Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kisah Yang Rumit


__ADS_3

Sebelum nya .....


Ivan tertegun ditempat nya berdiri, mata nya memandang nanar kepergian Amel. Hati nya sakit, sungguh sakit, bahkan dia meringis saat jantung nya berdenyut ngilu.


Tanpa sadar jika air mata nya juga ikut menetes.


Perasaan bersalah begitu menyakiti nya saat ini, dia sudah berusaha menjauhi gadis itu, yang dia kira dia bisa dan dengan mudah melakukan nya, karena dia yakin perasaan nya belum jatuh terlalu dalam pada Amelia.


Tapi yang terjadi malah sebalik nya, dia sakit, dia tak tenang, dia risau, hati nya bergemuruh setiap saat seperti memerintahkan nya untuk berlari menemui gadis itu.


Tidak, dia tidak bisa seperti ini, dia benar benar tidak bisa membuat hati nya terluka lagi, dia tidak bisa melepaskan Amelia. Dia tidak bisa melihat tangis gadis itu yang juga terasa menyakiti nya.


Dia sadar sekarang, dia sadar perasaan nya, jika perasaan ini bukan hanya sekedar perasaan nyaman semata, ini beda, ini sungguh berbeda.


Dia tahu, seharus nya dia tahu perasaan ini sejak awal, jika dia ternyata memang benar benar telah, jatuh cinta pada Amelia.


Ivan mencengkram rambut nya dengan kuat bahkan tubuh nya membungkuk karena rasa sakit dan bersalah nya.


aarraaggg


"Amel..... aku mencintaimu ......" teriak Ivan dengan kuat, perkataan yang selama ini membelenggu nya, perkataan yang membuat hati nya lega sekaligus sakit secara bersamaan


"Amel, aku cinta kamu." gumam nya lagi, namun apalah daya, Amel sudah pergi, dan tak lagi mendengar suara nya.


Ivan jatuh terduduk dan menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Dia ingin berlari dan mendekap tubuh gadis itu, tapi yang terjadi malah perkataan Maxwel langsung terngiang dikepala nya, membuat nya merasa benar benar dilema, kecewa, marah namun rasa bersalah benar benar menghancurkan hati nya saat ini.


Ivan menengadah, dan menghapus air mata nya dengan kasar


"apa, apa yang harus gue lakuin, ya Tuhan, gue gak bisa kehilangan dia, tapi gimana papa???"


"aarrfggg" teriak nya lagi


Namun sekali lagi, gambaran wajah hancur Amel dan isakan tangis nya membuat Ivan tak bisa menahan hati nya.


Dia bangun dan langsung berjalan dengan kebingungan, berusaha mencari Amel disekitaran gedung itu.


Dan benar saja, tidak lama ketika dia tiba diarea samping gedung, dia mendengar suara Isak tangis seorang gadis yang terdengar begitu pilu.


Dan Ivan begitu tertegun hingga air mata nya menetes kembali saat dia melihat Amel duduk memeluk lutut dan menangis tersedu sedu disana, diatas lantai berpasir yang kotor bahkan dapat dia lihat tubuh gadis itu gemetaran dan berkeringat karena tangisan pilu nya.


Hati Ivan hancur, benar benar hancur, dia benar benar bodoh dengan perasaan nya sendiri, seharus nya dia sadar jika selama ini dia juga mencintai gadis itu, bukan malah menyakiti nya terus menerus seperti ini.


Ivan berjalan terhuyung kearah Amel yang masih menangis disana, tubuh nya langsung jatuh berlutut didepan Amel dengan tangis yang tak dapat lagi dibendung nya


Amel tampak terkesiap ketika melihat Ivan berada didepan nya.


