Story Of The Twins

Story Of The Twins
Sahabat


__ADS_3

Ivan berjalan sempoyongan tak tentu arah.  Ia lemas dan begitu terpukul mendengar kenyataan yang baru saja didengar nya.  Sementara air mata masih terus mengalir diwajah tampan nya.


"oh Tuhan,  kenyataan apalagi ini,  aku bukan anak kandung bapak,  lantas siapa orang tua ku sebenarnya? " tanya Ivan dalam hati.


Ivan duduk disebuah pondok dipinggir jalan.  Pikiran nya terus melayang tak tentu arah.


"kalau aku bukan anak bapak, lalu aku anak siapa. dimana orang tua ku.?


apa aku dibuang"


berbagai macam fikiran buruk terlintas begitu saja difikiran Ivan. Hati nya benar benar sakit menerima kenyataan yang baru saja diketahui nya.


"kenapa mereka tega membuangku,  apa salah ku,  ah sial,  kenapa begini! "


"pantas saja ibu begitu membenciku dan membedakan aku dengan Toni, ternyata aku memang bukan anak nya" lirih Ivan


Aaarrgggghhh!!!!


Ifan menjerit frustasi, sembari menarik rambut nya dengan kuat hingga membuat wajah putih nya memerah.


Dia duduk termenung dengan wajah kusut dan fikiran yang tidak menentu.


Hingga beberapa saat kemudian Faiz lewat dengan sepeda nya,  dia baru kembali dari warung untuk berbelanja keperluan nya.


"loh,  bukan nya itu Ivan ya,  ngapain tu anak sendirian malam malam disini?,  iya bener tu Ivan. "


Ucap Faiz yang masih menajamkan mata nya melihat Ivan dalam cahaya remang remang kampung.


Kemudian mengayuh sepeda nya kembali ke tempat dimana Ivan berada.


"woy Van,!  Ngapain lo disini? " tanya Faiz,  namun tak ada jawaban dari Ivan.


"woy van!!!? " panggil Faiz lagi sambil memukul bahu Ivan.


Dan Ivan pun segera menoleh karena terkejut.


"eh,  Iz" kata Ivan terkejut dan langsung menundukan kepala nya sambil mengusap kasar wajah nya.


"lo itu bengong ditempat sepi kayak gini,  kesambet setan baru tau rasa lo" . Ucap Faiz yang langsung duduk disebelah Ivan dan mulai memperhatikan wajah Ivan yang nampak lain.


"lo kenapa Van,  ada masalah? " tanya Faiz pelan namun belum juga ada jawaban dari Ivan.


"woy van,  ngomong donk.  Yaelah gue dicuekin" kata Faiz kesal


Namun Ivan masih menundukan kepala nya,  mata nya mulai berkaca kaca lagi.  Melihat itu Faiz mengerti masalah yang Ivan hadapi bukan seperti biasa nya. 


Sedari kecil berteman dengan Ivan namun baru kali ini dia melihat sisi rapuh Ivan.  Ivan yang biasa nya selalu ceria dan pandai menyimpan perasaan kini menangis seperti sedang menanggung beban berat.


Faiz langsung merangkul pundak Ivan,  mencoba menenangkan nya.


"apapun masalah lo,  lo harus sabar van,  lo laki,  jadi lo harus kuat, " kata Faiz mengelus kasar bahu Ivan.


Ivan hanya diam sedangkan Faiz pun diam sembari menunggu Ivan tenang dan mau bercerita.


Hingga beberapa menit kemudian Ivan mulai bersuara.

__ADS_1


"ternyata selama ini bener dugaan lo Iz" ucap Ivan tiba tiba


"maksud lo?" tanya Faiz bingung


"gue bukan anak kandung bapak sama ibu,  gue cuma anak pungut" ungkap Ivan yang menundukan kepala nya,  terlihat jelas kekecewaan dalam hati nya.


"hah!!  Serius lo,?" tanya Faiz yang terkejut mendengar penuturan Ivan.


Ivan hanya menganggukan kepala nya.


"oh tuhan,  mulut gue,  padahal kan kemaren gue cuma becanda" kata Faiz begitu terkejut mendengar penuturan Ivan.


" gue kecewa banget Iz" timpal Ivan membuat lamunan Faiz buyar.


"lo kecewa sama siapa,  bapak sama ibu lo?? " tanya Faiz


Ivan menggelengkan kepala nya


"gue kecewa sama orang tua kandung gue,  mereka tega buang gue,  salah gue apa coba? " tanya Ivan sendiri.


"udah sabar,  kita juga gak tau apa alasan orang tua kandung lo ngelakuin ini kan" jawab Faiz menenangkan


"gak habis fikir gue,  hidup gue sesial ini.  Pantes aja selama ini ibu selalu bedain gue sama Toni! " ujar Ivan mendesah nafas berat


"tapi kan bapak lo sayang sama lo Van" kata Faiz membela


"iya gue tau itu,  gue gak tau harus gimana sekarang,  bingung gue" ucap Ivan.


"maksud lo? " tanya Faiz


"gue masih males pulang kerumah Iz, " kata Ivan yang masih menundukan wajah nya


Ivan menganggukan kepala nya dan menatap faiz.


