
Jonathan melangkahkan kaki nya dengan wajah datar dan terkesan dingin. Dia berjalan masuk kedalam perusahaan nya dimana semua orang langsung tertunduk hormat dan tidak berani mengangkat sedikitpun wajah mereka. Seperti nya suasana hati bos mereka memang tidak baik baik saja saat ini.
Wajah nya begitu dingin dan sangar dari biasa nya, sangat berbeda dengan kembaran nya, mereka bisa tenang dan begitu terpesona dengan Ivan, tapi ketika melihat Jonathan , mereka langsung tidak bisa berkata apapun.
Langkah Jonathan pasti menuju lantai atas dimana ruangan nya berada.
Mata nya menatap tajam kedepan menuju lift khusus Presdir.
Dia tidak mengindahkan seluruh sapaan hormat para karyawan nya. Hati nya benar benar bergemuruh saat ini.
Seluruh karyawan Jonathan dapat bernafas dengan lega saat Jonathan sudah berlalu dari hadapan mereka.
"Kayak nya pak bos lagi gak mood banget deh" ungkap salah satu karyawan disana
"Iya, Lo lihat pagi tadi, dia cemas banget lihat kepala divisi pingsan. Bahkan dia sendiri yang ngangkat dan bawa kerumah sakit" sahut teman nya
"Mungkin gak sih kalau mereka punya hubungan?" tanya karyawan lain
"Mungkin aja, soal nya sewaktu acara pertunangan tuan muda Jovankha kemarin, tuan Jonathan juga bawa kepala divisi itu sebagai partner nya" ungkap karyawan itu
"Beneran?" sahut dua lain nya
"Iya" jawab karyawan itu.
Mereka terlihat saling berbisik dimeja receptionis, tidak berani terlalu kuat mengeluarkan suara, jika Jonathan sampai tahu maka bisa tamat lah riwayat mereka.
"Bakal patah hati masal deh kita kalau memang bener begitu" ungkap karyawan yang lain
"Iya, pasti nya mekanik yang bertugas memperbaiki lift juga gak bakal selamat" ungkap teman nya
"Udah pasti" jawab nya
...
Jonathan langsung membuka pintu ruangan nya, dia mengabaikan sekretaris cantik nya yang menyapa nya dengan lembut seperti biasa.
"Panggilkan Dirga keruangan saya sekarang" ucap Jonathan tanpa menatap wajah Cyntia. Dia bahkan langsung masuk kedalam ruangan nya dan menutup pintu nya dengan kasar membuat Cynthia langsung terkesiap kaget dan memegang dada nya yang terkejut.
Jonathan menghempaskan tubuh nya diatas kursi kebesaran nya seiring tangan nya yang mengendurkan dasi yang terasa mencekik leher.
Tidak lama kemudian pintu terdengar diketuk dan Dirga langsung masuk dan menghadap Jonathan.
"Bagaimana?" tanya Jonathan
"Kerusakan lift disebabkan oleh sistem operasional nya. Bukan kesalahan dari lift itu. Seperti disengaja, dan saat ini tuan Rico sedang mengintrogasi penjaga yang bertugas diruangan operasional" ungkap Dirga pada Jonathan yang terlihat mengeraskan rahang nya.
Seketika jantung Dirga langsung berdetak dengan kencang, seperti nya sebentar lagi gunung Merapi yang telah lama membeku ini akan segera meledak batin nya.
"Kita kesana sekarang" kata Jonathan yang langsung beranjak dari duduk nya.
"Tapi tuan" kata Dirga ragu, namun Jonathan langsung menatap nya dengan tajam membuat Dirga langsung membungkukan tubuh nya.
Jonathan langsung melengos dan berjalan melewati Dirga, namun langkah nya kembali terhenti saat tiba tiba Ivan dan Faiz masuk kedalam ruangan nya.
Faiz terlihat menutup pintu itu dan mengunci nya dengan rapat membuat Jonathan langsung memicingkan mata nya, sementara Dirga tampak bernafas dengan lega.
Ivan yang melihat ekspresi wajah Dirga langsung tersenyum tipis dan menggeleng.
"Bang, duduk dulu" ajak Ivan
"Aku tidak ada waktu mendengar nasehat mu" ucap Jonathan yang kembali melangkahkan kaki nya namun Ivan segera menghentikan nya
"Siapa yang mau ngasih nasehat. Ini tentang masalah yang menimpa Karina. Kita duduk dulu" kata Ivan lagi. Jonathan tampak terdiam menatap Ivan, begitu pula dengan Dirga.
