Story Of The Twins

Story Of The Twins
Harimau Lapar


__ADS_3

Ivan tertunduk saat Maxwel dan Andrean memandang nya dengan heran. Bahkan mata mereka terlihat begitu mengintimidasi. Nyawanya baru terkumpul, bahkan wajahnya masih kusut dengan penampilan yang acak acakan. Amelia yang ada ditempat tidur juga hanya diam dengan canggung. Mereka seperti seorang terdakwa yang takut ketahuan baru saja melakukan sebuah kesalahan. Semoga saja dua orang ini belum melihat apa yang sebenar nya terjadi.


"Kenapa kamu kusut begitu Van" tanya Maxwel yang berjalan mendekat kearah ranjang Amelia


"Kamu baru bangun tidur?" tanya Maxwel lagi


Ivan langsung mengangguk cepat dan meraup wajahnya dengan kasar. Berharap kesadaran nya cepat kembali, jangan sampai Maxwel menyadari sesuatu, apalagi sampai tahu jika dia sudah tidur berdua tadi dengan Amel nya.


"Iya pa" jawab Ivan. Bahkan suara nya masih terdengar begitu serak. Faiz yang ada dibelakang nya hanya diam dan tertunduk. Untung saja tidak terlambat batin nya. Jika tidak Maxwel pasti akan membawa Ivan pulang setelah ini.


"Bagaimana keadaan kamu Mel?" kini Maxwel beralih pada Amelia dan mengabaikan Ivan.


Namun Andrean yang sesekali masih menilik nya dengan curiga. Karena seperti nya ada sesuatu yang telah terjadi, apalagi tadi dia sempat melihat Faiz yang dengan panik langsung masuk kedalam. Pasti mereka sudah melakukan sesuatu, entah apa, tapi yasudahlah. Dia juga pernah muda. Yang terpenting sekarang adiknya sudah baik baik saja


"Sudah lebih baik tuan" jawab Amel


"Maafkan saya baru datang, saya tidak tahu kamu masuk rumah sakit. Mama mu juga masih belum bisa pergi jauh, jadi belum bisa melihat keadaanmu" ungkap Maxwel, seharusnya dia tahu apa yang sedang terjadi pada menantunya ini. Tapi keadaan dirumah juga genting, bahkan dia sampai tidak bisa berfikir kemana mana dua hari semalam, perusahaan saja terabaikan oleh nya, apalagi hal yang lain.


"Tidak apa apa tuan. Saya mengerti" jawab Amelia sedikit tersenyum dengan wajah pucatnya


Maxwel tersenyum tipis dan mengusap pelan kepala nya. Hal yang membuat Amel tertegun memandang itu


"Kamu harus cepat pulih. Ivan sudah kembali. Pernikahan kalian sudah didepan mata. Tapi jika memang kamu belum kuat, saya bisa mengundurnya" ujar Maxwel


"Jangan!!!" seru Ivan dan Amelia langsung


Maxwel, Andrean dan juga Faiz langsung terlonjak kaget mendengar nya. Namun sedetik kemudian mereka langsung tertawa melihat Ivan dan Amelia yang tampak tersenyum canggung.


"Jangan dong pa. Udah nunggu dari lama juga. Kalau Amel gak kuat, nikah dirumah sakit juga gak papa. Atau sekarang juga gak papa" kata Ivan, namun Amelia segera menggeleng


"Enggak, nanti sesuai waktu yang udah ditentukan aja. Amel kuat kok tuan, Amel pasti cepat sembuh. Jangan ditunda, kan tinggal bentar lgi" sahut Amel pula


Maxwel tertawa kecil, begitu pula dengan Andrean. Seperti nya dua anak muda ini memang sudah sangat tidak sabar. Dan karena ini mereka juga jadi tahu apa yang baru saja terjadi sebenar nya


"Baiklah. Kalau begitu cepatlah sembuh. Dan jika kamu sudah keluar dari rumah sakit, kalian harus dipingit ya" kata Maxwel


Ivan langsung mengernyit dan terlihat tidak suka


"Kenapa harus dipingit. Kan udah dua belas hari kemarin" sahut Ivan keberatan. Amel juga terlihat murung mendengar nya. Baru juga bertemu, sudah harus pisah lagi.


