
Dirga memarkirkan mobil nya tepat didepan butik Amelia yang terlihat begitu besar dan megah. Bertepatan dengan mobil Ivan yang juga baru tiba ditempat itu bersama Faiz.
Belum sempat Dirga turun dari mobil, Karina sudah lebih dulu membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Jonathan yang memandang nya dengan heran, namun juga kesal.
Jonathan juga ikut turun dari mobil dan menutup pintu itu dengan kuat membuat Dirga yang ingin menghampiri nya nampak terlonjak kaget.
Ivan yang baru turun dari mobil mendekat kearah Jonathan, namun dia memandang Jonathan dengan heran karena kakak nya itu tampak melengos dan mengabaikan nya.
Kepala Ivan masih terus memandang Jonathan hingga pria itu menghilang dibalik pintu
"Kenapa tuh?" tanya Ivan pada Dirga yang terlihat begitu frustasi wajah nya
"Biasa kumat lagi" jawab Dirga dengan helaan nafas yang panjang
"Berantem?" tanya Ivan dan Dirga langsung mengangguk. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam butik dan disambut oleh beberapa orang karyawan Amelia.
"Iya, tuan bos tadi ngamuk lagi dikantor, Karina ngebelain karyawan itu, jadi debat deh mereka" jawab Dirga
"Biasa nya bang Jo ngalah terus" kata Ivan heran
"Yang dibela ini manajer perusahaan yang suka sama Karina dulu" sahut Dirga
"Ooooo, pantesan. Yah, selamat menikmati hari yang berat ya" ejek Ivan sembari menepuk pundak Dirga yang tampak mendengus kesal.
Ivan langsung berjalan meninggalkan Dirga menuju tempat dimana Amelia dan ibu nya berada. Delisha sudah sejak tadi berada dibutik itu, dia ingin memastikan semua nya berjalan dengan lancar.
"Hai ma" sapa Ivan yang langsung menyalami punggung tangan Delisha yang tersenyum melihat nya
"Mama kira kamu bakal lama datang nya" kata Delisha
"Enggak dong, kerjaan gak begitu banyak, jadi bisa ditinggal" jawab Ivan dan Delisha hanya tersenyum dan mengangguk, dia kembali memeriksa kembali gantungan pakaian keluarga yang telah selesai dijahit oleh karyawan Amelia.
Ivan kini beralih kearah Amelia yang terlihat menyambut nya dengan senyum nya yang begitu manis, hingga rasa lelah setelah seharian bekerja langsung sirna begitu saja. Apalagi setiap hari Amelia semakin terlihat cantik dan menggemaskan membuat Ivan sudah tidak sabar untuk menikahi nya
"Sayang" panggil Ivan sembari mengecup singkat pipi gadis itu. Amelia langsung melebarkan mata nya dan melirik kearah Delisha yang sedang sibuk dengan pakaian pakaian nya.
"Iiiiih yang, malu tahu diliat mama" bisik Amelia dengan wajah merona
"Biasa aja Mel, mama udah biasa lihat nya" sahut Delisha tiba tiba, Amelia langsung tertawa canggung dengan wajah yang semakin merona malu. Sedangkan Ivan hanya tertawa santai dan menghempaskan tubuh nya diatas sofa, tepat disamping Delisha.
"Mama tahu aja" gumam Ivan
"Tahu lah, kamu kan begitu, kayak soang, nyosor mulu kerjaan nya" jawab Delisha, membuat Ivan langsung terbahak
"Tega mama, anak sendiri dikatain soang" sahut Ivan
"Memang iyakan. Hati hati aja kamu Mel, kalau udah nikah makin ganas soang nya nanti. Kamu perlu pakai pelindung" kini Delisha beralih pada Amelia yang sedang menuangkan air dingin kedalam gelas yang disediakan karyawan nya untuk Ivan. Wajah Amelia masih merona, dia begitu malu sebenar nya membahas percakapan seperti ini, tapi karena memang sudah biasa dan Ivan yang terkadang random, jadi dia tidak begitu canggung lagi
"Kayak nya iya ma, nanti Amel mau sediain baju baja anti soang" sahut Amelia. Delisha langsung tertawa mendengar nya, dia menampar sekilas bahu Ivan yang tampak menatap kesal Amelia
"Tuh denger" ucap Delisha
"Coba aja, Ivan udah punya senjata yang ampuh dan pasti bisa nembus baja setebal apapun" jawab Ivan begitu angkuh, Delisha semakin terbahak mendengar nya, karena dia mengerti apa yang dimaksud oleh Ivan. Sedangkan Amelia menatap nya dengan heran.
"Senjata apa?" tanya Amelia
"Ada deh, nanti kalau udah nikah kamu pasti tahu" jawab Ivan sembari memainkan alis nya. Amelia langsung menghela nafas jengah melihatnya.
