Story Of The Twins

Story Of The Twins
Saling Merindu


__ADS_3

Kalimantan Utara......


Ivan beberapa kali mengecek ponsel nya. Dan entah sudah yang keberapa kali pula dia menggerutu kesal karena sinyal yang begitu susah.


Berada di daerah pedalaman seperti ini benar benar membuat nya tertekan. Seminggu sudah dia ada disini, dan setiap hari yang menjadi masalah adalah sinyal internet yang sangat sulit ditemukan. Bahkan jika ingin menghubungi seseorang dia harus naik ke atas bukit dulu.


Proyek pembangunan jembatan dan juga jalan tol ini benar benar membuat tenaga dan fikiran nya terkuras habis. Masalah sampai hari ini juga belum selesai semua. Masih banyak dana anggaran yang entah hilang kemana, banyak sekali tikus yang harus dia bereskan. Belum lagi proses pengiriman barang yang terhambat jalan dan Medan yang sulit dikarenakan musim penghujan ini.


Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi dia bisa kembali ke ibukota.


"Apa perlu gue beli tower nya sekalian disini. Sudah banget cari sinyal" gerutu nya sambil mengangkat ponsel nya tinggi tinggi


Saat ini Ivan berada diatas bukit, bahkan dia duduk diatas pohon demi untuk mendapatkan sinyal


"Hei tuan muda, kalau enggak ada tuh jangan dipaksa. Capek lihatnya dari tadi ngomel terus. Udah kayak emak emak komplek aja" sahut Faiz yang baru datang dengan plastik belanjaan ditangan nya. Dia duduk dibawah pohon dimana tempat Ivan duduk


"Berisik deh Iz. Lo tahu sinyal itu udah kayak nyawa kedua gue. Berasa mau mati gak ada sinyal. Mana lama banget selesai nya disini" gerutu Ivan tiada henti


"Bentar lagi juga ada. Tunggu aja lah. Hujan baru berhenti, mungkin sinyal nya masih nyangkut" jawab Faiz yang kini membuka Snack dan makanan ringan lain yang dia bawa


Ivan mendengus, dan segera turun kebawah menyusul Faiz. Dia sedikit melompat, dan bahkan hampir saja terjatuh


"Kalau jatuh tadi mantep tuh" sahut Faiz


"Kurang ajar" ucap Ivan kesal. Dia menepuk nepuk tangan nya sekilas dan duduk didepan Faiz disebuah akar pohon, mengambil minuman kaleng dan menenggak nya penuh nafsu


"Gimana masalah barang, udah terkendali belum?" tanya Ivan


Faiz langsung mengangguk dan mengusap sekilas mulut nya yang penuh


"Udah kok. Lancar tinggal nunggu aja. Besok nyampek" jawab nya


"Gila memang. Banyak banget tikus nya disini. Bisa rugi besar perusahaan kalau gak segera ditangani. Mana udah berbulan bulan tapi masih aja jalan ditempat" gerutu Ivan sambil membuka makanan ringan yang dibawa Faiz


"Makanya pemegang saham yang lain minta kita yang kemari. Lihat aja sekarang, mereka semua keteteran dan kayak semut yang ketakutan" sahut Faiz


"Bener. Udah bosen gue disini. Mana jarang bisa ngubungi Amel. Pernikahan udah Deket, ujian banget memang" gumam Ivan


"Sabar tuan bos. Bentar lagi kok. Kita harus lembur supaya dua hari lagi kita udah bisa pulang" ujar Faiz


"Beneran bisa dua hari lagi?" tanya Ivan dan Faiz langsung mengangguk


"Iya, mereka harus diperas. Anggap aja balasan karena udah berleha leha selama ini" kata Faiz lagi


"Pinter banget Lo" kekeh Ivan


"Ahh.... jadi orang kaya gak semudah kelihatan nya" gumam Ivan yang menyandar dibatang pohon


