Story Of The Twins

Story Of The Twins
Akhirnya Sah !!!


__ADS_3

Amelia menghapus air matanya perlahan takut takut riasan diwajah nya akan luntur. Dia jadi terbawa suasana tadi, padahal seharusnya dia harus bahagia dihari ini.


Tidak ada orang tua, tidak masalah, mungkin dia tidak seberuntung orang lain diluar sana. Yang dia harus ingat, dia cukup beruntung bersuamikan Ivan. Seorang lelaki baik yang tidak sombong dengan apa yang dimilikinya. Mencintai Amel sepenuh hati, ya, itu sudah cukup.


Amelia tersenyum saat Karina kembali mengusap punggung nya.


"Jangan sedih lagi, ini hari bahagia" ucap Karina


"Maaf, terbawa suasana" jawab Amel


"Enggak apa apa. Ada kami. Gak boleh sedih lagi" kata Karina yang langsung memeluk calon saudara ipar nya itu.


Tiba tiba pintu terbuka, Ibu dan Indah yang masuk kedalam. Karina segera melepaskan pelukan nya dan menoleh kearah mereka.


"Kok habis nangis Mel?" tanya Indah mendekat kearah Amel


"Gak papa kak, kebawa perasaan aja" jawab Amel


"Gak boleh mikirin apa apa ya. Kamu harus kelihatan bahagia hari ini. Calon suami kamu sudah nunggu. Dia ganteng banget" ucap Indah sembari mengusap lembut wajah Amel


"Udah mau mulai?" tanya Amel dan Indah langsung mengangguk


"Setelah ini status kamu berubah, kamu harus bisa jadi istri yang baik untuk suami kamu" pinta Indah


Amel kembali mengangguk, namun dengan mata yang berkaca kaca


"Pasti kak. Terimakasih" jawab Amel yang langsung memeluk Indah dan kembali menangis


Indah langsung memandang Karina yang menggeleng kan kepala nya. Kelihatan nya Amel memang sedang sensitif sekali


"Udah nak, jangan nangis, riasan kamu bisa luntur nanti" kata Ibu Karina yang mendekat kearah Amel. Dia mengusap punggung Amel yang masih memeluk Indah


"Kak Amel sedih, inget dia gak punya orang tua Bu" bisik Karina pada Ibu


Ibu langsung terkesiap dan memandang Amel dengan perasaan sedih.


Dia mengusap punggung Amel yang mulai melepaskan pelukan nya pada Indah, tangis sesunggukkan masih terdengar begitu pilu membuat mereka juga ikut bersedih melihat itu


"Nak, sudah gak boleh sedih. Ada ibu dan mereka semua. Kamu harus bahagia. Harus bisa buat calon suami kamu bangga dan kagum hari ini. Kamu kan gadis yang kuat" kata Ibu menangkup wajah Amel


Amel masih terisak dan berusaha menahan tangis nya, tapi begitu sulit. Tidak tahu kenapa, selama ini dia bisa menahan perasaan nya. Tapi hari ini, rasanya benar benar berat.


"Amel....hiks...Amel sedih Bu" kata Amel yang kembali memeluk ibu dengan erat


Karina, Diana dan Indah yang melihat Amel menangis begitu, juga ikut menetes kan air mata mereka. Pasti berat jadi Amel, dia tidak pernah merasakan punya orang tua, apalagi dihari bahagia seperti ini.


"Kamu sedih kenapa hm?" tanya ibu dengan lembut masih mengusap punggung amel


"Amel sedih, Amel gak ada yang nikahin, bahkan siapa wali Amel aja gak tahu" ungkap Amel begitu pilu


"Nak, jangan difikirkan itu. Enggak apa apa kamu gak seberuntung orang lain. Tapi kamu gak boleh ngelupain kebaikan yang lain nya. Sekarang ada Ibu dan kakak kamu yang jadi keluarga kamu. Nanti setelah menikah, kamu bakalan punya orang tua. Nyonya Delisha dan tuan Maxwel juga akan jadi orang tua kamu nak. Kamu harus bersyukur untuk itu" Ibu memberi nasehat pada Amel. Berharap gadis ini tidak akan bersedih lagi


"Iya, gak boleh sedih. Kamu juga tahu kakak kemarin nikah juga udah gak ada ayah. Bahkan mertua juga udah gak ada. Kamu masih beruntung punya mertua yang lengkap dan sayang sama kamu. Jangan sedih lagi ya" kini Indah yang berlutut didepan Amel. Mengusap wajah adik ipar angkat nya itu dengan pelan.


"Ada kami kak. Kamu gak sendiri" sahut Karina pula


Amelia beralih, memandang mereka satu persatu. Dia mengangguk dengan senyum sendu nya.


Mengusap air mata nya perlahan. Seharus nya dia memang harus bersyukur karena dikelilingi oleh orang orang baik. Dan dia akan mendapatkan mertua yang baik pula nanti. Tapi tetap saja, nama nya juga hati seorang gadis, jika dihari seperti ini dia pasti akan melemah.