"Papa tidak ingin mendengar kabar seorang Presdir diperusahaan cabang Agueeno menghamili calon istrinya" jawab Maxwel


Mata Ivan sedikit melebar, begitu pula dengan Amel. Faiz langsung menggaruk pelipis nya, sudah dia duga


"Lah yang dihamili juga calon istri sendiri" gumam Ivan


"Ivaann" Maxwel menatap Ivan dengan jengah, anak nya ini terkadang memang mengesalkan


Ivan tertawa dan meraba tengkuk nya, dia melirik Andrean yang terlihat menghela nafas dan geleng geleng kepala

__ADS_1


"Hehe... iya iya. Tapi nanti aja. Dua hari sebelum acara ya pa" pinta nya mencoba menawar


"Itu bukan pingit namanya tuan muda. Cuma pisah karena ganti baju" sahut Andrean yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menyahuti calon adik iparnya ini


Ivan kembali tertawa


"Sudah lah. Waktu kalian bertemu masih ada beberapa hari lagi. Tapi jangan ambil kesempatan dengan tidur berdua diruangan seperti ini" kata Maxwel


Ivan dan Amelia saling pandang canggung dengan wajah yang memerah. Mereka khilaf tadi. Bukan khilaf sebenar nya, melainkan memang Amel yang sengaja mengajak Ivan tidur, dan Ivan tentu saja menerimanya dengan senang hati. Lagipula dia juga begitu lelah karena tidak ada beristirahat sama sekali. Rasa rindu dan cinta membuat mereka selalu melupakan situasi dan kondisi. Untung saja tidak khilaf dan melakukan hal hal yang diluar batas. Dan Ivan masih waras untuk tidak melakukan itu, dia mencintai Amel dan tentu nya dia tidak akan merusak nya sebelum hari pernikahan, ya meski sedikit mencicipi.


"Faiz, bagaimana kondisi ibu kamu?" kini Maxwel beralih pada Faiz yang ada dibelakang Ivan


"Sudah lebih baik tuan" jawab Faiz


"Syukurlah, kamu bisa pulang dan temani ibu kamu hari ini. Tapi besok, kamu sudah harus keperusahaan ya, kamu perlu konferensi pers tentang keadaan kalian pada seluruh karyawan, mereka juga sangat terkejut mendengar berita kematian kalian" ujar Maxwel


Faiz langsung mengangguk patuh


"Baik tuan, siap" jawab nya dengan lugas


"Ivan gak perlu pergi pa?" tanya Ivan pula, namun Maxwel segera menggeleng


"Tidak perlu, selain Amelia, mama mu juga masih memerlukan kehadiran kamu" jawab Maxwel membuat Ivan langsung mengangguk mengerti


"Baiklah" jawab nya yang dengan senang hati libur dari semua pekerjaan yang membuat pusing kepala itu


"Kalau begitu papa pergi dulu, masih ada yang harus diurus. Kamu cepat sehat" Maxwel berujar pada Amelia yang langsung mengangguk dan tersenyum


"Ivan juga nanti agak siang pulang pa" sahut Ivan dan Maxwel hanya mengangguk saja


"Saya pamit dulu" kini Maxwell beralih ada Andrean


"Baik tuan, terimakasih sudah menyempatkan diri" balas Andrean


"Jaga adikmu dari harimau yang sedang lapar" kata Maxwel seraya menepuk bahu Andrean sekilas namun matanya terlihat mengedip kearah Ivan


Ivan langsung mendengus dengan kesal. Enak saja dikatain harimau lapar, apa papanya itu tidak pernah muda. Yah, tapi dia kan sama seperti Jonathan , tidak ada romantis romantis nya, jadi mana tahu indahnya suatu hubungan. Astaga, kenapa jadi merutuki orang tua sendiri, memang durhaka.


Akhirnya Maxwel keluar dari ruangan itu dan diantar oleh Andrean. Dan bergantian dengan Indah dan Diana yang masuk kedalam ruangan.


Ivan beranjak dan kekamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kepala nya jadi pusing karena bangun dengan tergesak tadi.


