Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kedatangan Faiz dan Dirga


__ADS_3

Didalam ruangan itu kini tinggal Ivan dan Jonathan yang duduk ditempat mereka masing masing dengan diam seribu bahasa. Jonathan duduk dikursi sebelah ranjang Ivan sembari memijit pelipis nya sedangkan Ivan duduk bersandar diranjang nya dengan mata yang terpejam.


Dua anak kembar itu saling diam dengan fikiran masing masing, Jonathan dengan perasaan iba nya melihat nasib percintaan Ivan yang seperti nya tidak seberuntung diri nya.


Sedangkan Ivan merasa gundah gulana dengan perkataan nya sendiri kepada Maxwel tadi. Bagaimana mungkin dia bisa menjauh dari Amel, sedangkan selama beberapa tahun ini hanya gadis itulah yang bisa menghibur hati nya, walaupun dia tidak tahu perasaan cinta itu telah ada atau tidak, tapi yang pasti hati nya benar benar tidak rela jika harus menjauh dari gadis mungil itu.


"jangan difikirkan, papa hanya sedang emosi" kata Jonathan membuat lamunan Ivan berhamburan


Ivan membuka mata nya dan menatap Jonathan dengan helaan nafas panjang


"aku harus cemana, aku gak tega kalau harus bilang ke Amel untuk jauhin aku" gumam Ivan


"sebentar lagi kita pergi, dan dengan sendiri nya kamu dan dia juga menjauh kan, tidak apa apa. Hanya masalah waktu, semua akan kembali biasa. kalian hanya teman, tidak memiliki hubungan khusus" kata Jonathan membuat hati Ivan tertohok


Ivan malah menggeleng lemah dan kembali menghela nafas.


"atau kamu memang sudah jatuh hati pada nya" tanya Jonathan lagi


"gak tahu" jawab Ivan membuat Jonathan mendengus


"jangan begitu, jika kamu cinta, kamu harus perjuangkan, tapi jika tidak, maka turuti kemauan papa dengan tidak lagi berteman dengan nya" ujar Jonathan


Ivan tertunduk dan meremas kepala nya dengan kuat


"ini terlalu rumit" gumam Ivan


"kamu yang membuat nya rumit Van, tanyakan pada hati mu, kamu hanya sekedar nyaman atau sudah cinta pada dia, jangan terlalu banyak memberi harapan pada nya, bukan hanya dia yang terluka, tapi kamu juga akan menyesal nanti nya" kata Jonathan lagi


Ivan terdiam, sembari mencari jawaban didalam sana. Cinta? apa dia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Nyaman, tentu saja dia nyaman, Amelia gadis yang baik, lucu dan menarik. Bersama nya membuat Ivan selalu merasakan sesuatu yang berbeda, dia merasa Amelia adalah obat dari lelah nya, obat dari patah hati nya. Tapi cinta, apa sudah ada dihati nya? Ivan masih ragu untuk itu.


Tapi untuk menuruti permintaan Maxwel, dia juga tidak rela, sungguh tidak rela jika harus berpisah dengan gadis itu.


Untuk pergi melanjutkan pendidikan nya ke Newyork saja orang yang pertama difikirkan nya adalah Amelia, bagaimana mungkin dia memutuskan hubungan pertemanan diantara mereka.


"aarrgghhh" Ivan menggeram emosi membuat Jonathan menggeleng pelan


"fikiran lah lagi, jika cinta perjuangkan , tapi jika tidak lepaskan. Banyak rintangan yang harus kau tempuh setelan ini" kata Jonathan lagi


"aku bingung bang, bener bener bingung.aku gak rela kalo harus ngejauh dari dia, tapi aku juga takut kalo harus ngebantah papa, Abang liat papa begitu marah denger aku deket sama dia meski kami cuma berteman, gimana kalau papa tahu kalau kami punya hubungan khusus nanti nya. Bisa mati aku" jawab Ivan frustasi


Jonathan tersenyum menatap Ivan. Dia tahu cinta itu sudah ada dihati Ivan, tapi Ivan masih ragu untuk menafsirkan nya


"tenang lah. masih ada waktu untuk memikirkan nya sebelum kita berangkat. Jangan Bebani dirimu dengan hal hal yang akan mengganggu perjuangan kita disana nanti" kata Jonathan


"jika kalian berjodoh, kalian pasti bersama walau bagaimana pun rintangan nya" tambah nya lagi

__ADS_1


"meski itu restu papa?" tanya Ivan menatap lekat Jonathan yang langsung mengangguk


Ivan terdiam dengan fikiran nya yang begitu kacau, ya jika dia ingin mempertahan kan Amel disisi nya maka dia harus menghadapi papa nya, tapi jika dia memilih mengikuti permintaan Maxwel, sanggupkah hati nya?


ceklek


tiba tiba lamunan Ivan buyar saat tiba tiba saja pintu terbuka dan menampakan dua orang pemuda yang sangat mereka kenal


"gini ni akibat nya kalau pergi tanpa gue" ketus Faiz yang langsung duduk dan menampar bahu Ivan sedikit keras membuat Ivan meringis kesal melihat sahabat nya ini


"sakit bego" seru Ivan sembari mengusap bahu nya


"kenapa bisa Lo Sampek masuk rumah sakit Van" tanya Dirga pula yang berdiri disebelah Faiz duduk


