
Pagi ini Ivan bangun dengan keadaan yang lebih segar setelah malam tadi dia makan begitu banyak makanan yang disiapkan oleh Sari. Setelah makan dia pergi berkeliling kampung dan duduk bergabung bersama bapak bapak yang berada dipos kamling. Hampir tengah malam Ivan pulang kerumah dan langsung istirahat.
Ivan meregangkan otot otot tubuh nya yang kaku sembari menutup mulut nya karena rasa kantuk yang masih menyerang. Dilihat nya kearah jendela kamar itu yang hanya dilapisi oleh kain gorden tipis bewarna putih. Matahari sudah mulai menampakan wujud nya hingga cahaya nya masuk kedalam kamar Ivan.
Ivan beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan kearah jendela, jendela dikamar nya lumayan besar walaupun jauh dari jendela dikamar mewah nya.
Dia menyibakan kain gorden itu dan membuka lebar kaca jendela sehingga angin dingin langsung menerpa wajah bangun tidur nya.
Ivan meraup udara sebanyak banyak nya, dan ah betapa segar nya udara pagi dikampung ini, membuat dia betah berlama lama disana. Kenapa dulu dia tidak bisa merasakan kenyamanan yang seperti ini ya, apa karena terlalu lama tinggal dikota yang udara nya terasa sesak dan panas, sehingga dia baru bisa merasakan jika udara dan suasana dikampung tempat nya dibesarkan itu begitu terasa menenangkan.
Ivan melirik jam didinding kamar itu, masih menunjukan pukul enam lewat lima belas menit, pantas saja masih terasa begitu dingin meski tidak memakai pendingin ruangan.
Ivan memperhatikan sekeliling rumah yang juga mengarah pada jalanan setapak tempat dimana orang orang sudah mulai keluar untuk mencari nafkah.
Suara burung masih begitu berisik berkicau deras, begitu pula suara ayam jago bapak nya yang berkokok menemani dimulai nya rutinitas para penduduk dikampung itu. Para lelaki yang pergi dengan cangkul dibahu mereka, ibu ibu dengan keranjang sayuran nya, dan anak anak sekolah yang berlarian untuk pergi kesekolah. Sungguh pemandangan yang begitu hangat. Dikota dia tidak pernah melihat pemandangan seperti ini.
Terkadang Ivan rindu saat saat dulu dia masih tinggal disini, bangun tidur langsung pergi bekerja demi mengumpulkan recehan bahkan tanpa sarapan terlebih dahulu. Dan sekarang hidup nya berubah drastis, dia tidak perlu lagi bersusah payah, semua sudah tersedia, makanan enak, pakaian bagus, tempat tinggal nyaman, uang jajan yang lebih dari cukup bahkan terlalu banyak, dan bahkan terkadang dia masih terlalu takut untuk menggunakan semua fasilitas yang diberikan oleh Maxwel, ayah nya.
"terimakasih Tuhan, aku tidak pernah menyesal pernah terpisah dari keluarga ku, karena dengan itu aku bisa selalu bersyukur saat ini dengan semua kenikmatan yang ku dapatkan" gumam Ivan
...
Setelah mandi dan sarapan, Ivan pamit pada pak Tarman untuk pergi menemui teman teman nya, Bambang dan Dian.
Dia berjalan menyelusuri kampung dengan berjalan kaki karena dia enggan menjadi pusat perhatian warga kampung jika membawa motor besar nya.
Saat ini dia berjalan menuju peternakan pak Tarno dimana dulu dia pernah bekerja disana, dan Bambang yang masih bertahan hingga saat ini. Sepanjang jalan dia disapa oleh seluruh warga yang berpapasan dengan nya, dan tentu saja Ivan menyambut nya dengan ramah.
Tidak ada yang berubah dari kampung itu, semua nya masih sama seperti beberapa bulan lalu saat dia masih berada disana.
Dan setelah beberapa menit, dia pun tiba di peternakan itu. Beberapa orang yang melihat nya begitu terkejut melihat Ivan disana.
