
Ivan kini tengah berada diperpustakaan bersama Andrean. Ia melihat lihat area perpustakaan dengan mata takjub. Bagaimana tidak Ivan yang dari kampung belum pernah melihat perpustakaan sebesar dan seluas perpustakaan dikampus ini.
Setelah berkeliling Ia pun memilih buku yang akan dibaca nya dan langsung duduk dimeja dekat Andrean.
Sementara disisi rak buku paling ujung terlihat Dirga tengah mengawasi mereka.
"apa yang mereka bicarakan ya, dan kenapa sikap Jonathan aneh begitu, gak biasa nya" pikir Dirga dalam hati
"ah mana gue harus jumpai dosen lagi, jadi gak bisa mata matai mereka. Sial" rutuk Dirga
Sementara Ivan tengah asik mengobrol dengan Andrean.
"tumben anak ini banyak bicara, biasa nya susah diajak bicara. Ah mungkin dia udah mulai nyaman sama gue" gumam Andrean dalam hati.
"Jo, lo memang selalu diikuti pengawal pengawal itu ya? " tanya Andrean
"iya, kenapa? " tanya Ivan pula
"gak papa sih, penasaran aja gue, seberapa penting sih elo sampek diikuti gitu" jelas Andrean
"gue juga gak tau, gue cuma ngikut aja" balas Ivan cuek
"emang orang tua lo kerja apa, dimana? " tanya Andrean cepat
"lo kayak wartawan deh, banyak amat tanyak nya" ucap Ivan sambil tertawa
"hehe, gue pengen tau aja. Selama ini gue gak pernah tau tentang elo. Main kerumah lo juga gak elo bolehin kan! " ungkap Andrean
"oh iya ya, haha, belum waktu nya, besok besok gue ajak deh" kata Ivan gugup
"bener ya, penasaran banget gue sama pangeran es ini" kata Andrean sambil tertawa
"pangeran es? " tanya Ivan bingung
"lo gimana sih, semua orang dikampus ini kan julukin lo pangeran es. Dingin banget sama orang, gue aja heran hari ni lo bisa banget banyak bicara sama gue. Hehe" jelas Andrean membuat Ivan seketika salah tingkah
"hehe, iya ya" jawab Ivan cengengesan.
"wah bang Jo, salah deh gue banyak bicara ini. Pantesan aja temen yang lain pada aneh ngeliatin gue" tutur Ivan dalam hati
"oh ya Jo, kalau boleh tau orang tua lo kerja dimana sih, siapa tau orang tua gue juga kenal sama orang tua lo" tanya Andrean menatap Ivan yang dikira nya Jonathan itu
Ivan yang ditanya begitu pun langsung gelagapan.
" eh, emm gue, gue kurang tau. Tapi kayak nya disalah satu perusahaan dikota ini deh" jawab Ivan gugup
"oh iya ya, masak sih gak tau" tanya Andrean curiga
Ivan hanya tersenyum kecut. Namun dia juga sedikit curiga dengan teman sekelas nya yang nama nya tidak diketahui nya ini.
Mereka berbincang dengan diselingi sedikit pertanyaan oleh Andrean dimana membuat Ivan terlihat jengah.
Dan tak lama kemudian kelas terakhir pun dimulai. Nampak Dirga, Ivan dan juga Andrean masuk kekelas.
Mereka belajar seperti biasa. Ivan fokus mendengarkan penjelasan dosen dengan seksama. Karena banyak yang belum dimengerti nya.
Mata kuliah selesai kini Ivan dan yang lain tengah berjalan kearah parkir.
Ivan melirik sekilas kearah Andrean yang sedari tadi terus mengawasi nya.
"kenapa anak itu ya, curiga gue" lirih Ivan dalam hati.
"kita jadikan kerumah Dirga? " tanya Alex tiba tiba
Dan diangguki oleh teman teman nya.
Mereka pun pergi dengan kendaraan masing masing kerumah Dirga.
Setelah beberapa saat mereka pun tiba dirumah Dirga. Mereka berkumpul ditaman belakang rumah Dirga seperti biasa nya.
Mereka belajar bersama sambil menikmati makanan yang disiapkan pelayan dirumah Dirga.
Ivan tampak serius mengerjakan tugas nya.
"aih, gimana ini ngerjain nya, pusing gue. Gue kan belum tau apa apa tentang ini. Sial" gerutu Ivan dalam hati.
"lo kenapa Jo, kok bengong aja. Biasa nya paling asik ngerjain tugas ini" tanya Dirga
__ADS_1
"eh, enggak kok. Cuma agak pusing aja gue" sanggah Ivan
"lo sakit? " tanya Erika khawatir.
