Story Of The Twins

Story Of The Twins
Pusing


__ADS_3

Setelah berkendara selama beberapa jam akhirnya ivan dan kang Tejo tiba dirumah Ivan.


Setelah ngobrol ringan dengan kang Tejo dan bapak nya Ivan masuk kekamar nya dan langsung mandi untuk membersihkan diri nya yang sudah sangat gerah dan kotor.


Setelah mandi ia pun langsung membaringkan tubuh nya diatas ranjang nya.


Memikirkan setiap kejadian aneh yang dialami nya membuat nya merasa pusing sendiri.


Ia mencoba memejamkan mata nya namun belum juga bisa terlelap.  Ia kembali teringat dengan sosok pemuda yang dijumpai nya siang tadi.


"siapa dia,  kenapa muka nya mirip banget sama gue,  gila ya,  gak habis pikir gue" batin Ivan dalam hati.


"apa jangan jangan gue punya kembaran ya?,  ah tapi ya gak mungkin kan" kata Ivan menerka nerka


"kalau dia kembaran gue,  kan gak mungkin gue dibuang sedangkan dia aja nampak nya hidup enak,  gaya nya juga orang kaya banget" gumam Ivan lagi.


"tapi ngeliat dia tadi kok gue berasa seneng ya, berasa pengen ketemu lagi, " pikir Ivan heran.


" ah pusing gue" lirih Ivan dan mencoba memejamkan mata nya lagi.


Sementara di tempat lain


..


Jonathan tengah berbaring diatas kasur mewah nya.  Pikiran nya menerawang jauh mengingat kejadian siang tadi.


"siapa ya,  wajah nya benar benar mirip denganku.  Sungguh aneh sekali" gumam Jonathan.


"aku sungguh ingin tau tentang dia,  tapi bagaimana cara nya? " pikir Jonathan lagi


"apa aku punya kembaran ya,  tapi mama tidak pernah membahas itu,  kalau hanya kebetulan juga tidak mungkin kan bisa semirip itu.  Aku seperti melihat diriku sendiri ketika melihat dia tadi" ujar Jonathan berpikir


"dan melihat nya tadi aku seperti merasakan sesuatu,  seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang,  atau jangan jangan hanya fikiran ku saja ya? " pikir Jonathan lagi


"ah sungguh kejadian yang aneh. mudah mudahan suatu saat aku bisa bertemu lagi dengan dia" pinta Jonathan dalam hati.


Akhirnya kedua anak manusia itu tertidur dengan pikiran mereka masing masing.


Siapa yang menyangka jika takdir sedang mempermainkan mereka.


Menunggu saat yang tepat ketika mereka dipersatukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.


..


Keesokan pagi nya.

__ADS_1


Jonathan masih betah didalam selimut nya.  Tidak seperti biasa dia bangun ketika hari masih subuh,  namun kini jam sudah menunjukan pukul 7 namun Jonathan masih betah didalam selimut nya.


Tok tok tok


Suara pintu membangunkan Jonathan.


Terlihat Delisha masuk kekamar Jonathan dengan pakaian yang sudah terlihat rapi.


"hei,  tumben anak ganteng mama jam segini belum bangun" kata Delisha sambil membuka gorden mewah kamar Jonathan.


"masih malas ma, lagian kan ini hari minggu" jawab Jonathan dengan suara serak karena baru terbangun dari tidur nya.


"tapi biasa nya kamu di hari minggu lari pagi nak, apa kamu sakit" tanya Delisha merasa heran dengan tingkah malas Jonathan pagi ini.


"tidak ma,  aku hanya ingin bermalasan saja" jawab Jonathan lesu.


"baiklah,  baiklah.  Kalau begitu mama tunggu kamu sarapan dibawah ya" kata Delisha sambil membuka selimut yang menutupi badan Jonathan.


"hmm" jawab Jonathan singkat.


Delisha pun turun kebawah.  Sementara Jonathan bergegas kekamar mandi.  Gara gara memikirkan kejadian semalam siang ia tak bisa tidur semalaman.  Hingga membuat nya tak semangat pagi ini.


..


Sementara ditempat lain.


"hei pemalas,  bangun.  Koe iki tiap hari mesti dijeritin ya Van.  Heran aku " kata Sari sambil menarik kasar selimut Ivan.