"Jadi orang susah direndahin, jadi orang kaya mumet tiap hari. Memang gak ada puas nya sih jadi manusia" sahut Faiz. Ivan langsung tertawa mendengar nya


"Bener. Sesudah dari sini, sempet gak ya pulang kekampung" gumam Ivan menatap langit senja itu yang baru mulai terang setelah dari pagi diguyur hujan


"Mau ngapain pulang kampung? Ngundang?" tanya Faiz

__ADS_1


"Hmm, sekalian reunian. Gak enak kalau gak ngundang langsung. Rindu juga udah lama gak kesana" jawab Ivan


"Bisa lah, maka nya kejar target kita" ucap Faiz


"Iya. Sudah gue nikah. Lo harus cari cewe juga Iz" kata Ivan. Faiz langsung tertawa kecil mendengar nya


"Nantilah, masih pengen nyenengin ibu dulu" jawab Faiz


"Ya kan sekalian. Ibu pasti seneng kalau Lo nikah. Biar ada temen nya dia dirumah. Kasihan kan sendirian terus" sahut Ivan


"Belom ada hilal nya juga" kata Faiz


Ivan menoleh pada Faiz dan tersenyum usil


"Diana boleh juga" kata Ivan


Faiz langsung menatap nya dengan aneh


"Diana?" tanya Faiz lagi dan Ivan langsung mengangguk


"Cocok kok kalian" sahut Ivan


Faiz langsung mendengus dan menggeleng


"Gak tahu cara deketin nya" jawab Faiz begitu polos


Ivan tertawa dan duduk dengan tegak kembali


"Nanti gue ajarin" kata Ivan


Ivan tertawa melihat Faiz. Dia tahu Faiz tidak pernah dekat dengan perempuan sejak dulu. Tidak pernah sama sekali. Padahal banyak karyawan wanita diperusahaan yang menyukai nya, tapi Faiz acuh dan terkesan cuek


"Dicoba aja dulu. Dia pasti suka lah. Siapa coba yang bakal nolak tangan kanan bos. Ganteng lagi" goda Ivan dengan memainkan alis nya


"Lihat besok aja deh" jawab Faiz dengan malas


"Yee, jangan gitu dong. Lo diperusahaan kita gak ada yang nyangkut dihati, Diana cukup cantik, baik hati pula. Harus usaha. Masak iya lu mau sendiri terus. Entar dikira orang Lo suka batangan lagi, Deket nya sama gue terus" ungkap Ivan


Faiz langsung mendengus kesal mendengar nya. Emang mulut tidak pernah difilter ya seperti Ivan ini. Sesuka hatinya saja kalau bicara


"Enak banget kalau ngomong. Gue masih normal ya" kata Faiz kesal. Ivan langsung terbahak mendengar nya


"Makanya, Lo harus buktiin sama gue. Pokok nya sepulang dari sini Lo harus deketin Diana. Dirumah sakit gue lihat kalian udah cukup akrab, jadi udah aman lah" ujar Ivan


"Tapi bantuin" kata Faiz terlihat malu malu. Ivan jadi gemas melihat nya


"Aman, serahin sama gue. Amel pasti setuju" jawab Ivan penuh kemenangan. Dia juga ingin melihat sahabatnya ini bahagia seperti dirinya.


...


Sementara di ibukota....


Dua gadis yang sedang diceritakan Ivan dan Faiz ternyata juga sedang bersama saat ini. Amelia menjenguk Diana dirumah kost nya yang ternyata tidak jauh dari butik nya berada.

__ADS_1


Sejak sering menemani Diana dirumah sakit menggantikan Karina. Amelia jadi dekat dengan Diana. Dan mereka juga terlihat cocok satu sama lain. Apalagi karakter Diana yang sangat menyenangkan membuat Amelia betah. Dia jadi tidak merasa kesepian saat ini, Karina yang biasa menjadi teman curhat nya masih asik honeymoon. Dan untung saja ada Diana.


