasakan. Meski Ivan terkadang harus menekan perasaan nya saat Bambang dan Dian menanyakan tentang hubungan nya dengan Karina, dan Ivan hanya menjawab jika dia dan Karina hanya akan berteman saja sampai kapan pun. Dan tentu saja Bambang dan Dian tidak terima dengan itu, karena mereka tahu bagaimana suka nya Ivan pada anak pak RT itu.
Ivan hanya menghela nafas pasrah dan mengalihkan pembicaraan nya kelain hal
"bang, lu sampai kapan mau merah susu terus?" tanya Ivan pada Bambang yang langsung terdiam
"gak tahu gue, cuma kerjaan itu yang ada Van, Lo tahu sendiri kan disini payah mau cari kerja. Kebun juga cuma sepetak" jawab Bambang
"iya, bang Bambang mah enak, ada kerjaan , liat gue jadi pengangguran sukses" timpal Dian pula
Ivan tampak terdiam sejenak menatap teman nya satu persatu
"usaha apa Van?" tanya Bambang
"buka toko aja. kayak jual bahan bahan pangan dan sembako gitu, gue liat dikampung kita belum ada toko besar yang khusus grosiran, disini cuma ada warung warung kecil kan, dan kalau kalian buka itu gue rasa bisa maju, karena dari warung warung kecil itu bisa ngambil barang sama kalian nanti nya" ungkap Ivan dengan semangat yang menggebu, namun Bambang dan Dian malah terlihat lesu membuat Ivan langsung menatap heran mereka
"kenapa?" tanya Ivan
"loh mah ngomong enak, modal nya besar itu Van, dapet dari mana kita duit sebanyak itu" kata Bambang
"apa kami harus jual ginjal dulu" timpal Dian pula membuat Ivan langsung tertawa
"CK, biar modal nya dari gue. kalian tinggal ngurus nya aja, gimana?" tanya Ivan lagi membuat Bambang dan Dian terkesiap kaget
"Lo serius Van?" tanya Bambang langsung dan Ivan mengangguk yakin
"Lo gak takut kita tipu?" tanya Dian pula
"ya ampun, gue itu kenal kalian bukan sehari dua hari. tapi udah dari kecil, jadi gimana mau kan, siapa tahu Rezky kalian disitu, masalah sukses atau gak nya, kita coba dulu, yang penting usaha" kata Ivan lagi
__ADS_1
"tapi gimana dengan bokap elu Van, kita takut tuan Maxwel gak setuju" lirih Bambang dan Dian juga mengangguk setuju.
Ivan tersenyum menatap ketakutan diwajah dua sahabat nya itu
"masalah bokap gue mah gampang, dia pasti setuju. lagian ini juga untuk usaha, ibarat nya gue juga investasi disini, kalau lancar kan kita sama sama dapat untung" jawab Ivan
"lu baik banget sih Van sama kita" lirih Dian dengan mata yang berkaca kaca
"yaelah, kita kan temen, lu kayak sama siapa aja" kata Ivan terkekeh
"tapi modal nya pasti besar Van, untuk warung sampah kecil aja bibi gue Sampek minjam duit di bank 10 juta, apalagi untuk grosiran yang kayak Lo mau " ungkap Bambang ragu
"udah jangan difikirin, gue ada kok. kalo gak cukup nanti bisa minjem sama bokap gue dulu, sekarang kita fikirin dimana tempat yang cocok buat buka tu toko" kata Ivan dengan wajah serius nya, kini dia sudah duduk tegak bersama Bambang dan Dian yang masih seperti orang bodoh dibuat Ivan
"beneran ada uang nya Van?" tanya Dian lagi membuat Ivan tertawa melihat wajah bingung teman teman nya, Ivan rasa kalau untuk dibawah 1 Milyar dikartu yang diberikan Maxwel sudah lebih dari itu, karena dia sering melihat Jonathan yang selalu membeli barang barang mewah ratusan juta tiap bulan nya. Dan Ivan tahu, kartu nya dan kartu milik Jonathan isi nya selalu sama.
"kalian gak percaya sama gue?" tanya Ivan menatap Bambang dan Dian bergantian
"bukan gak percaya Van, tapi itu besar bener modal nya, kita takut ngecewain Lo nanti nya. Lo tahu kan kita ini gak sekolah, apa bisa kita ngatur semua nya, sedangkan elo jauh Disana" jawab Bambang membuat Ivan mengangguk mengerti akan kebimbangan teman teman nya
"gue bakalan pantau terus dari sana, kalian gak usah khawatir. lagian gue yakin kalian pasti bisa menghandle semua nya. kalian harus bisa merubah nasib kalian, gue gak bisa bantu dengan yang lain, cuma ini lah cara gue bantu kalian" ungkap Ivan yakin membuat Bambang dan Dian begitu terharu dengan tawaran Ivan
Akhir nya setelah lama berunding, Bambang dan Dian pun menerima tawaran Ivan.
"jadi dipersimpangan jalan ada ruko yang disewain?" tanya Ivan pada Dian yang berkata bahwa ada sebuah ruko yang memang sedang disewakan dipinggir jalan lintas, tepat dijalan mau masuk kampung mereka
"iya Van, itu ruko milik koh Ahok yang jualan alat alat tulis sama fotokopi dulu, dia kan orang terkaya dikampung ini, dia juga mau jual pupuk sama bibitan juga, tapi karena istri nya sakit sakitan jadi dibawa kekota, dan sekarang ruko nya jadi gak berpenghuni karena dia gak ada, " kata Dian lagi
"ah, iya , inget gue. pas banget kan itu, ruko nya juga besar,dua pintu dan dua tingkat juga kan, dipinggir jalan lagi, tempat nya strategis pula" jawab Ivan
"iya, kalau untuk grosis gue rasa memang cocok itu. Dilantai atas bisa untuk tempat kita nginep, dilantai bawah juga besar dan panjang kebelakang" timpal Bambang
"iya, kalau memang kita jadi bikin toko grosiran begitu, apalagi yang lengkap dan besar gue yakin pemilik warung warung dikampung sebelah juga pasti lari nya kekita" ungkap Dian pula
"wah tumben otak Lo pinter" kata Ivan membuat Bambang tertawa
"haha, gue terlalu semangat Van" jawab Dian malu
"bagus deh kalau kalian semangat. kalau gitu gimana kalau kita cari informasi tentang ruko itu, takut diambil orang kalau kelamaan" ajak Ivan
"oke, ayok. kita kerumah pak Tarno aja, dia yang ngurus masalah ruko itu soal nya" kata Bambang
__ADS_1
"oh oke, yuk gas" jawab Ivan tak kalah semangat. Lumayan ada kegiatan disini, setidak nya dia bisa melupakan masalah hati nya saat ini dengan kegiatan yang bermanfaat.