"maaf, maafkan aku" kata Ivan langsung menarik tubuh Amel kedalam pelukan nya

__ADS_1


"aku... aku benar benar mencintai mu, aku mencintai mu, semua yang kamu tuduhkan tidak benar Mel, semua yang aku lakukan tulus dari hatiku" ungkap Ivan dengan suara yang terdengar begitu bergetar hebat


Amel tertegun, dan dia langsung membalas pelukan Ivan dengan kuat dan kembali menangis disana


"huuuu..... ini, ini perkataan yang bener bener buat Amel senang kak, tapi kakak gak perlu berbohong untuk itu" ucap nya dengan nafas yang terputus putus karena Isak tangis nya


Ivan menggeleng kuat dan mengeratkan pelukan nya, berusaha untuk menyalurkan perasaan nya pada gadis itu


"enggak, ini benar Mel, aku memang jatuh cinta padamu. maafkan aku, maafkan aku yang baru menyadari nya, kamu adalah obat dari segala luka ku, bagaimana mungkin aku gak jatuh hati padamu" ungkap Ivan membuat Amel semakin menangis


"aku juga sakit mengabaikan mu, aku juga tidak tahan berjauhan dengan mu, sungguh kamu adalah candu untuk ku, aku hancur melihat mu hancur, dan aku tak ingin kamu pergi" ungkap Ivan lagi


"aku mencintai mu, benar benar mencintai mu, tidak ada yang lebih menyakitkan ketika berusaha menepis semua perasaan ini Mel"


Amel menengadah dan menatap wajah tampan Ivan yang menatap nya dengan kelembutan walau air mata masih membasahi wajah tampan itu.


Ivan mengusap wajah Amel yang memerah dan basah, mata nya sembab dan hidung nya benar benar memerah


"jangan menangis lagi, maafkan aku. aku tak bisa melihat mu seperti ini. maafkan segala kebodohan ku yang telah menarik ulur hati mu, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti mu, hanya saja aku tak tahu dengan perasaan ku sendiri" kata Ivan


"apa yang membuat kakak yakin dengan perasaan kakak sekarang" tanya Amel dengan suara yang benar benar serak, bahkan Isak tangis nya masih terdengar


"aku yakin sejak aku melihat mu dalam bahaya ketika tenggelam kemarin, aku takut, begitu takut kehilangan mu, rasa nya aku benar benar ingin mati saat itu juga jika aku tak bisa menyelamatkan mu" ungkap Ivan membuat Amel tertegun dengan air mata yang kembali menetes, namun Ivan segera menghapus nya


"dan puncak nya adalah ketika aku mencoba untuk menjauhi mu, sungguh Mel, menjauhi dan mengabaikan mu benar benar membuat ku merasakan patah hati yang kedua kali nya, bahkan ini lebih sakit" lirih Ivan


Ivan menghela nafas dengan berat dan tertunduk, rasa nya dia tak sanggup untuk mengatakan ini, dia tak ingin Amel sedih dan bertambah hancur, ini sama saja membuat nya terbang keawan namun menghempaskan tubuh nya kembali kebumi


"apa ini ada hubungan nya dengan orang tua kakak" tanya Amel pelan , membuat jantung Ivan kembali berdenyut ngilu


"apa mereka melarang kakak untuk dekat dengan Amel" tanya Amel lagi


dan mau tak mau Ivan mengangguk lemah


Amel tertunduk lemas, ya, memang akan seperti ini lagi, dia baru saja merasakan tersiram air dingin, namun sekejap kemudian, air garam kembali menyiram hati nya yang terluka


"aku bahkan tidak tahu harus apa Mel" gumam Ivan mencengkram dada nya yang terasa sesak


Amel tersenyum pedih menatap Ivan, ya, dia tahu, bukan hanya dia yang hancur, tapi Ivan juga.


Mereka terdiam dengan perasaan mereka masing masing, sakit, mereka merasakan sakit untuk yang kedua kali nya. Bahkan Amelia kembali menangis tertahan, begitu pula dengan Ivan.


Ivan bergeser dan terduduk disamping Amel yang masih memeluk lutut nya menangis disana.


Ivan menyandarkan punggung nya dengan lemas didinding gedung yang sudah berlumut.


Hanya suara Isak tangis Amel yang terdengar diarea gedung itu, mereka benar benar tengah menangisi nasib percintaan mereka saat ini.

