Story Of The Twins

Story Of The Twins
Tentang Perjuangan


__ADS_3

Hari hari yang dijalani begitu cepat berlalu, semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun dari pantauan Maxwel Alexander selama dua tahun ini.


Ya, sudah dua tahun berlalu, dan sampai saat ini dia masih selalu memantau keadaan anak anak nya diAmerika. Setiap ada waktu libur, dia bersama Delisha menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.


Beberapa waktu lalu dia baru saja menjenguk anak anak nya dan mengajak ibu Faiz yang baru sekali menjenguk Faiz disana.


Maxwel juga masih tetap memantau perkembangan dua gadis yang akan menjadi calon menantu nya.


Ya, dia mengirimkan seorang mata mata untuk mengawasi gerak gerik mereka.


Dan, dia cukup bangga dengan kemajuan kedua gadis itu. Ternyata mereka benar benar ingin membuktikan jika mereka layak untuk bersanding dengan anak anak nya.


Amelia sudah memiliki butik sendiri sekarang, butik yang lebih besar dan berada dipusat kota. Bahkan sudah memiliki satu cabang ditempat lain.


Butik nya lumayan ramai karena desain desain nya yang memang banyak disenangi oleh semua kaum hawa, baik yang muda maupun yang tua.


Sedangkan Karina, tahun ini dia baru saja lulus dan mendapatkan gelar sarjana nya. Namun tidak menunggu waktu lama, karena dia langsung diterima menjadi salah satu karyawan tetap diperusahaan pusat Agueno grup. Dan itu sudah cukup untuk Maxwel, karena yang bisa masuk dan bekerja diperusahaan nya harus lah orang orang yang memiliki predikat terbaik dalam bidang akademis, dan Karina mampu mengalahkan ratusan orang yang melamar karena nilai nya yang benar benar sempurna.


...


Hari ini adalah hari Minggu, Karina libur bekerja dan dia sudah membuat janji temu dengan Amelia.


Saat ini dia tengah duduk disebuah cafe untuk menunggu gadis mungil itu datang.


Karina duduk melamun sembari mengaduk aduk jus didalam gelas nya. Rasa rindu nya terkadang benar benar membuat nya tidak bersemangat, namun dia tidak ingin mengecewakan Jonathan dan orang tua nya.


Karina ingin membuktikan, jika dia bisa menjadi layak berada disamping Jonathan, meskipun dia hanya gadis yang berasal dari kampung.


Lamunan Karina langsung buyar saat Amel menepuk bahu nya dari samping


"hei, ngelamun aja" ucap Amel mengejutkan Karina


Karina langsung tersenyum dan menoleh kearah Amel yang semakin hari semakin terlihat cantik dan mempesona


"kak Amel, baru gak ketemu hampir sebulan, makin cantik aja deh" ungkap Karina membuat Amelia tertawa dan tersipu


"bisa aja kamu. Masih sama kok. Aku lihat kamu yang makin hari makin cantik, makin kelihatan dewasa nya" balas Amelia pula


"makin tua iya, gak lihat nih wajah aku, udah mulai keriput" kata Karina cemberut sembari menunjuk wajah lelah nya


"kamu masih sering lembur?" tanya Amel dan Karina langsung mengangguk


"jangan dipaksain deh Rin" kata Amel lagi


"ya gimana lagi, aku harus kejar target tahun depan buat naik jabatan, kalau gak bisa jadi menejer, ya sepaling tidak jadi kepala divisi lah" ungkap Karina membuat Amelia langsung menganggukan kepala nya


"kakak mah enak, udah kelihatan sukses nya, udah punya cabang juga kan" kata Karina , Amelia menghela nafas nya sejenak sembari meminum sedikit jus yang telah dipesan Karina sebelum nya


"itu aku juga sama kayak kamu Rin, siang malem kerja lembur gak ada istirahat nya demi menuhi tuntutan pelanggan. Kamu gak liat ini wajah juga udah kayak panda, ini karena ditutupi make up makanya gak kelihatan" ungkap Amelia membuat Karina langsung tertawa dan menggeleng miris

__ADS_1


"demi cinta ya kak, kerja siang malam begini, rasa nya bener bener lelah, tapi kalau gak begini, gak ada cara lain" kata Karina dan Amelia langsung mengangguk


"iya Rin, kamu kan baru beberapa bulan ini kerja, aku udah dua tahun, jadi kamu Mandang nya aku udah enak, padahal waktu mulai merintis dulu juga aku jatuh bangun. Siang malam, bahkan gak tidur sampai dua hari. Tapi sekarang ya Alhamdulillah, kendala nya paling cuma masalah desain yang harus selalu update, stok bahan sama pelanggan yang tiba tiba cancel" ungkap Amelia


