
Kini sudah seminggu lebih setelah Ivan mengetahui bahwa ia bukan anak kandung bapak dan ibu nya, Ivan masih menjalani hari seperti biasa. Ia lebih giat lagi mencari uang untuk mengejar impian nya. Karena ia sadar ia tak mungkin menumpang selama nya pada keluarga yang sudah membesarkan nya itu.
"masih pagi le, udah mau berangkat? " tanya pak Tarman pada Ivan.
"iya pak, biar cepet siap kan cepet pulang. Hehe" jawab Ivan cengengesan
Setelah berpamitan pada pak Tarman Ivan pun pergi menuju peternakan pak Tarno.
Namun saat ditengah jalan ia bertemu dengan Faiz.
"Van, nanti siang gue libur ngamen ya, gue mau kerumah mbah dikampung sebelah" kata Faiz
"oh ya udah, gue juga libur lah, gak enak ngamen sendiri. Hehe" jawab Ivan pula
"atau lo ikut gue aja, mau gak? Sekalian jalan jalan" ajak Faiz
"boleh deh, tapi gue udahin kerjaan gue dulu ya! " ucap Ivan
"oke deh, nanti kalo udah selesai lo kerumah gue aja" ucap Faiz sambil melambaikan tangan nya dan mengayuh kembali sepeda nya.
"oke"jawab Ivan pun juga melambaikan tangan nya.
Ivan pun melanjutkan perjalanan nya. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya dia sampai dikandang sapi pak Tarno. Terlihat suasana masih sepi hanya ada beberapa orang pekerja yang baru datang.
Ivan pun langsung mengambil sapu dan membersihkan kandang sapi , setelah bagian nya selesai dia lalu mengambil ember wadah susu perah nya.
"wah, nak Ivan, rajin bener, masih pagi udah sampek aja" sapa mang Ujang pada Ivan
"hehe, iya ni mang, nanti siang mau ada kerjaan lain soal nya" jawab Ivan ramah
Lalu Ivan pun melanjutkan pekerjaan nya.
"woi bro, cepet amat lo dateng" sapa Bambang
"iyalah, gue kan rajin bang. Hehe" seru Ivan cengengesan
"heleh, bilang aja lo mau kejar setoran biar bisa ngelamar anak orang" ejek Bambang sambil mengambil ember dan mulai memerah susu.
"hehe, tu tau" ucap Ivan
Mereka pun bekerja hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11. Ivan pun meletakkan alat alat nya dan bergegas hendak pulang kerumah Faiz sesuai janji mereka tadi.
"gue duluan ya bang" kata Ivan sambil menepuk pundak Bambang
"cepet amat, ngumpul dulu yuk" ajak Bambang
"sory bang, gak bisa gue, udah ada janji nemeni Faiz kekampung sebelah" kata Ivan menjelaskan
"ooh yauda ,hati hati" kata Bambang melambaikan tangan nya dan dibalas juga oleh Ivan.
Setelah beberapa menit berjalan Ivan pun tiba dirumah Faiz.
"assalamualaikum" ucap Ivan memberi salam
"walaikumsalam, eh nak Ivan udah dateng, masuk dulu gih, makan dulu, tu Faiz lagi makan didalam" ucap ibu Faiz.
"iya bu, kebetulan laper. Hehe" kata Ivan cengengesan.
"woi, sini makan" ajak Faiz dengan mulut penuh.
"kebiasaan lo, mulut penuh ngmong" jawab Ivan sambil mengambil piring beserta nasi dan lauk pauk nya.
Sedangkan Faiz hanya cengengesan menanggapi perkataan Ivan.
Setelah makan dan beristirahat sejenak Ivan dan Faiz pun mulai bergegas berangkat.
"ini semua dibawa kerumah si mbah bu" tanya Faiz sambil mengikat karung berisi sayuran dan hasil panen lain nya.
"iyalah le, wes lama ibu gak ngirimin nenekmu sayuran" kata ibu Faiz.
