
Aldo berhasil menarik Ivan dan Amel sekuat tenaga nya hingga menepi. Jonathan dan Bambang yang sudah berada ditepi sungai langsung menarik tubuh Ivan yang sudah tidak bertenaga lagi namun masih mampu bertahan dengan kesadaran nya.
Para warga langsung membantu Aldo dan Amelia untuk naik keatas daratan.
Karina langsung berlari mendapati Amelia yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan wajah dan tubuh yang begitu pucat, bahkan suhu tubuh nya sudah begitu dingin seakan ikut membeku.
Ivan terbatuk batuk saat sudah berada diatas, dia terduduk lemas dibantu oleh Jonathan.
"kau memang gila Van" gumam Jonathan yang kini berdiri didepan Ivan, namun Ivan hanya diam dan langsung melirik kearah Amel yang dikelilingi oleh beberapa orang.
Dia berusaha berdiri dan Jonathan dengan sigap membantu nya. Dia mendekati Amel yang begitu pucat
"mel, bangun Mel" panggil Ivan menepuk nepuk pipi gadis itu. Namun Amel tetap tidak bergeming
"Mel" panggil nya lagi begitu panik. Ivan langsung memeriksa denyut nadi gadis itu yang memang masih berdetak meski terasa lemah,
"kak Amel" lirih Karina terisak sedih
Ivan langsung memompa dada Amel berulang kali sedangkan Karina mengusap usap tangan nya agar hangat kembali
"Amel ku mohon bangun " pinta Ivan frustasi, rasa nya tubuh nya benar benar lemas saat ini, bukan karena tenaga nya yang habis, tapi karena keadaan Amel yang terlihat buruk
"terus Van, pompa terus" kata Dian tak kalah panik
"kasih nafas buatan Van" seru Bambang pula
Ivan terus memompa dada nya dengan pelan namun pasti. Berharap gadis itu sadar, namun sudah beberapa kali Amel tidak juga menunjukan tanda tanda akan sadar membuat nya semakin panik.
Dan tanpa berfikir panjang dia langsung menyergap bibir gadis itu dan memberikan nafas buatan pada gadis itu, bukan hanya sekali namun berkali kali. Semua orang yang ada disana menatap mereka dengan perasaan cemas
Dan beberapa menit kemudian Amel langsung terbatuk batuk pelan dan mulai membuka mata nya.
Ivan berbinar senang dan langsung memeluk tubuh Amel dengan erat membuat Karina dan Dian menjauh perlahan.
Karina menghapus air mata nya dan bernafas dengan lega, begitu pula semua orang yang ada disana, akhir nya kekhawatiran mereka mereda setelah sebelum nya mereka berada disituasi yang benar benar memacu adrenalin.
"akhir nya kamu sadar Mel" kata Ivan masih memeluk tubuh mungil Amel yang masih terdiam, namun beberapa saat kemudian dia tersadar dan menangis dalam pelukan Ivan
"Amel takut kak, Amel takut" ucap nya terisak dalam pelukan Ivan
"sekarang kamu udah aman, kamu udah selamat, jangan takut. maafin aku yang mengabaikan mu tadi, maaf" kata Ivan begitu menyesal
Amel menangis sesenggukan didalam pelukan Ivan yang masih memeluk tubuh nya dengan erat
"sebaik nya bawa pulang Van, dia kedinginan itu, atau perlu diperiksa siapa tahu badan nya ada yang luka" kata seorang warga, membuat Ivan langsung terkesiap dan langsung melepaskan pelukan nya.
Dia memperhatikan wajah Amel yang masih menangis, tidak begitu tampak karena hari sudah begitu gelap dan mereka hanya disinari oleh cahaya lampu senter dan ponsel beberapa orang.
"ayo Van, kita pulang" ajak Bambang pula
Ivan langsung mengangguk dan berdiri. Dia langsung mengangkat tubuh Amel dalam gendongan nya membuat Jonathan terkesiap kaget
"Hei, kau tidak bertenaga, biar yang lain yang membawa nya Van" kata Jonathan , dan yang lain juga ikut mengangguk menyetujui perkataan kembaran Ivan itu
"iya Van, biar kami aja yang bawa Amel" kata Dian pula
"enggak, gue masih kuat" jawab Ivan yang terus berjalan mendahului mereka yang hanya geleng geleng kepala
Dian langsung menyinari jalan didepan Ivan sedangkan Bambang beralih pada beberapa warga yang ikut membantu untuk mengucapkan rasa terimakasih nya mewakili Ivan dan Amelia.
Sedangkan Jonathan sudah menarik lengan Karina dan berjalan dibelakang Dian dan Ivan.
