Story Of The Twins

Story Of The Twins
Jatuh Cinta vs Jatuh Bangun


__ADS_3

Malam ini Jonathan terlihat sudah rapi dan wangi.  Dengan setelan casual yang dipilih nya membuat gaya dan kharisma nya sungguh mempesona.


Malam ini adalah malam penentuan nasib cinta nya.  Setelah berperang melawan ego nya akhirnya diapun memutuskan untuk memantapkan kejelasan nasib cinta nya dengan gadis manis Karina sesuai perkataan Ivan beberapa hari yang lalu.


"ehm,  ganteng banget anak mama,  mau kemana sih? " tegur Delisha saat Jonathan hendak keluar rumah.  Maxwel,  Delisha dan juga Ivan tengah bersantai diruang keluarga menikmati malam kamis mereka.


"keluar sebentar ma,  pa" pamit Jonathan


"semangat bang! " seru Ivan menggoda sembari mengangkat tangan nya tinggi tinggi membuat Jonathan mencebikan bibir nya menatap Ivan yang langsung cengengesan


"awas jangan sampai hamil ya" goda Maxwel pula


"apaan sih pa,  yasudah Jo pamit dulu" kata Jonathan langsung keluar meninggalkan orang tua nya dan juga Ivan.


Jika berlama lama maka diri nya akan habis menjadi bahan godaan mereka apalagi si usil Ivan,  fikir nya.


"kamu tidak keluar juga Van? " tanya Maxwel pada Ivan yang kini tengah berbaring dipangkuan Delisha.


Entah kenapa dia ingin sekali bermanja manja pada mama nya itu,  mungkin karena ingin mencari ketenangan saat hati nya sedang patah patah nya seperti ini.


"males pa,  pengen sama mama dulu,  boleh kan " jawab Ivan menggoda


Rasa nya memang benar benar tenang saat Delisha mengusap lembut kepala nya.  Ah rasa yang selama sembilan belas tahun ini tak pernah sekalipun dirasakan nya usapan lembut seorang ibu


"haha, pasti kamu lagi patah hati kan,  tidak biasa nya manja seperti itu" ejek Maxwel


"enggak lah, lagi kepengen aja. kan selama ini gak pernah" jawab Ivan dengan mata terpejam sehingga tidak mengetahui raut wajah kedua orang tua nya yang berubah sendu menatap nya. Bahkan mata Delisha terlihat sudah berkaca kaca, namun Maxwel segera menggelengkan kepala nya, memberi kode agar istri nya itu jangan sampai menangis.


Hanya sebuah kalimat sederhana, namun begitu mampu menusuk relung hati mereka berdua.


"jadi kenapa seperti jomblo ngenes begitu.  Lihat abang kamu itu baru lepas dari kandang seperti nya sudah langsung menemukan pujaan hati nya" kata Maxwel mencoba membuat situasi kembali hidup agar istri nya tidak larut dalam rasa bersalah nya


"haha,  kalah pesona Ivan pa" jawab Ivan tergelak


"wajah kalian sama nak, pesona mu juga bisa membuat orang langsung jatuh hati" kata Delisha sembari mengusap lembut wajah Ivan yang masih setia berbaring dipangkuan nya


"tapi bukti nya Ivan memang belum laku tuh" jawab Ivan membuat Delisha dan Maxwel langsung tertawa lucu


"ya,  mama fikir dulu itu kamu yang bakalan kesana kemari pacaran,  secara Jo itu susah untuk bergaul,  eh ternyata mama salah besar rupa nya" kata Delisha menggelengkan kepala nya


"haha,  memang iya ma,  bang jo payah,  udah bebulan bulan deketin cewe tapi belum ditembak tembak juga,  nah ketika Ivan bilang bakal Ivan rebut baru deh tu anak bergerak" sahut Ivan terkekeh mengingat perkataan nya beberapa waktu lalu


"haha,  iseng banget sih anak mama ini" kata Delisha sambil menarik hidung mancung Ivan yang kembali tertawa