__ADS_1


"Maaf" ucap Amel yang masih menyisakan sesunggukkan nya


"Sekarang ayo senyum, masak pengantin baru muram begini." pinta Indah mengusap sekilas wajah Amel dan beranjak berdiri


Amelia langsung tersenyum dan mengangguk


"Kita benerin riasan nya dulu ya. Tadi udah cantik padahal,.malah nangis nangisan. Nanti dikira kak Ivan kami yang buat" kata Karina seraya memandang Diana yang memanggil perias Amel


Amel tertawa kecil dan kembali menghadap kecermin


"Jangan sedih lagi. Harus penuh senyum hari ini. Ibu sama kakak kamu nunggu diluar" ucap Ibu


"Iya, kamu gak boleh kalah pesona sama Ivan. Dia udah ganteng banget" sahut Indah pula


"Iya" jawab Amel.


Ibu dan Indah segera keluar dari ruangan itu. Dan Amel kembali diperbaiki riasan nya. Untung saja riasan yang dipakai adalah riasan yang super mewah dengan kualitas terbaik, sehingga hanya perlu menyamarkan mata sembab nya saja. Dan Amel kembali terlihat lebih segar


"Oke selesai" ucap perias itu


"Sekarang kita keluar ya nona. Udah dipanggil tuh" kata Diana seraya menunjuk seseorang didepan pintu


Amel mengangguk, dia kembali menarik nafas nya dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan. Rasa gugup itu kembali datang sekarang.


"Relaks" ucap Karina


Amelia mengangguk dan segera berdiri dibantu oleh Diana dan perias nya.


Mereka segera berjalan keluar. Dimana didepan pintu ruangan itu sudah terbentang karpet merah yang akan mengantarkan Amelia ketempat dimana Ivan sudah menunggu nya.


Karina dan Diana membimbing jalan Amel dengan perlahan. Mereka juga tidak kalah cantik hari ini, kebaya bewarna putih silver nya membalut indah tubuh mereka. Jika Delisha dan Indah memakai kebaya dengan lengan panjang dan berekor, maka Karina dan Diana memakai kebaya modern dengan lengan pendek dan dengan bahu yang terbuka. Rok batik yang serasi membuat penampilan mereka begitu anggun. Hasil rancangan Amelia memang tidak perlu lagi diragukan.


"Senyum nona" gumam Diana dengan pelan


"Ya, lihat, kak Ivan udah nunggu disana" bisik Karina pula


Amel memandang kedepan, mencoba tersenyum karena kilatan kamera sejak tadi tidak pernah berhenti mengambil gambar mereka.


Maxwel memang sengaja membuat acara ini diabadikan tanpa ada yang kurang. Tapi Ivan dan Amelia memutuskan untuk tidak memperbolehkan wartawan dan paparazi untuk mengambil berita tentang pernikahan mereka. Mereka ingin pernikahan mereka tertutup untuk umum, karena tidak ingin berita mereka kembali heboh. Cukup Jonathan dan Karina saja. Ivan dan Amelia memilih untuk tidak menghebohkan jagad dunia Maya. Dan karena itu Maxwel hanya menyediakan fotografer untuk mengabadikan moment mereka


Amel tersenyum memandang Ivan yang tampak tidak berkedip melihat nya. Lelaki itu sangat tampan dengan pakaian putih nya. Duduk dengan penuh pesona dan begitu gagah dikursi tempat mereka akan mengikrarkan janji suci.


Tapi Amel tidak tahu, jika sekarang jantung Ivan begitu bergemuruh duduk dikursi itu. Kursi panas yang akan menentukan nasib hidupnya kelak. Sudah beberapa kali dia menghela nafasnya. Mencoba meredam kegugupan nya. Namun rasanya mustahil, dia benar benar gugup sekarang. Bahkan dia juga merasa ruangan yang dingin ini membuat perut nya mulas dan berasa ingin buang air sangking gugupnya.


Delisha dan Maxwel yang melihat itu cukup khawatir sebenar nya. Apalagi melihat wajah Ivan yang sedikit pucat.


Delisha beranjak dari duduk nya, sebagai ibu dia benar benar merasakan apa yang dirasakan oleh Ivan.


Ivan menoleh saat Delisha mengusap pundak nya


"Tenang, banyak beristighfar. Lihat Amel sudah datang. Dia cantik sekali. Kamu harus bisa untuk menjadikan nya istrimu. " bisik Delisha


Ivan kembali menghela nafas nya, dia mengangguk dan tersenyum tipis pada mama nya itu.