__ADS_1
Jonathan menarik nafas nya dalam dalam dan segera berjalan kesofa, dia duduk tepat dihadapan Ivan yang telah duduk lebih dulu disana. Faiz dan Dirga hanya berdiri disamping tuan mereka masing masing.
Siapa yang menyangka jika mereka yang dulu nya adalah sahabat dekat, kini telah berubah status menjadi asisten dan atasan. Sungguh aneh.
"Cepat katakan" ucap Jonathan langsung.
"Apa selama bekerja disini ada orang yang tidak menyukai Karina?" tanya Ivan sembari menerima ponsel dari Faiz
"Apa maksud mu?" tanya Jonathan.
Ivan langsung menyerahkan ponsel Faiz pada Jonathan. Dimana disana terdengar suara rekaman yang mereka dapatkan saat menjadi cctv berjalan tadi.
Jonathan langsung mendengarkan nya dengan seksama begitu pula dengan Dirga.
(Gue rasa kepala divisi itu memang punya hubungan khusus deh sama Presdir)
(kayak nya iya, maka nya Presdir bisa panik banget)
(patah hati banget deh gue)
(iya kan. kirain Presdir jomblo, tapi ternyata malah kepala divisi itu wanita nya)
Jonathan terlihat mengernyitkan alis nya menatap Ivan, namun dia tetap fokus mendengarkan kelanjutan rekaman itu
(tapi ngomong ngomong, pagi sebelum kejadian itu, gua lihat Bu Chintya keluar dari ruang operasional lift Lo)
(serius Lo)
(iya, saat gue tanya dia cuma bilang ambil berkas fotokopi yang ketinggalan. Padahal kan kita tahu Bu Chintya gak pernah mau ngelakuin pekerjaan kayak gitu)
(iya sih, hal yang mustahil Bu Chintya mau ambil berkas yang ketinggalan, untuk fotokopi berkas penting aja dia selalu nyuruh orang)
Rahang Jonathan kembali mengeras dengan tatapan mata yang menajam. Tangan nya menggenggam erat ponsel Faiz, membuat sang pemilik tampak meringis ngerih akan nasib ponsel nya
(hush, jangan sembarangan bicara, kalau denger mereka bisa habis kita)
(bukan gitu, soal nya kan kita tahu kalau selama ini Bu Chintya tergila gila banget sama Presdir, mungkin aja dia tahu kalau Presdir punya hubungan sama kepala divisi itu)
(bisa jadi sih. tapi yaudah lah. Jangan dibahas. Nanti kita ketahuan)
Jonathan langsung mengangkat tangan nya namun Ivan dan Dirga segera beranjak dan merebut ponsel Faiz dari tangan nya.
"Jangan dibanting juga kali bang ponsel Faiz" ucap Ivan sembari mengambil ponsel Faiz dari tangan Dirga yang berhasil merebut nya.
Faiz langsung mengusap dada nya, setelah sebelum nya dia hampir saja kehilangan ponsel mahal nya.
'Hampir aja. Mana baru dibeli lagi' batin nya, Dirga langsung tersenyum getir melihat ekspresi wajah Faiz
Jonathan langsung beranjak dari duduk nya, namun dia kembali terhenti saat pintu diketuk dari luar. Dirga dengan sigap membuka pintu itu, dan ternyata Rico papa nya yang masuk kedalam.
"Tuan muda, seperti nya ini memang disengaja" ucap Rico saat Dirga sudah menutup pintu ruangan itu
"Karyawan yang menjaga sistem operasional sudah mengaku jika dia memang diperintah oleh seseorang, namun sampai saat ini dia belum mau mengaku siapa orang itu" ungkap Rico lagi
"Saya sudah tahu siapa dalang nya" jawab Jonathan yang langsung berjalan keluar ruangan
"Kejar Dir, jangan sampai dia bunuh orang" ucap Ivan yang langsung berlari mengejar Jonathan diikuti oleh Faiz dan Dirga, membuat Rico memandang bingung keempat pemuda itu
"Astaga, ada apa dengan mereka" gumam Rico yang langsung berjalan keluar, belum tiba diambang pintu namun dia sudah mendengar suara teriakan gadis dan suara Jonathan yang begitu menggema kuat.
Mata Rico langsung terbuka lebar saat melihat Jonathan sudah mencekik sekretaris nya saat ini. Ivan dan Dirga terlihat menghalangi nya, namun Jonathan tidak bergeming.