__ADS_1
"Udah deh, sakit perut mama ketawa terus. Tuh abang mu kenapa lagi? baru dateng wajah nya udah ditekuk?" tanya Delisha sembari menunjuk Jonathan dengan dagu nya
Ivan langsung menoleh kebelakang dan memandang Jonathan yang duduk sendiri disudut ruangan, dia sedang memainkan ponsel namun dengan wajah datar dan begitu kusut.
"Karina nya kemana?" tanya Ivan pula, dia menatap Amelia yang sedang membantu Delisha memisahkan pakaian mereka
"Tadi kekamar mandi. Tahu deh kenapa lama" jawab Amelia
"Kata Dirga mereka lagi berantem" ucap Ivan
"Biasa itu, nama nya juga mau nikah, pasti ada aja ujian nya. yang penting harus sama sama sabar dan pengertian" jawab Delisha, dan Ivan hanya mengangguk saja sembari meminum air dingin nya
"Kalian juga kalau ada masalah gak boleh berlarut larut, biasa nya kalau mau nikah pasti ujian nya lumayan berat, apalagi kalau kita udah lelah nyiapin persiapan kayak gini, pasti ada aja yang buat gak enak hati" ungkap Delisha menatap Ivan dan Amelia bergantian
"Iya ma" jawab mereka bersama
"Coba kamu lihat Karina, udah selesai belum. Biar dilanjut aja cobain baju nya" ujar Delisha pada Amelia yang langsung mengangguk patuh
"Oke ma" jawab Amelia yang langsung pergi menuju toilet dimana Karina berada
"Kamu temani abang mu sana, jangan sampai dia buat masalah disini, mana jelek banget lagi wajah nya" kata Delisha pada Ivan
"Kalau wajah dia jelek, gimana dengan wajah Ivan ma, wajah kami sama" sahut Ivan membuat Delisha terkekeh kecil. Dia kembali memukul gemas pundak Ivan
"Iya, mama lupa. Yauda sana pergi" usir Delisha
Ivan terlihat begitu enggan beranjak dari tempat duduk nya, namun mau tidak mau dia tetap bangun dan berjalan menuju tempat dimana Jonathan berada. Mata nya mengedar mencari dimana keberadaan dua asisten gila mereka itu, bukan nya disini malah menghilang entah kemana.
Ivan menghempaskan tubuh nya tepat disamping Jonathan yang hanya diam dan tidak mengindahkan kehadiran nya sama sekali.
"Hmm" gumam Jonathan dengan nada yang begitu dingin. Ivan langsung meraba tengkuk nya yang terasa meremang sekarang, seperti nya abang nya ini sedang emosi tingkat dewa.
"Ada masalah?" tanya Ivan sedikit ragu, bagaimana pun dia lebih memilih merayu Maxwel dari pada manusia es ini. Salah sedikit maka dia akan terkena imbas nya, terkadang Ivan begitu heran, kenapa Karina bisa begitu tahan dengan sikap Jonathan ini.
"Tidak" jawab Jonathan singkat tanpa mau menatap wajah Ivan yang tegang sekaligus kesal. Dia sudah seperti berbicara pada batu bernafas sekarang. Ivan kembali mengedarkan pandangan mata nya berharap Dirga datang dan membantu nya mencairkan makhluk es ini, atau apa perlu Ivan membawa air panas?
"Terus kenapa begitu muka? Mau menikah lo ini, harus lebih relaks lah, jangan sampai cepet tua sebelum buka segel" ucap Ivan, namun dia kembali terkesiap dan menjauh saat tiba tiba Jonathan menoleh kearah nya dengan wajah yang kesal bahkan terlihat begitu mengerihkan bagi Ivan
"Astaga, jangan begitu amat mandang gue" seru Ivan
"Pergi sana. Berisik" usir Jonathan kesal, namun Ivan langsung mendengus dan menoleh pada Karina yang baru datang bersama Amelia.