"Nona, maaf ya. Kamar saya berantakan, belum sempat bersihin" ucap Diana yang datang dari dapur membawa dua gelas jus jeruk


"Gak papa Di, biasa aja. Kamar aku juga lebih parah dari ini" sahut Amelia dengan tawa kecilnya. Dia menyambut uluran gelas dari Diana


"Jangan repot repot lah. Perut kamu masih sakit" kata Amelia sedikit ngerih menatap perut Diana


"Udah kering kok. Udah gak denyut lagi" Jawab Diana sembari duduk di kasur nya bersama Amelia


"Nona dari butik?" tanya Diana, dan Amelia yang baru meminum jus nya langsung mengangguk


"He'em, ngeliat persiapan baju pengantin sama baju keluarga nanti" jawab Amelia


"Pasti capek ya nona" kata Diana menatap Amelia dengan salut. Dia yang mau menikah tapi dia yang menyiapkan semua nya


"Lumayan lah. Tapi ada kepuasan tersendiri. Soal nya kan semua jadi kayak keinginan aku, kalau ada yang kurang tinggal diperbaiki" jawab Amelia


"Iya, nona memang hebat. Bahkan butik nona udah terkenal sampai seluruh Asia" jawab Diana begitu kagum


"Tahu dari mana kamu?" tanya Amelia dengan tawa kecil nya


"Saya kan penggemar fashion juga. Tuh lihat majalah nya" tunjuk Diana pada sekumpulan majalah fashion dunia yang dikumpulkan dalam satu tempat


Amelia langsung tertawa dan mengangguk lucu


"Keren deh kamu. Pantes aja gaya kamu stylish terus. Ngaku nya dari kampung, tapi udah kayak artis aja" goda Amelia membuat Diana langsung tersenyum malu


"Sebenar nya sih enggak dari kampung banget nona. Cuma ya gitu, hidup dikota kan harus ngikuti jaman, kalau enggak ya bakal dibully habis habisan" jawab Diana


"Bener banget. Oh iya, nanti kalau kamu udah gak sakit lagi. Kamu Dateng kebutik aku ya. Aku pengen kamu juga jadi Bridesmaids aku kayak Karina kemarin" pinta Amelia


"Wah beneran nona?" tanya Diana begitu antusias


"Iya dong, aku gak punya temen soal nya. Hehe" jawab Amelia malu


"Bohong banget deh nona, masak orang seterkenal nona gak punya temen" kata Diana tak percaya


"Temen sosialita ya banyak. Tapi temen Deket gak ada. Cuma Karina doang. Untung ada kamu sekarang, jadi aku gak kesepian" jawab Amelia


"Wah saya merasa terharu" kata Diana dengan tawa kecil nya


"Ya. kamu harus bangga untuk itu" sahut Amelia


Mereka menghabiskan waktu sore itu sampai malam. Bercerita tentang kehidupan masing masing dan juga saling berbagi pengalaman kerja. Diana yang asik membuat Amelia betah, begitu pula Diana, Amelia yang tidak sombong dan sama seperti Karina membuat nya senang berteman dengan Amelia. Dan dia memang beruntung bisa masuk kedalam circle pertemanan para istri istri sultan ini.


"Udah seminggu dia pergi. Dan dua hari ini belum ada ngasih kabar sama sekali" gumam Amelia saat Diana bertanya tentang Ivan


"Mungkin sinyal payah nona" kata Diana


"Iya, memang payah. Dia kalau ngubungi aku juga mesti cari tempat yang pas. Apalagi disana musim hujan, dipelosok pula" kata Amelia dengan lemah


"Enggak lama lagi pasti pulang" ucap Diana dan Amelia hanya mengangguk lesu

__ADS_1


"Aku udah kangen banget. Banyak banget yang belum kami kerjain" jawab Amelia mengenang Ivan yang kini berada jauh dimata nya.


__ADS_2