Story Of The Twins

Story Of The Twins
Perpisahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberangkatan Ivan dan Jonathan ke Amerika, serta Dirga dan juga Faiz yang mengikuti jejak mereka karena perintah dari Maxwel.


Ivan berdiri dengan pandangan nanar yang mengitari segala penjuru bandara. Nafas nya terlihat berat, bahkan terasa sesak. Rasa nya dia begitu enggan untuk pergi, hati nya benar benar tertinggal disini.


Ivan menoleh pada Jonathan yang sedang berbicara dengan Karina, hati nya semakin bertambah sakit saat ini.


Dia sungguh berharap jika Amelia juga ada disini, melepaskan kepergian nya, setidak nya mereka harus berpisah dengan sebuah kalimat perpisahan, bukan dengan cara seperti ini.


Tapi apa yang diharapkan Ivan, dia seperti terbelenggu oleh angan angan nya sendiri.


Hingga lamunan nya buyar saat sebuah tangan Kokoh mendarat dipundak nya.


"kamu mencari gadis itu?" tanya Maxwel membuat Ivan sedikit terhenyak, dia langsung tersenyum tipis dan menggeleng lemah


"buat papa bangga dengan prestasi mu disana, jika kamu memang ingin bersama gadis itu" ucap Maxwel membuat Ivan tertegun, begitu pula dengan Jonathan dan Delisha yang sudah berada diantara mereka


"pa" lirih Ivan menatap bingung Maxwel yang masih berwajar datar


"setelah kamu sukses, kamu boleh menemui nya" kata Maxwel lagi, membuat Ivan semakin tidak mengerti, atau mungkin dia seperti salah mendengar


"pa, papa serius" tanya Ivan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan


Maxwel langsung mengangguk dan tersenyum membuat Ivan langsung melangkah dan memeluk papa nya itu dengan penuh haru, bahkan mata nya sampai berkaca kaca saat ini


"terimakasih pa, terimakasih. Ivan janji, Ivan tidak akan mengecewakan papa" kata Ivan begitu yakin.


Maxwel mengusap punggung Ivan, dia tahu, dia tidak bisa memaksakan kehendak, dan memang seharusnya dia meredam ego nya untuk kebahagiaan anak nya sendiri


"sama seperti Jonathan, sebelum kalian sukses, kalian tidak boleh pulang ke Indonesia, hanya papa dan mama yang akan menemui kalian disana" ungkap Maxwel lagi dan Ivan langsung mengangguk


"iya pa" jawab Ivan sembari melepaskan pelukan nya


"maafkan papa, papa tahu kamu kecewa, bukan papa pilih kasih antara kamu dan Abang mu, kalian anak papa, kalian sama berarti nya buat papa. Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian" ungkap Maxwel lagi


"Ivan gak pernah beranggapan seperti itu, Ivan tahu, papa hanya ingin yang terbaik buat Ivan. Dan Ivan akan buktikan jika Ivan tidak akan mengecewakan papa dengan pilihan Ivan" jawab Ivan yakin, Maxwel langsung mengangguk dan tersenyum sembari menepuk pelan pundak kekar Ivan


"jaga diri kalian disana, semua sudah disediakan oleh Roy, dia yang akan membantu kalian disana" ungkap Maxwel


"iya pa" jawab Ivan dan Jonathan serempak


"Dirga dan Faiz, saya harap kalian juga tidak mengecewakan kami. Saya mempercayakan kalian untuk terus mendampingi anak anak saya hingga mereka memegang kekuasaan saya nanti nya" kali ini tatapan Maxwel jatuh pada Dirga dan Faiz


Mereka berdua langsung mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuh mereka


"baik tuan, kami tidak akan mengecewakan tuan" jawab mereka bersama


"disana kalian bukan untuk bersenang senang, melainkan untuk belajar menjadi seorang pemimpin yang sesungguh nya. tidak ada waktu untuk bermain main apalagi melakukan hal yang tidak bermanfaat, kalian mengerti" kata Maxwel lagi


Dan keempat pemuda itu langsung menganggukan kepala mereka


Dirga kembali pamit pada orang tua nya, dan Faiz tetap bersama Ivan karena memang ibu nya tidak ikut mengantar nya. Sedangkan Jonathan kembali pada Karina

__ADS_1


Ivan kembali mengedarkan pandangan nya, hati nya sedikit lega mendengar perkataan papa nya, dan itu membuat semangat nya kembali, namun sekali lagi, dia tetap ingin bertemu dengan gadis nya, meski hanya sebentar. Tapi bagaimana mungkin, Amelia tidak tahu tentang hal ini, dan dia pun tidak tahu jika mereka akan berangkat hari ini.