"Lama banget sih Rin, jangan sampai butik adik ipar mu ini rata dengan tanah ya" kata Ivan pada Karina yang langsung melirik Jonathan yang tampak tidak memperdulikan nya
"Maaf kak, kebelet" jawab Karina singkat
Ivan langsung berdiri dan menarik lengan Amelia yang menatap nya bingung
"Urus tuh manusia es kamu. Ngerih banget deket dia lama lama" bisik Ivan pada Karina namun masih terdengar ditelinga tajam Jonathan
Karina hanya tersenyum getir dan lebih memilih duduk didepan Jonathan sembari membuka ponsel nya. Tentu saja itu semakin membuat Jonathan kesal. Dia memandang Karina dengan tajam dan mengintimidasi, namun Karina hanya acuh saja
"Apa ponsel itu lebih berharga daripada aku yang ada didepanmu?' tanya Jonathan
"Diajak ngomong juga kakak marah marah terus. Jadi lebih baik diam kan, ponsel lebih bisa buat senang hari ini" jawab Karina sedikit ketus
Jonathan masih menatap nya dengan lekat
__ADS_1
"Lihat aku kalau sedang berbicara" ucap Jonathan, dan dengan malas Karina langsung memandang Jonathan dengan wajah yang juga datar tanpa senyum seperti biasa
"Mau kamu apa, kenapa marah tanpa sebab begitu" tanya Jonathan
"Mau kakak yang apa, yang marah tanpa sebab juga kakak kan" sahut Karina pula
"Kenapa jadi aku?" tanya Jonathan tidak suka
"Memang iya. Kakak marah Karin belain mereka, padahal niat Karin baik, Karin gak pengen kakak itu semena mena sama karyawan, Karin pengen kakak dihormati karena sikap bijaksana kakak sebagai pemimpin, bukan dihormati karena mereka takut sama sikap angkuh kakak itu" ungkap Karin begitu menggebu hingga mata nya tampak berkaca kaca sekarang
"Tapi kakak malah mikir nya lain, siapa coba yang gak kesel!" seru Karin. Dia memalingkan wajah dan mengusap kasar air mata yang menetes diwajah nya
Jonathan terlihat menarik nafas nya dalam dalam, apa dia yang terlalu berlebihan batin nya.
"Tapi aku gak suka kamu belain menejer itu" ungkap Jonathan dengan pandangan yang mulai melembut
Karin kembali menatap Jonathan dengan heran
"Karin gak belain dia, Karin belain Guntur. Kakak ini kenapa sih. Danil bukan level kakak untuk dicemburuin" sahut Karin begitu kesal. Bisa bisa nya hanya karena cemburu Jonathan membuat nya sekesal ini.
"Kamu itu milik aku, jelas aja aku gak suka kamu belain orang lain" jawab Jonathan, seperti nya mereka lupa sedang berada dimana sekarang.
"Terserah, capek ngomong sama orang yang gak pernah mau salah" dengus Karina, mata nya masih berkaca kaca, dan Jonathan sebenar nya juga merasa bersalah melihat nya, tapi rasa kesal dengan gengsi nya begitu tinggi.
Jonathan kembali menarik nafas nya dalam dalam, dia ingat, ketika Karina sakit dan kecelakaan beberapa waktu lalu, dia begitu takut kehilangan gadis ini. Tapi sekarang dia malah membuat Karin memangis.
Jonathan beranjak dari duduk nya, namun Karin yang masih kesal dan menahan tangis hanya diam dan tidak ingin melihat nya. Tapi tiba tiba saja dia terkesiap saat Jonathan duduk disamping nya dan menarik tubuh Karin masuk kedalam pelukan nya.
Karin memberontak, namun Jonathan semakin mengeratkan pelukan nya
"Maaf" ucap Jonathan begitu pelan membuat Karin langsung terdiam dan membiarkan Jonathan memeluk nya
"Aku kesal karena aku tidak bisa melihat mu dekat dengan orang lain. Aku sayang kamu Karin, maafin sikap ku" ungkap Jonathan sembari mengecup pucuk kepala Karina yang membeku ditempat
Karina mendongak dan menatap wajah tampan yang terlihat sudah lebih manusiawi itu.
"Karin cuma pengen kakak hilangin sikap angkuh dan semena mena kakak, Karin pengen calon suami Karin jadi orang yang bijaksana dan gak jahat lagi" pinta Karin dan Jonathan langsung mengangguk dengan senyum tipis nya
"Iya" jawab nya
"Janji?" pinta Karin dan Jonathan langsung mengangguk
"Tapi kamu juga janji jangan mengabaikan aku lagi" kata Jonathan pula
"Janji" jawab Karina yang kini membalas pelukan Jonathan.
Sementara dibalik tirai yang menyekat diantara ruangan itu, ada tiga pasang mata yang mengintip kemesraan mereka. Mereka tampak berdiri sejajar dengan Ivan yang berada ditengah
"Berasa nonton telenovela" ucap Ivan
"Sweet banget, happy ending" gumam Amelia pula
"Kenapa jadi ngintipin mereka coba" gumam Delisha yang baru sadar, Ivan dan Amelia langsung tertawa melihat mama mereka itu
"Gara gara kalian ini, bukan nya fitting baju malah liat drama" gerutu Delisha
"Lah, mama sendiri yang ngikut kami, kenapa mama yang jadi marah" kata Ivan dengan tawa lucu nya
__ADS_1