"yauda, yuk Van berangkat" ajak Faiz
__ADS_1
Dan Ivan hanya mengangguk
Setelah berpamitan pada ibu Faiz, Ivan dan Faiz pun berangkat kekampung sebelah menggunakan sepeda motor Faiz.
Hampir satu jam perjalanan mereka pun tiba disebuah rumah kayu tua namun terlihat asri dan sedap dipandang.
Banyak pohon pohon besar seperti beringin yang mengelilingi rumah itu. Juga sebuah petakan tanaman obat obatan berpagar bambu disebelah rumah.
"kok rame orang Iz" tanya Ivan pada Faiz, Ivan heran melihat ada beberapa orang yang keluar masuk rumah itu.
"ooh itu pasien mbah ku, dia ahli obat tradisional dikampung sini" jawab Faiz sambil mengangkat karung yang berisi sayuran.
"udah yuk masuk" ajak Faiz lagi.
Dan hanya diangguki Ivan.
Mereka pun masuk kedalam rumah itu, terlihat mbah ivan sedang meracik beberapa obat tradisional diatas dipan bambu.
"assalamualaikum mbah" ucap Faiz memberi salam. Dan diikuti oleh Ivan
"walaikumsalam. Oawalah cucuku dateng to, sini le duduk dulu. " titah si mbah pada Faiz dan Ivan
"iki cah ganteng sopo le? " tanya si mbah menunjuk Ivan
"saya ivan mbah, temen nya faiz " jawab ivan ramah menyalami tangan tua Mbah Faiz sembari memperhatikan wanita tua itu, rambut nya sudah putih semua, tersanggul rapi, wajah nya juga sudah keriput dan renta, namun seperti nya dia masih sehat dan kuat.
"oalah, ganteng tenan koe iki. Lah iki gowo opo to, kok akeh tenan? " tanya simbah lagi
"ini titipan dari ibu mbah" kata Faiz
"oo yowes kalian leren dulu dibelakang, mbah mau nyiapin obat sebentar" kata simbah
"obat untuk siapa mbah, ?" tanya Faiz
"untuk orang yang mbah tolong, kasian udah hampir dua tahun dia disini tapi belum ada yang nyariin" jawab si mbah.
"emang dia gak bisa pulang sendiri? " tanya Ivan pula
"mbah nemuin dia dimana? " tanya Faiz
"ada warga seng nemuin dia dibawah jurang dekat danau, terus karena ora ono yang tau kenapa bisa disitu yo digowo kesini" jawab simbah
"kasian nya" timpal Ivan
"iyo, keadaan nya memprihatinkan waktu dibawa kemari, eneng bekas luka bakar, patah tulang, kaki nya juga lumpuh, tapi ya alhamdulilah sekarang wes sembuh, tapi ingatan nya seng belum pulih" kata si mbah menjelaskan.
"pasti keluarga nya kebingungan nyariin" kata Ivan ikut prihatin
"iya, atau mungkin udah dianggap mati. Soal nya udah lama" timpal Faiz pula
"si mbah rasa dia bukan orang biasa le, muka nya guanteng, kulit bersih putih, pakaian yang dipakai waktu dia di temukan juga koyo wong sugeh" ujar simbah
"wah, gue penasaran Van, liat yuk orang nya" ajak Faiz langsung bangkit dari duduk nya dan
Ivan hanya mengangguk
"yowes kono ndelok, wong nge ada dibelakang, biasa nya dia cuma duduk dibelakang ngabisin waktu" ujar simbah
Ivan dan faiz langsung bergegas kebelakang melewati beberapa ruangan dari bilik papan. Saat tiba dibelakang rumah, mereka melihat seorang paruh baya tengah duduk disebuah kursi kayu dengan pandangan kosong melihat kearah danau dekat perbukitan.
Ivan dan Faiz belum melihat wajah nya karena pria itu duduk membelakangi mereka.