"panjang cerita nya" jawab Ivan membuat Dirga dan Faiz langsung mendengus


"kalian tahu dari mana Ivan disini?" tanya Jonathan pula


"dari mama gue, kata nya Ivan masuk rumah sakit. maka nya gue langsung ngabari nie anak buat kemari" jawab Dirga


"Lo kenapa sih Van, kok bisa Sampek kayak gini, Lo tawuran" tanya Faiz lagi menatap seluruh tubuh Ivan yang penuh luka dan lebam


" sialan lo, emang tampang gue tampang preman yang doyan tawuran" kesal Ivan membuat Faiz dan Dirga langsung terbahak


"tenggelam?" ucap Dirga


"disungai?" tanya Faiz pula


"sejak kapan lo lupa berenang Van?" tanya Faiz dengan wajah yang tidak bisa diartikan membuat Ivan langsung memukul kepala nya


"CK, bukan gue yang tenggelam, gue nolongin Amelia yang tenggelam disana, Lo tahu kan sungai Brantas yang dekat perkebunan tomat, dibelakang area persawahan mang Parman" tanya Ivan pula dan Faiz langsung mengangguk


"yang arus nya deras dan dalem itu" jawab Faiz dan Ivan langsung mengangguk


"nah iya, disitu kejadian nya, maka nya gue jadi begini, untung aja gak mati" ungkap Ivan membuat Jonathan mendengus


"ya, untung saja ada Aldo yang menyelamatkan mu, kalau tidak entah bagaimana mama dan papa kalau sampai kamu tidak selamat" ketus Jonathan, Ivan langsung terdiam sedangkan Faiz


"Aldo!!!!" dia malah berteriak terkejut membuat Dirga langsung menampar lengan nya


"berisik" kata Dirga namun Faiz malah mengabaikan nya dan menatap pada Ivan dan Jonathan bergantian


"gimana bisa???" tanya Faiz lagi


"entah lah, gue juga gak tahu, gue juga belum sempet ngucapi terimakasih sama dia" jawab Ivan yang kembali menyandarkan tubuh nya dikepala ranjang

__ADS_1


"huh,,, yaudah lah, gak perlu juga ngucapin terimakasih. pasti ada mau nya tu anak" dengus Faiz, dia benar benar masih begitu kesal pada Aldo padahal kejadian itu sudah berlalu lama bahkan bertahun yang lalu


"dia titip permintaan maaf nya padamu" kata Jonathan pada Ivan yang mengernyit bingung


"permintaan maaf" gumam nya


"hmm, sebelum berangkat pagi tadi dia menemui ku dan dia bilang dia begitu menyesal telah bersikap buruk padamu dulu" ungkap Jonathan lagi


Ivan menarik nafas nya dengan berat sedangkan Faiz malah mendengus gerah


"kenapa baru sekarang, dasar gak tahu diri" gumam Faiz


"udah lah, gue juga udah ngelupain tentang itu. Udah lama juga" jawab Ivan


"Aldo, bukan nya kakak Karina ya?" tanya Dirga, Ivan dan Faiz langsung mengangguk sedangkan Jonathan hanya diam


"emang ada masalah apa Lo sama dia dulu Van?" tanya Dirga


"biasa , dia gak suka adek nya dideketin Ivan karena dulu Ivan masih miskin, sering ngeremehin dan ngebulliin Ivan, sekarang aja udah tahu Ivan anak orang kaya langsung nyesel" ungkap Faiz, Namun sesaat dia tertegun dan tersenyum canggung melihat Ivan yang menatap nya dengan tajam


Dirga langsung melebarkan mata nya bahkan mulut nya menganga sedikit. Dia langsung menatap Ivan dan Jonathan bergantian


"jadi??????" kata nya dengan raut begitu kaget


"CK, gak seperti yang Lo bayangkan" kata Ivan mematahkan praduga Dirga, namun Dirga kini menatap Jonathan yang terdiam dengan helaan nafas panjang.


"gue gak percaya, jadi selama ini kalian, oh my God" kata Dirga menutup mulut nya dengan tangan nya


"apaan sih Dir, gue sama Karin itu temen satu kampung, Si Aldo gak suka kalo adek nya sering ngumpul sama gue dan temen temen gue. gak usah mikir yang aneh aneh lah" dengus Ivan membuat Dirga menatap nya curiga


"bener cuma itu?" tanya Dirga memicingkan mata nya


"bener lah, emang apa lagi" jawab Ivan sembari melirik Jonathan yang diam dan sedang memperhatikan ponsel nya


"Lo kan gak tahu kehidupan dikampung gimana Dir" timpal Faiz pula


"haha, oke oke gue percaya. gak nyangka dunia kalian kecil banget" gumam Dirga membuat Jonathan menatap nya dengan tajam


"otak mu yang kecil" dengus nya membuat Faiz dan Ivan langsung terbahak


" ah, gue baru sadar, ternyata dugaan gue selama ini bener kalo dua orang ini suka sama orang yang sama, dan beruntung nya Jonathan punya saudara yang mengalah seperti Ivan". gumam Dirga dalam hati.


Sore itu mereka habiskan dengan bercengkrama hangat dengan berbagai cemilan yang menemani obrolan ringan mereka.


Selepas keluar dari ruangan Ivan, Maxwel dan Delisha tidak lagi kembali keruangan itu, Roy berkata jika mereka pulang terlebih dahulu dan malam nanti akan kembali kerumah sakit lagi.

__ADS_1


__ADS_2