"emmh iya bu" jawab Ivan dengan suara yang berat sembari mengusap usap mata dan wajah nya.


"bangun,  golek duit sono.  Jangan tau nya molor terus koe" teriak Sari dan langsung beranjak keluar


"ish apa sih ibu ini, mata gue masih ngantuk banget lagi,  gara gara gak bisa tidur jadi sakit semua badan gue" gerutu Ivan lirih sambil merentangkan tangan nya yang terasa pegal pegal.


Akibat pikiran yang entah kemana nyaris semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak.


Dia pun bergegas kekamar mandi dan kemudian keluar rumah.  Duduk diteras rumah sambil menguap.


"woi bang,  bagi duit donk" kata Toni mengejutkan Ivan.


Seketika Ivan menoleh kearah Toni


"astaga,  ngejutin aja lo" kata Ivan kaget hingga langsung memegang dada nya


"yaelah,  siapa suruh pagi pagi udah ngelamun.  Bagi duit donk,  gue mau keluar" kata Toni lagi

__ADS_1


Ivan pun mengeluarkan uang 50rb dari saku nya dan langsung memberinya pada Toni.


"gitu donk.  Makasi ya" kata Toni dan langsung pergi meninggalkan Ivan


"tumben tu anak bilang makasih.  Kesambet apa dia" kata Ivan dalam hati mengingat selama ini tak pernah ada kata terima kasih dari mulut Toni.


Tak berapa lama Ivan pun pergi untuk bekerja.  Ia berjalan kaki dengan sesekali ditemani nyanyian yang keluar dari mulut nya.


"hai kak,  seneng amat nampak nya" sapa Karina mengejutkan ivan


"eh Rin, hehe" sapa Ivan cengengesan sambil melirik kekiri dan kekanan takut takut ada bapak nya ataupun di Aldo.


"mau kerja ya kak? " tanya Karina lagi


"iya nih,  kamu mau kemana? " tanya Ivan pula


"biasa,  belanja buat masak,  tu diwarung bu Ani" jawab Karina sembari menunjuk ke sebuah warung kecil diujung jalan.


"oh yauda hati hati,  kakak jalan dulu ya" kata Ivan sambil melambaikan tangan nya dan langsung bergegas pergi meninggalkan karina.  Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi, sudah cukup wajah nya babak belur dibuat Aldo.


"iya kak,  daa" balas Karina.


Ivan pun melanjutkan perjalanan nya sambil bersiul senang.  Senang karena melihat senyum Karina yang membuat nya sedikit melupakan kejadian kemarin. Gadis manis berambut hitam lebat yang selalu bisa menarik perhatian nya sedari dulu.


Ya, sedari SMS Ivan sudah mulai menaruh hati pada gadis manis itu, namun karena dia merasa rendah diri, Ivan hanya dapat memendam perasaan nya sendiri dan mengagumi Karina dari jauh.


"woi Van, ngapa Lo senyum senyum sendiri gitu?" kata Faiz tiba tiba berhenti disebelah Ivan dengan sepeda nya, dan lagi lagi membuat Ivan terkejut


"sialan lo, ngejutin gue aja" jawab Ivan menepuk keras bahu Faiz yang terkekeh lucu


"ya habis nya Lo itu aneh, kemaren galau amat, nah sekarang senyum senyum sendiri ditengah jalan, Lo gak gila kan Van?" tanya Faiz menatap Ivan dari atas hingga kebawah


"suek lu, gue waras lah. mana ada tampang keren kayak gue gini gila, sialan emang lu" jawab Ivan kesal


"hahaha, bagus lah. yauda lah gue balik dulu. Awas lu jangan senyum senyum sendiri lagi, entar dikira gila beneran sama orang orang" ejek Faiz membuat Ivan menendang pelan sepeda nya


"sialan, pergi Lo sana" usir Ivan kesal


Sementara Faiz tertawa kencang sembari mengayunkan pedal sepeda nya kembali.


'Sialan emang punya temen seekor ngeselin nya mintak ampun' gerutu Ivan dalam hati


..


jangan lupa like coment and vote nya guys...

__ADS_1


maafkan jika masih banyak kesalahan dalam penulisan ataupun alur nya yang kurang menarik


__ADS_2