Story Of The Twins

Story Of The Twins
Hari Pertama Jonathan DiKampung


__ADS_3

Di Wilayah lain ...


Jonathan telah terbangun pagi pagi sekali. Bahkan Sari dibuat heran karena biasa nya Ivan pasti bangun jika hari sudah mulai siang.


Kini Jonathan tengah duduk diteras rumah sembari mengamati keadaan sekeliling rumah Ivan.


Udara yang begitu sejuk karena memang itu diwilayah kaki bukit dekat lereng gunung, suara burung burung yang terdengar saling bersahutan dan suasana yang tenang membuat fikiran nya sedikit tenang.  Meski pagi ini ia sudah mendengarkan omelan Sari yang terkadang tidak dimengerti oleh Jonathan.


Dilihat nya penduduk yang mulai keluar rumah untuk pergi kekebun dengan membawa cangkul maupun gerobak. Baik laki laki maupun wanita, semua berjalan dengan penuh semangat untuk memulai aktivitas mereka.


Anak anak yang mulai pergi kesekolah.  Dan beberapa ternak warga yang mulai berkeliaran.


Beberapa orang juga menyapa Jonathan yang duduk di teras rumah, namun si pangeran es itu hanya menganggukan sedikit kepala nya dan tersenyum tipis. Sangat berbeda dengan Ivan yang menjawab nya dengan ramah.


Sungguh ini adalah pemandangan yang membuat hati nya hangat setelah selama ini hanya terkurung didalam rumah mewah nya.


"masih pagi lagi bang,  melamun aja lo" kata Toni mengejutkan Jonathan


"kamu mau sekolah? " tanya Jonathan namun Toni nampak terkesiap mendengar perkataan Jonathan yang dikira nya Ivan itu yang tidak seperti biasa.


"iyalaah,  mau kemana lagi.  Aneh lo. Bagi duit dong bang,  buat ongkos" pinta Toni menjulurkan tangan nya


Jonathan pun mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dalam saku nya.  Dan langsung memberi kan keToni tanpa bersuara


"wah banyak banget,  makasi bang" kata Toni dan hanya diangguki oleh Jonathan


Toni pun langsung pergi meninggalkan Jonathan


"kesambet apa tu orang ya,  biasa nya ngomel dulu baru ngasi duit, banyak banget lagi.


Tapi perasaan gue dari semalem tingkah nya aneh, tadi juga ngomong nya lain. Berasa kayak bukan Ivan biasa nya" batin Toni.


Setelah kepergian Toni,  Jonathan pun pergi ke peternakan tempat Ivan biasa bekerja setelah berpamitan pada pak Tarman.


Dia berjalan sembari menoleh kearah kiri dan kanan,  mengingat dimana pertigaan yang dikatakan oleh Ivan.


Beberapa menit dijalan tibalah ia disimpang pertigaan.


"kak Ivan mau kerja? " tanya Karina


Jonathan yang terkejut langsung membalikan badan nya. Ditatap nya gadis manis yang menegur nya itu.

__ADS_1


"kak,  kok bengong sih.  Masih pagi lo" ucap Karina dengan senyum manis nya


"eh,  iya.  Mau kerja" jawab Jonathan.


"yauda,  hati hati kak.  Aku jalan dulu" kata Karina sambil berlalu dari Jonathan.  Namun masih sambil memperhatikan wajah tampan Jonathan.


"kok tatapan nya beda ya,  dalem banget" ucap karina dalam hati


"manis" kata Jonathan dalam hati pula


Setelah tersadar dari lamunan nya Jonathan pun melanjutkan perjalanan nya.


Dia mengikuti petunjuk yang dikatakan Ivan.  Tak menunggu lama peternakan yang dituju pun sudah kelihatan karena terpampang sebuah sablon besar didepan gapura .


Terlihat beberapa pekerja yang sudah tiba disana.


Jonathan terpaku melihat peternakan itu. Rasa enggan untuk menginjak tempat itu terasa. Dia meneguk saliva nya melihat banyak nya sapi apalagi bau yang sangat menyengat Indra penciuman nya.


"bagaimana cara kerja nya.  Oh Tuhan" keluh Jonatahan sembari mengusap kasar wajah tampan nya.