__ADS_1
Meski begitu lelah dan masih terasa lemas, namun Ivan begitu merasa bersalah melihat keadaan Amel yang begitu memprihatinkan, apalagi sampai saat ini dia masih menangis dalam gendongan nya.
"tenang lah, jangan menangis. kamu sudah aman sekarang" kata Ivan sembari berjalan cepat dan sesekali melirik Amel yang diam dan hanya menangis tanpa menjawab perkataan nya.
Hati Ivan begitu teriris melihat gadis itu yang pasti nya begitu trauma dengan kejadian itu. Secepat mungkin dia berjalan menyelusuri area persawahan dengan tertatih tatih karena harus menyeimbangkan langkah nya ditengah jalanan yang licin dan tubuh nya yang sudah kehabisan tenaga. Beruntung nya tubuh Amel kecil sehingga dia tidak begitu kesulitan membawa nya dalam jarak yang lumayan jauh.
"gantian aja Van, Lo udah lemes gitu. nanti kalian bisa jatuh" kata Dian khawatir
"gue masih kuat" jawab Ivan yang sebenar nya hanya berusaha kuat. Entah kenapa dia merasa tidak rela jika Amel disentuh oleh orang lain, dan sebenar nya itu terdengar begitu egois
Beberapa menit kemudian mereka tiba dipinggir jalan, dan disana sudah ada beberapa motor yang menunggu mereka karena permintaan Bambang yang memang sudah menghubungi teman teman nya lebih dulu.
"naik Van, mereka temen gue" seru Bambang dari belakang
"kita naik motor ya, kamu kuat kan" kata Ivan pada Amel yang hanya diam dan mengangguk, namun masih terdengar jelas Isak tangis nya
Ivan membantu Amel untuk naik motor dan dia duduk dibelakang nya karena Amel masih benar benar lemas, jika dibiarkan dia bisa terjatuh.
Akhir nya mereka semua berpisah disana, Ivan memutuskan untuk membawa Amel kerumah nya karena dia ingin memastikan sendiri keadaan gadis itu, karena jika Amel dibawa kerumah Karina, dia tidak bisa berbuat banyak disana, lagi pula dia malas berurusan dengan pak RT yang bermuka dua itu.
Karina juga ikut kerumah Ivan untuk menemani Amelia, dia juga begitu khawatir akan keadaan Amelia.
Setiba nya dirumah pak Tarman, mereka begitu terkejut melihat Ivan menggendong tubuh Amelia yang terkulai lemas tidak berdaya, entah tertidur atau pingsan, tapi sejak naik motor mata gadis itu sudah terpejam dan tubuh nya kembali lemas.
"Bu tolong temen ku" kata Ivan langsung
"yowes , ayo bawa aja kekamar kamu" kata Sari langsung bergegas membukakan pintu kamar Ivan
Ivan membaringkan Amelia diatas tempat tidur nya, wajah gadis itu masih begitu pucat, bahkan tubuh nya juga begitu dingin membuat Ivan begitu khawatir akan keadaan nya.
"koe keluar dulu, biar ibu gantiin baju nya" kata Sari pada Ivan yang mengangguk pasrah
Ivan keluar dari kamar itu dan langsung terduduk dikursi depan kamar nya
Ivan hanya mengangguk dan mulai beranjak bangun, namun sebelum dia masuk kamar dia menoleh pada Bambang
"bang, bisa telpon kan pak mantri, biar Amel bisa diperiksa" kata Ivan
"iya, udah gue telpon kok" jawab Bambang
"atau langsung kita bawa saja kerumah sakit" kata Jonathan pula
"rumah sakit jauh dari sini Jo, yang ada cuma klinik kecil, kalau mau dibawa kerumah sakit besok pagi aja. sekarang kita pastikan aja keadaan nya gak kenapa kenapa" terang Bambang, membuat Jonathan menganggukan kepala nya
"ini salah gue" lirih Ivan tertunduk
"udah lah, memang udah naas, kita juga gak tahu kalau dia bakal kesungai" jawab Bambang
"pergilah, ganti bajumu. kamu juga perlu istirahat" kata Jonathan pada Ivan
Ivan langsung mengangguk patuh
"jangan kasih tahu papa dulu tentang kejadian ini ya bang" pinta Ivan pada Jonathan
"iya" jawab Jonathan singkat. Sebenar nya dia begitu kesal melihat Ivan yang mempertaruh kan nyawa nya seperti tadi, namun dia juga tidak bisa memungkiri jika Amel adalah tanggung jawab mereka semua.
Ivan langsung masuk kedalam kamar nya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian nya.