"enggak kok, biasalah pusing dikit mungkin kelamaan didepan laptop kali ya! " balas Ivan agak gugup.
"yauda deh, biar gue yang lanjutin. Elo yang nyatet ini ya" titah Dirga sambil menyerahkan buku catatan pada Ivan.
Ivan pun mulai mencatat dan teman yang lain nya juga mulai mengerjakan tugas mereka masing masing.
"ah, akhirnya selesai gue. " kata Samuel sambil merenggangkan badan nya.
"gue juga" timpal Alex
"gue juga nih, punya lo udah Jo? " tanya Erika
"udah nih" kata Ivan sambil menyerahkan tugas nya.
Erika dan Dirga saling melirik melihat tulisan Ivan.
"tulisan lo kok bisa beda gini Jo? Biasa nya rapi banget. " tanya Dirga curiga
"mampus gue" umpat Ivan dalam hati
"eh, iya ya. Maaf deh, lagi gak konsen gue. Jelek banget ya? " tanya Ivan gugup.
"yauda lah, gak papa. Masih bisa dibaca kok" balas Erika sambil tersenyum manis.
"Eri**ka, ya baru inget gue nama dia Erika. Cantik. Apa pacar nya bang Jo ya? Dari tadi ngeliatin gue terus" kata Ivan dalam hati
"woi, jangan gitu kali ngeliatin nya. Entar salting tu si Erika" sentak Samuel mengejutkan Ivan
"eh, enggak kok. Hehe" jawab Ivan cengengesan.
Erika yang diperhatikan pun hanya tersenyum malu.
"kenapa gue ngerasa tatapan nya beda ya, gak ngenak dihati, apa perasaan gue aja" lirih Erika dalam hati.
Setelah beberapa lama mengerjakan tugas akhirnya mereka pun pulang kerumah masing masing. Tinggalah Ivan dirumah Dirga karena Dirga mengajak Ivan bicara empat mata.
"Jo, gue mau tanya, tadi apa sih yang kalian bicarain sama Andrean diperpus? " tanya Dirga
"emang lo gak ngerasa aneh apa sama tue anak? " tanya Dirga balik
"iya sih, dari awal ngeliat dia gue agak curiga, soal nya dia kayak ngawasin gue terus, kayak bang Roy aja tu anak" jelas Ivan pada Dirga
Dirga mengangkat sebelah alis nya mendengar penuturan Ivan yang dianggap nya Jonathan itu. Meski semakin bingung melihat tingkah dan cara bicara Ivan yang di anggap nya Jonathan , namun dia tetap bertanya lebih lanjut.
"terus tadi dia nanyak apa aja sama lo? " tanya Dirga lagi
"dia cuma nanya tentang seputaran orang tua gue aja sih sama kehidupan gue" jelas Ivan santai
"terus lo jawab apa? " tanya Dirga khawatir
"gue cuma bilang gak tau" jawab Ivan masih dengan santai nya
"gue serius Jo! " seru dirga mulai kesal
"lah gue juga serius kok. Emang kenapa sih, lo juga kayak dia kepo amat" ucap Ivan heran melihat tingkah Dirga
"bukan gitu, lo kan tau masalah dikeluarga lo itu gak bisa disepelein, gak boleh semua orang tau tentang kehidupan lo. Jadi jangan ngomong apapun tentang kehidupan lo sama orang lain apalagi sama Andrean" jelas Dirga pada Ivan.
Ivan mengernyit bingung
"masalah? " lirih Ivan pelan namun masih bisa didengar Dirga
"lo inget kan waktu kejadian lo diserang waktu itu, gue yakin pasti itu ada yang gak suka sama lo dan keluarga lo. Mereka itu musuh keluarga lo Jo. Dan gue rasa Andrean juga salah satu mata mata dari mereka. " jelas Dirga panjang lebar
"jadi bang Jo pernah dijahatin orang? Masalah apa sih yang dialami keluarga nya. Apa mungkin dia dikawal sama bang Roy karena takut terjadi sesuatu" batin Ivan dalam hati
"woi, ngelamun lo. Gue capek capek ngomong juga" kata Dirga kesal
"eh, maaf maaf. Gue juga curiga nya gitu. Soal nya dia nanyain tentang keluarga gue terus tadi. Tapi lo tenang aja, gue gak ada jawab apapun sama dia" jelas Ivan menenangkan Dirga
"huh, syukurlah. Lo harus hati hati lagi Ji. " lirih Dirga
"lo pasti tau sesuatu tentang keluarga gue kan, ?" tebak Ivan
__ADS_1
"gue cuma tau kalau ada orang yang mau jahatin lo sama nyokap lo Jo" jelas Dirga
"siapa? " tanya Ivan
"gue gak tau" bohong Dirga
"gak percaya gue, lo pasti bohong kan. Ayolah jujur sama gue" pinta Ivan penasaran
"gue gak tau jo. Yang penting lo dan nyokap lo harus lebih hati hati" kata Dirga membuat Ivan menekuk alis nya bingung
"hmh yauda deh. Kalau gitu gue balik dulu ya. Udah mau malem ini" kata Ivan
"ya. Hati hati" balas Dirga yang masih menatap heran ivan yang dikira Jonathan.