"yasudah,  kalau begitu kamu juga harus cari pacar,  jangan mau kalah dengan Jonathan.  Kan enak papa bisa punya dua menantu sekaligus" ucap Maxwel pula


"ya terus nikah nya juga biar sama sama gitu" jawab Ivan yang langsung bangun dari pangkuan Delisha


"tentu saja,  biar menghemat.  Hahhaha" kata Maxwel tertawa melihat wajah kesal Ivan


"ck,  malang banget nasib mama punya suami pelit"bisik Ivan ditelinga Delisha namun masih terdengar oleh Maxwel


"haha,  memang iya,  tuh liat kamu dari tadi manja sama mama papa kamu gak tenang" ejek Delisha pada Maxwel

__ADS_1


"you're my mine sayang" kata Maxwel dengan bangga nya membuat Ivan langsung melengos


"iss nasib nasib jadi orang jomblo" kesal Ivan sembari mencomot kue diatas meja


"haha,  maka nya sana cari pacar."  kata Maxwel santai


"males" jawab Ivan kesal


Membuat kedua orang tua nya hanya terkekeh geli melihat anak anak nya yang sudah dewasa. 


Yang satu sedang jatuh cinta dan yang satu malah merana patah hati.


..


Ditempat lain


Saat ini Jonathan sedang berada didepan rumah Karina.  Dia akan mengajak Karina kesuatu tempat yang sudah direncanakan nya dari beberapa hari yang lalu.


Dengan perasaan gugup tak menentu dia menunggu Karina yang tengah bersiap siap.


Tak terasa tangan putih nya sudah memucat dingin karena menahan perasaan nervous sejak dari rumah tadi.


Tak berapa lama Karina pun keluar dari rumah nya dan langsung menghampiri Jonathan.


Gadis cantik dan manis itu tersenyum manis dan menyapa Jonathan dengan suara lembut nya membuat sang pemilik hati semakin gugup tak menentu.


Jonathan langsung membukakan pintu untuk tuan puteri nya.  Setelah itu dia melajukan mobil nya ketempat yang akan dituju.


Hampir dua puluh menit perjalanan, mobil yang dikendarai Jonathan dan Karina pun tiba disebuah taman yang sudah berhiaskan lampu lampu yang temaram.


Sepanjang jalan Karina menatap kagum dekorasi taman yang menurut nya sangat romantis itu.


Tanaman tanaman hias tinggi berjejer rapi disisi kanan dan kiri,  bunga bunga mawar putih tampak mendominasi area taman.


Lampu kelap kelip yang temaram menambah suasana romantis ditempat itu.


Baik Jonathan maupun Karina sama sama menahan rasa gugup mereka.


Tak pernah terbayangkan sebelum nya dibenak Karina jika Jonathan akan membawa nya ketempat seromantis ini.


"oh tuhan,  apakah ini mimpi,  kalau memang iya sungguh aku tak ingin bangun lagi" kata Karina dalam hati.


Jonathan pun menggandeng tangan Karina untuk mengajak nya duduk dikursi .


Karina menatap lekat wajah tampan menawan yang juga tengah menatap nya.


Sungguh saat ini kedua nya tengah dimabuk asmara. 


Dengan perasaan gugup tak menentu Jonathan memberanikan diri menatap mata gadis manis didepan nya ini.


Digenggam nya erat tangan Karina dengan perasaan penuh cinta.  Oh sungguh ini lebih berat dari pada apapun, batin nya


"Karina Angelina Putri.  Aku mencintaimu.  Sungguh.  Mau kah kamu menjadi milikku mulai malam ini? " tanya Jonathan langsung tanpa basa basi dengan tangan yang sudah bergetar.

__ADS_1


Karina melongo terkejut.  Sungguh demi apapun ini adalah malam yang paling indah dihidup nya.  Jika mungkin malu tak lagi dimiliki nya ingin rasa nya dia berteriak teriak dan meloncat loncat sangking bahagia nya.


