
Ivan pulang lebih awal hari ini. Dia baru saja tiba dirumah utama dan langsung berlari menuju kamar nya untuk membersihkan diri. Hari sudah hampir Maghrib dan dia ingin makan malam bersama keluarga nya. Sudah sangat lama mereka tidak quality time bersama. Apalagi besok Jonathan dan Karina akan berbulan madu selama dua Minggu kedepan.
Ivan mandi dengan cepat, dan setelah bersih dan rapi dia keluar dari kamar nya hanya dengan setelan santai, celana pendek dan baju kaos biasa.
Ivan keluar kamar bertepatan dengan Jonathan dan Karina yang juga baru keluar dari kamar mereka.
"Dih penganten baru muka nya seger terus" goda Ivan yang berjalan menyamai langkah Jonathan
"Tumben kamu cepat pulang?" tanya Jonathan melirik Ivan sekilas
"Hmm udah kelar semua. Capek tahu diperusahaan terus, mana gak ada Amelia lagi" jawab Ivan dan Karina langsung tertawa kecil mendengar nya
"Sabar kak, gak nyampek sebulan lagi kok" sahut Karina. Ivan langsung mengangguk setuju dan tersenyum senyum sendiri. Mereka berjalan masuk kedalam lift yang menghubungkan kelantai bawah
"Bener, gak sabar banget gue" gumam Ivan yang tersandar didinding lift dengan mata yang berbinar
"Jangan senang dulu. Awas aja kamu kalau tidak bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar, itu ujian terakhir" jelas Jonathan
"Cuma ngucapin gitu doang" kata Ivan meremeh
"Sepele, kamu akan merasakan nya besok. Lebih parah dari pada berhadapan dengan ribuan klien berwajah dingin" jawab Jonathan yang menarik lengan Karina keluar
"Beneran apa?" tanya Ivan yang mengikuti langkah Jonathan yang mengangguk
"Kamu yang paling tahu bagaimana gugup nya aku kemarin" jawab Jonathan
"Iya, untung bisa ya" sahut Karina pula
Jonathan mengusap lembut pucuk kepala Karina. Sementara Ivan tampak terdiam dan memikirkan sesuatu. Benar juga, Jonathan jarang sekali tampak gugup, dan hanya sewaktu pernikahan mereka saja dia begitu gugup, mungkinkah separah itu?
Sewaktu lamaran saja Ivan sudah gugup dan cemas. Lalu jika pernikahan nanti lebih parah, bagaimana jadi nya
"Berarti mulai dari sekarang aku harus belajar menghafal dong" ucap Ivan tiba tiba membuat Jonathan dan Karina langsung menoleh kearah nya
Jonathan langsung mengangguk dan mendekat kearah Ivan sedikit
"Benar, jika kamu tidak bisa mengucapkan nya dengan lancar, maka tutorial membuat bayi akan sia sia" bisik Jonathan
"Enak ya bang?" bisik Ivan pula
"Sangat nikmat" jawab Jonathan
"Heh, bisik bisik apa sih" tanya Karina membuat Jonathan dan Ivan saling tertawa geli
Mereka sudah tiba diruang makan, Ibu Karina, Delisha dan Maxwel sudah duduk menunggu mereka disana
__ADS_1
"Selamat malam semua" sapa Ivan dan Karina sembari duduk dikursi mereka masing masing
"Selamat malam anak anak mama. Kita mulai makan saja ya" ajak Delisha
"Iya, perut Ivan udah laper banget" jawab Ivan sembari meraih piring nya dan menatap lauk yang ada diatas meja
"Wah tumben bener ini masakan kampung semua" kata Ivan yang melihat ada bebek panggang, opor ayam, ikan goreng, tempe tahu goreng, rebusan dan pasti nya sambal terasi. Membuat perut nya langsung berbunyi dengan keras
"Iya mama minta ibu besan masak ini, selagi ada disini kan" jawab Delisha yang melayani makanan Maxwel
"Ini mah makanan kesukaan Ivan dulu ya nak" sahut ibu Karina pada Ivan yang langsung mengangguk antusias
"Bener Bu, udah lama gak makan sambel terasi. hehe" jawab Ivan
"Maka nya mama minta buatkan ibu" kata Delisha lagi. Dan Ivan hanya mengangguk saja sembari mata nya yang melirik sepasang pengantin baru yang asik sendiri. Karina tampak melayani Jonathan dengan telaten, mengambilkan nasi dan lauk kepiring suami nya
"Enak bener kalau udah punya istri ya, makan aja dilayani" sindir Ivan sembari mengambil nasi dan lauk nya sendiri
Karina dan Jonathan langsung menoleh pada nya dan tertawa kecil
"Bentar lagi kak" sahut Karina
"Semua dilayani Van, kamu udah gak sabar ya" goda Maxwel dan Ivan langsung mengangguk
"Iya lah pa, lihat papa sama bang Jo buat iri aja. Nunggu sebulan berasa nunggu setahun" jawab Ivan membuat mereka yang ada di meja makan langsung tertawa lucu melihat nya.