'berasa kayak bukan Jonathan deh. cara bicara nya, sikap nya jauh berbeda sama Jonathan yang biasa. bahkan kalau diperhatikan beda banget , tatapan mata nya juga bukan Jonathan yang biasa. apa perasaan gue aja ya' batin Dirga
Ivan pun pulang dengan pengawal nya kerumah Jonathan.
Dia masih terngiang tentang omongan Dirga tadi.
"masalah apa ya yang sedang menimpa keluarga bang Jo, kayak nya ini bukan masalah kecil deh. Bukti nya aja sampek banyak banget gini pengawal nya.
Dan lagi si Andrean, gue juga makin curiga aja sama tue anak.
Gimana ya cara nya cari tau nya, penasaran banget gue. " lirih ivan dalam hati.
Sesampai nya dirumah Ivan langsung bersih bersih dan memeriksa kembali pelajaran untuk esok hari. Fikiran nya masih terbayang akan ucapan teman Jonathan tadi.
"masalah apa ya, kok gue jadi ngerasa khawatir gini sih. Padahal kan ini bukan urusan gue" gumam Ivan sembari memutar mutar pena ditangan nya.
Lamunan nya buyar saat pintu diketuk oleh bibi May
"tuan muda, makan malam sudah siap. makan dulu" seru bibi May dari balik pintu
"iya Bu" jawab Ivan
Dia langsung keluar kamar dan menuju ruang makan, dimana sudah banyak menu yang sangat menggugah selera nya diatas meja itu.
"ibu sudah makan?" tanya Ivan sembari duduk dikursi nya dan bibi May yang berada disamping nya sedang menuangkan air minum
"belum tuan, ibu belum lapar" jawab bibi May
"kalau begitu mari makan sama sama. gak enak Bu makan sendiri" ucap Ivan membuat bibi May terkesiap kaget, karena tidak biasa nya Jonathan perduli akan itu, apa lagi untuk sekedar basa basi
"eh, tidak usah tuan, ibu biar makan dibelakang saja nanti" jawab bibi May tak enak
"ayo lah Bu, temani aku. makanan ini begitu banyak, aku tidak akan sanggup menghabiskan semua. ayo sini duduk" kata Ivan sembari menarik tangan bibi May untuk duduk dikursi
"eh, tapi tuan" kata bibi May meragu
"sudah, ayo kita makan" kata Ivan mengambilkan nasi dan lauk untuk bibi May
dan tentu itu membuat bibi May terheran heran namun dengan sungkan akhir nya dia mau makan dengan Ivan yang dikira nya adalah Jonathan itu
Selesai makan dengan sedikit berbincang Ivan pun kembali ke kamar nya meninggalkan bibi May yang masih mematung heran.
"tuan muda kok berubah begitu ya" gumam bibi May
...
didalam kamar
"bapak nya bang Jo kemana ya, dan masalah apasih yang mereka alami. Apa gue cari tau aja ya. Penasaran banget gue. Dan gue rasa si dirga itu tau sesuatu deh tentang keluarga ini. Tapi gimana cari tau nya ya. Gue aja gak tau apa apa kok" keluh Ivan sembari berbaring diatas tempat tidur mewah nya
Setelah berkutat dengan pikiran nya akhirnya Ivan pun tertidur diatas ranjang empuk Jonathan
Ditempat lain..
"bagaimana hasil kerjamu? " tanya seorang pria paruh baya pada anak nya
"belum berhasil ayah, maaf. Terlalu susah mendekati nya" jawab Andrean
"dasar bodoh, begitu saja kau tak bisa mencari tau " hardik Darwin yang ternyata adalah ayah dari Andrean
"besok aku akan lebih giat lagi"
Jawab Andrean
__ADS_1
"jangan kecewakan aku"