"iya sih kak, aku baru mulai, ya walaupun cuma kerja dibawah naungan orang, aku gak tahu mau buka usaha sendiri itu gimana, aku gak punya keahlian apa apa kayak kakak" ungkap Karina sendu


Amelia langsung mengusap lengan Karina dan tersenyum lembut menatap nya


"hei, itu sudah bagus tahu. Kamu tahu kan, gak mudah buat masuk keperusahaan itu. Perusahaan itu perusahaan cabang milik tuan Maxwel, dan kamu salah satu dari ribuan orang yang beruntung. Itu tanda nya kamu hebat Karin, nilai kamu sempurna, dan pasti tuan Maxwel juga bangga dengan pencapaian kamu, padahal kamu belum lama lulus" kata Amelia pada Karina yang mengangguk dan tersenyum sendu


"kita harus berjuang, demi cinta kita. Dan demi kita sendiri, gak boleh nyerah, walaupun lelah, kita harus mencapai keberhasilan yang paling tinggi, sehingga gak ada lagi yang bisa ngerendahin kita, semangat ya" kata Amelia lagi dan Karina langsung mengangguk dengan semangat


Sudah hampir sebulan dia tidak bertemu dengan Amelia, dikarenakan kesibukan mereka masing masing. Dan setiap bertemu pasti mereka saling menguatkan seperti ini


"iya kak, harus tetap semangat. Satu tahun lagi waktu kita, dan semoga jika mereka pulang nanti, kita juga udah berhasil membuktikan sama tuan Maxwel dan nyonya Delisha ya" kata Karina pula


"ya, itu harus. Yah, walaupun terkadang, rasa rindu ini bener bener nyiksa dan jadi beban tersendiri " gumam Amelia tertunduk lesu, begitu pula dengan Karina yang langsung kembali melow


"rindu banget. Kalau inget dia pasti rasa nya pengen nangis aja. pengen cepet ketemu, tapi kalau inget tuan Maxwel yang pengen kita sukses, rasa nya waktu satu tahun lagi itu sebentar banget" sahut Karina


"iya Rin, kamu tahu gak, aku Sampek gak pernah healing atau sekedar jalan untuk merehatkan kepala karena ini. Keluar juga untuk ketemu kamu atau kesalon, itupun bisa dihitung dalam setahun" ungkap Amelia


"ya sama kak. Aku takut banget, mereka pulang dengan penampilan keren, nah kita malah udah kayak nenek nenek karena kerja lembur terus" sahut Karina membuat Amelia langsung tertawa


"ya ampun, kamu bener. Aku takut nya begitu. Jangan Sampai mereka langsung ngelupain janji mereka karena penampilan kita yang kayak gini" kata Amelia


"kalau sampai begitu, aku bakalan bunuh diri kak. Gila apa, aku demi mereka, mereka demikian" jawab Karina


"aku juga kak, rasa nya gak ada laki laki lain dibumi ini selain dia" balas Karina dan Amelia langsung mengangguk kan kepala nya


Mereka menghabiskan waktu sampai sore dikafe itu, saling berbagi rasa dan tawa bersama. Membagi perasaan rindu yang memang benar benar menjadi ujian tersendiri ditengah tengah perjuangan mereka.


...


Sementara dibelahan bumi lain. Empat pemuda tampan sedang berada disebuah resto tidak jauh dari apartemen mereka berada.


Mereka sedang menikmati makan malam mereka saat ini, diselingi oleh candaan Dirga dan Faiz, sementara dua tampan terlihat lebih banyak diam.


"kalau begini terus berasa hidup bareng patung gue" gumam Faiz sembari mengunyah makanan nya


"iya, udah lelah seharian, ditambah ni wajah berdua orang gak ada manis manis nya, galau Mulu, heran gue" balas Dirga pula


Jonathan hanya melirik sekilas dan kembali melanjutkan makan nya, sementara Ivan menatap Dirga dan Faiz bergantian.


"maka nya cari pacar sana, biar tahu rasa nya rindu" ketus Ivan membuat Faiz langsung tersedak dan Dirga malah terbahak mendengar nya


"males gue, nyari pacar disini. Lo gak liat orang orang disini kayak triplek semua, putih tinggi langsing, udah kayak tiang listrik semua" jawab Faiz kesal namun cukup mampu membuat Ivan dan Dirga tertawa mendengar nya sementara Jonathan langsung tersenyum tipis.


"heh, body shaming lu" kata Dirga menampar pelan bahu Faiz

__ADS_1


"lah emang kenyataan nya kan. Gue gak tertarik dapet produk luar, makanan nya roti Mulu, gak ada nasi. Kalian gak liat ni badan gue udah kurus kering begini" ungkap nya lagi membuat mereka kembali tertawa


Ya, Faiz memang benar benar bisa menjadi moodbooster untuk mereka disaat hati dan tubuh mereka lelah.