"Udah sabar kok ma. Lihat badan Ivan makin lebar gini karena terus sabar" jawab Ivan
"Itu bukan karena kesabaran kamu. Tapi karena kamu yang kerjaan nya makan terus. Hati hati saja baju pengantin mu tidak muat nanti" ucap Jonathan. Ivan yang sedang ingin menyuapkan nasi kemulut nya langsung terhenti dan tidak jadi.
"Kan belum besar banget juga" protes nya
"Masih ada sebulan, kalau kamu tidak jaga pola makan, kamu yang susah nanti nya. Kamu tidak lihat calon istri kamu yang begitu mungil" timpal Maxwel pula
"Emang nya badan Ivan udah besar banget ya" tanya Ivan sembari membandingkan tubuh nya dengan Jonathan. Meski masih berbentuk dan bagus, tapi memang lebih berisi tubuh Ivan sedikit
"Belum sayang, maka dari itu kamu harus jaga pola makan" jawab Delisha
"Palingan nanti kalau kamu gendut, neng Amel gak keliatan dipelaminan" ejek Ibu Karina pula
"Yaah, iya deh iya , Ivan bakal diet. Tapi mulai besok malam lah. Malam ini sayang dilewatkan" jawab nya sembari menyuap kembali makanan kedalam mulut nya membuat semua orang hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan nya. Ivan sudah dewasa sekarang, bukan anak remaja yang berusia belasan tahun lagi, tapi kelakuan nya selalu bisa menjadi mood tersendiri untuk orang orang terdekat nya.
Malam itu suasana dimeja makan terasa begitu hangat dan menyenangkan. Hanya ada candaan dan godaan untuk Ivan dan sepasang pengantin baru yang masih tampak malu malu.
Hingga diakhir pembicaraan, suasana sedikit berubah.
__ADS_1
"Jadi kamu yang akan pergi besok lusa untuk meninjau proyek baru di Kalimantan?" tanya Maxwel saat Ivan memberi tahu tentang pelaksanaan proyek baru mereka
"Iya pa" jawab Ivan
"Kenapa tidak diwakilkan saja Van, ini sudah dekat dengan hari pernikahan kamu" kata Jonathan pula
"Gak bisa di wakilkan, Abang kan tahu kalau itu proyek besar. Salah satu dari kita harus ada yang kesana. Aku juga udah bilang, tapi klien disana gak percaya kalau tidak kita sendiri yang turun langsung" jawab Ivan
Delisha tampak memandang Maxwel dengan wajah keberatan
"Kenapa mendadak sekali" gumam Maxwel yang juga bingung. Pasal nya dia juga menyetujui tentang keberangkatan nya ke Amerika pada klien disana, dipending juga tidak mungkin karena disana adalah proyek baru dengan bajet yang lumayan besar
"Yasudah, bulan madu kami saja yang diundur. Tidak masalah kan?" kini Jonathan beralih pada Karina yang mengangguk setuju namun Ivan langsung mencela nya
"Eh, jangan, mana boleh gitu. Besok udah tinggal berangkat kok malah diundur. Nanti gagal dong papa sama Mama dapet cucu cepat" jawab Ivan langsung
"Tapi hari pernikahan kamu sebentar lagi Van" kata Jonathan
"Iya nak, mama cemas kalau kamu pergi" sahut Delisha juga
"Yasudah, biar papa yang pergi" jawab Maxwel
"Loh jadi gimana proyek baru disana" tanya Ivan pula
"Tidak apa apa lah, mudah mudahan bisa diundur" jawab Maxwel lagi
"Sayang lah pa. Ivan gak apa apa kok pergi. Ivan usahain cepat kelarin nya supaya seminggu udah bisa pulang" sahut Ivan
"Apa gak bisa tiga hari aja nak" tanya Delisha pula
"Gak bisa ma, ada banyak kendala disana, maka nya salah satu dari kami harus ada yang pergi. Paling cepat seminggu" jawab Ivan
"Yasudah, papa tidak lama di Amerika. Nanti papa akan menyusul kamu jika pekerjaan papa sudah beres" kata Maxwel pula dan Ivan langsung mengangguk setuju
"Kamu serius mau pergi Van?" tanya Jonathan lagi. Dia sedikit merasa tidak enak hati kali ini. Entah apa
"Iya bang, gak papa, biar aku aja. Kalian nikmati aja waktu bulan madu kalian, jangan sampai lupa pulang" jawab Ivan membuat Jonathan langsung menghela nafas pasrah.
Ibu Karina hanya diam saja, sebenar nya dia tidak setuju jika Ivan pergi, karena menurut kepercayaan orang kampung, jika ingin menikah pasti ada saja ujian nya, apalagi Ivan pergi jauh, dia benar benar takut terjadi sesuatu.
"Jadi kapan kamu akan berangkat?" tanya Maxwel pula
"Lusa pa" jawab Ivan
"Usahakan cepat pulang ya nak" kata Delisha pada Ivan. Dia sesungguh nya berat. Tapi bagaimana lagi
__ADS_1
"Iya ma, aman. Ivan kan juga pengen kawin. Gak mungkin dilama lamain disana" jawab Ivan dengan tawa kecil nya.