"loh Van, ini koe to" sapa mang Ujang langsung mendekat kearah Ivan
"hehe, iya mang. masih inget kan" jawab Ivan terkekeh lucu melihat teman teman kerja nya yang begitu terkejut melihat kedatangan nya
"Oalah, makin ganteng koe Van" kata mang Ujang lagi setelah Ivan menjabat tangan nya
"ah, aku kan memang udah ganteng dari dulu mang" jawab Ivan sombong membuat mang Ujang dan beberapa teman yang lain tertawa lucu
"dulu memang ganteng, tapi sekarang makin bening koe Van. kayak artis" kata bang Jaka
"hahaha, bisa aja Abang Abang ini." balas Ivan
"koe ngapain kemari Van, gak mungkin mau merah susu lagi kan?" tanya mang Ujang dan kali ini Ivan kembali tertawa sembari menggaruk tengkuk nya
"aku cuma main aja bang, mang, kebetulan libur kuliah, jadi cuma keliling aja, sekalian lihat lihat kondisi kampung" jawab Ivan berjalan mendekat kearah mang Ujang yang mulai membersihkan kandang sapi itu
"yah kondisi kampung kita ya begini aja Van, gak ada yang berubah, cuma sepi aja ini kampung gak ada koe yang suka bikin keributan sama anak pak RT" jawab bang Jaka membuat Ivan mendengus namun juga tertawa
"Abang mah itu yang diinget" jawab Ivan membuat bang Jaka dan mang ujang tertawa
"hahaha, soal nya dari dulu koe itu udah kayak artis disini, jadi bahan gibahan ibu ibu sama anak gadis kampung" jawab mang Ujang pula
"mang Ujang bisa aja" kata Ivan ,
__ADS_1
"woi, Van, ini elu?" tanya seseorang tiba tiba menepuk pundak Ivan membuat Ivan yang sedang fokus melihat mang Ujang terkesiap kaget.
Dia langsung berbalik badan dan dapat dia lihat Bambang berdiri tegap sembari menggeleng geleng kan kepala nya menatap Ivan yang langsung tersenyum dan merangkul Bambang
"apa kabar bang, sehat kan Lo?" tanya Ivan
"ah, ya beginilah Van, Lo kapan Dateng, kok gak ngasih tau gue" tanya Bambang saat mereka sudah saling melepaskan rangkulan nya
"baru Sampek semalem sore, ini gue kemari mau liat elu bang" jawab Ivan membuat Bambang langsung tertawa
"gue kira lu lupa sama gue Van" kata Bambang lagi
"aish, mana mungkin lah," jawab Ivan
"tunggu bentar ya, gue siapin kerjaan gue dulu, habis itu baru kita ngobrol dipondok biasa" kata Bambang langsung berjalan menuju tempat nya dan langsung diikuti oleh Ivan
"gue bantuin deh, biar cepet kelar" ucap Ivan yang juga mengambil timba disudut kandang membuat mang Ujang, bang Jaka dan Bambang langsung terkesiap kaget dan berteriak bersamaan
"jangan" seru mereka bertiga membuat Ivan terkejut
"kenapa?" tanya Ivan heran menatap mantan rekan kerja nya itu
"nanti baju mu kotor, ini bau Lo Van" kata mang Ujang membuat Ivan langsung terbengong
"iya, nanti kalau tau tuan Maxwel bisa ditutup peternakan ini" kata Bang Jaka pula
"udah, bentar lagi siap kok" timpal Bambang pula
"astaga kalian ini. dikira aku anak pejabat apa ya, dulu juga makanan ku kotoran sapi sama susu sapi, kenapa jadi begini sih. udah santai aja lagi. aku juga yang mau" jawab Ivan langsung berjongkok dan memerah susu sapi itu, membuat Bambang, Jaka dan mang Ujang saling pandang canggung
"anak bapak gue la, dua malahan bapak gue" jawab Ivan membuat Bambang langsung terbahak
"sue lu, Lo itu anak orang kaya , pegangan Lo disana pasti cuma buku sama hp doang, nah ngapain coba lo ngerasain megang tu ***** sapi lagi" tanya Bambang heran dan kali ini Ivan yang terbahak
"yaelah bang, walaupun bapak gue kaya, tapi kan gue asal nya dari sini. Kadang rindu juga kehidupan disini" jawab Ivan membuat Bambang geleng geleng kepala
"kan enak hidup dikota Van," kata Bambang
"iya sih, enak semua udah ada. tapi ya itu yang kayak kata Abang, pegangan gue cuma buku sama hp doang, bosen juga kadang kadang" jawab Ivan terkekeh pelan
"aneh banget Lo, dulu Lo bilang pengen hidup seneng biar gak merah susu lagi, nah sekarang udah dikasih sama Tuhan Lo malah bilang bosen" kata Bambang berdecak membuat Ivan menghela nafas sejenak dan tertawa kecil
"hehe, iya, bosen karena gak ada yang mau dikerjain lagi bang" jawab Ivan
"harus nya Lo bersykur, hidup Lo udah enak, gak kayak kami kami disini, gini gini terus gak tau kapan berubah nya" kata Bambang yang masih terus mengisi ember nya yang hampir penuh
"iya sih bang" gumam Ivan
"ngomong ngomong si Faiz pulang juga kan?" tanya Bambang yang telah selesai dengan perahan nya begitu pula dengan Ivan.