"sabar, satu tahun lagi perjuangan kita" sahut Ivan membuat mereka mengangguk setuju


"iya sih, terkadang nunggu satu tahun itu lama banget, tapi gue bersyukur bisa sampai ditahap ini. Gak nyangka banget gue, gue yang cuma orang kampung bisa sekolah diluar negeri kayak begini, bareng dua pangeran ini lagi" ungkap Faiz menggelengkan kepala nya dengan mata yang berbinar


"Rezky dari Tuhan Iz, gue juga gak nyangka sih bisa dipercaya tuan Maxwel buat ngedampingi Jonathan" sahut Dirga pula


"Lo sih memang background nya kesitu, bokap Lo kan memang tangan kanan tuan Maxwel, nah gue, berasa mukjizat banget dikasih kepercayaan ini. Padahal dulu waktu masih kuliah di Indo, gue cuma berkhayal bisa kerja diperusahaan nya, ya paling enggak sebagai karyawan tetap, nah ini malah dipercaya untuk dampingin Ivan, gila kan, berasa terbang keatas awan gue" ungkap Faiz dengan begitu semangat membuat Ivan dan Dirga langsung tertawa dan Jonathan kembali tersenyum tipis mendengar penuturan Faiz


"pokok nya gue bener bener berterimakasih banget sama bokap kalian, meski gak mudah tapi gue bener bener gak akan ngecewain kalian deh" kata Faiz lagi


"karena papa percaya padamu, maka dari itu dia memberikan tanggung jawab ini" ucap Jonathan membuat Faiz langsung mengangguk setuju


"perjuangan kita disini gak main main, bahkan kita gak ada waktu liburan sedikitpun dua tahun ini. Kita benar benar disuruh berjuang untuk mencapai tujuan" gumam Dirga


"tentu aja, jadi seorang pemimpin pasti gak mudah, maka nya papa ngedidik kita kayak gini" sahut Ivan


"tidak ada yang mudah untuk mencapai hasil yang baik. Meski kita memang tetap akan menjadi pewaris nya, tapi papa tidak akan membiarkan kita bermanja manja dengan kesenangan, dia ingin kita menjadi pantas menerima semua hasil jerih payah nya sejak dulu" ungkap Jonathan membuat mereka kembali mengangguk


"iya, gue baru sadar, gue kira menjadi orang besar itu enak, tapi ternyata sangat jauh dari ekpekstasi gue. Setiap hari harus belajar dan belajar" ungkap Faiz


"dan jangan lupakan setiap weekend kita harus berlatih bela diri" sambung Dirga pula


"harus semangat, kita harus bisa buktiin jika kita mampu" tambah Ivan dan mereka langsung mengangguk setuju


Jonathan terdiam dan pandangan mata nya langsung menerawang jauh


"bagaimana dengan mereka ya" gumam nya dan Ivan kembali tertegun ditempat nya, sedangkan Faiz dan Dirga saling pandang diam


"semoga mereka juga bisa berjuang disana, aku berharap mereka masih tetap menunggu kita bang" jawab Ivan dan Jonathan kembali menghela nafas berat


"mereka pasti menunggu kita Van, tapi aku tidak tahu apa mereka berhasil meyakinkan papa atau tidak" ucap Jonathan membuat Ivan mengernyit bingung


"maksud Abang?" tanya Ivan menatap lekat Jonathan, sedangkan Faiz dan Dirga masih diam dan hanya menyimak


"papa bukan orang sembarangan, kamu pasti tahu itu. Meski dia merestui hubungan kita dulu nya, tapi untuk menjadikan mereka bagian dari keluarga kita, papa pasti tidak akan dengan mudah menerima nya, mereka harus mempunyai sesuatu yang dibanggakan Van" jawab Jonathan dan kali ini Ivan yang menghela nafas nya dengan berat


"mereka pasti bisa meyakinkan papa. Mereka gadis yang kuat dan tangguh. Aku yakin, jika cinta mereka kuat, mereka pasti tahu cara nya untuk bisa bersama kita" balas Ivan dan Jonathan hanya mengangguk pelan


"ya, semoga saja. Tiga tahun tanpa kabar sama sekali, rasa nya benar benar mengusik hati" gumam Jonathan


"rindu banget, rasa nya bener bener pengen cepet pulang" sahut Ivan


Faiz dan Dirga kembali saling pandang melihat dua kembar itu


"untung gue cuma punya ibu, kalau enggak gue juga bakal kayak mereka" bisik Faiz pada Dirga yang langsung mengangguk setuju

__ADS_1


"bener, ada untung nya juga kita belum punya pacar" sahut Dirga


__ADS_2