"Mel,.udah baikan?" tanya Indah yang duduk dikursi disamping ranjang Amel


"Udah kak, cuma masih lemes aja" jawab Amel


"Yasudah istirahat dulu, biar cepat pulih" kata Indah dan Amel hanya mengangguk saja


Dan tidak lama Ivan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Meski wajah ya masih sembab karena bangun tidur ditambah dengan menangis tadi

__ADS_1


"Laper banget, sarapan nya ada Di?" tanya Ivan langsung


"Ada tuan, tapi udah dingin kayak nya" jawab Diana yang langsung memeriksa sarapan untuk Ivan tadi


"Gak papa lah, udah laper. Aku bisa makan apa aja" jawab Ivan sembari duduk disofa


"Kak , udah makan?" tanya Ivan pada Indah. Tangan nya meraih makanan yang disiapkan oleh Diana


"Udah, kamu makan aja. Kalau mau yang anget mending beli lagi" ujar Indah namun Ivan segera menggeleng


"Gak perlu kak. Ini udah cukup kok. Sayang gak dimakan, masih enak" jawab Ivan yang langsung melahap nasi goreng nya


"Tuan muda semua dimakan kak. Apalagi kalau udah tenang hatinya, udah dapet vitamin lagi, semua masuk" sindir Faiz


Indah dan Diana langsung tertawa mendengar nya sedangkan Ivan hanya mendengus gerah saja dan terus melanjutkan sarapan nya. Dia memang lapar, bahkan dia lupa kapan terakhir kalinya dia makan.


"Pulang Lo sana. Berisik aja" usir Ivan


"Tadi disuruh kemari, sekarang malah diusir. Memang tuan muda gak ada akhlak ya begini" gerutu Faiz


Indah dan Diana tampak tertawa kecil. Terkadang mereka heran kenapa Faiz tidak pernah merasa takut pada Ivan yang jelas jelas adalah atasan nya. Bahkan mereka sudah seperti teman dekat saja, hanya dibeberapa waktu dan disaat ada Maxwel saja Faiz akan bersikap layaknya bawahan, jika tidak, mereka layaknya seperti seorang teman.


Hanya Amel yang tahu bagaimana dekatnya Ivan dan Faiz, memang sudah sangat dekat, bahkan melebihi teman dan sahabat sekalipun.


Mereka sudah seperti saudara yang hidup bersama sejak kecil. Tahu kesusahan dan kesenangan satu sama lain. Saling membantu dan mendukung, bahkan Faiz bisa dibilang lebih dekat dengan Ivan ketimbang Jonathan saudara kembarnya.


"Yasudah lah, kalau gitu saya pulang aja. Kasihan ibu dirumah juga masih kangen" ucap Faiz


"Iya, salam sama ibu. Bilangin gue masih belum bisa jenguk" kata Ivan dengan mulut nya yang penuh


"Iya, udah ngerti mah ibu. Tuan muda Ivan kan sekarang sibuk, kayak ngurusin istri tiga" sahut Faiz


"Satu aja belum halal udah tiga" sahut Ivan


"Yasudah lah. Kak saya pamit pulang ya" pamit Faiz pada Indah yang langsung mengangguk


"Iya, hati hati" jawab nya


"Nona Amel, saya pamit. Nona cepat sehat. Tapi kalau sudah sehat jangan dekat dekat dengan harimau lapar. Dia sekarang lebih buas, apalagi baru keluar dari pedalaman Kalimantan" kata Faiz pada Amelia yang tertawa dan mengangguk


"Siap kak" sahut Amel


"Kurang ajar, pergi sana" usir Ivan begitu kesal. Bisa bisanya Faiz mengikuti bahasa papa nya. Memang menyebalkan, tapi ya, dia memang lapar. Lapar perut dan tentu nya yang lain.


"Yuk Di" ajak Faiz pada Diana. Membuat Diana dan orang yang ada diruangan itu langsung memandang nya dengan bingung


"Mau kemana?" tanya Diana bingung


"Pulang kerumah ku lah. Buat ketemu ibu" jawab Faiz begitu santai, bahkan dia langsung menarik lengan Diana keluar membuat mata Ivan terbelalak lebar

__ADS_1


"Woi, anak gadis orang itu" teriak Ivan namun Faiz hanya acuh saja dan terus menarik lengan Diana yang mencoba memberontak


"Astaga apa dia udah gila, bisa bisa nya bawa anak orang begitu. Sebenar nya yang harimau lapar, gue atau dia?" gumam Ivan tidak habis fikir


__ADS_2