"woi Van,  menung aja lo.  Kerja,  biasa paling rajin.  Ini malah celingak celinguk.  Liatin apasih? " tanya Bambang tiba tiba


"yauda ayok mulai kerja,  biar cepet selesai,  " ajak Bambang berlalu pergi


Jonathan pun mengikuti Bambang yang mulai kerja.  Ia meniru cara kerja Bambang.  Dilihat nya Bambang mengambil ember dan memerah susu sapi dengan telaten nya.


Jonathan terdiam,  perasaan gugup,  geli dan jijik melebur jadi satu.


"bagaimana ini,  menggelikan sekali" kata Jonathan sambil memegang ****** sapi dengan perlahan dan tangan yang bergetar jijik. Dia menyentuh ****** sapi tersebut dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.  Di coba nya perlahan lahan seperti apa yang dilakukan oleh Bambang.


Bambang yang menyadari itu pun merasa aneh.


"lo sakit Van,  kok gitu amat lo kerja?.  " tanya Bambang heran.


"eh,  tidak, " jawab Jonathan gugup, sesekali dia mengusap hidung dengan lengan nya, membuat Bambang semakin terheran heran


Setelah sekian lama memerah susu Jonathan dan Bambang pun membersihkan kandang sapi .


Terlihat Jonathan menahan mual mencium aroma busuk kotoran sapi yang sedang ia bersihkan.


Wajah nya mulai memerah dan pucat,  keringat dingin mengucur deras dipelipis nya.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian


"huwekk huweekkk.. " Jonathan tak tahan lagi ia pun memuntahkan semua isi perut nya.


Bambang yang melihat itupun terlihat khawatir.


"astaga Van,  lo kalau sakit pulang aja deh,  biar gue yang lanjutin.  Jangan dipaksain" kata Bambang sambil mengelus pundak Jonathan


"iya bang,  maaf ya.  Mungkin saya memang tidak enak badan.  Tidak apa apa kan saya tinggal? " tanya Jonathan lemas


"iya gak papa.  Yauda pulang lah,  bisa sendiri kan? " tanya Bambang. 


Jonathan pun hanya mengangguk dan langsung berjalan menjauh.  Ia tak sanggup lagi berlama lama ditempat itu


Bambang memperhatikan Jonathan yang dianggap nya Ivan itu dengan perasaan heran.


"kenapa dengan anak itu,  kok beda bener.  Kesambet setan kota kali ya.  Sikap nya beda banget.  Bukan cuma karena gak enak badan lah kayak nya, " batin Bambang masih memperhatikan Jonathan yang sudah berjalan menjauh


Jonathan pun berjalan pulang kerumah.  Namun ia singgah disebuah pondok kosong dipinggir jalan dekat tepi sawah. Dia mengistirahatkan tubuh nya yang terasa lemas karena muntah tadi.


"lama lama bisa mati aku disana,  kenapa Ivan tahan sekali bekerja ditempat itu. " keluh Jonathan sembari mengusap wajah nya dan mengipas ngipas nya dengan topi yang dikenakan nya.


"bagaimana dia dikampus sekarang ya,  apa cuma aku yang ngerasa kesulitan disini? " batin Jonathan sembari memandang area persawahan yang menghijau dan sangat luas seluas mata memandang.


"ini baru hari pertama, tapi rasa nya sudah seperti ini. Benar apa yang dikatakan Ivan, hidup nya tidak mudah" gumam Jonathan


"tapi aku harus bisa, ini keinginan ku, dan aku tidak boleh mengecewakan nya. Aku harus menikmati kebebasan ku yang sementara ini, walau sulit tapi seperti nya kampung ini tidak terlalu buruk" gumam Jonathan lagi


Jonathan pun menghabiskan waktu nya beberapa menit dipondok itu untuk mengistirahatkan tubuh nya yang lelah sembari menikmati alam perkampungan yang masih begitu asri, jauh dari kebisingan dan polusi seperti di ibukota.


...


*jangan lupa tinggalin jejak ya guys ....


like , komen dan vote kalian sungguh mendukung ....


maafkan jika alur nya masih berantakan dan banyak typo ....


..


happy reading*

__ADS_1


__ADS_2