Story Of The Twins

Story Of The Twins
Tantangan Maxwel


__ADS_3

Satu tahun berlalu.....


Amel duduk didepan meja kecil sembari tangan nya menulis sesuatu disebuah kertas. Sejak sejam yang lalu dia fokus pada pena dan kertas ditangan nya. Mata nya beberapa kali menyipit, bahkan terkadang mulut nya yang menggerutu kesal.


"aaah akhirnya selesai juga, perfect" ucap nya dengan bangga melihat hasil rancangan gaun nya dikertas itu


Amel telah membuka sebuah butik kecil tak jauh dari pusat kota. Dia mulai merintis usaha kecil kecilan nya dari hasil bisnis online yang digeluti nya setahun yang lalu.


Seminggu yang lalu dia baru saja mendapatkan gelar sarjana nya, dan kini dia memutuskan untuk membuka tempat usaha, berharap jika impian nya menjadi kenyataan.


Meski hanya butik kecil, tapi pelanggan nya sudah ada beberapa, bahkan hampir setiap hari butik milik nya selalu saja ada pembeli yang berminat untuk melihat hasil koleksi nya.


Amel bertekad jika dia akan bisa sukses dan bisa layak berdampingan dengan Ivan nanti nya. Meski kini dia tidak tahu bagaimana kabar Ivan disana, tapi hati nya yakin jika Ivan pasti menepati janji nya.


Ya, sudah setahun berlalu, semua berjalan sebagaimana mesti nya, meski rindu yang kian menumpuk karena mereka sama sekali tidak saling memberi kabar. Maxwel melarang mereka untuk saling berkomunikasi meski hanya lewat ponsel ataupun email. Dan Amelia tidak berani untuk membantah itu.


Dia ingat, saat terakhir kali perjumpaan nya dengan Ivan dibandara tahun lalu, Maxwel memberi peringatan pada nya dan juga pada Karina


Flash back on


Ketika Ivan dan Jonathan telah pergi dan naik kedalam pesawat mereka.


Maxwel memanggil Amelia dan Karina yang masih terdiam canggung ditempat nya berdiri. Apalagi Amelia yang memang memiliki masalah dengan keluarga Maxwel, dan malah dengan berani nya dia mencintai anak nya.


Saat ini mereka berempat duduk disebuah resto bandara itu.


Delisha dengan wajah lembut dan tenang nya, sedangkan Maxwel dengan wajah datar dan dingin nya membuat suasana ditempat itu benar benar canggung. Bahkan Amelia tidak berani menatap wajah itu, dia hanya menunduk takut sembari tangan nya ******* ***** ujung kemeja nya.


Karina terlihat lebih tenang karena memang dia sudah sering bertemu dengan kedua orang tua Jonathan.


Maxwel menatap mereka satu persatu dengan tatapan datar dan mengintimidasi nya


"kau benar benar mencintai anak saya Karin?" tanya Maxwel pada Karina yang langsung terkesiap kaget


"iya tuan" jawab Karina yakin meski wajah nya memucat sekarang, ini kali pertama nya dia berhadapan dengan Maxwel tanpa Jonathan, dan rasa nya benar benar berbeda

__ADS_1


"bagaimana dengan kau Amelia, kau tahu kan masa lalu kita seperti apa, tapi dengan berani nya kau menaruh rasa pada anakku" kata Maxwel yang kini beralih pada Amelia yang masih tertunduk takut


"jawab" kata Maxwel sedikit keras membuat Amelia terlonjak kaget, begitu pula dengan Karina. Mereka seakan akan sedang berada dipersidangan kali ini


Delisha langsung mengusap bahu Maxwel


"ma maafkan saya tuan, saya benar benar tidak mengerti jika harus seperti ini jadi nya. Ta, tapi saya benar benar mencintai kak Ivan. Maaf" lirih Amel dengan mata yang berkaca kaca


"apa kau ingin membalaskan dendam mu pada kami, atau kau suruhan ayah mu lagi HM?" tanya Maxwel begitu tajam


Amel langsung menggeleng dan menatap Maxwel dengan linangan air mata nya


"tidak tuan, demi Tuhan, perasaan saya tulus pada anak tuan. Saya tidak pernah berniat buruk, saya benar benar tulus tuan, tidak ada sedikit pun niat jahat pada keluarga tuan. Maafkan saya, maafkan kesalahan ayah saya, saya tahu kesalahan kami begitu besar, tapi sungguh saya benar benar mencintai kak Ivan tuan" ungkap Amel begitu pedih, dia tertunduk dan menahan tangis nya sebisa mungkin, meski air mata nya tetap saja keluar dan membanjiri wajah nya


Karina menatap sedih Amelia, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa, dia juga takut pada Maxwel