"Katakan!!!! Kenapa kamu berbuat begitu!!" teriak Jonathan dengan wajah yang memerah
__ADS_1
"A ampun tuan" ucap Cynthia dengan wajah yang juga memerah karena hampir kehabisan nafas
"Kau mau mati ha, !!" seru Jonathan begitu marah
"Bang, udah!! dia bisa mati" kata Ivan berusaha melepaskan tangan Jonathan dari leher Cynthia
"Tuan, sudah" ucap Dirga pula, seiring tangan nya yang menarik tubuh Jonathan
Tangan Jonathan langsung terlepas dari leher Cynthia dan Ivan segera menarik nya menjauh dari Jonathan yang ditahan oleh Dirga
"Kau memang pantas mati. Kau hampir membunuh nya. Apa salah nya padamu ha" seru Jonathan dengan nafas yang menggebu
Rico masih diam dan memperhatikan mereka. Dia masih mengamati apa yang sebenar nya telah terjadi diantara pemuda ini
"Itu semua karena saya menyukai anda, saya tidak rela jika gadis kampung itu yang menjadi kekasih anda" teriak Cynthia dan
plak
Cyntia langsung terhempas saat wajah nya ditampar dengan kuat oleh Jonathan
"Dia gadis kampung, tapi dia tidak murahan seperti mu. Dasar ******" marah Jonathan namun Rico dan Dirga segera menghalangi nya.
"Sudah tuan, kita serahkan ini pada pihak berwajib" kata Rico melihat kemarahan Jonathan yang sudah begitu memuncak
Cyntia terlihat menangis terisak dengan tubuh yang gemetaran dan bibir yang berdarah.
Beberapa petinggi perusahaan yang mendengar kemarahan Jonathan tampak melihat dari jauh tanpa ada yang berani mendekat.
Ivan kembali menarik Cynthia untuk berdiri, dia juga menatap kesal perempuan tidak tahu malu ini, sudah tahu bagaimana sifat Jonathan, tapi masih begitu nekad membuat nya marah.
Faiz hanya diam dengan tubuh yang merinding ngerih melihat kemarahan Jonathan.
"Aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan mudah setelah ini" geram Jonathan masih dengan nafas yang menggebu
"Tuan, maafkan saya tuan. Saya, saya menyesal" ucap Cynthia yang telah menangis terisak sekarang
"Menyesal tidak ada guna nya. Sekarang kau ikut aku. Daripada kau mati disini" ucap Ivan yang langsung menarik tangan Cynthia untuk pergi dari pandangan Jonathan yang masih ingin terlihat menghajar nya.
Faiz membantu membawa Cynthia yang terlihat menangis meraung
"Tuan, maafkan saya tuan!!!,"
"Tolong ampuni saya!!!" teriak Cynthia namun Ivan dan Faiz segera menyeret tangan nya.
Rico langsung menelpon pihak kepolisian, sedangkan Dirga masih berusaha memenangkan Jonathan yang seperti ingin menggila saat ini.
Ivan membawa Cynthia kesebuah ruangan kosong dilantai bawah. Semua karyawan yang melihat nya meronta dan menangis langsung saling pandang heran.
"Tuan saya mohon ampuni saya. Saya khilaf" pinta Cynthia dengan tangis dan Raung nya
"Khilaf mu sudah keterlaluan. Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain. Seharus nya kamu berfikir sebelum bertindak nona" kata Ivan menatap tajam Cynthia yang berlutut dikakinya dengan wajah yang menyedihkan
"Saya benar benar menyukai tuan Jonathan" lirih nya lagi
"Sekarang simpan rasa suka mu itu. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu. Jangan sampai kau mati ditangan nya" kata Ivan yang hendak berlalu namun Cynthia langsung memegang kaki Ivan dan menangis dengan keras
"Tuan saya tidak apa apa mati ditangan nya. Tapi saya mohon jangan apa apa kan keluarga saya" pinta Cynthia begitu memelas, Faiz yang mendengar hanya tersenyum sinis, kenapa ada orang seperti ini didunia, benar benar menjijikan batin nya.
"heh, kenapa kau baru mengingat keluarga mu sekarang ha. Kemana saja fikiran mu itu saat kau melakukan kejahatan itu" kata Ivan sinis. Dia langsung menghempaskan tubuh Cynthia dengan kasar dan segera berlalu dari ruangan itu bersama Faiz meninggalkan Cynthia yang menangis dan menjerit histeris
"Gila banget. Baru ini ngeliat tuan muda Jonathan marah" gumam Faiz. Saat ini mereka kembali menuju ruangan Jonathan
"Marah nya orang pendiam itu lebih menakutkan dari pada marah nya orang gila" jawab Ivan
__ADS_1
Dia juga baru kali ini melihat kemarahan Jonathan, jika tidak dihentikan, gadis itu pasti akan benar benar mati. Jonathan tidak segan segan memukul nya walaupun dia adalah seorang wanita. Ivan cukup merinding jika mengingat itu.