Bahkan untuk tersenyum pun dia sudah merasa tidak sanggup


"Doain Ivan ma" pinta Ivan dan Delisha langsung mengangguk dan tersenyum seraya mengusap sekilas wajah putra nya


Delisha beralih, dan kini bergantian Maxwel yang menepuk pundak nya

__ADS_1


"Kamu harus bisa. Bukankah ini yang kamu tunggu" bisik Maxwel pula seraya menepuk pundak Ivan


"Doain Ivan pa" pinta Ivan pula


"Tentu. Kamu pasti bisa" kata Maxwel dan kembali duduk ditempat duduk nya


Kini Ivan beralih pada Jonathan yang duduk tidak jauh dari tempat nya


"Semangat" kata Jonathan seraya mengangguk kan kepala nya pada Ivan


Ivan hanya tersenyum dan mengangguk. Faiz juga tidak mau kalah, dia juga mengepalkan tangannya dan memberikan semangat pada Ivan. Baru kali ini Faiz melihat Ivan gugup begitu.


Ivan menarik nafas nya kembali dan menoleh kearah Amelia yang sudah mulai mendekat kearah nya. Wali hakim yang akan menikahkan mereka juga sudah duduk didepan Ivan, disusul oleh KUA dan dua orang saksi lain nya. Yang menjadi saksi adalah pak Tarman dan seorang dari pihak Andrean. Sedangkan Andrean sendiri duduk berdampingan dengan Maxwel.


Seluruh keluarga dan kerabat dekat sudah berkumpul disana. Mereka ingin menyaksikan akad nikah Ivan dan Amelia.


Ivan langsung tersenyum merekah melihat Amel yang sudah tiba dihadapan nya. Dia bahkan langsung berdiri dan menarik kursi untuk Amel. Calon istrinya ini begitu cantik dan tampak berbeda.


Membuat hati Ivan sedikit lebih tenang, dan lebih bersemangat untuk bisa mengucapkan ijab Kabul nya dengan lancar.


"Cantik" bisik Ivan. Amelia langsung merona malu melihat nya.


Karina dan Diana kembali kekursi mereka dimana Faiz dan Jonathan duduk


Ivan lagi lagi menarik nafas nya dalam dalam saat pak KUA mulai membuka suara nya. Debaran jantung Ivan semakin menggebu dan berdenyut ngilu saat dia ditanyai beberapa hal oleh orang itu. Namun sebisa nya dia menjawab dengan baik dan penuh keyakinan.


Semua orang yang ada disana tampak begitu tegang menantikan ikrar suci yang akan diucapkan oleh Ivan. Mereka semua berdoa dalam hati semoga saja akad nikah ini lancar, mengingat Ivan yang begitu gugup.


Wali hakim menjulurkan tangan nya pada Ivan, dan sebelum menjabat tangan itu, lagi lagi Ivan menarik nafas nya dalam dalam. Mungkin jika persediaan oksigen dalam tubuh nya bisa dihitung, pastilah sudah habis sekarang. Karena entah sudah berapa kali dia seperti itu.


Amelia yang duduk disamping Ivan juga begitu gugup dan tegang. Dia menunduk dengan hati yang terus menerus berdoa semoga semua berjalan dengan lancar.


Semua orang terdiam dan memandang dengan begitu serius menantikan akad itu


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Jovankha Alexander Agueenno dengan Amelia Kasyafani dengan mahar emas senilai 575 gram dibayar tunai"


Jabatan tangan itu terhentak membuat Ivan langsung menarik nafas nya dalam dalam dan ...


"Saya terima nikah dan kawin nya Amelia Kasyafani dengan mahar emas senilai 575 gram dibayar tunai......" seru Ivan dengan segenap keyakinan nya


"Bagaimana saksi? Saah????" tanya KUA itu


"Sah!!!!" teriak semua orang yang ada didalam sana bahkan suara pak Tarman dan saksi yang lain sampai kalah


"Alhamdulillah akhirnya sah" seru Ivan begitu lega


Dia langsung memandang Amel yang sudah menjatuhkan air matanya dan tanpa sadar mereka malah saling berpelukan dan sama sama menangis haru


"Sah yang, kamu udah jadi istri aku sekarang" kata Ivan yang tidak bisa untuk menahan air mata bahagia nya


"Makasih .. makasih banget" gumam Amel


Semua yang ada didalam sana tampak menggelengkan kepala mereka melihat Ivan dan Amelia yang begitu bahagia hingga melupakan mereka


Maxwel dan Andrean saling pandang canggung melihat kedua orang itu. Sedangkan yang lain malah tertawa dan juga merasa terharu melihat mereka


"Ehemm... wes to nak. Berdoa dulu" ucapan pak Tarman langsung membuat Ivan dan Amelia terkesiap kaget. Mereka langsung melepaskan pelukan mereka dan memandang orang orang yang nampak tersenyum menggoda. Membuat Ivan dan Amel langsung tersenyum canggung dengan wajah yang merona malu


"Maaf, kelepasan" jawab Ivan dengan polosnya seraya mengusap air mata bahagia nya

__ADS_1


__ADS_2