"enggak bang, gue balik sendiri kesini" jawab Ivan. Kini mereka berjalan kedalam ruang tempat penyimpanan susu
"lah, gue kira balik sama Faiz" kata Bambang lagi
"enggak, dia lagi banyak tugas" kilah Ivan, padahal kenyataan nya tidak ada yang tahu dia pergi kekampung itu
__ADS_1
Setelah selesai mereka keluar dari peternakan diikuti oleh pekerja yang lain.
"ah gue laper banget lagi, belum sempet sarapan" keluh Bambang memegang perut nya
"ya kita makan dulu aja, kerjaan juga udah siap kan. gue liat didepan ada warung baru" kata Ivan
"iya, baru sebulan, nasi liwet, enak banget Van, yang jual juga cantik cantik" jawab Bambang membuat Ivan terkekeh
"dih, mata Lo udah tercemar sidian ya" kata Ivan membuat Bambang terkekeh
Ivan menoleh kesana kemari melihat bang Jaka dan mang Ujang bersama dua orang lain yang juga sudah menyelesaikan pekerjaan nya
"bang, mang, makan dulu yuk didepan" ajak Ivan pada keempat orang itu yang langsung saling pandang
"belum gajian ini Van" jawab Mang Ujang
"udah ayok aja. aku yang traktir. makan sepuas nya" jawab Ivan membuat keempat orang itu langsung sumringah
"beneran Van?" tanya bang Jaka dan dua teman nya
"iya, yauda ayok. bang Bambang udah kelaperan ini" kata Ivan menunjuk Bambang yang langsung terkekeh
"udah yok lah, mumpung ditraktir, kapan lagi coba" kata Bambang pada mereka
"yauda , yok la gas" kata seorang pemuda teman bang Jaka
akhir nya mereka pun pergi kewarung nasi liwet yang baru dibuka itu. Mereka memesan makanan mereka masing masing serta es teh.
Dua pelayan yang masih gadis disana begitu terpesona saat melihat Ivan yang baru pertama mereka lihat.
Namun seperti biasa Ivan yang menjadi bahan gibah mereka tetap santai dan tidak perduli. Dia makan dengan santai sembari berbincang bincang dengan Bambang dan yang lain nya
"Van, itu anak bedua naksir koe kayak nya" kata bang Jaka pada Ivan yang masih menikmati ayam goreng nya
"biar aja. udah biasa aku" jawab Ivan membuat Bambang dan yang lain terbahak
"wah sombong bener ini anak" kata bang Jaka yang juga ikut tertawa
"dia sombong mah wajar Jak, kalau Elu yang sombong baru gak wajar" kata teman Jaka
"wah kurang asem lu, muka gue beda dikit cuma sama Ivan" kata Jaka yang langsung kena timpuk teman nya
"beda dikit kalo diliat dari lobang sedotan" kata mang Ujang, seseorang yang paling tua diantara mereka
"hahahah, bener itu mang, inget binik dirumah, gak usah sok Sokan ngelirik yang bening" kata teman bang Jaka lagi
"wah sue lu, gue cuma godain Ivan doang kok. sayang ganteng ganteng mubajir. gue yang jelek aja udah laku" kata bang Jaka angkuh membuat Ivan dan yang lain tertawa
"selera anak kota mah beda ya Van, mana pakek dia gadis kampung disini" kata mang Ujang pada Ivan
"wah, malah selera Ivan gadis kampung sini mang" balas Bambang yang membuat Ivan langsung tersedak hingga terbatuk batuk
Dia langsung meneguk minuman nya hingga tandas
"wah parah lo Van, belum juga gue sebut nama nya udah kayak mau mati Lo" ejek Bambang
__ADS_1
"sialan lo bang" dengus Ivan membuat semua orang teman teman nya tertawa