"wah bener kata simbah masih gagah Van" ucap Faiz
"yuk kita samperin " ajak Ivan yang mulai penasaran.
"permisi pak, lagi ngapain disini? " tanya Ivan ramah.
Pria itu pun menoleh dan menatap Ivan.
Ivan yang melihat wajah pria itu langsung terdiam. Seketika dia merasakan detak jantung nya tak beraturan. Ada semburat aneh namun hangat saat melihat pria itu.
__ADS_1
Dan Ivan terus menatap dalam pria itu.
"seperti tidak asing wajah nya" pikir Ivan dalam hati
"kalian siapa? " tanya pria itu bersuara.
"kami cucu nya simbah pak, saya Faiz dan ini Ivan? " jawab Faiz memperkenalkan dirinya dan Ivan.
Ivan hanya diam dan terus menatap pria itu.
Sedangkan pria itu juga menatap dalam Ivan. Ada sekelebat memori yang datang dalam fikiran nya.
Namun tiba tiba
Arrggghhh
Teriak pria itu memegang kepala nya yang sakit. Dan sontak itu membuat Ivan dan Faiz terkejut bukan main.
"pak kenapa pak? " tanya Ivan panik
Sementara pria itu terus memegangi kepala nya dan tiba tiba ia jatuh pingsan, dengan cepat pula Ivan menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh ketanah.
"wah Van, pingsan dia Van" ucap Faiz yang juga panik
"udah yok, kita angkat kedalam aja" ajak Ivan.
Mereka pun menggotong tubuh pria itu masuk kedalam rumah simbah.
Simbah yang melihat pria itu digotong pun langsung terkejut.
"kenapa iki to le? " tanya simbah pada Faiz dan Ivan.
"gak tau mbah, tiba tiba aja dia pingsan setelah kami sapa" kata Faiz setelah meletakan pria itu dipembaringan.
"apa dia gaduh sakit kepala tadi? " tanya simbah
Dan langsung diangguki Ivan dan Faiz.
Simbah pun langsung meminumkan obat tradisional nya pada pria itu dengan menggunakan sendok
"wes ra popo. Dia biasa gitu, sering sakit kepala kalau udah inget sesuatu, tapi belum pernah sampek pingsan gini" jelas si mbah.
Ivan yang melihat kondisi pria itu entah kenapa hati nya terenyuh.
"van, kalau gue perhatiin muka nya mirip banget sama lo" bisik Faiz yang melihat ke arah Ivan dan pria itu bergantian.
"ada ada aja lo" bantah Ivan. Walau sejujurnya diapun merasakan hal yang sama.
"bener lo, coba deh perhatiin" bisik Faiz dan langsung kena sikut oleh Ivan.
"wes lah, biar dia istirahat dulu. Kalian juga istirahat kono" ujar simbah
"iya mbah" jawab Ivan dan Faiz bersama.
Ivan dan Faiz pun pergi kebelakang rumah simbah. Sedangkan simbah masih mengurusi pasien yang baru saja datang.
"bener lo Van, mirip banget wajah lo sama bapak tadi" ucap Faiz yang masih membahas kemiripan wajah Ivan dengan pria itu
"kebetulan mungkin" jawab Ivan
"ya mungkin lah ya, tapi kok bisa mirip gitu ya? " tanya Faiz lagi
"mana gue tau, tapi kasian gue liat nya, pasti keluarga nya nyariin keberadaan nya " lirih Ivan. Entah kenapa dia sedih melihat keadaan pria itu.
"iya gue juga, kalau dia terus disini sampek kapanpun pasti gakkan bisa jumpa sama keluarga nya" kata Faiz.
Ivan hanya mengangguk.
Setelah mengobrol beberapa saat Ivan dan Faiz pun meminta izin untuk pulang kerumah.
Mereka kembali mengendarai motor Faiz dengan Ivan yang pikiran nya masih memikirkan pria tadi.
__ADS_1
"kira kira siapa ya pria itu? Wajah nya sungguh gak asing" pikir Ivan dalam hati.