Ivan menghela nafas lelah, dia menatap tiket dan paspor ditangan nya dengan perasaan getir.


"waktu mu hanya sepuluh menit untuk berbicara pada nya" kata Maxwel membuat Ivan menatap nya dengan bingung, dia melihat Delisha yang tersenyum dan mengangguk sembari mengarahkan pandangan nya kearah pintu masuk.


Ivan berbalik arah dan betapa terkejut nya dia melihat Amelia ada disana, berdiri bersama Roy yang ternyata memang menjemput nya hari ini


"Amel" gumam Ivan tak habis fikir, dia kembali menoleh pada Maxwel yang mengangguk dan tersenyum


Senyum Ivan langsung merekah, senyum yang sudah lama sekali tidak di lihat oleh mereka. Bahkan semua orang yang ada disana menatap haru Ivan yang langsung berlari dan memeluk Amelia tanpa memperdulikan orang lain


Maxwel langsung menggelengkan kepala nya sedangkan Delisha tertawa kecil sembari mengusap pundak Maxwel dengan lembut


"kamu memang papa yang hebat" puji nya membuat Maxwel langsung tersenyum dan mengangguk


Faiz langsung tersenyum melihat itu, rasa nya dia lega sekali melihat Ivan dan Amel yang bisa bertemu dan dijanjikan restu oleh Maxwel. Rasa sedih nya karena ibu nya tidak bisa mengantar seolah tergantikan oleh kebahagiaan Ivan saat ini.


"nak, kemari" panggil Delisha pada Faiz, membuat pemuda itu terhenyak dan langsung berjalan mendekati dimana Delisha dan Maxwel berada


Delisha dan Maxwel memberikan wejangan dan nasihat untuk Faiz. Mereka tahu Faiz adalah seseorang yang paling dekat dengan Ivan sejak kecil, dan mereka percaya, jika Faiz bisa mengimbangi Ivan nanti nya.


Delisha dan Maxwel membiarkan anak anak mereka berpamitan pada gadis mereka masing masing, tiga tahun bukan waktu yang sebentar, dan Maxwel sengaja untuk tidak membiarkan mereka bertemu selama itu, karena dia ingin tahu, bagaimana sifat yang sebenar nya kedua gadis itu nanti nya saat berjauhan dari anak anak mereka. Dia tidak ingin salah memilih orang untuk dijadikan menantu didalam keluarga Aguenno.


"Amel kamu disini" ungkap Ivan sembari mengusap wajah Amel yang sudah basah oleh air mata. Setelah saling berpelukan melepaskan rasa rindu mereka masing masing


Amel langsung mengangguk cepat dengan Isak tangis nya


"kamu mencintaiku kan?" tanya Ivan begitu serius, dan Amel langsung menganggukan kepala nya begitu cepat


"jika begitu kamu bisa menungguku pulang?" tanya Ivan lagi, dan Amel kembali mengangguk dengan Isak tangis nya


"aku berjanji, jika aku pulang nanti aku akan menemui mu" ucap Ivan


"tapi bagaimana dengan orang tua kakak. Mereka tidak merestui kita" lirih Amel begitu pedih


"tidak, jika kamu memang benar benar mencintaiku, aku mohon tunggulah aku kembali" pinta Ivan dengan penuh perasaan


"untuk saat ini aku hanya ingin membuktikan pada papa jika aku bisa membanggakan nya, setelah aku berhasil, maka aku akan membuktikan cintaku padamu" kata Ivan dengan senyum hangat nya membuat Amel langsung mengangguk dan ikut tersenyum


"Amel janji, Amel akan menunggu kakak disini, berjuanglah disana, dan jangan lupa dengan janji kakak" kata Amel sembari mengusap air mata nya