Hingga beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar nya dan bergantian dengan Jonathan yang juga basah kuyup karena berusaha menolong nya tadi.
Ivan keluar kamar bertepatan dengan pak mantri yang juga baru tiba.
__ADS_1
Mereka langsung masuk kedalam kamar dimana Amel berada. Gadis itu masih terbaring dengan mata yang terpejam rapat.
Pak mantri langsung memeriksa nya, suhu tubuh gadis itu meningkat.
"seperti nya dia hanya trauma dengan kejadian tadi, sehingga membuat nya lemah, dan kini dia demam. saat dia sadar tolong berikan obat ini ya Bu, dan juga ini salep untuk dioleskan diluka luka nya" ucap mantri tersebut pada Sari
"enggeh pak" jawab Sari sembari menerima obat nya
Ivan duduk disebelah kanan Amel, masih memperhatikan gadis itu dengan lekat. Sementara Karina dan Sari berdiri disisi yang lain.
Setelah memeriksa keadaan nya dan memberikan suntikan, pak mantri pamit pulang diantar oleh pak Tarman kedepan rumah. Bambang dan Dian juga sudah pamit untuk pulang kerumah mereka masing masing.
..
"dia kenapa bisa jatuh kesungai Yan?" tanya Bambang saat mereka berjalan pulang kerumah mereka masing masing
"waktu aku sampai ditepi sungai aku masih liat dia duduk diatas batu besar bang, entah kenapa tiba tiba dia teriak ketakutan, kayak ngeliat sesuatu. Aku langsung lari kebawah, tapi aku terlambat, dia udah keburu terpeleset dan nyebur kesungai" ungkap Dian
"kenapa dia malah kesungai ya, padahal aku fikir dia lebih tertarik keperkebunan tomat itu karena lebih dekat kesana" kata Bambang lagi
"entah lah, aku juga gak tahu, tapi mungkin dia kebelet kali" jawab Dian membuat Bambang mengangguk angguk setuju
"dia cantik ya bang, Karin aja kalah" gumam Dian membuat Bambang menepuk kepala nya kesal
"dia punya Ivan" jawab Bambang, namun Dian malah mendengus.
"punya Ivan apa nya, Ivan nya aja gak perduli gitu" kata Dian lagi
"dia bukan gak perduli, cuma gak peka aja. Lo gak liat gimana usaha dia tadi buat nyelametin gadis itu" ungkap Bambang
"tanggung jawab mungkin" ketus Dian namun Bambang malah menggeleng
"gak sesederhana itu yan, dia gak akan mati Matian bawa gadis itu pulang dengan keadaan badan yang gak berdaya kayak gitu kalau cuma untuk sekedar tanggung jawab" ungkap Bambang lagi dan Dian langsung tertegun mendengar nya
"iya juga sih" jawab nya
"dia cuma gak peka" kata Bambang
"apa karena belum bisa move on dari Karin ya" tanya Dian, namun Bambang kembali menggeleng
"kayak nya enggak. gue perhatiin dia sama Karin udah biasa aja, gak kayak dulu pandangan nya beda, kalo sekarang udah sama kayak temen aja mereka. tapi dia ke Amel yang beda, cuma dia aja yang belum ngerasa" jelas Bambang
"iya sih, gue takut dia nyesel. padahal kita yang baru ketemu beberapa jam aja tau kalo tu cewe demen sama Ivan" kata Dian lagi
"iya, ya udahlah, kita liat aja gimana mereka nanti. dulu gue kira dia bakal jadi sama Karin, eh nyata nya Karina malah sama kembaran nya" kata Bambang tertawa membuat Dian juga ikut terbahak
"haha, bener, padahal Sampek rela bonyok dia dibuat si Aldo" jawab Dian.
Namun tiba tiba mereka terdiam, berhenti melangkah, dan saling pandang terkejut
"Aldo" ucap mereka berdua, seakan baru menyadari sesuatu
"lah iya, yang tadi nolongin Ivan, bang Aldo kan" kata Dian
"iya ya, kok bisa, gue juga baru sadar" gumam Bambang pula
"iya ya bang, kok bisa ya. ada angin apa coba" kata Dian masih tak percaya, karena setahu nya selama ini hubungan Ivan dan Aldo tak pernah baik, bahkan sampai sekarang saat Karina sudah resmi menjadi kekasih Jonathan
"kenapa kita pada gak sadar ya, harus nya kan ngucapin terimakasih tadi" kata Bambang
"Ivan pasti juga gak nyadar itu" sahut Dian
__ADS_1
"haha iya, musuh bebuyutan, malah dia yang nolong" kekeh Bambang begitu pula dengan Dian