__ADS_1


"aku baru menemukan kedua orang tua ku, dan baru merasakan kasih sayang dari mereka. Itu benar benar buat aku bahagia" ungkap Ivan sembari menghela nafas nya dengan berat dan mengusap kasar wajah nya yang memerah


"dan kebahagiaan ku bertambah, ketika aku mengenal mu, hanya kamu yang bisa menarik perhatian ku setelah hati ku terluka" kata Ivan lagi. Amelia masih terdiam dengan pandangan yang begitu nanar kearah taman belakang gedung


"aku sungguh tidak ingin memilih diantara kalian, bahkan tidak bisa. Aku benar benar tak bisa Mel" lirih Ivan, membuat Amel kini menatap pedih kearah nya


"selama ini aku hanya membentengi hati ku agar aku tak jatuh cinta padamu, karena ku tahu akan seperti ini jadi nya. tapi semakin aku mencoba menepis nya, rasa ini terlalu dalam Mel. Dan aku benar benar jatuh cinta pada mu" ungkap Ivan menatap lekat wajah cantik nan mungil yang terlihat sendu


Amel merebahkan kepala nya dibahu Ivan, dan Ivan merangkul pinggang Amel.


Mereka benar benar terlihat putus asa saat ini, bahkan untuk tersenyum pun seakan begitu sulit, padahal yang mereka butuhkan hanya lah saling menguatkan seperti yang biasa mereka lakukan.


"kak" panggil Amel


"ya" jawab nya pelan


"terimakasih telah membalas perasaan ini" kata Amel, dan Ivan kini menatap kearah nya dan begitu pun dengan Amel


"hidup tanpa orang tua kandung benar benar membuat luka sendiri dihati, Amel tahu, bahkan Amel mengerti bagaimana perasaan kakak. Kakak masih memiliki kesempatan bertemu dengan mereka, maka hidup lah bersama mereka dengan baik, kasih sayang mereka tak akan bisa diganti dengan apapun didunia ini" ungkap Amel begitu lirih


Ivan menatap lekat wajah itu, sakit sekali rasa nya


"Mel" ucapan Ivan terhenti karena Amel langsung memotong nya


"Amel gak ingin membuat kakak dan orang tua kakak berjarak hanya karena gadis seperti Amel, Amel ingin kakak bahagia" kata Amel dengan mata yang kembali berair


Ivan menggeleng kuat dan menarik Amel kedalam pelukan nya lagi


"kamu juga kebahagiaan ku Mel, aku juga tak bisa tanpa kamu, aku tak akan bisa bahagia, begitu juga kamu" kata Ivan sembari menciumi pucuk kepala Amel


Amel terpejam, dia menangis dalam diam sembari merasakan kenyamanan yang dia dapatkan dalam pelukan Ivan


"Amel sudah cukup bahagia karena perasaan Amel terbalas. Amel tak pernah mengharapkan lebih dari ini kak" jawab nya


"tapi aku tetap tak bisa Mel, aku tak bisa jauh darimu" sahut Ivan cepat. Dia benar benar tak rela


"tapi bagaimana dengan orang tua kakak, mereka benar benar membenci Amel kak" Isak Amel lagi.


Ivan mengeratkan pelukan nya. Dia pun bingung harus berbuat apa, disatu sisi dia benar benar tak sanggup harus berpisah dari Amel, karena hanya gadis itu lah yang bisa memberi kebahagiaan untuk hati nya. Tapi disisi lain, dia juga tak ingin membuat Maxwel kecewa atas pilihan nya ini.


Ya Tuhan, ini benar benar rumit


Mereka kembali terdiam dan masih saling memeluk. Bahkan keringat mereka menyatu, namun itulah yang bisa membuat hati mereka sedikit tenang.


Ingin saling menjauh demi perasaan orang tua, tapi hati sungguh tidak mampu.


Ingin bertahan, tapi tanpa restu orang tua, apa mereka bisa bahagia?

__ADS_1


__ADS_2