"thanks bro! "


"udah gak usah gitu muka lo,  jelek amat,  kayak sama siapa aja.  Udah yok kita pulang,  udah larut ini,  takut gue diculik setan kunti" kata Faiz berkelakar.


"mana ada setan yang mau nyulik elo,  liat muka lo aja udah takut tu setan" balas Ivan


"wah semprul ni bocah,  masih bisa ngehina gue lo ya" kata Faiz sedang kan Ivan sudah mulai terkekeh


"salut gue,  tadi nangis ini udah bisa ketawa lagi ni anak" kata Faiz dalam hati.


Akhirnya dua anak manusia itu pun bersepeda menuju rumah Faiz.  Ivan sedikit melupakan kesedihan nya saat bersama Faiz.  Sahabat nya yang satu ini memang pandai menghibur dikala sedih.  Dan Ivan pun pandai menyimpan perasaan.


Setelah beberapa menit mereka pun sampai dirumah Faiz dan langsung disambut oleh sang ibu.


"loh ada nak Ivan juga? " sapa ibu Faiz


"iya bu,  mau nginep disini,  boleh kan bu" kata Ivan sambil mencium punggung tangan ibu Faiz.


"ya boleh lah,  kayak rumah siapa aja.  Yauda sana masuk,  habis itu kita makan bareng" suruh ibu Faiz


Dan langsung diangguki oleh Faiz dan Ivan.

__ADS_1


"lo mandi dulu deh Van,  tu handuk gue,  nanti pakai baju gue aja.  Bau kambing lo! " seru Faiz sambil menunjuk handuk yang digantung dipintu kamar nya.


"hehe,,  iya iya " jawab Ivan cengengesan.


Setelah mandi,  Ivan dan Faiz berkumpul dimeja makan bersama ibu Faiz.


Mereka makan malam sambil diiringi dengan obrolan ringan.


"jadi kapan kalian mulai kuliah nak?" tanya ibu Faiz


"belum tau bu,  mungkin nunggu habis semester ini,  sambil nunggu uang kami cukup" jawab Ivan sopan.


"pakek uang ibu dulu kan bisa,  jadi kalian langsung bisa kuliah,  gak perlu nunggu lagi" jawab ibu Faiz


"gak papa la bu e,  aku sama Ivan mau coba mandiri.  Lagian kan gak banyak lagi uang yang dibutuhin,  2bulan lagi pasti udah cukup" timpal Faiz dan di angguki oleh Ivan.


"yasudah kalau gitu mau kalian,  dari dulu ibu bilang pakek uang ibu dulu pada gak mau" kata ibu Faiz.


"gak papa bu,  kalau pakek uang sendiri lebih puas rasa nya" bela Ivan sopan dan masih terus menikmati makanan nya


"iya nanti kalau udah kuliah kalau ada kurang kurang buat keperluan sehari hari baru mintak ibu, hehehhe" ujar Faiz cengengesan.


"koe iki,  iya tenang aja.  Yang penting kalian sungguh sungguh belajar nya,  biar impian kalian tercapai" imbuh ibu Faiz.


"iya bu, " balas Ivan dan Faiz bersamaan.


Setelah beberapa menit akhir nya mereka selesai makan malam dan masuk kekamar nya.


"van,  uang kita kan udah mulai banyak nih,  menurut lo kita daftar ulang atau masuk jadi anak baru aja ya? " tanya Faiz yang berbaring disebelah Ivan.


"bagus nya yang mana? " tanya Ivan pula


"yaelah lo ditanyain,  malah balek nanyak" ucap Faiz melengos.


"hehe,  gak tau gue.  Kepala gue masih pusing.  Lagi males mikir" timpal Ivan.


"masih mikirin kejadian tadi lo" tanya Faiz dan hanya diangguki Ivan.


"udah,  gak usah terlalu dipikirin amat lah,  berdoa aja semoga suatu saat lo bisa ketemu sama orang tua kandung lo"  celoteh Faiz


"entah lah,  gue mikir buat apa ketemu mereka,  mereka kan udah buang gue" jawab Ivan sendu


"yaelah Van,  jangan mikir yang enggak enggak gitu deh,  kita kan gak tau kenapa lo bisa pisah sama orang tua kandung lo,  siapa tau lo diculik" timpal Faiz menatap Ivan.


"diculik apa nya,  orang ibu bilang bapak nemuin aku didekat semak semak kok.  Jadi kan udah jelas aku dibuang" Ivan melengos.


"iya juga sih,  eh,  tapi yaudah lah,  gak usah dpikirin lo dibuang atau enggak.  Kalau lo gak ditemuin bapak lo,  lo gak mungkin jumpa sama gue,  sahabat lo yang baik ini kan! " kelakar Faiz


"haiiss pede amat lo,  " ejek Ivan


"iyalaah,  mana ada temen yang kayak gue," timpal Faiz terkekeh.


"iya memang gak ada temen yang kayak lo,  kerjaan nya cuma makan aja yang dipikirin,  maka nya badan lo gemoy gitu" ejek Ivan


"sialan lo" kata Faiz sambil menimpuk wajah ivan dengan bantal.

__ADS_1


Sementara Ivan terkekeh melihat Faiz yang kesal.


Hingga tak terasa malam mulai larut dan dua anak manusia itu pun terlelap dalam mimpi mereka masing masing.


__ADS_2