Diapun menggenggam erat tangan Jonathan yang tengah bergetar gugup itu. Menunggu beberapa saat hingga Jonathan sudah nampak lemas tertunduk.


"iya kak,  aku mau.  Aku juga cinta kakak" jawab Karina lembut.


Huh hembusan nafas lega Jonathan langsung keluar setelah beberapa saat ia menahan nafas nya.


Mereka berdua sama sama tersenyum manis dan bahagia.  Seolah olah ribuan kupu kupu sedang menjatuhi putik putik bunga sambil menari nari.


"terima kasih,  semoga kamu bisa bertahan dengan ku yang seperti ini" kata Jonathan yang masih menggenggam tangan Karina


"bagaimana pun kakak,  aku tetap cinta,  karena itu pilihan hatiku" balas Karina dengan senyum lembut nya


Malam itu dunia hanya milik mereka berdua.  Mereka menikmati malam romantis itu dengan hati yang bahagia.  Meskipun lebih banyak karina yang mendominasi percakapan namun karena suasana hati yang sedang berbunga tetap bisa membuat kedua nya nyaman nyaman saja.


"kak" panggil Karina pelan


"ya" jawab Jonathan singkat


"apakah kakak tidak malu memiliki kekasih seperti ku? " tanya Karina lembut menatap kelangit


"kenapa harus malu" tanya Jonathan heran


"aku cuma gadis dari kampung kak,  sedangkan kakak lebih dari seorang pangeran" kata Karina yang entah kenapa perasaan takut tiba tiba datang kefikiran nya


"hei,  jangan seperti itu.  Bagiku kamu sudah lebih dari indah" jawab Jonathan dengan senyum manis nya sambil menyibakkan rambut indah karina.  Menatap lekat wajah manis kekasih nya.


"tapi kita berbeda kak,  bagai langit dan bumi.  Lihat saja para fans kakak dikampus,  kita belum jadi aja mereka udah pada heboh,  apalagi kalau orang tua kakak tau,  pasti mereka marah" lirih Karina menunduk


"karin,  dengar aku.  Jangan mengotori fikiran mu dengan hal hal seperti itu. Orang tua ku tidak sejahat itu,  dan tentang anak anak dikampus lambat laun mereka pasti mengerti. Jangan risau,  hm" ucap Jonathan yang masih menggenggam erat tangan Karina.


Karina pun hanya mengangguk dan tersenyum malu.


"kamu cantik jika seperti ini" kata jonathan yang mulai berani menggoda.


Naluri lelaki nya seketika bangkit,  seperti bukan Jonathan yang biasa,  pelit bicara dan terkesan cuek.  Tapi entah kenapa malam ini dia terlihat sangat manis dan romantis dimata Karina.


"kakak,  mulai deh" kata Karina memukul gemas lengan Jonathan yang langsung terkekeh kecil membuat Karina tertegun sesaat karena baru ini melihat tawa Jonathan.


"oh ya kak,  dapet ide darimana tempat romantis kayak gini? " tanya Karina yang masih enggan berpaling dari wajah tampan Jonathan


"dari dDirga,  dia yang ngasi tahu dan mengatur semua" jawab Jonathan jujur


"sudah kuduga. Batin Karina dalam hati


Karina pun hanya manggut manggut. 


"kenapa? " tanya Jonathan


"enggak,  tempat nya bagus.  Kita harus berterima kasih sama kak Dirga" kata karina lagi


"ya seperti nya. " jawab Jonathan cuek

__ADS_1


Dalam hati ia mengiyakan ucapan Karina.  Susah payah ia merayu Dirga untuk menyiapkan acara kencan romantis ini.  Selama beberapa hari Dirga kesana kemari demi mewujudkan impian konyol sahabat nya itu untuk mendapatkan hati sigadis.


Beberapa hari pula ia sudah menghafal kata kata romantis yang akan diutarakan pada Karina.  Tapi setelah bertatapan langsung dengan orang nya,  semua nya seketika buyar


__ADS_2