Maxwel terdiam dan menatap Amelia yang menangis. Dia tahu bukan hanya gadis ini yang menaruh hati pada anak nya, tapi Ivan pun juga telah jatuh cinta pada gadis ini. Dan Maxwel tidak bisa egois dengan hati nya


"apa kau bisa membuktikan perkataan mu itu?" tanya Maxwel lagi


"apa yang harus saya lakukan agar tuan percaya pada saya, sungguh saya tidak bisa berbuat sesuatu saat ini, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan" lirih Amelia membuat Delisha begitu tersentuh hati nya


"saya hanya anak buangan yang beruntung dipungut oleh keluarga ayah Darwin, saya bukan siapa siapa, saya mohon maaf jika perasaan saya mengusik hidup anda tuan. Tapi perasaan saya tulus pada kak Ivan. Saya ... hiks ...cuma kak Ivan semangat hidup saya tuan" tambah Amelia lagi. Karina langsung mengusap lengan nya, dia ingin sekali memeluk gadis itu, tapi melihat wajah datar Maxwel, sungguh dia kembali menciut karena nya


"aku tahu itu. Kau hanya anak yang dipungut oleh bibi ku dipanti asuhan. Kau bukan siapa siapa tanpa mereka. Tapi untuk menjadi menantuku, aku memerlukan sesuatu yang bisa aku banggakan kepada dunia, ini terdengar egois, tapi kau tahu bukan, jika keluarga kami bukan keluarga biasa" ungkap Maxwel terdengar begitu tegas dan tajam


"dan ini termasuk untuk mu juga Karina" tambah Maxwel yang kini menatap pada Karina yang langsung mengangguk pelan.


Kata kata Maxwel ini sungguh mengusik hati nya


"aku bukan tidak suka padamu Amelia, sebagai orang tua aku hanya ingin yang terbaik untuk putraku, aku tidak masalah dari mana kalian berasal, seperti Karina yang hanya gadis desa, aku tidak masalah. Tapi bukan berarti dengan mudah nya aku langsung merestui kalian menjadi menantuku." ungkap Maxwel


Amelia dan Karina terdiam mendengar perkataan Maxwel


"jika kalian memang benar benar mencintai anak ku, dan jika kalian ingin mendapatkan restu dari ku. Maka tunjukan padaku jika kalian layak untuk berdampingan dengan anak anak ku. Aku tidak suka gadis yang hanya bisa menghabiskan harta anak ku dan memanfaatkan cinta anak anak ku saja" kata Maxwel tegas

__ADS_1


Amelia dan Karina saling berpandangan lalu mengangguk perlahan


"mereka sedang berjuang disana, mereka berjuang untuk masa depan mereka. Dan jika kalian memang mencintai mereka, maka kalian juga harus berjuang disini. Kalian harus bisa membanggakan mereka dengan prestasi kalian, dan membuktikan pada kami jika kalian memang layak untuk mendapatkan mereka" kali ini Delisha yang berbicara dengan sedikit lembut


Amelia dan Karina langsung menatap Delisha dengan mata yang berkaca kaca


"apa ini sebuah harapan untuk saya nyonya?" tanya Amelia dengan menahan Isak tangis nya


"ya, buktikan jika kamu mampu, maka kami akan merestui" jawab Delisha dengan senyum nya


"tanpa bantuan orang lain, itu syarat nya" tambah Maxwel


Amelia langsung tersenyum dan mengangguk senang, sembari mengusap kembali air mata yang mengalir diwajah nya


"terimakasih tuan, nyonya, saya akan membuktikan jika saya layak berada disamping anak kalian" kata Amelia yakin, begitu pula dengan Karin


"saya juga tuan, saya akan berusaha untuk mencapai cita cita saya" ungkap nya pula.


Maxwel dan Delisha langsung mengangguk mendengar keyakinan dua gadis yang begitu dicintai oleh putra mereka


"tiga tahun, saya rasa itu sudah cukup untuk kalian berusaha. Dan selama tiga tahun itu pula kalian dilarang menghubungi putra kami sekalipun. Lost kontak" ucap Maxwel tegas


Karina dan Amelia kembali saling pandang ragu


"jika kalian keberatan, kalian boleh mundur, saya rasa banyak gadis dinegeri ini yang menginginkan menjadi menantu dikeluarkan Alexander" kata Maxwel lagi


"kami sanggup tuan" jawab Amelia dan Karina dengan cepat


"bagus, dan itu dimulai hari ini" kata Maxwel lagi


Flash back off


Amelia menghela nafas nya sejenak


"semangat Amel, kamu pasti bisa, sudah setahun berlalu, dua tahun lagi, ayo semangat" ucap nya pada diri sendiri

__ADS_1


__ADS_2