"aku berjanji, jaga dirimu baik baik. Dan jangan bersedih lagi, tetap Langitkan segala harapan mu untuk ku, agar cerita kita sesuai dengan keinginan kita" ucap Ivan membuat Amel begitu terharu mendengar nya


"ya, hanya kakak dan tetap kakak, semoga kita bisa bersama tanpa air mata lagi" balas Amel


"pasti. Kita berjuang sama sama ya" kata Ivan sembari menggenggam erat tangan Amel


"iya kak" kata Amel yang menahan Isak tangis nya kembali


"jangan menangis" kata Ivan sembari mengusap air mata Amel yang terus mengalir

__ADS_1


"keluar sendiri" jawab Amel membuat Ivan langsung terkekeh lucu dan mengacak gemas pucuk kepala nya


Ivan menoleh kearah orang tua nya sekejap dan pada Roy yang sudah bersiap siap karena mereka akan segera berangkat


"aku pergi, beri aku senyum mu, agar aku lebih semangat menjalani hari hari disana nanti nya" pinta Ivan , dan Amelia langsung tersenyum dengan manis, meski mata nya masih berkaca kaca


Ivan juga tersenyum dan mengusap kembali wajah nya, dia mengecup singkat dahi Amelia yang terpejam merasakan kehangatan itu


Ivan sebenar nya juga ingin menangis dengan perpisahan ini, tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi perkataan Maxwel dan senyum Amelia seolah menjadi semangat tersendiri untuk nya


"jaga diri kakak disana. Jaga kesehatan dan cepatlah kembali" ucap Amel


"tentu, kamu juga harus jaga kesehatan ya. Capai impian mu, ketika aku pulang aku sudah harus melihat mu menjadi seorang desainer ternama dinegeri ini" kata Ivan lagi.


"Amel janji, Amel pasti bisa sukses agar bisa menjadi layak berada disamping kakak" kata Amel yakin, membuat Ivan langsung tersenyum dan mengangguk


"kita berjuang bersama. Aku mencintaimu Amelia, sangat mencintaimu" ucap Ivan


"Amel juga sangat mencintai kakak" balas Amel


"aku pergi" kata Ivan mengusap wajah Amel yang langsung mengangguk


Ivan memberikan senyum terakhir nya pada Amelia dan langsung berbalik meninggalkan gadis itu yang terpaku menatap punggung kekar nya


'aku pasti akan menunggumu kak. Meski aku tidak tahu kita berjodoh atau tidak'. batin Amel


...


Sementara Jonathan mengusap air mata yang mengalir diwajah Karina. Baru ini dia melihat Karina menangis, dan itu terasa menyakiti hati nya


"jangan menangis, aku pergi untuk kembali" kata Jonathan dengan sendu


"Karin pasti sangat merindukan kakak" ucap Karina dengan Isak tangis nya


"aku juga pasti sangat merindukan mu sayang. Jaga diri baik baik disini, tunggu aku kembali" kata Jonathan lagi


"pasti, Karin selalu nunggu kakak pulang. Kakak juga jaga diri baik baik disana ya, jangan nakal nakal, apalagi disana banyak bule cantik" ungkap Karina dengan wajah cemberut membuat Jonathan langsung tersenyum dan menggeleng sembari mengusap pucuk kepala nya


"aku suka produk lokal, bukan produk luar" jawab Jonathan membuat Karina langsung tertawa dan menampar pelan lengan Jonathan


"yasudah, aku pergi, jangan menangis" kata Jonathan lagi


Dan Karina langsung mengangguk


Jonathan tersenyum dan mengusap lembut wajah Karina, setelah itu dia juga berbalik dan menuju tempat dimana semua orang telah menunggu nya, meninggalkan Karina yang menatap nya dengan sendu


...


Jonathan dan Ivan melambaikan tangan nya pada orang orang terkasih mereka.


Amelia dan Karina berdiri berdampingan tak jauh dari Maxwel dan Delisha berada.

__ADS_1


Mereka melepaskan kepergian Ivan dan Jonathan dengan banyak nya doa dan harapan yang mereka Langitkan.


__ADS_2